07 | Tentang Langit

3221 Words
Nari tersenyum-senyum saat Bintang menceritakan keseluruhan tentang Langit dan dirinya. Bintang yang melihat senyuman menggoda itu membuat jemarinya gatal mencubit Nari. “Ih Nari apa sih senyum-senyum begitu!” rajuk Bintang lantas membuang pandangannya. “Alaaah, tapi demen kan?” goda Nari. “Cukup satu Bulan, Nari. Jangan ada Bulan-Bulan lainnya!” gerutu Bintang dengan bibir mengerucut. Nari akhir-akhir ini sering menggodanya. Entah kapan Nari berubah jadi suka sekali menggodainya. Yang jelas, Bintang merasa kini Bulan ada dua! Nari terkekeh mendengarnya. Kini Bintang tidak lagi berhutang cerita padanya. Selama nyaris setengah jam, mereka habiskan waktu untuk bercerita di kantin yang ramai. Meskipun seramai ini, keduanya tidak takut ada yang akan menguping pembicaraan mereka. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, dan suasana begitu bising sehingga suara kecil Bintang—yang kadang membuat Nari gemas mendengarnya—agak teredam. Nari menyesap jus mangganya sejenak, lantas kembali bersuara, “Terus, gimana soal hape Kak Langit? Udah balik ke dia? Lo sudah salin belum nomor hapenya?” Bintang mengangguk dan juga menggeleng. Lalu ia mengulum senyum, malu-malu. “Bintang sih nggak nyalin nomornya. Tapi pas pulang, Kak Langit sendiri yang minta nomor Bintang.” Nari dibuat menganga karenanya. “Serius? Tapi lo nggak dikasih nomor dia?” Bintang mengernyitkan dahi. Benar juga. Mengapa ia tidak terpikir untuk bertukar nomor ponsel? “Bintang nggak kepikiran, Nari…” ringis Bintang membuat Nari memutar bola matanya. “Yaaah, nggak apa-apa sih. Dengan Kak Langit minta nomor lo aja, gue udah bisa menyimpulkan,” ucap Nari membuat Bintang menatapnya dengan mata membulat. “Kesimpulan apa Nari?” “Langit suka sama Bintang.” Nari tersenyum seraya menggigit bibir bawahnya. “Ciyeee merah nih mukanyaaaa…” “Ih, Nari!” Nari terkikik geli karenanya. Meskipun belum pernah bertemu Bulan, sepertinya benar dugaan Bintang, Nari memang tertular virus jahilnya Bulan. Entahlah, Nari jadi ingin bertemu Bulan. Bersekutu dengan Bulan untuk menggoda Bintang sepertinya merupakan ide yang seru. “Tapi Bintang agak bingung. Masa ya, pas Bintang intip hapenya Kak Langit, dia nggak nyimpan lagu satu pun.” Bintang menerawang, “Memangnya asyik yah hidup tanpa musik?” Senyum Nari kontan menguap. Memandangi Bintang dengan kening berkerut dalam. “Bi, lo nggak tahu atau gimana?” sepasang alisnya yang rapi terangkat tinggi menatap Bintang yang asyik menopang dagu dengan kedua tangannya. “Nggak tahu apa?” Nari meringis kecil. “Kak Langit, kan, benci musik.” Salah satu siku Bintang kontan terpeleset di atas meja. Sepasang mata bundar itu menatap Nari dengan tatapan tak percaya. Benci. Kata itu saja membuat Bintang cukup terkejut. Kalau “tidak suka”, mungkin Bintang bisa maklumi. Banyak orang yang tidak suka musik, dalam arti, bukan mereka yang akan menutup kedua telinganya ketika musik berputar. Tapi, benci? Sepertinya identik dengan orang-orang yang akan langsung menutup rapat-rapat sepasang telinga mereka ketika musik bahkan tak sengaja terdengar. Sudah pernah Bintang katakan bukan, kalau dia adalah pecinta musik. Hampir seluruh aliran musik ia sukai. Di jaman seperti ini, bahkan sudah banyak orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan alternatif sebagai penyanyi meski suara mereka “tidak terlalu bagus” menurut Bintang, dan “duh-mending-lo-mati” menurut Bulan. “Nari tahu dari mana?” tanya Bintang dengan suara mengecil. “Katanya itu termasuk rahasia umum, Bi. Semua orang udah tahu meskipun nggak berani diomongin. Gue aja baru tahu dari Kak Ando. Gue pikir lo juga udah tahu…” “Nari jadi dekat yah sama Kak Ando?” Nari kontan melotot penuh. “Eh eh, jangan bandel ya! Mulai berani ngalihin pembicaraan!” Bintang terkekeh. Diam-diam ia mengambil napas dalam dan mengembuskannya. “Kira-kira, kenapa ya Kak Langit benci musik?” Bintang melirik Nari, “Mungkin Kak Langit bukan jodoh Bintang? Selama ini Bintang pengin punya pasangan seperti Ayah. Ayah punya hobi dan kesukaan yang sama dengan Bunda. Kayaknya dengan persamaan itu, cinta mereka abadi seperti sekarang…” Bintang mulai menerawang dan menceritakan kisah-kisah romantis ayah dan bundanya saat ia masih kecil. Nari tersenyum mendengarnya. Ya, Bintang teramat menyukai musik. Bukan suka lagi, tapi mencintai musik! Bahkan Nari sudah hafal pesan ayah si Bintang kecil yang kerap kali diceritakan sahabatnya itu: Jadilah seperti musik. Sekalipun sang penyanyi telah pergi, lagu-lagunya akan selalu hidup dan dikenang. Nari mengerti, dari situlah Bintang mulai “menuntut semua orang menyukai musik”. Nari suka musik, tapi sangat jarang mendengarkannya. Tapi berkat si Bintang kecil, ponsel Nari kini dipenuhi lagu hingga kurang lebih 500 lagu. Masih berbanding jauh dengan Bintang yang nyaris seribu lagu. Nari jadi sering mendengarkan lagu di mana pun dan kapan pun. Bintang tidak menyimpan semua itu di dalam ponselnya bututnya yang berkapasitas kecil. Ponsel itu hanya berisi foto-foto penting keluarganya dan Nari—jika dirinya sedang over-pede! Bintang menyimpan seluruh lagunya dalam mp3 mungil berwarna biru yang selalu gadis itu bawa ke mana-mana. “Nggak ada yang tahu, Bi.” Nari mengangkat bahunya. “Gue sempat nanya Kak Ando, tapi dia juga nggak tahu. Semua berawal dari nilai-nilai Seni Budaya Kak Langit yang ancur abis!” Bintang lantas memusatkan perhatiannya kembali pada Nari yang mulai bercerita. Hmm, sepertinya, Nari kini semakin dekat dengan Ando karena gadis itu semakin memiliki banyak informasi soal Langit. Nari membasahi bibirnya yang terasa mengering. “Guru-guru sempat bingung karena Kak Langit itu murid yang sempurna dalam setiap pelajaran. Pengecualian mata pelajaran kesenian, khususnya ketika materi musik! “Dari awal masuk sampai di tingkat akhir, nilai Keseniannya selalu merah. Tapi anehnya, Bu Sisca selalu ngelulusin dia! Katanya sih, itu semua karena dibantu oleh seluruh nilai dia yang nyaris seratus semua. Ya ampun, apa hubungannya matematika, fisika, dan lain-lain begitu sama Seni?! Kak Ando juga ngerasa itu cuma akal-akal pihak guru aja supaya kita-kita nggak iri sama Kak Langit. Bahkan gue, Bi, yang baru dengarin cerita itu aja merasa ganjil.” Nari melirik Bintang dan tersenyum. “Bi, begitu banyak rahasia Kak Langit sebenarnya yang kami nggak tahu. Lo itu cewek beruntung menurut mereka karena bisa dekat sama Langit. Bahkan topik majalah sekolah edisi minggu lalu: Bintang si Cahaya Kecil sang Langit.” Bintang membalas tatapan Nari dengan sepasang mata sedikit terbelalak. “Itu serius?” Nari memanggut-manggut. “Iya. Masih ada kok majalahnya di perpus kalau lo mau baca. Mereka semua setuju kalau nama kalian yang sejenis tapi nggak sama itu bukan suatu kebetulan, tapi emang takdir. Gue aja udah ngerasa dari awal munculnya kabar “Bintang Jatuh” itu kok.” Sebenarnya, kalimat di atas adalah pesan Ando untuk Bintang yang disampaikannya melalui Nari. Keduanya diam-diam sepakat berencana menyatukan Bintang dan Langit sebagaimana mestinya hukum alam. Ando tidak punya hak mengatakan hal seperti itu pada Bintang—jika ia tidak ingin mendapat satu pukulan dari Langit—maka, ia mengatakan hal itu pada Nari. Bintang melirik Nari dari balik bulu matanya secara diam-diam. Nari tidak menyadari, Bintang tengah merencanakan sesuatu. “Oh iya, Bi. Soal Kak Ando yang waktu itu, maafin dia ya? Dia cuma pengin tahu reaksi Kak Langit doang kalau lo digangguin orang. Katanya sih gitu,” ujar Nari. *** “Bintang?” Bintang menoleh lantas tersenyum pada pria yang duduk di sebelahnya. “Eh, Om yang kemarin!” ucapnya antusias membuat pria itu tersenyum geli dengan sebutan Bintang untuknya. Pria itu mengulurkan tangannya. “Saya belum mengucapkan terima kasih atas bantuan kamu tempo hari. Saya Surya.” Bintang membentuk lingkaran kecil di bibir mungilnya seraya membalas uluran tangan besar tersebut. “Iya, sama-sama. Omong-omong, nama Om bagus!” puji Bintang tulus. Nama pria itu mengingatkan dirinya akan namanya sendiri. “Oiya, Om ngapain di halte sini? Nungguin bus juga?” Surya mengangkat sebelah alisnya. Hal itu mengingatkan Bintang pada seseorang, tapi Bintang tidak memusingkannya. “Kamu pulang naik bus?” tanya Surya dengan terkejut yang dibuat-buat, namun kepolosan Bintang tidak sanggup membuat gadis itu menyadarinya. “Saya pikir kamu selalu pulang bersama temanmu yang kemarin itu.” Bintang menggeleng. “Hari ini Kak Langit kayaknya lagi buru-buru, Om. Lagian, Kak Langit nggak nawarin, jadi Bintang segan buat minta bareng. Bintang, kan, bukan siapa-siapa Kak Langit,” ujarnya kemudian menyengir lebar, menutupi perasaan aneh dalam dadanya saat mengatakan dirinya bukan siapa-siapa Langit. Rasanya, seperti dicubit! Surya memanggut-manggut. Diam-diam ia tersenyum. Anak itu pasti terburu-buru karena ingin mengunjungi makam ibu dan kakaknya. Langit memang tidak pernah absen mengunjungi makam kedua perempuan tercintanya setiap bulan. “Bagaimana kalau kamu pulang dengan saya? Saya traktir makan deh!” tawar Surya hangat seolah Bintang adalah anaknya sendiri. Bintang selalu takut dengan hal-hal seperti ini. Berkenalan dengan orang yang tidak ia kenal maupun diajak pulang bersama atau jalan-jalan dengan laki-laki asing. Masih ingat insiden Bintang yang takut dihampiri Ando? Ya, Bintang memang khawatir dengan orang yang tidak cukup dikenalnya.  Meskipun ragu, Bintang tetap mengangguk. Batinnya berharap semoga Surya bukan penculik! *** Langit melempar ranselnya asal sebelum menghempaskan tubuhnya ke sofa. Kedua matanya terpejam. Menikmati kegelapan yang menguasai penglihatannya. Selalu seperti ini setelah mengunjungi makam ibu dan kakaknya. Langit selalu merasa rindu yang semakin sesak menghimpit dadanya. Hujan tengah turun dengan derasnya. Mendung tengah menguasai hatinya. Tidak ada lagi tangis seperti sang hujan yang kini tengah membasahi bumi. Air matanya telah kering akibat kerinduan yang tak terbendung. Cukup langit yang menangis saat ini. Tidak pada Langit lagi. Ya, ia akan berusaha menatap kedepan dan menerima semua yang telah terjadi. Namun, bukan berarti ia telah memaafkan semua kesalahan yang pernah sang perampas bahagianya perbuat. Tidak akan pernah. “Den Langit sudah pulang, ya. Mau Bibi buatkan teh hangat atau mau langsung makan, Den?” tanya Bi Sum dari dekat pintu dapur. Hari sudah menjelang sore. Tidak ada sarapan, makan siang, makan malam, maupun hal-hal yang dilakukan secara bersama di rumah ini. Semua itu telah mati karena kebekuan Langit dengan sang Surya. Semua aktivitas di rumah ini menjadi individual. Atmosfer di istana mewah itu bahkan terasa berada dalam sangkar yang dingin. Tidak ada sirat kebahagiaan di dalamnya. Yang Langit inginkan saat ini hanya tertidur sampai esok pagi. Tapi pikirannya terganggu oleh pria itu. Tiba-tiba saja Langit penasaran, di mana ayahnya itu? Langit tidak melihat batang hidungnya sejak ia tiba di rumah. Apa mungkin pria itu juga mengunjungi makam ibu dan kakaknya? Cih! Langit ingin sekali meludah. Jangankan mengunjungi, mengingatnya saja belum tentu dilakukan pria itu. Begitu sibuk dan tidak peduli. Egois dan mementingkan passion-nya. Langit sangat membencinya. “Di mana dia?” tanya Langit pada Bi Sum. Bi Sum tersenyum tipis. Walaupun Langit menyebut ayahnya sendiri sebagai “dia”, namun setidaknya laki-laki itu mencarinya. “Tuan pergi dari siang, Den. Katanya mau menghadiri wawancara.” Langit mendengus. Sejak dulu, bahkan sampai umurnya berkepala lima, pria itu tidak bosannya bermusik! Musik. Musik. Musik! Hanya itu yang dilakukannya sejak dulu. Musik seolah membutakannya. Lupa bahwa pria itu “dibutuhkan”. Ia benci dengan musik dan Surya. Ia benci dengan segala hal yang bersangkutan atas hilangnya kebahagiaannya. “Bibi masak apa?” *** Surya menatap geli si Bintang kecil yang tengah melahap nikmat makanan di depannya. “Enak ya?” “Enak banget, Om!” Bintang menyengir lebar. Saus tomat meluber hingga keluar garis bibirnya. “Bintang belum pernah makan di tempat sebagus ini, Om! Mahal ya pasti?” Surya tersenyum. “Nggak usah dipikirkan. Saya bahkan bisa membelikan kamu restoran ini kalau kamu suka, Bintang.” Bintang terkikik geli karena gurauan Surya. Kedua mata pria itu tersenyum. Bintang tidak tahu bahwa ucapannya bisa saja ia wujudkan saat ini juga. “Terus anak Om hari ini pergi ke mana? Memangnya dia lupa hari ini ulang tahun Om?” tanya Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya. Baru saja Surya ingin membuka mulut, suara gaduh dari luar restoran mengejutkannya. Dari balik dinding kaca tersebut, terlihat beberapa orang tengah mengambil gambar dirinya dari luar, bahkan ada yang ingin memasuki restoran dan menghampirinya. Surya segera memberi isyarat pada mereka semua dengan tegas untuk tidak mengganggunya. Meskipun penasaran dan merasa kecewa karena ditolak sang idola, para penggemar dari kalangan baik tua maupun muda itu memahami privasi sang musisi. Meski usianya telah memasuki setengah abad, Surya tetap memiliki banyak penggemar. Bukan hanya di tanah air, tapi di luar pun banyak yang mengaguminya. Surya dengan segala prestasi bermusiknya, tidak lagi diragukan. Ditambah dengan perawakannya yang tegap dan wajah yang rupawan. Surya dikategorikan sebagai “musisi yang tak pernah mati” bagi para penikmat musik, baik di era ketika nama Surya tengah berjaya, maupun hingga kini. Meskipun di jaman ini ia sudah jarang mendapat undangan menghadiri acara besar karena sudah banyak musisi muda yang lebih “segar” dan berprestasi, namun namanya akan selalu tertera dalam daftar musikus terbaik pada eranya. Tidak pernah ada lagi wawancara, memang siapa yang ingin tahu kehidupan pria yang kini sudah tua? Mungkin penggemarnya, tapi mungkin juga mereka tidak seantusias dulu. Kini, anak muda yang lebih berkuasa pada dunia permusikan. Ya, intinya Surya berbohong pada Bi Sum. Satu hal, Surya adalah musisi yang penuh rahasia bagi para penikmat musik. Di setiap biografinya, tidak satu pun yang dapat menceritakan tentang keluarganya. Yang mereka tahu adalah Surya telah menikah dan memiliki anak, kemudian sang isteri mendahuluinya beberapa tahun lalu. Hanya itu. Bukankah hebat menyembunyikan identitas diri selama bertahun-tahun tanpa tercium publik sedikit pun? Ini semua dilakukan demi Langitnya. Diam-diam Surya mengamati Bintang lantas mengembuskan napas lega. Untunglah gadis itu tidak menyadari kejanggalan di sekitarnya. Bintang mendongak akibat keheningan yang diciptakan Surya. “Om? Bintang salah nanya yah?” lirih Bintang, menatap Surya dari balik bulu matanya. “Oh, nggak.” Surya terkekeh kecil. “Saya hanya bingung menjawab apa.” Surya tidak berbohong. Ia memang bingung harus menjawab pertanyaan Bintang bagaimana? Hari ini memang ulang tahun Surya. Para penggemar sudah hapal tanggal lahirnya di luar kepala. Begitu juga semua orang terdekatnya. Pengecualian untuk Langit Angkasa, anak dari sang Surya sendiri. Hari kelahiran ayahnya seolah telah dibakar mentah-mentah dari memori laki-laki itu. Jangankan ulang tahun Surya, ulang tahun Langit sendiri pun sepertinya tidak diingatnya. Tapi tidak dengan Surya. Sebenci apa pun Langit padanya, Surya tetap mengelilingi bumi laki-laki itu tanpa Langit sendiri sadari. Surya tahu dan hafal segalanya tentang Langit. Lantas, apa yang harus ia katakan pada Bintang? Pada akhirnya, Surya memilih untuk memulai sebuah cerita. “Dia membenci saya, Bintang.” Bintang tertegun. Ia menangkap kilat kesedihan yang begitu mendalam di balik kedua mata hitam sang Surya. “Keegoisan dan kebodohan saya yang membuat dia membenci saya. Saya dibutakan oleh pekerjaan saya sehingga mereka kehilangan figur seorang ayah. Saya tahu saat itu saya harus kembali, tapi saya tetap menyelesaikan pekerjaan saya. Sampai wanita yang saya cintai, pergi selamanya…” Surya tersenyum pada Bintang yang berkaca-kaca. “Dia membenci semua tentang saya, semua yang berhubungan dengan saya. Dia membeku. Membuat dinding pada dunianya. Membentengi hatinya. Saya tidak lagi sanggup meraihnya. Saya tidak lagi menjadi alasan untuk dirinya tersenyum.” Hati Bintang tergugah untuk menenangkan Surya yang mulai menitikkan air mata. Gadis itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Surya. Telapak tangannya mengusap ringan bahu Surya seolah pria itu adalah kenalan lamanya. “Nggak usah dilanjutin ceritanya lagi ya, Om?” pinta Bintang seakan berhadapan dengan ayahnya sendiri. Dan Bintang tidak suka ayahnya bersedih! Surya tersenyum karena tindakan gadis itu. Bintang sangat murni dan baik. Surya tahu, Bintang tercipta untuk mencairkan apa yang telah membeku. Cahaya sang surya telah mati sejak ia kehilangan separuh hatinya. Dan Surya yakin, meski takdir hanya menciptakan bintang kecil untuk keluarganya, namun cahaya bintang dapat menerangi bumi. Terlebih pada Langitnya. Surya melepaskan pelukan Bintang dan menatap gadis itu dengan penuh ketulusan. Bintang bahkan dapat merasakan kehangatan ayahnya di kedua mata hitam itu. “Kamu mirip sekali dengan anak saya.” Bintang menelengkan kepalanya. Bibir mungil itu membentuk huruf “o” yang membuat Surya gemas ingin mencubitnya. “Jadi anak Om itu perempuan yah?” tanya Bintang. Surya terkekeh. “Bukan. Yang saya ceritakan tadi bukan yang mirip denganmu. Dia laki-laki, masih sekolah juga. Sementara kakaknya adalah perempuan yang saya katakan mirip sekali denganmu.” Ya, mungkin inilah alasan mengapa Surya melihat hal familier yang ia sendiri tidak ketahui dalam diri Bintang beberapa saat lalu. Bintang terkikik. “Oh, maksud Om, pesek seperti Bintang ya?” Surya tergelak. “Tidak, tidak. Maksud saya, sifat kalian begitu mirip. Baik, periang, dan lucu,” jelas Surya kemudian terlihat berpikir. “Hmm, omong-omong, kamu tidak pesek. Hidungmu bagus, kamu terlihat manis.” Kedua pipi Bintang bersemu merah. Anak ini terlihat manis di mata Surya. Penuh warna seperti pelangi. Begitu cerah seperti langit sore ini. “Oh iya, Bintang. Kamu suka mendengarkan musik?” tanya Surya kembali begitu Bintang telah duduk di kursinya. Bintang memanggut-manggut. Mengikuti arah pandang Surya di mana sebuah mp3 mungil berwarna biru terjepit di saku seragamnya. “Iya, Om. Bintang suka sekali sama musik!” ucapnya antusias. Inilah yang membuat Surya—ketika mengetahui segala tentang Bintang dari informasi yang didapatkan—terkejut. Gadis ini mengaku menyukai musik, tapi… Apakah ia tidak dikenal dalam generasi baru angkatan Bintang? Ehem, jujur saja, Surya agak tersinggung. Pria itu hanya bisa menghela napasnya. Yah, mau bagaimana lagi? Di jaman serba canggih ini, Surya lebih sering mendengar anak muda bermain launchpad dibanding piano. Di Youtube bahkan semakin banyak aliran EDM (Electronic Dance Music) yang diciptakan oleh para DJ muda. Apakah Bintang juga termasuk bagian dari mereka? “Kamu suka genre apa?” tanya Surya. Bintang menyengir lebar. “Bintang suka hampir semua genre musik, Om! Tapi, Bintang paling suka aliran Pop…” Surya berdeham samar. Tidak terduga. Ia pikir, tipikal polos dan lembut seperti Bintang adalah penikmat musik klasik. Oh, ayolah! Surya tidak buta soal ini. Meskipun ia memilih untuk bermain piano ketimbang membaca sebuah novel, tapi wanita tercintanya dulu sering sekali menceritakan kisah roman dari novel yang dibacanya sebelum tidur. Ya, dialah Tata, bahagianya Surya. Dulu, walaupun Tata sudah memiliki Pelangi dan Langit, wanita itu lebih suka membaca novel-novel remaja. Uniknya, ia senang membayangkan Pelangi maupun Langit yang menjadi tokoh dalam cerita yang dibacanya. Bukan dirinya sendiri. Tata pernah bercerita padanya. Sebuah kisah dari ratusan kisah yang diceritakannya, yang terukir dalam memori Surya. Tentang gadis polos yang mengubah hidup seorang pemuda. Hanya karena kemurnian, ketulusan, serta keunikannya dalam bermain musik dan aliran yang disukainya, pemuda itu luluh di tangan si gadis. Tata bahkan pernah bilang, wanita itu nyaris bosan karena karakter gadis polos yang suka bermusik selalu identik dengan musik klasik. Klise. Jadi, tidak salah bukan jika Surya mengira Bintang adalah penikmat aliran klasik? “Om?” Bintang mengerjap-ngerjap. Bibirnya sedikit maju, cemberut begitu mengetahui cuap-cuapnya tidak didengarkan. Surya mengedipkan sepasang matanya. “Ah, maaf Bintang. Saya hanya teringat anak saya.” Sepasang mata Bintang membulat. “Anak-anak Om suka musik juga? Ih, seru banget tuh, Om! Bintang juga pengin anak-anak Bintang nanti suka sama musik!” “Iya. Tapi… tidak lagi.” Ucapan itu tentu saja membuat Bintang kontan menatap Surya, bingung. “Kamu tahu Bintang? Saya begitu mencintai musik, sama sepertimu.” Surya tersenyum mendapati keterkejutan Bintang. Bibir mungil itu sedikit terbuka karenanya. “Tapi, seperti yang saya katakan, dia membenci segalanya tentang saya. Dia membenci musik.” Bintang terkesiap. Ia tahu, yang dimaksud Surya adalah anak laki-laki pria itu. Entah, tiba-tiba saja pikirannya terarah pada Langit. Ada apa dengan hari ini? Masihkah ada lagi yang membenci musik? “Saya sakit karenanya. Di usia saya, saya hanya ingin mendapat kebahagiaan dengan melihat senyum dan merasakan kehangatannya setiap hari sebelum Tuhan menginginkan saya….” Bintang menggigit bibirnya. Kesedihan Surya seolah membuat hatinya turut nelangsa. “Bintang?” Gadis itu melirik Surya dari balik bulu matanya. “Iya, Om?” “Kamu mau bantu saya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD