bc

Lima Janda Miliarder Berebut Menikahiku

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
HE
curse
confident
mafia
heir/heiress
drama
sweet
kicking
werewolves
mythology
small town
musclebear
ancient
widow/widower
like
intro-logo
Blurb

Selama lima tahun, Arga Wijaya hidup sebagai suami yang diremehkan.

Mertuanya memanggilnya sampah.

Istrinya malu mengakuinya.

Adik iparnya memperlakukannya seperti pembantu.

Padahal...

Arga sengaja menyembunyikan identitasnya.

Bukan karena miskin.

Melainkan karena sedang menjalankan syarat terakhir wasiat ayahnya.

Hari ketika ia diceraikan...

surat warisan akhirnya dibuka.

Ia resmi menjadi pemilik kerajaan bisnis bernilai puluhan triliun rupiah.

Namun...

warisan itu memiliki syarat aneh.

"Untuk memperoleh hak penuh atas Grup Arunika, kau harus memilih seorang pendamping hidup dari lima wanita yang pernah diselamatkan keluargamu."

Masalahnya...

Kelima wanita itu bukan wanita biasa.

Mereka adalah lima janda miliarder yang memiliki kerajaan bisnis masing-masing.

Dan...

tidak satu pun mau mengalah.

chap-preview
Free preview
Sampah di Meja Makan
Suara denting sendok perak yang beradu dengan piring keramik terdengar tajam di ruang makan yang hening. Lampu gantung kristal di atas meja makan panjang itu memancarkan cahaya kuning keemasan, menerangi wajah-wajah tegang yang duduk mengelilinginya. Di ujung meja, Hendra Santoso, pria paruh baya dengan perut yang mulai membuncit dan kemeja batik mahal, menatap Arga Wijaya dengan tatapan jijik yang tidak ia sembunyikan. Arga duduk di kursi paling ujung, jauh dari posisi utama. Di hadapannya tersaji sepiring nasi putih dingin dan beberapa potong ayam goreng yang sudah terlihat kering. Bukan makanan sisa dari dapur, tapi sengaja dipisahkan untuknya. Standar ganda yang sudah menjadi rutinitas selama lima tahun terakhir. "Kau tahu, Arga," suara Hendra berat, memecah keheningan yang canggung. Ia tidak mengangkat kepala dari piringnya, seolah berbicara pada udaranya sendiri. "Hari ini Pak Budi dari asosiasi pengusaha bertanya padaku. Dia bertanya, 'Hendra, siapa sih suami anakmu yang selalu pakai kemeja lusuh itu? Apa dia tidak punya harga diri?'" Diana, istri Arga yang duduk di sebelah kanan Hendra, mendesah pelan. Ia memainkan garpunya tanpa nafsu makan, matanya menghindari kontak dengan Arga. Wajahnya yang cantik tampak murung, bukan karena kasihan pada suaminya, melainkan karena rasa malu. Malu memiliki suami yang dianggap gagal. "Aku sudah bilang, Pak," jawab Diana lemah. "Dia... dia memang sedang susah cari kerja tetap. Dia cuma dapat proyek-proyek kecil." "Proyek kecil?" Hendra tertawa sinis, suara tawanya kasar dan menggema di ruangan luas itu. "Lima tahun, Diana! Lima tahun kau menikah dengannya dan apa hasilnya? Rumah ini kami yang biayai. Listrik, air, bahkan rokokmu pun kadang kau minta uang padaku karena dia tidak punya! Apakah ini yang kau sebut suami? Atau lebih tepat disebut parasit?" Rendi, adik ipar Arga yang berusia dua puluh tiga tahun, menyeringai sambil mengunyah daging steak-nya dengan lahap. Ia menelan lalu menunjuk-nunjuk Arga dengan garpu. "Iya, Kak Arga. Tadi aku mau main game online, internetnya lemot. Kamu kan katanya ahli komputer, kenapa nggak bisa benerin? Atau kamu memang bodoh sih?" Siska, adik perempuan Rendi yang masih kuliah, ikut nimbrung sambil mengecek kuku jarinya yang baru dimanicure. "Dasar pecundang. Lihat tuh, Bajunya aja udah belel. Aku malu kalau ada teman kampus yang datang ke sini dan lihat kamu. Mending kamu nganggur aja di kamar, jangan keluar-keluar. Orang lihat nanti kira-kita keluarga miskin." Arga tidak menjawab. Ia hanya menyuapkan nasi dingin itu ke dalam mulutnya dengan tenang. Gerakannya lambat, teratur, dan tanpa emosi. Di balik ketenangannya, pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Ia mencatat setiap kata, setiap nada hinaan, dan setiap ekspresi wajah mereka. Ini bukan pertama kalinya, dan mungkin bukan yang terakhir sebelum rencananya selesai. Di saku celana jeans usangnya, jari-jari Arga menyentuh sebuah buku catatan kecil berukuran telapak tangan. Setiap penghinaan adalah data. Setiap ejekan adalah bukti. Selama lima tahun, ia telah membangun arsip mental dan fisik tentang betapa rendahnya moral keluarga ini. "Makanlah, Arga," kata Ibu Ratna, ibu mertuanya, dengan nada yang terdengar seperti perintah pada anjing. "Jangan buang-buang makanan. Kau tahu kan, di luar sana banyak orang yang kelaparan. Kau harus bersyukur masih diberi tempat tinggal di rumah mewah ini meskipun kau tidak membayar sepeser pun." Arga akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang hitam pekat menatap satu per satu anggota keluarga Santoso. Tatapannya datar, namun ada kedalaman yang sulit dibaca. Bagi mereka, itu adalah tatapan orang kalah yang pasrah. Bagi Arga, itu adalah tatapan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya sebelum saat eksekusi tiba. "Terima kasih, Bu," ucap Arga pelan. Suaranya serak, namun jelas. "Saya bersyukur." Hendra menghela napas panjang, merasa muak dengan ketenangan Arga. Ia berharap Arga akan marah, berteriak, atau setidaknya menunjukkan perlawanan. Kemarahan Arga akan memberinya alasan untuk mengusirnya lebih cepat. Tapi Arga selalu seperti batu. Diam, keras, dan menjengkelkan. "Besok," lanjut Hendra, meletakkan sendoknya dengan keras. "Ada acara ulang tahun Siska di restoran The Grand. Kami semua akan pergi. Kau... sebaiknya jangan ikut. Kau tidak pantas duduk di meja yang sama dengan kolega-kolegaku. Kau bisa menunggu di mobil, atau lebih baik lagi, tinggal di rumah. Jangan mempermalukan kami di depan umum." Diana akhirnya menoleh pada Arga. Ada kilatan kekecewaan di matanya, tapi juga kelegaan. "Maaf, Arga. Papa benar. Penampilanmu... kurang cocok untuk acara sekelas itu. Aku akan bilang pada teman-temanku bahwa kamu sakit." Arga mengangguk perlahan. "Baik, Diana. Jika itu keinginan kalian." Rendi tertawa geli. "Wih, penurut banget ya. Dasar b***k. Nanti aku pesan makanan enak, kamu cuma dapat sisa-sifanya aja kalau pulang." Makan malam berlanjut dalam suasana yang mencekam bagi siapa pun kecuali Arga. Baginya, ini hanyalah teater. Sandiwara yang harus ia jalani hingga tirai terakhir turun. Ia memikirkan ayahnya, Raditya Arunika Wijaya, almarhum pendiri Grup Arunika. Lima tahun lalu, di tepi pembaringan, ayahnya memegang tangan Arga dengan erat. "Arga, warisan ini terlalu besar, Nak. Terlalu banyak serigala yang mengincar. Untuk mendapatkan hak penuh, kau harus lulus ujian terakhir. Hilangkan namamu. Hilangkan hartamu. Jadilah nol. Dan ketika kau diceraikan oleh orang yang hanya mencintaimu karena status, barulah kau bangkit. Hanya dengan cara itu kau akan tahu siapa teman dan siapa musuh sejatimu." Syarat itu gila. Syarat itu menyakitkan. Tapi Arga menerimanya. Ia rela hidup sebagai sampah di mata dunia, termasuk di mata wanita yang kini duduk di seberangnya, demi membuktikan bahwa ia layak mewarisi kerajaan bisnis bernilai puluhan triliun rupiah. Setelah makan malam selesai, Arga berdiri dan membantu membereskan piring-piring kotor. Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan. Di sana, ia bertemu dengan pembantu tua, Mbak Yem, yang sedang mencuci piring dengan wajah sedih. "Mas Arga..." bisik Mbak Yem, matanya berkaca-kaca. "Sabar ya, Mas. Mereka memang sedang banyak masalah bisnis, jadi emosinya naik. Mas Arga orang baik." Arga tersenyum tipis, senyuman tulus pertama malam itu. "Tidak apa-apa, Mbak Yem. Ini bagian dari proses. Tolong jaga kesehatan Mbak. Kalau butuh apa-apa, kabari saya diam-diam." Mbak Yem mengangguk, bingung dengan kata-kata "proses" yang diucapkan Arga, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya. Arga kemudian naik ke lantai dua, menuju kamar kecil di sudut belakang rumah. Kamar itu sempit, lembap, dan hanya berisi sebuah kasur tipis, meja belajar reyot, dan sebuah laptop tua. Tidak ada AC, hanya kipas angin yang berputar dengan suara berdengung. Saat pintu kamar tertutup, ekspresi Arga berubah total. Ketegangan di bahunya hilang. Matanya yang tadi datar kini bersinar tajam. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar terbaru yang tersembunyi di balik tumpukan buku bekas. Ponsel itu bukan miliknya secara resmi, tapi milik jaringan bawah tanah yang dibangunnya selama lima tahun ini. Ia menekan tombol daya. Layar menyala, menampilkan logo enkripsi tingkat militer. Sebuah pesan masuk muncul dari kontak bernama "Shadow". Bima: Laporan harian. Julian Wijaya melakukan transfer dana mencurigakan ke akun offshore di Kepulauan Cayman sebesar 50 miliar. Diduga dana pencucian uang untuk akuisisi saham gelap. Keluarga Santoso sedang dalam krisis likuiditas. Hendra mencoba meminjam uang dari rentenir kelas atas. Diana sering bertemu dengan Adrian Pratama di hotel bintang lima. Arga membaca pesan itu dengan seksama. Jemarinya menari di atas layar, mengetik balasan singkat. Arga: Dokumentasikan semua bukti transaksi Julian. Kirim ke Tan Malaka untuk diamankan. Biarkan Hendra terjebak dengan rentenir itu. Itu akan mempercepat keruntuhan mereka. Dan Shadow... siapkan mobil. Besok malam aku butuh akses ke server utama Grup Arunika. Waktunya hampir habis. Bima: Siap, Tuan. Hati-hati. Elena Wijaya mulai mencium gerakan aneh di sekitar aset lama ayah Anda. Arga mematikan ponsel dan menyimpannya kembali. Ia menatap cermin retak di dinding kamarnya. Bayangan dirinya yang kurus, dengan kemeja kusut dan rambut agak acak-acakan, menatap balik. Orang lain melihat pecundang. Tapi Arga melihat calon raja yang sedang menempa diri dalam api penghinaan. Dari luar kamar, terdengar suara televisi yang dinyalakan keras oleh Rendi, disertai tawa Siska dan omelan Hendra tentang tagihan listrik yang belum dibayar. Arga menarik napas dalam-dalam. Ia bisa mendengar derit kayu lantai saat Diana berjalan melewati kamarnya menuju kamar utama yang mewah, meninggalkan Arga sendirian dalam kegelapan. Besok adalah ulang tahun Siska. Besok adalah hari di mana ia akan dipermalukan di depan publik. Tapi Arga tidak takut. Ia justru menunggu momen itu. Karena semakin dalam mereka menjerumuskannya ke lumpur, semakin kuat alasan baginya untuk menghancurkan mereka ketika saatnya tiba. Ia berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit yang bernoda air. Di kepalanya, ia mulai menyusun strategi untuk pertemuan besok. Ia tidak akan pergi ke restoran The Grand, tapi ia akan memastikan bahwa kehadiran "ketidakhadirannya" akan terasa sangat menyakitkan bagi keluarga Santoso.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook