06 | Senyum Sang Langit

2048 Words
Ketukan di pintu kamarnya membuat Bulan menoleh. Berhubung sang bunda sedang tidak di rumah, maka pikirannya langsung tertuju pada Bintang. “Masuk aja,” sahut Bulan. Tak lama setelah derit pintu terdengar dibuka, kepala Bintang menyembul di sela pintu. “Bintang ganggu nggak?” Bulan berdecak. “Kapan pernah ganggu sih? Udah sini!” Memang selalu seperti ini kalau Bulan sedang di rumah. Bintang yang “menginap” di kamar Bulan dan sebaliknya. Tidak peduli sang empunya kamar sedang sibuk atau tidak, kerinduan harus tetap dilepaskan. Dengan semangat Bintang berlari kecil menghampiri Bulan yang sedang membaca diktatnya di ranjang. “Bintang mau curhat, Bulan.” Perhatian Bulan kini beralih sepenuhnya pada Bintang. “Soal?” “Kak Langit.” Pilihan Bulan untuk tidak memaksa Bintang bercerita beberapa waktu lalu memang benar. Buktinya sekarang. Tanpa perlu bersusah payah, Bulan akan mendengar kisah tentang “cowok” dari adik lugunya tersebut secara cuma-cuma. Bulan langsung menutup diktatnya dan menepuk-nepuk sisinya. “Sini duduk. Biar enak ceritanya.” Bintang menurutinya. “Hmm, menurut Bulan, Kak Langit gimana?” “Cakep.” “Terus?” Dahi Bulan berkerut, tapi ia tetap menjawab, “Sopan. Gue suka sikap dia di depan Bunda.” “Hmm… terus?” Bulan berdecak. “Gue, kan, nggak kenal tuh orang. To the point aja deh, Tang.” Bintang mengembuskan napas. Kemudian ia mulai menceritakan peristiwa-peristiwa antara dirinya dengan Langit di sekolah. Tak terkecuali. Bulan bergeming sejenak. “Tang…” “Iya?” “Si Langit naksir tuh sama lo.” Bintang tertegun mendengar pernyataan yang tidak sedikit pun mengandung keraguan. “Bulan mikir begitu?” Bulan menaik turunkan kedua alisnya, menggoda Bintang. Namun, sedetik kemudian ekspresi jahilnya berubah menjadi serius. “Jangan bilang lo nggak ngerasa?” Bintang hanya terdiam. Tidak tahu harus merespons apa. Kalau boleh jujur, Bulan teramat mendukung Bintang dengan si-ganteng-yang-dingin-dingin itu. Saat ia tidak sengaja mengamati Langit yang mengobrol dengan Belinda, Bulan tahu, di balik sikap tak acuh dan dingin Langit yang Bintang ceritakan, terdapat rasa peduli tinggi dan kehangatan yang tentu saja bisa memberi kenyamanan bagi Bintang kecilnya. Memang, sedingin apa pun langit malam, selalu akan ada pagi yang cerah dan siang yang hangat. Begitu juga dengan Langit yang ini. *** Langit menghentikan laju motornya tatkala menangkap sosok Bintang berdiri di depan gerbang sekolah. Gadis itu terlihat tengah menunduk dan sesekali melirik arloji di tangannya. “Ngapain?” Bintang terkesiap mendapati Langit dengan motornya telah berhenti di hadapannya. “Bintang lagi nungguin Bulan. Kak Langit mau pulang?” tanya Bintang seraya menelengkan kepalanya. Pertanyaan normal dari Langit tentu saja terdengar “aneh” bagi siapa pun yang mendengarnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa laki-laki itu cueknya minta ditimpuk! Ando pun mengakuinya. Lantas, apa yang membuat Langit rela menghentikan lajunya hanya untuk melempar pertanyaan tidak penting ini? Jangan tanya, karena Langit pun tidak tahu! Langit mendengus mendengar pertanyaan bodoh itu. Sudah jelas ia memang ingin pulang. Kalau perlu diingatkan, pertanyaan Langit-lah yang lebih terdengar bodoh untuk dirinya sendiri. Entah apa yang membuatnya ingin tahu apa yang dilakukan gadis ini sendiri di sini sementara sekolah sudah sepi. “Naik. Gue antar lo pulang,” tawar Langit terlihat tak acuh. Bintang menggeleng. “Nggak usah, Kak. Bulan nanti jemput Bintang kok.” Langit memanggut-manggut. Namun, bukannya pergi seperti yang Bintang pikirkan, Langit malah mematikan mesin motornya dan menghampiri gadis itu. Bintang tertegun saat Langit berdiri menjulang di sampingnya. “Kak Langit ngapain?” “Nungguin yang lo tunggu sampai dia datang.” Langit melirik arlojinya. “Gue paling nggak suka yang nggak tepat waktu gini. Sepuluh menit dia nggak datang, lo balik sama gue,” tegasnya seraya mengerling pada Bintang. Langit bahkan baru menyadari, gadis di sampingnya benar-benar pendek. Tingginya hanya mencapai kurang dari 155 senti meter. Berbanding jauh dengan dirinya yang mencapai 178 senti—terakhir ia mengukurnya saat kelas 10 untuk data siswa. Delapan menit berlalu. Tidak ada percakapan, hanya keheningan yang melanda keduanya. Bintang bahkan nyaris lupa dengan kehadiran Langit di sampingnya kalau laki-laki itu tidak mulai bersuara. “Habis. Lo ikut gue.” Langit meraih pergelangan tangan Bintang. Baru akan menariknya, suara Bintang menghentikan geraknya. “Baru delapan menit lebih empat puluh lima detik, Kak. Eh, sekarang empat puluh enam. Empat puluh tujuh!” Langit mendengus. “Sini hape lo.” “Huh?” Bintang mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tak mengerti. Laki-laki itu hanya berdecak seraya mengambil ponsel dari tangan Bintang yang terbebas darinya. Bintang hanya tertegun memandangi Langit tanpa berusaha merebut kembali ponselnya. Langit terlihat tengah menghubungi seseorang, dan Bintang sudah menebak siapa yang dihubungi laki-laki itu. “Bintang gue yang antar pulang, nggak usah dicari.” Langit memutuskan sambungannya, lantas mengernyit. Baru menyadari bahwa ponsel Bintang memang tidak terkunci. “Nggak pakai password?” Bintang menggeleng lantas tersenyum geli. “Emangnya siapa yang penasaran sama isi hape butut begitu? Hape teman-teman Bintang lebih bagus. Lagian, Bulan dan Bunda suka curiga kalau Bintang kunci hapenya,” jelas Bintang membuat hati Langit merasa geli karena ulah Bulan dan Belinda. Mau tidak mau, Langit tersenyum mengingat kehangatan keluarga Bintang. Tidak ada yang menyadari senyum sang Langit kecuali sepasang mata yang tengah mengamati mereka dari kejauhan. Di lain tempat. Bulan yang sedang asyik mengunyah kacang, melompat dari sofa dan nyaris tersedak oleh kacangnya sendiri begitu Langit menghubunginya. Ia memutar-mutar ponsel di tangannya dengan senyuman puas. Bahkan ia lupa kalau harus menjemput Bintang. Syukurlah, ia memiliki waktu lebih untuk menghabiskan film juga kacangnya. *** Namanya Bintang. Anak terakhir dari dua bersaudara dengan kakaknya yang bernama Bulan. Hidup sederhana dengan seorang wanita yang mereka panggil “bunda” bernama Belinda… Pria itu kembali mengingat informasi yang diberikan asistennya kemarin malam. Dengan cepat, dibantu kaki tangannya, pria itu bisa mendapatkan segalanya tentang gadis itu. Bintang. Ya, Bintang saja namanya. Pria itu terkekeh mengingat betapa polosnya wajah gadis itu. Di saat semua murid SMA tersebut memodifikasi pada seragam mereka agar terlihat lebih modis, pria itu bahkan tidak menemukan perubahan apa pun di seragam Bintang. Rok abu-abu yang bahkan menutupi kedua lututnya tidak menjadi penghalang baginya. Biasanya, ia selalu mendapati gadis remaja dengan rok seragam di atas lutut dan atasan yang dikecilkan menjadi begitu pas membentuk lekuk badan mereka. Bintang normal. Tidak, ia berbeda. Baru pertama kali melihatnya saja, ia merasa gadis itu berbeda. Polos, baik, lucu, juga menggemaskan. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Memandangi sebuah foto keluarga yang terbingkai indah di atas meja kerjanya. Bahagia. Itulah sebuah kata yang diisyaratkan keluarga dalam foto tersebut. Ia meraih bingkai tersebut. Ibu jarinya mengelus seorang wanita cantik dalam foto tersebut. Hatinya teriris. “Maaf,” lirihnya. Pria itu bahkan tidak sadar telah menangis. Air matanya turun membasahi kaca bingkai tersebut. “Berikan semangat untuk Bintang kecil ini agar dia berhasil menghangatkan Langit kita, Tata.” Ia mencium penuh sayang foto tersebut. Ia merindukan keluarganya. Keluarga kecilnya. *** Bintang menghentikan langkahnya di depan gerbang begitu mendapati seorang pria dari kejauhan tengah kesulitan menghadapi mobilnya yang mogok di bahu jalan. Hati Bintang tergelitik. Dengan langkahnya yang seringan kapas, Bintang mulai menyebrangi jalan dan menghampiri pria tersebut. “Om kenapa?” Pria yang tengah serius mengamati mesin mobil, menoleh pada gadis di sampingnya dan tersenyum. “Oh, ini… mobil saya tiba-tiba mogok. Tidak biasanya seperti ini, jadi saya agak bingung,” jelasnya membuat Bintang iba. Entah mengapa pikiran gadis itu melayang pada sosok ayahnya. “Bintang nggak ngerti mobil-mobilan begini sih, Om.” Bintang meringis seraya menggaruk pelipisnya. “Nama kamu Bintang?” tanya pria itu yang dibalas Bintang dengan sebuah anggukkan. Pria itu tersenyum. Dalam hatinya, Bintang begitu jujur dan tidak berpura-pura mengerti tentang otomotif. Biasanya, para perempuan baik itu wanita maupun gadis, pasti akan cari perhatian bila bertemu dengannya. Oh, ayolah. Siapa yang tidak mengenalnya? Tepat. Jawaban satu-satunya adalah gadis ini, Bintang. Dari kejauhan, terlihat Langit mengamati pemandangan di hadapannya dengan tatapan tidak bersahabat. Dengan langkah panjang, Langit berhasil menghampiri mereka hanya dalam beberapa detik. “Ayo pulang,” tukas Langit seraya meraih lengan Bintang. Bintang menoleh, lantas menyengir lebar. “Eh, Kak Langit!” tatapannya lantas beralih kembali pada pria di sampingnya. “Om lagi beruntung nih. Mungkin Kak Langit bisa bantu Om,” jelas Bintang dengan senyuman lebar tanpa persetujuan dari Langit. “Apa-apaan sih, Bi—” Bintang langsung menunjukkan wajah ingin menangisnya saat Langit terlihat kesal dan ingin mengomelinya. “Om ini kasihan, Kak Langiiit. Kak Langit baik, kan, ya sama Bintang? Mau bantuin Bintang, kan? Tolongin Om ini, Kak. Bintang mohon yah?” pinta Bintang dengan sepasang mata membulat penuh menatap Langit yang tengah berusaha menghiraukan mata bundar tersebut. Ingin meludah, bahkan memaki pak tua yang diam-diam tengah memamerkan senyuman puas padanya. Langit menatap tajam pria tersebut dengan pandangan penuh permusuhan, membuat Bintang juga menoleh pada pria itu karena rasa penasaran. Mungkinkah keduanya saling kenal? Batin Bintang. Senyuman puas si pak tua untuk Langit seketika berganti menjadi wajah frustrasi, berpura-pura mengamati mesin mobil pria itu sendiri tatkala Bintang menoleh. Hal itu tentu saja membuat Langit geram. Langit tidak mengatakan apa pun saat mendekati mesin mobil dan mulai memperbaikinya. Bintang menyengir lebar seraya bertepuk tangan kecil. “Tuh kan, Om. Kak Langit baik, kan? Habis ini Om pasti aman dalam perjalanan, tenang aja ya Om,” ucap Bintang pada pria itu. Pria itu mengangguk dan tersenyum tulus pada Bintang. “Iya, Nak. Terima kasih bantuannya.” “Sama-sama, Om!” pekik Bintang tertahankan, seolah dialah yang sudah memperbaiki mesin mobil milik pria tersebut. Tak ada percakapan, yang ada hanya kicauan Bintang yang bercerita tentang pengalamannya sendiri dengan almarhum ayahnya yang terjebak masalah seperti ini. Pria itu tak jarang terkekeh mendengar cerita-cerita lucu yang dilontarkan bibir mungil tersebut. Ternyata, bibir tipis seperti itu, mampu bercerita panjang lebar untuk menghidupkan suasana. Bukan hanya pria itu, bahkan Langit yang tengah sibuk pun berpikir, apa bibir tipis dan mungil itu tidak akan habis? Kemudian ia menggeleng sebelum benaknya mengarah pada hal-hal aneh. Satu persamaan dari keduanya adalah mereka sama-sama belum pernah merasakan apa itu “pacaran”. Yang satu tak tersentuh, yang satu lagi nggak suka disentuh-sentuh! Yang satu dingin pada lawan jenis, yang satu lagi kaku. Namun, tanpa kedua remaja itu sadari sebenarnya hal-hal itu tidak berlaku saat mereka bersama. Langit menutup kap mesin mobil sedan tersebut dengan senyum puas yang begitu samar di wajahnya. “Udah, Kak?” tanya Bintang terkejut karena begitu cepat Langit memperbaikinya. Laki-laki itu hanya mengangguk lantas menatap pria itu tajam dan menarik Bintang berlalu. Surya, pria itu menatap geli ke arah kedua remaja itu, lantas beralih pada mesin mobilnya. Langit sengaja. Laki-laki itu sengaja memperparah kondisi mesin mobil yang memang sengaja Surya rusaki agar benar-benar terlihat mogok. Tapi Surya tidak pernah mengira, Langit lebih licik darinya. “Jemput saya di jalan besar sekolah Langit. Saya habis dikerjai anak sendiri,” titahnya pada asistennya di seberang. Begitu sambungan diputus secara sepihak, Surya kembali tenggelam dalam benaknya. “Sehebat itukah cahaya Bintang untuk kamu Langit?” Seulas senyum menjalar hingga pada kedua matanya yang berkantung. Mungkin ia akan meminjam cahaya Bintang kecil itu dahulu untuk mengembalikan biru Langitnya perlahan. Ya, selama cahaya Suryanya tidak berpengaruh lagi bagi Langitnya. *** “Kak Langit kenal yah sama Bapak yang tadi?” “Siapa?” Bintang cemberut. “Jangan pura-pura deh, Kak Langit! Baru aja beberapa menit yang lalu Kak Langit nolong beliau.” Menolong. Hatinya merasa geli. Kata “menolong” itu benar-benar tidak pantas untuknya. Langit tersenyum tipis, merasa puas. Pak tua itu pasti tengah kesulitan karena mobil sedannya semakin rusak oleh perbuatannya. Tunggu. Mobil sedan? Sialan!  Makinya. Mercedez-Benz E-Class tersebut adalah miliknya sendiri! “Sialan kenapa Kak Langit?” Bintang menatap Langit, kecewa dan hampir menangis! “Bintang, kan, cuma min—” “Nggak. Itu bukan buat lo, oke?” Langit berdecak. Ia tidak sadar jika makian dalam hatinya turut terucap. Bahkan ia juga tidak menyadari akan tindakannya yang menangkup wajah Bintang saat mengatakan maaf. Tentu saja hal itu membuat kedua pipi Bintang merona. Pantas saja, saat melihat mobil tersebut dari kejauhan, Langit merasa familier. Namun, begitu melihat Bintang yang tengah berbicara dengan pria itu, pikiran Langit akan mobil itu menguap sudah. Tersulutlah emosi yang teramat Langit benci ketika melihat sosok tersebut. Surya, ayahnya. Sampai kapan pun, ia memang tidak akan pernah menang melawan pak tua itu. Langit mengakuinya. Dan pria itu akan semakin merasa puas saat tahu kelemahan Langit saat ini terletak pada gadis di sampingnya. Lagi-lagi tanpa sadar, Langit mengakuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD