08 | Misi Bintang

2315 Words
Bintang meniup seraya menekan tuts pianika dengan lembut. Jemari mungilnya menari lihai seolah-olah ia tengah bermain piano. Begitu lagunya selesai, Bintang lantas menyimpan pianika tersebut kembali dalam laci meja belajar. Ia menghela napas saat kenangan manis masa lalunya kembali terbesit dalam benak. Terakhir kali ia menyentuh piano saat ayahnya masih ada. Kini ia tidak lagi bisa memainkannya dengan benda tersebut karena telah dijual untuk membiayai sekolahnya juga kuliah Bulan. Belinda tidak bekerja, itulah yang membuat keuangan keluarga kecil mereka tidak sebesar keluarga teman-teman Bintang. Kalaupun wanita itu ingin, Bintang dan Bulan tidak mau melihat bundanya lelah karena bekerja. Bintang pernah diceritakan oleh ayahnya, bagaimana dunia kerja itu bukan hal yang mudah. Biarkanlah Bintang dan Bulan yang bekerja ketika mereka sudah besar. Biarkanlah Belinda menikmati masa tuanya dengan bersantai. Biarkan keduanya yang membahagiakan sang bunda. Bintang menoleh pada langit malam di luar jendela kamarnya. Tidak ada bintang malam ini. Mungkin akan turun hujan sebentar lagi. Seharusnya Bintang tidak peduli. Ia menyukai hujan di malam hari. Rasanya membuat Bintang ingin terus bergelung pada selimut dan memeluk guling di kamarnya. Namun, saat ini berbeda. Bintang teringat Langit. Entah apa yang membuat otaknya tiba-tiba terbayang wajah Langit. Tapi, langit malam yang menangis membuat Bintang terbayang akan kesedihan sang Langit. Begitu banyak rahasia Kak Langit sebenarnya yang kami nggak tahu. Lo itu cewek beruntung menurut mereka karena bisa dekat sama Langit. Ucapan Nari padanya tempo hari masih terngiang jelas dalam pikirannya. Begitu juga dengan fakta bahwa Langit pembenci musik. Hati kecil Bintang sudah membuat sebuah catatan kecil berupa misinya untuk membuat Langit tidak lagi membencinya. Bintang bukan melakukan ini tanpa alasan atau karena hanya ingin mendekat dengan sang Langit. Bintang melakukan ini semata untuk dirinya sendiri. Ia ingin dikenang seperti musik. Ia ingin selalu hadir di kehidupan orang-orang tersayangnya. Ia ingin terus hidup seperti musik yang tidak pernah mati. Ia ingin semua orang mencintainya seperti mereka mencintai musik. Karena itulah, ia perlu menuntut semua orang mencintai musik! Bintang menggigit kuku telunjuknya. Apakah hal itu mudah baginya menaklukan Langit? “Ugh!” Bintang menutup wajah dengan kedua tangannya. Permintaan Surya yang juga ternyata sama dengan misi kecilnya, membuat Bintang sedikit frustrasi. “Bintang? Kamu mau bantu saya?” “Apa itu, Om?” “Selama ini saya tidak pernah berhasil membuat anak saya kembali mencintai saya seperti saya mencintai musik. Bisakah kamu membuat orang-orang terdekatmu mencintai musik seperti mereka menyayangimu? Saya ingin, banyak orang yang menyukai apa yang saya sukai, sehingga saya tidak merasa sendiri…” Bintang tertegun saat itu. Surya hanya membalasnya dengan senyuman sebelum akhirnya pria itu mengantar Bintang pulang ke rumahnya. Belinda sempat memekik histeris begitu tahu siapa yang mengantar Bintang pulang ke rumah. Tapi dengan polosnya, Bintang mengatakan bahwa Surya bukan p*****l seperti yang Belinda bayangkan. Surya hanya mentraktirnya makan karena Bintang telah berbaik hati menolongnya. Bintang tidak tahu, diam-diam Belinda meminta tanda tangan Surya begitu Bintang telah berlalu masuk ke dalam kamarnya. Bintang tidak mengerti, tapi Bintang akan menepati janjinya sendiri. Janji pada ayahnya. Janji pada Surya. Janji untuk membuat semua orang mencintai musik seperti mereka menyayangi si Bintang kecil. *** “Kak Langit!” Langit menghentikan langkahnya dan menoleh. Sebelah alisnya terangkat tinggi mendapati Bintang dari kejauhan telah memasang senyum lima jari untuknya. Dengan langkah kecil yang membuat Langit gemas, Bintang menghampiri Langit. “Kak Langit habis sekolah mau ngapain?” “Kuliah.” Bintang langsung cemberut mendengarnya. “Maksud Bintang, Kak Langit pulang sekolah nanti ada acara nggak?” Dalam hatinya, Langit ingin menyuarakan jawaban tajam yang membuat sosok mungil ini menghilang dari pandangannya saat ini. Perasaannya sedang tidak baik saat ini. Semua lagi-lagi karena sang Surya yang tak pernah lelah mengusik dunianya. Tapi, ia tidak ingin binar ceria sepasang mata hitam itu meredup karena ucapannya. “Ada apa?” tanyanya dengan bibir menipis. Menormalkan intonasinya sebaik mungkin. Bintang tersenyum. “Hari ini Bulan pulang lagi. Mau temanin kami pergi jalan-jalan nggak? Bunda yang ngajak Kak Langit.” Langit mengembuskan napasnya. Gadis ini hanya ingin berbuat baik, dan Langit hanya perlu menghargainya dengan tidak menyakitinya. Apakah Bintang menyadari kesepian dalam dunia Langit? Ada perasaan malu yang mencubit hati Langit mengetahui hal itu. Bintang, dengan segalanya yang menyayangi gadis ini, membuat Langit merasa iri. Langit menatap Bintang sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Dari kejauhan, di tempat yang agak tersembunyi, terlihat dua orang yang tengah mengintip Bintang dan Langit. “Perasaan setiap gue ajak ke mana pun dia nggak pernah mau,” sungut Ando membuat Nari di sebelahnya terkikik geli. “Yaiyalah, Kak. Lo, kan, bukan Bintang.” Ando melirik Nari dalam diam, sebelum akhirnya mengulas senyum. “Iya. Karena dia Bintang.” *** Bulan bersiul tatkala mobil Mercedez-Benz E-Class berhenti tepat di depan pagar mungil rumah mereka. Langit dengan segala pesonanya, keluar dari bangku kemudi lantas menyalami Belinda dengan sopan. Langit memang pulang dulu ke rumah untuk mengganti baju dan kendaraannya. Dengan mobil, perjalanan mereka nanti akan lebih terasa aman dan nyaman, bukan? Ya, setidaknya begitulah yang Langit pikirkan. Sementara Bintang? Gadis itu bahkan dengan gamblangnya mengusulkan mereka semua untuk berjalan-jalan menaiki angkutan umum. Geez, Bintang! Langit lebih baik naik ojek sekalian dari pada harus merasakan bau-bau tak sedap aroma bercampur polusi pada jam pulang seperti kemarin. Langit mengernyit saat tak mendapati Bintang di antara Bulan dan Belinda. “Bintangnya mana?” “Ciye, nyariin ya?” goda Bulan membuat Belinda diam-diam mencubit pinggang anak sulungnya tersebut. Belinda tersenyum. “Bintangnya lagi—” “Ayuk, berangkat!” pekik Bintang yang tiba-tiba muncul, entah dari mana. Sudut bibir Langit berkedut. Laki-laki itu berusaha keras menahan tawanya melihat penampilan Bintang. Cara gadis itu berpakaian sungguh norak. Dengan baju berwarna kuning mencolok, rok jeans di bawah lutut berwarna biru telur asin, serta bando berwarna fushia yang menghiasi kepalanya. Belum lagi sepatu flat boots berwarna cokelat yang menghiasi sepasang kakinya. Serius, Bintang? Gayanya sungguh berbeda dengan Bulan yang hanya mengenakan jaket jeans biru yang menutupi kaus berwarna senada di dalamnya. Gadis itu mengenakan bawahan berupa celana berbahan sama dengan jaketnya juga sepasang kets berwarna putih sebagai alasnya. Nyaris mirip dengan selera berpakaian Langit. “Nak Langit?” “Iya, Bun?” Belinda tersenyum mendengar sebutan Langit untuknya. “Ini sudah sore. Apa tidak apa-apa kalau kamu pulang agak terlambat? Kemungkinan kita baru sampai rumah malam soalnya. Bunda sama Bulan mau sekalian belanja bulanan untuk persediaan.” Langit tersenyum membalasnya. “Iya, Bun. Nggak masalah…” “Udah izin bokap-nyokap lo belom?” tanya Bulan sekenanya. Langit mengangguk. “Udah.” “Okay, ayuk jalaaan!” Bintang menoleh pada Belinda. “Bunda di depan ya sama Kak Langit? Aku sama Bulan di—” “Lo di depan,” titah Bulan, memotong ucapan Bintang. Meskipun cemberut, Bintang tetap menuruti perintah Bulan. Padahal, ia ingin duduk bersama bunda di belakang demi menghindari “berduaan” secara tidak langsung dengan Langit. Langit menatap langit sore di atasnya. Kali ini, tidak seperti biasanya. Mendung di atas, tidak berpengaruh pada perasaannya saat ini. Langit tidak akan menangis seperti halnya langit di atas yang akan memuntahkan hujan sesaat lagi. Ya, setidaknya untuk hari ini. *** Bintang meraih lengan besar Langit dan menarik laki-laki itu ke tempat pernak-pernik perempuan. Langit mendengus dan memutar kedua bola matanya. Tidak Bintang, tidak juga Pelangi, sangat suka tempat-tempat seperti ini. Dasar perempuan! “Ih Kak Langit! Di sini ternyata banyak yang lucu-lucu ya. Bintang nggak pernah ke mall di sini soalnya, selalu yang dekat-dekat aja sama rumah. Apalagi, kan, perjalanan ke sini lumayan jauh kalau pakai angkutan umum, jadi Bintang nggak pernah ke mall yang ini deh. Padahal Nari sering cerita memang mall ini nomor satu dibanding yang lainnya…” Langit mengerling malas pada Bintang. “Udah?” Bintang terkikik lantas menyengir lebar. Langit pasti kesal karena ocehannya yang panjang lebar. Belum lagi saat perjalanan, suasana mobil di penuhi oleh suara nyanyian Bintang dan Bulan akan lagu-lagu favorit mereka. Langit ingin sekali menyumpal mulut-mulut tersebut supaya tidak lagi bernyanyi. Namun, ia tidak enak hati pada Belinda yang ikut tertawa menikmati perjalanan mereka. Dalam hatinya, Langit merasakan perasaan lega yang tidak dapat ia ukur. Entahlah, tapi ia merasa senang bisa memberi kebahagiaan sederhana untuk keluarga kecil ini. Meskipun bahagia itu sudah terlambat untuk keluarganya sendiri. “Bunda sama Bulan mana sih,” sungut Bintang dengan leher memanjang mencari-cari sosok kedua perempuan itu. Ugh, kalau tahu mereka belanja selama ini, Bintang lebih baik ikut dengan mereka saja. Sayangnya, Bulan dan Belinda sendiri yang menyuruh Bintang dan Langit berpisah. Entah apa maksudnya. Padahal menurut Bintang, belanja bersama-sama lebih asyik. Siapa tahu Langit juga suka berbelanja, kan? Langit hanya mengangkat bahu, tak acuh. Sudut matanya kemudian menangkap sebuah toko buku yang terletak di lantai dua. Tanpa mengajak pun, Langit tahu, Bintang selalu mengekorinya. Langit juga tidak tahu apa yang ia cari. Laki-laki itu hanya mengitari rak-rak buku di sana dengan langkah lambat. Sampai ia menyadari, Bintang tidak lagi mengikutinya. Baru saja Langit ingin mencarinya, sosok mungil Bintang tertangkap jelas oleh sudut matanya dari kejauhan. Gadis itu terlihat tengah asyik mengobrol dengan salah seorang SPG di bagian alat musik. Sialan! Batinnya mengumpat. Mengapa bersama dengan gadis ini seolah mengingatkannya dengan sebuah hal yang ia benci? Apakah Bintang tidak tahu bahwa ia membenci musik? Segala yang berbau dengan musik? Oh jangan harap, Bintang bukanlah gadis yang suka bergosip di sekolahnya. Untuk apa membicarakan tentang Langit? Jemari mungil itu mulai menekan satu per satu tuts piano di hadapannya. Bintang menyengir lebar pada SPG di sampingnya yang memberikannya sebuah kursi. Dengan antusias, jemari lentik itu menari-nari lincah. Beberapa pengunjung bahkan ada yang rela menghentikan aktivitasnya demi menyaksikan permainan lembut sang Bintang. River Flows In You. Langit mengenal lagu ini. Lagu yang selalu dimainkan sang Surya atas permintaan Tata. Begitu mengingat dengan detailnya, di mana Langit dan Pelangi kecil menatap keduanya yang penuh cinta seraya menopang dagu dari kejauhan. Bintang sadar, Langit memerhatikannya dari balik rak buku yang nyaris menutupi tubuh menjulang lelaki itu. Bintang memperhalus permainannya hanya untuk Langit. Bukan untuk kesenangannya karena dapat menyentuh piano kembali, maupun karena berhasil menarik orang-orang sekitar mendengarkan lantunannya. Bintang tak tahu harus bermain lagu apa untuk membuat Langit terkesan. Menurutnya, lagu ini cukup booming dari dulu hingga kini. Dan untunglah, Bintang masih mengingatnya dengan jelas. Ia benar-benar mempraktikkan apa yang ayahnya ajarkan. Di akhir permainan, kedua mata mereka bertemu. Bintang tersenyum. Senyum manis yang tidak Langit sukai. Terdapat geraman kecil yang tidak dapat didengarkan sekitarnya. Tidak Bintang. Tidak juga mereka yang tidak sengaja melewati Langit. Ada perasaan kecewa yang tidak dapat dirasakan semua orang mendengar permainan itu. Tidak Bintang. Tidak juga orang-orang yang melihat kebekuannya. Senyuman itu. Langit sadar, Bintang telah mengetahuinya. Mengetahui salah satu rahasianya. Langit berlalu, meninggalkan Bintang yang sempat tertegun sebelum terburu-buru mengejarnya. Gadis itu bahkan tidak sempat menyelesaikan permainannya dan meninggalkan semua orang yang menikmatinya merasa kecewa. Bintang berlari-lari kecil upaya menghampiri Langit yang mengambil langkah lebar menjauhinya. “Kak Langit!” seru Bintang, berusaha menahan lengan besar Langit dalam genggamnya. Langit menarik napasnya dalam. “Maksud lo apa, Bintang?” “Apa maksudnya, Ka—” “Jangan pura-pura, Bintang! Lo tahu kalau gue nggak suka itu. NGGAK SUKA!” bentak Langit. Napasnya memburu karena kesal, marah, kecewa, dan kesedihannya bercampur menjadi satu. Ia tidak suka mendengar nada-nada itu karena mengingatkannya pada kenangan buruk. Menoreh luka dalam yang telah lama tertutup. Kini, dengan mudahnya terbuka oleh seseorang yang bahkan tidak berarti untuknya. Bintang terkesiap. Ia tidak suka dibentak, terlebih di depan umum dan sanggup membuat orang-orang yang berlalu lalang menoleh kasihan padanya. Ia terlalu terkejut hingga mengambil satu langkah mundur tanpa sadar. Jemari Bintang bahkan tampak gemetar. Gadis itu siap menangis. “Bi-Bintang baru tahu rahasia Kak Langit,” ucapnya terbata-bata. Gadis itu menunduk. Tidak menyadari, Langit hari ini mengingkari janjinya sendiri. Langit menangis dalam diam. “Terus apa mau lo?” tukas Langit dengan bibir menipis. “Bintang pengin Kak Langit suka sama musik seperti Bintang—” Langit berdecih. “Nggak masuk akal. Buat apa lo ikut campur urusan gue? Lo bahkan nggak tahu alasan di balik semuanya, Bintang. Lo Cuma penasaran dan pengin ngusik hidup gue!” ujarnya tajam. Bintang mendongak. “Kalau gitu, kasih tahu Bintang alasannya!” “Kasih tahu?” Langit mendengus remeh. “Lo siapa?” Pertanyaan itu membuat Bintang tak dapat berkutik. Benar, memang siapa dirinya? Bintang bukanlah teman, sahabat, apa lagi saudara sang Langit. Bintang hanya gadis polos yang penasaran dan ingin tahu segala macam urusan Langit karena laki-laki itu dipandang di sekolahnya. Itu bagi Langit. Tapi tidak bagi Bintang. Langit adalah temannya. Bintang termangu. Ia tidak ingin mengutarakan alasannya. Ia hanya ingin misinya berjalan lancar. Sebesar apa pun hambatannya, Bintang janji akan menghadapinya. Demi dikenang. Demi terkenang. Langit tidak peduli. Ia begitu marah pada gadis sok tahu dan sok peduli seperti Bintang. Ia melangkah berlalu, meninggalkan Bintang masih bergeming dengan kepala tertunduk dalam. Laki-laki itu berjalan ke arah basement tanpa sekali pun menoleh pada sosok mungil yang ditinggalkan. Langit memukul keras roda kemudi begitu ia telah duduk di dalam mobilnya. Logikanya berteriak, ia membenci Bintang dengan segala rasa-ingin-tahu-yang-besarnya gadis tersebut. Namun, hatinya berbisik lembut, Bintang tidak memiliki niat sekecil butiran pasir pun untuk menyakiti Langit. Tidak seorang pun tahu alasan sebenarnya di balik luka sang Langit. Mereka hanya mengetahui memar di luarnya, begitu pun dengan Bintang. Gadis lugu itu tidak sedikit pun berniat melepas jahitan dari robeknya hati Langit yang nyaris menutup. Langit menggeram seraya mengacak rambutnya. Ia salah. Tidak seharusnya ia meninggalkan gadis itu sendirian. Ia yang membawa keluarga Bintang ke sini. Ia juga yang harus mengantarkan mereka dengan selamat sampai rumah. Semarah apa pun dirinya pada Bintang, sekesal apa pun itu, Langit tetap harus menemani gadis itu sampai Bulan dan Belinda selesai dengan urusannya. Sampai mereka tiba di rumahnya. Bergegas Langit turun kembali dari mobilnya dan berlari kecil. Tubuh menjulangnya memudahkannya untuk mencari. Tapi tidak kali ini. Bintang tidak dapat ia temukan. Bintangnya tidak lagi di tempat yang ia tinggalkan. Cahaya mungilnya tidak lagi tampak. Langit mencari gadis itu ke mana pun, bahkan sampai mengunjungi toko-toko yang mustahil dimasuki oleh Bintang. Namun, nihil. Bintang menghilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD