Obat Perangsang
"Ahh... Aku di mana?" Seraphina Aveline Roselle perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram dan kepalanya terasa begitu berat. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya bisa melihat keadaan di sekelilingnya.
Ini bukan kamarnya.
Sera langsung bangkit dengan gerakan tergesa-gesa. Namun, baru saja ia duduk, tubuhnya terasa nyeri hingga membuatnya meringis.
"Aduh..."
Tangannya refleks memegang kepalanya yang berdenyut.
"Kenapa badan aku sakit semua?"
Ia menatap ke sekeliling kamar. Ruangan itu begitu luas dan mewah. Tempat tidur besar dengan seprai putih, sofa di sudut ruangan, lemari pakaian berukuran besar, serta jendela tinggi yang ditutupi tirai.
Sera sama sekali tidak mengenali tempat itu.
Ia kemudian menggeser tubuhnya sedikit dan kembali merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
"Seperti ada yang mengganjal di bawah sana..."
Wajahnya berubah bingung.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ia berusaha mengingat kejadian semalam.
"Kayaknya semalam Toni ngajak aku nge-date."
Sera mengusap pelipisnya.
"Kenapa aku malah ada di sini?"
Belum sempat ia memikirkan lebih jauh, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Sera langsung menoleh.
Seorang pria keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit basah, sementara sebuah handuk hanya terlilit di pinggangnya. Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan bahu lebar serta perawakan yang membuat auranya terlihat sangat dominan.
Pria itu memiliki tinggi sekitar 185 sentimeter.
Sera sontak menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
"Anda siapa?"
Pria itu menatapnya datar.
"Sudah bangun?"
Sera mundur sedikit.
"Jangan mendekat!"
Pria itu berhenti.
"Saya teriak, loh!"
"Berteriaklah." Jawaban pria itu justru membuat Sera semakin panik.
"Memangnya kamu nggak takut?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Pria itu berjalan santai menuju lemari.
"Karena tidak akan ada yang mendengar kamu."
Sera mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
Pria itu menoleh sekilas.
"Kamar pengantin ini kedap suara."
Sera membeku.
"Kamar... pengantin?"
"Iya."
Pria itu menjawab seolah mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
"Kita kemarin sudah menikah."
Mata Sera membesar.
"Apa?"
"Semalam kita baru saja melewati malam pertama."
Sera menatap pria itu tidak percaya.
"Gak mungkin!"
Ia menggeleng kuat-kuat.
"Aku nggak merasa menikah dengan kamu!"
Pria itu tetap tenang.
"Kamu lupa?"
"Gak!"
Sera menunjuk dirinya sendiri.
"Aku bahkan nggak tahu kamu siapa!"
Pria itu menghela napas pendek.
"Baiklah."
Ia mengambil sebuah remote yang terletak di atas meja.
"Saya akan tunjukkan."
"Tunjukkan apa?"
"Video akad pernikahan kita."
Sera semakin bingung. Pria itu menyalakan televisi besar di kamar tersebut. Beberapa saat kemudian, rekaman sebuah prosesi akad pernikahan mulai diputar.
Sera menatap layar dengan wajah tegang.
Di dalam video terlihat ayahnya sedang duduk berhadapan dengan pria tersebut. Terdengar jelas prosesi akad dan penyebutan mahar.
Namun, ada sesuatu yang membuat Sera semakin tidak percaya.
Dirinya tidak ada di sana.
"Ini..."
Sera mendekati televisi.
"Kenapa aku nggak ada?"
Pria itu berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat di d**a.
"Karena pernikahannya dilakukan tanpa mempelai wanita."
Sera langsung menoleh.
"Tanpa aku?"
"Iya."
"Mana mungkin ada pernikahan tanpa mempelai wanitanya?"
"Akadnya sudah dilakukan oleh ayahmu."
Sera menatap layar sekali lagi.
"Ini gila."
Pria itu kemudian berkata dengan nada dingin.
"Kakakmu bilang kamu sedang kuliah dan tidak bisa meninggalkan kampus. Jadi pernikahan dilakukan tanpa kehadiranmu."
Sera langsung berbalik.
"Kakak?"
"Iya."
"Aku tidak punya kakak."
Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu sedikit berubah.
"Kamu tidak punya kakak?"
"Tidak."
Pria itu kemudian menyebut sebuah nama.
"Namanya Toni Wirawan. Kamu kenal dia?"
Mendengar nama tersebut, Sera terdiam.
"Toni..."
Dadanya terasa sesak.
"Toni kekasihku." Ia mengepalkan tangan.
Gak mungkin Toni melakukan ini.
Selama ini ia percaya kepada Toni. Laki-laki yang ia pikir benar-benar menyayanginya.
Pria di depannya kemudian berkata,
"Sudah, kamu mandi dulu sana. "
Sera menatapnya tajam.
"Kenapa?"
"Mungkin tubuhmu masih terasa sakit karena semalam."
Sera langsung memalingkan wajah.
"Semalam?"
Pria itu melanjutkan dengan nada datar,
"Sepertinya kamu terkena obat perangsang."
Sera membeku.
Obat perangsang?
Semalam aku hanya minum air mineral yang diberikan Toni.
Jadi... Toni sengaja memberikan obat itu kepadaku?
Tangannya mulai gemetar. Dia yang membawaku ke sini? Lalu apa sebenarnya yang terjadi?
Sera menatap pria tersebut dengan penuh ketakutan dan kebingungan.
"Pak… Saya tidak mencintai Anda."
Pria itu diam.
"Saya juga tidak mau pernikahan ini."
Sera menarik napas dalam-dalam.
"Kalau saya tidak pernah datang ke akadnya, berarti pernikahan ini tidak sah, kan?"
Pria itu menatapnya dingin.
"Orang tuamu memiliki utang dua ratus juta."
Sera terdiam.
"Apa?"
"Mereka meminjamkan kamu kepadaku."
Wajah Sera langsung pucat.
"Menjaminkan... aku?"
"Iya."
"Jadi aku ini apa?"
Pria itu tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung.
"Kalau kamu mau pergi, kembalikan uang dua ratus juta itu."
Sera mengepalkan selimut.
"Dua ratus juta?"
"Iya."
"Kalau aku nggak punya?"
"Berarti kamu tetap tinggal."
Sera menatapnya tidak percaya.
"Terus mahar seratus juta itu?"
"Sudah."
"Maksudnya?"
"Saya tidak mempermasalahkan mahar seratus juta itu."
Pria tersebut mengambil pakaian dari lemari.
"Anggap saja selesai."
Sera masih menatapnya dengan perasaan campur aduk.
"Kenapa?"
Pria itu menjawab dingin,
"Karena saya sudah mengambil keperawananmu."
Sera langsung memalingkan wajah.
"Jangan ngomong seperti itu!"
Pria itu tetap tenang.
"Itu setimpal dengan malam pertama kita yang panas."
Sera menutup telinganya.
"Sudah!"
Pria itu kemudian mengambil pakaian dan mulai berganti. Sera yang sadar pria itu hendak berganti pakaian langsung membuang muka.
Namun, rasa penasaran membuatnya tetap mengintip dari sela-sela jarinya.
"Kenapa kamu ganti di depan aku?"
Pria itu menoleh.
"Kenapa?"
"Kamar mandi kan bisa dipakai!"
"Kita sudah melihat satu sama lain."
Sera langsung memerah.
"Dan..."
Pria itu melanjutkan dengan santai,
"Sudah merasakan satu sama lain. Jadi tidak masalah."
Sera semakin kesal. Ia kembali menutup wajahnya. Pria itu selesai mengenakan pakaiannya lalu merapikan jam tangannya.
"Mandi. Setelah itu turun. Saya akan mengenalkanmu dengan dua putri saya."
Sera mengerutkan kening.
"Putri?"
Sera menatapnya penuh curiga.
"Jangan-jangan… Kamu duda?"
Pria itu mengangguk singkat. Sera terdiam beberapa detik. Kemudian pria itu berkata dengan nada datar,
"Iya,duda lebih banyak pengalaman. Kamu sampai minta tambah beberapa ronde semalam."
Wajah Sera seketika memerah.
"APA?!"
Pria itu tetap memasang wajah tanpa dosa.
Sera mengambil bantal dan hampir saja melemparkannya.
"Dasar duda m***m!"
Pria itu hanya menatapnya sekilas.
"Sudah selesai? Keluar sana!"
Pria itu berjalan menuju pintu.
"Pakaianmu ada di dalam lemari."
Sera masih kesal.
"Aku nggak mau menurut sama kamu!"
Pria itu berhenti sebentar di depan pintu menatap Sera sekali lagi dengan nada suaranya tetap dingin.
"Saya tidak punya waktu untuk meladeni kamu,kalau kamu tidak menurut saya akan menggempur kamu seperti semalam."
Setelah mengatakan itu, Jovian keluar dan menutup pintu. Sera masih terpaku di atas ranjang. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup.
Sera masih duduk terpaku di atas ranjang. Pikirannya berputar-putar, berusaha menyusun kembali potongan kejadian yang hilang dari ingatannya.
"Toni..."
Ia memejamkan mata.
Perlahan, ingatan tentang kejadian semalam mulai muncul satu per satu.
---
"Ser, malam ini kamu kosong, kan?"
Sera yang sedang menikmati makan malam bersama Toni langsung menatap kekasihnya itu dengan heran.
"Kenapa?"
Toni tersenyum.
"Aku mau ngajak kamu dinner. Sekalian nge-date."
Sera seketika tersenyum senang.
"Serius? Tumben banget."
"Kenapa? Aku nggak boleh romantis sama pacarku sendiri?"
Sera terkekeh kecil.
"Boleh. Malah aku senang."
Selama ini, Toni memang sering mengajaknya makan dan hampir selalu Sera yang membayar.
Toni sudah terbiasa hidup dari uang kekasihnya itu. Bahkan untuk makan, nongkrong, hingga beberapa kebutuhannya, Sera seringkali menjadi orang yang mengeluarkan uang.
Namun, Sera tidak pernah mempermasalahkannya. Ia terlalu mencintai Toni untuk menyadari bahwa selama ini dirinya hanya dimanfaatkan.
Malam itu, Toni kembali bersikap manis seolah benar-benar ingin membuat Sera bahagia. Setelah makan malam selesai, Toni mengambil sebotol air mineral dari atas meja.
"Minum dulu."
Ia menyerahkan botol Aqua yang masih tertutup kepada Sera.
Sera menerimanya tanpa curiga.
"Terima kasih."
Ia membuka tutup botol tersebut dan meneguk beberapa kali. Beberapa menit kemudian, Sera mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Pandangannya perlahan berkunang-kunang.
Ia mengerjapkan mata berulang kali.
"Kok..."
Toni langsung menatapnya.
"Kenapa?"
Sera memegang pelipisnya.
"Kepalaku pusing."
"Kamu kenapa?"
"Padahal tadi aku baik-baik saja."
Toni tersenyum tipis.
"Mungkin kamu kecapekan."
Sera menggeleng pelan.
"Nggak tahu. Rasanya aneh."
Ia mencoba berdiri dari kursinya.
"Aku mau ke toilet."
Namun baru saja berdiri, kedua kakinya mendadak kehilangan tenaga.
Tubuhnya kembali jatuh ke kursi.
Bruk!
"Toni..."
Toni segera bangkit dan memegang bahunya.
"Hm?"
"Aku benar-benar pusing."
"Sudah, jangan berdiri dulu."
Sera menatap wajah Toni. Namun, pandangannya semakin kabur.
"Kenapa pandanganku..."
Suaranya melemah.
Kelopak matanya terasa semakin berat.
"Toni..."
"Iya, aku di sini."
Sera berusaha mempertahankan kesadarannya. Namun tubuhnya seolah tidak lagi bisa diajak bekerja sama.
Semuanya perlahan menjadi gelap.Hal terakhir yang ia rasakan adalah tubuhnya ditopang oleh Toni.
Kini ia mengingat semuanya. Malam itu ia hanya pergi makan dan menerima ajakan kencan dari Toni. Ia hanya meminum air mineral yang diberikan kekasihnya.
Setelah itu, ia kehilangan kesadaran. Ia ingat terbangun dengan rasa panas yang membuat hasratnya bergejolak dan mencium bibir Jovian terlebih dahulu.
Namun semakin ia mengingat kejadian semalam, semakin semuanya terasa masuk akal. Toni yang mengajaknya pergi dan memberikan minuman ketika kesadarannya menghilang.
Air mata mulai menggenang di sudut mata Sera. Tangannya semakin erat mengepal.
"Toni..."
Suaranya pecah menahan sakit hati.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?”