Awal dari Segalanya
Aku Yanti. Usiaku 30 tahun, tinggiku sekitar 168 cm, kulit putih, d**a ukuran 36. Akan kuceritakan asal mula perselingkuhanku — bukan karena niat, tapi karena keadaan yang perlahan membawaku ke tepian jurang.
Aku tinggal di Kota Yogyakarta, ibu rumah tangga dengan dua anak. Suamiku bekerja di perusahaan tambang di luar Jawa. Dia pulang sebulan sekali, itupun seringkali hanya dua atau tiga hari. Awal-awal pernikahan, aku masih bisa menahan rasa sepi. Tapi lambat laun, kebutuhan itu — bukan hanya fisik, tapi juga kehangatan dan perhatian — menjadi lubang menganga yang tak terisi.
Aku punya libido yang sangat tinggi. Ini jujur kukatakan pada diriku sendiri. Tapi aku tidak pernah sembarangan. Aku menyalurkannya ke kegiatan positif: berenang seminggu dua kali, senam aerobik rutin, dan lari pagi. Hasilnya? Bodyku sangat seksi — aku tidak malu mengakuinya. Perut rata, pinggul pas, kulit bersih, dan postur tegap karena terbiasa olahraga.
Kalau sedang jalan-jalan di mall, sering kuperhatikan banyak mata lelaki yang menatapku tajam. Seakan ingin menelanjangiku. Ada yang sopan, ada pula yang sengaja melirik ke d**a atau pinggulku. Awalnya aku risih, tapi lama-lama... ada kepuasan tersembunyi. Perasaan bahwa aku masih diinginkan, sementara suamiku sendiri sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi memandangku seperti itu.
Bila sedang kesepian, aku sering main ke Magelang. Bukan untuk cari angin segar, tapi untuk sekedar bertemu Widya — temanku sejak SMA. Kami dulu satu kos di Yogyakarta sebelum menikah. Widya sekarang tinggal di Magelang bersama suaminya, tinggal di perumahan yang asri di pinggiran kota.
Widya bekerja di perusahaan bonafit — aku lupa persisnya apa, tapi katanya bagian finansial. Suaminya, Mas Sony, bekerja di instansi pemerintahan. Mereka belum punya anak meski sudah menikah hampir tujuh tahun. Rumah mereka bersih, rapi, penuh tanaman hias. Widya selalu ramah, Mas Sony juga... mungkin terlalu ramah.
Kedatanganku ke Magelang biasanya hanya untuk ngobrol-ngobrol, kadang jalan-jalan ke mall — itupun pas hari Sabtu atau Minggu yang pas Widya libur. Disamping itu, aku juga menjenguk orang tuaku yang tinggal di kota itu, di sebuah kampung tidak jauh dari Alun-Alun Magelang.
Tapi hari itu — Sabtu yang akan kuceritakan — semuanya berbeda.