bc

KAKAK IPAR DALAM PELUKANKU

book_age18+
10
FOLLOW
1K
READ
family
friends to lovers
decisive
heir/heiress
drama
bxg
like
intro-logo
Blurb

Kehidupan Kirana dihancurkan tanpa sisa oleh keluarga tirinya. Ibu kandungnya wafat setelah dikhianati, hartanya dirampas, dan Kirana dibuang seperti sampah. Di sisi lain, Siska kakak tirinya yang merupakan model ternama hidup mewah dan bersanding dengan Devan, pria idaman yang kaya dan berkuasa.Namun, pernikahan Devan dan Siska hanyalah sebuah kepalsuan hasil jebakan licik. Bagi Siska, Devan hanyalah tiket menuju status sosial, sementara Mila anak hasil jebakan itu dianggap tak lebih dari beban yang merusak karir dan bentuk tubuhnya. Kirana kembali bukan untuk mengemis keadilan, melainkan untuk merebut satu-satunya hal yang bernilai di hidup Siska Devan.Dengan pesona tersembunyi dan kasih sayang tulus yang ia berikan pada Mila, Kirana mulai meretas benteng pertahanan Devan. Pria dingin yang semula menolaknya demi prinsip dan etika itu, perlahan goyah saat melihat Kirana menjadi figur ibu yang sempurna untuk anaknya."Ingat statusmu, Kirana. Kamu adik iparku,"bisik Devan tegas, menahan godaan.Kirana tersenyum tipis, merapat pelan. "Tapi bukankah Pria Dingin sepertimu juga butuh kehangatan, Mas Devan?"Saat dendam dan cinta sejati bertabrakan, siapakah yang akan hancur pada akhirnya?

chap-preview
Free preview
BAB 1 BAYANGAN MASA LALU
"Mila! Duduk yang benar, bisa tidak?!" bentak Siska tiba-tiba. Suaranya ditahan agar tidak menarik perhatian pengunjung lain di restoran mewah itu, namun penekanannya sangat tajam dan kasar. "Lihat itu! Baju kamu hampir kena saus! Jangan bikin gaun mahal yang Mama belikan ini kotor!" Anak kecil berusia empat tahun itu terkejut hingga tubuhnya terlonjak pelan. Ia langsung menunduk takut, meremas erat boneka beruang lusuh di pangkuannya. "Ma-maaf, Mama..." "Sudah berapa kali Mama bilang, jangan panggil 'Mama' kalau kita lagi di tempat umum!" cerca Siska kasar sambil menggeser duduknya menjauh dari sang anak. "Panggil Mbak Siska atau Tante! Nanti kalau ada wartawan atau paparazzi yang lihat, citra Mama sebagai supermodel internasional bisa rusak! Kamu mau bikin karier Mama hancur?" Mila menggeleng cepat dengan mata berkaca-kaca. "Enggak, Tante..." Di dekat pilar besar tak jauh dari meja itu, Kirana berdiri memperhatikan interaksi dingin tersebut. Tangannya mengepal erat di balik gaun hitam simpel yang membalut tubuh rampingnya. Lima tahun. Lima tahun sudah berlalu sejak ibunya meninggal karena serangan jantung setelah pengkhianatan ayah dan ibu tirinya terbongkar. Kirana diusir, harta ibunya dikuras habis oleh Siska dan keluarganya, lalu ia dibuang begitu saja. Namun hari ini, Kirana kembali bukan lagi sebagai gadis polos yang mudah ditindas. Memoles senyum paling manis yang sudah ia latih di depan cermin, Kirana melangkah anggun mendekati meja tersebut. "Permisi... Apakah benar ini Mbak Siska yang terkenal itu?" sapa Kirana dengan suara lembut dan renyah. Siska menoleh dengan dahi berkerut, menatap Kirana dari ujung rambut hingga sepatu dengan pandangan menilai yang sangat dingin. "Ya, saya Siska. Kamu siapa? Fans saya? Kalau mau minta foto atau tanda tangan, nanti saja ya, saya sedang sibuk." Kirana tertawa kecil, suara tawa yang begitu tenang namun menyimpan d******i. "Mbak Siska benar-benar tidak mengenali aku lagi? Padahal kita pernah tinggal di bawah satu atap yang sama." Siska menyempitkan matanya, mengamati wajah Kirana lebih lekat. "Tinggal seatap? Maksudmu apa—" Siska terdiam sejenak. Wajah cantiknya yang dipenuhi riasan mahal itu mendadak berubah pucat pasi saat kesadaran menyengat pikirannya. "Kamu... Kirana?!" "Wah, syukurlah Mbak masih ingat namaku," ujar Kirana santai. "Kenapa kamu bisa ada di sini?!" suara Siska meninggi karena terkejut, sebelum ia memelankannya sambil menoleh panik ke sekeliling. "Mau apa kamu kembali?!" "Dunia ini sangat sempit, Mbak. Aku baru saja menyelesaikan studiku di luar negeri dan memutuskan kembali," jawab Kirana sambil menarik kursi di depan Siska tanpa menunggu diundang. Ia duduk dengan menyilangkan kakinya secara anggun. "Sebagai adik yang baik, tentu saja aku ingin menemui satu-satunya keluarga yang tersisa." "Keluarga?" Siska terkekeh sinis. "Jangan berpura-pura, Kirana! Kamu tahu betul Papa sudah tidak menganggapmu anak lagi! Kamu sudah dibuang! Kamu mau minta uang? Mau minta ganti rugi atas harta ibumu? Jangan mimpi ya! Kami tidak punya utang apa pun padamu!" "Uang?" Kirana menatap Siska dengan tatapan kasihan yang sengaja dibuat-buat. "Aku sudah punya cukup uang untuk hidup mewah, Mbak. Aku kembali bukan untuk meminta uang kalian, tapi aku cuma merindu." Saat Siska sibuk emosi, anak kecil di sampingnya mendongak. Mata bulatnya yang polos menatap Kirana tanpa kedip. Kirana beralih menatap Mila, dan seketika tatapannya berubah menjadi sangat hangat. "Halo, cantik," sapa Kirana sangat lembut pada Mila. "Nama kamu siapa?" Mila meremas boneka beruang lusuhnya, agak ragu sebelum menjawab halus, "Mila..." "Mila? Nama yang cantik sekali, sangat cocok dengan wajah orangnya yang lucu," puji Kirana tulus. Ia menjulurkan jemarinya. "Aku Tante Kirana." Mila menyambut uluran tangan Kirana dengan jari-jari kecilnya. Senyum tipis terukir di wajah bocah yang semula murung itu. "Tante Kirana... cantik banget..." "Mila! Jangan sembarangan bersentuhan dengan orang asing!" potong Siska cepat sambil menepis pelan tangan Mila hingga pegangan anak itu terlepas. "Kirana, cepat pergi dari sini sebelum suamiku datang!" "Suami?" Kirana memiringkan kepala, berpura-pura terkejut. "Oh, maksudmu Mas Devan? Pria dari keluarga Dirgantara yang sangat kaya dan berkuasa itu?" "Tahu dari mana kamu tentang suamiku?!" Siska menatap Kirana penuh curiga. "Siapa yang tidak kenal Devan Dirgantara, Mbak?" Kirana tersenyum bermakna. "Lagipula, aku pernah membaca desas-desus di internet. Kalian menikah secara mendadak karena sebuah 'insiden kecelakaan', kan? Dan gara-gara kehamilan itu, karier modelmu sempat hancur." Wajah Siska mendadak merah padam bercampur pucat. "Tutup mulutmu, Kirana!" "Tapi melihat caramu memperlakukan Mila hari ini... sepertinya rumor itu benar," bisik Kirana sambil memajukan tubuhnya ke arah Siska. "Kasihan sekali anak sekecil ini. Dia lahir hanya dijadikan alat oleh ibunya untuk menjebak pria kaya demi mengamankan posisi sosial, tapi begitu lahir, dia justru dianggap beban yang merusak tubuh dan karier ibunya." "Kirana! Kurang ajar kamu ya—" "Ada masalah apa di sini?" Sebuah suara berat, dalam, dan terkesan dingin mendadak memotong kalimat Siska. Aura di sekitar restoran seketika berubah tegang. Kirana menoleh perlahan. Di belakang kursinya, berdiri seorang pria berpostur tinggi tegap mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sempurna. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang tegas, namun tatapan matanya begitu dingin dan tak tersentuh. Devan Dirgantara. "Papa!" seru Mila gembira. Rasa takut bocah itu mendadak hilang saat melihat sosok Devan. Devan mendekati Mila, berlutut satu kaki, lalu mengelus lembut rambut anaknya dengan penuh kasih sayang. "Mila sudah makan?" "Belum, Papa... Mba—Mama sibuk foto," adu Mila polos. Devan menghela napas tipis lalu berdiri kembali. Pandangannya yang semula hangat pada sang anak seketika berubah menjadi sangat dingin saat beralih menatap Kirana. "Siapa dia, Siska?" Siska tampak panik dan segera berdiri. "A-Anu, Mas... ini Kirana. Dia adik tiri aku yang dulu pernah aku ceritakan." Kirana berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat anggun. Ia menyibakkan rambut panjangnya, mengukir senyuman paling memikat, lalu mengulurkan tangannya lebih dulu tepat ke arah Devan. "Halo, Mas Devan. Senang akhirnya bisa bertemu secara langsung. Aku Kirana," ucap Kirana dengan nada suara yang sengaja diatur—lembut, manja, namun tetap elegan. "Aku sering mendengar nama besar kakak iparku ini, tapi baru sekarang bisa berhadapan langsung." Devan menatap uluran tangan Kirana dengan pandangan datar dan penuh jarak tanpa menyentuhnya sedikit pun. "Saya Devan," jawabnya kaku. "Siska, cepat rapikan barang-barangmu. Waktu istirahat saya sudah habis." Siska menghela napas lega dan menyambar tas mewahnya tanpa memedulikan Mila yang kesusahan untuk turun dari kursi restoran yang tinggi. Melihat hal itu, Kirana bergerak cepat. Sebelum Devan sempat melangkah, Kirana sudah lebih dulu merengkuh tubuh kecil Mila dengan sangat lembut, membantunya turun ke lantai sampai berdiri tegak. "Hati-hati ya, Cantik," bisik Kirana lembut sambil membetulkan lipatan gaun kecil Mila lalu mengecup pipinya. "Terima kasih banyak, Tante Kirana..." bisik Mila berbinar. Devan memperhatikan seluruh interaksi itu tanpa terlewat satu detik pun. Ia tahu betul bagaimana Siska tidak pernah peduli pada hal-hal kecil tentang Mila, dan Mila biasanya sangat takut pada orang asing. Namun dengan Kirana, anak perempuan yang dingin itu justru tampak sangat nyaman hanya dalam hitungan menit. "Terima kasih sudah membantu Mila," ujar Devan akhirnya. Suaranya kali ini sedikit melunak, meski nada kaku itu masih terasa. Kirana berdiri perlahan, melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Devan hingga jarak di antara mereka hanya tersisa puluhan sentimeter. Aroma wangi parfum vanila yang menggoda dari tubuh Kirana merayap masuk ke indra penciuman Devan. Kirana mendongak, menatap mata hitam pria itu. "Sama-sama, Mas Devan. Aku sangat menyukai anak-anak," bisik Kirana pelan dan halus. "Lagipula... Mila anak yang sangat manis dan butuh kasih sayang. Kasihan kalau dia terus-terusan diabaikan oleh ibunya yang cuma peduli pada penampilan." Mata Devan seketika menyempit menangkap sindiran tajam di balik kalimat manis adik iparnya itu. "Kirana! Ayo pergi!" panggil Siska dari dekat pintu keluar, tidak menyadari kedekatan posisi mereka. Kirana menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. Ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Devan hingga embusan napas hangatnya menerpa kulit leher pria itu. "Aku pamit dulu ya, Mas Devan," bisik Kirana sangat halus. "Semoga setelah ini... kita bisa sering bertemu lagi secara pribadi. Kakak Ipar." Kirana mundur satu langkah, mengedipkan sebelah matanya dengan sangat manis, lalu berbalik dan melangkah pergi dengan anggun. Devan berdiri mematung di tempatnya. Tangannya perlahan mengepal erat saat perasaan aneh berdesir di dadanya. Wanita itu... Kirana... memancarkan bahaya terselubung yang belum pernah Devan temui pada wanita mana pun. "Papa... Tante Kirana wangi banget ya? Tante Kirana juga baik..." celoteh Mila polos sambil menggenggam jari tangan Devan. Devan menunduk menatap anak perempuannya, lalu kembali mengalihkan pandangannya menatap punggung Kirana yang perlahan menghilang. "Kita lihat saja nanti, Mila... seberapa baik dia sebenarnya," gumam Devan dingin dengan tatapan mata yang makin gelap.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook