09 | Perasaan Asing

2082 Words
Kita tidak akan pernah tahu apa artinya bahagia tanpa hadirnya derita. Kita tidak akan pernah tahu apa artinya terang tanpa hadirnya gulita. Terimalah hitam sebagai pendamping sang putih, bukan setitik noda dalam sebuah kanvas.   Bintang menghilang. Ya, insiden tersebut masih menjadi tanda tanya besar bagi Langit. Pasalnya, bukan hanya gadis itu, tetapi juga dengan Belinda dan Bulan. Hingga pukul tujuh malam Langit menunggu di pelataran parkir, mereka tidak kunjung datang. Ponsel Bintang tidak dapat dihubungi. Cemas, gelisah, sekaligus kesal, membuat Langit pulang sendiri tanpa mereka. Tapi ternyata Langit tidak cukup tenang dengan bersikap acuh tak acuh. Terbukti saat menuju arah pulang, Langit menyempatkan diri mampir ke rumah Bintang. Memastikan jika mereka benar-benar telah sampai di rumah. Langit mengetuk pintu rumah Bintang dengan perlahan. Ia bahkan tidak sadar tengah menahan napas, hingga tak lama kemudian pintu di hadapannya terbuka. Belinda dengan senyuman ramahnya menyambut Langit seolah tidak terjadi apa-apa. “Langit? Ada apa?” Pertanyaan itu jelas saja membuat garis-garis di dahi Langit kian mendalam. Langit mengusap ujung hidungnya. Dinginnya malam saat ini terasa menusuk hingga terasa membekukan pernapasannya. Bukan menyuarakan pertanyaan dalam benaknya, Langit malah tersenyum. “Nggak, Bun. Cuma mau mastiin, kalian udah di rumah.” Belinda tersenyum, namun tidak sampai pada kedua matanya yang terlihat lelah dan sedikit membengkak. Kalau saja Langit menyadari hal itu. “Iya, maaf ya. Tadi Bunda dan anak-anak terburu-buru pulang tanpa ngasih kabar ke kamu. Paman mereka berkunjung ke sini dari jauh. Kasihan kalau menunggu lama di luar, sementara kunci rumah Bunda bawa,” jelasnya membuat Langit memanggut-manggut. Ada perasaan yang disebut “lega” perlahan menjalar menghangatkan hatinya. “Yaudah kalau begitu…” Langit tersenyum. Ia berdeham sejenak. Pandangannya diam-diam mengarah pada ruang keluarga di belakang wanita itu. “Saya pamit, Bun.” Langit menyalami tangan Belinda dengan sopan. Pemuda itu tersenyum untuk kesekian kali sebelum akhirnya berlalu. Belinda menatap punggung tegap itu dengan nelangsa. Ia merasa berdosa telah membohongi anak sebaik Langit. Tapi, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Ini adalah sebuah permintaan. Belinda menutup pintu dan kembali meniti tangga, menghampiri Bulan yang menemani Bintang. “Bintang sudah tidur?” lirih Belinda begitu kecil, seolah langkah semut saja dapat membangunkan Bintang dari tidurnya. Bulan mengangguk lemah. Belinda tersenyum, mengusap lembut kepala Bulan yang terlihat mengantuk. “Masuk gih ke kemar. Cuci muka dan gosok gigi dulu sebelum tidur ya,” ucap Bunda lembut. “Tapi Bun…” Belinda mengusap bahu Bulan. “Bintang, kan, lagi istirahat. Kamu juga harus istirahat ya. Bunda nggak mau kamu sakit.” Wanita itu tersenyum menatapi punggung Bulan yang berlalu. Meskipun terlihat enggan meninggalkan kamar Bintang, Bulan tetap berjalan ke arah kamarnya sambil sesekali menoleh pada Belinda. Di dalam kamarnya, Bulan bersidekap menatap kosong jendela kamarnya yang memperlihatkan langit malam. Meskipun terkadang omongannya sembarangan, sekasar apa pun ucapannya, Bulan tidak pernah membentak Bintang. Tidak sekalipun! Baik Belinda, ayah, maupun dirinya ketika Bintang berbuat nakal—senakal-nakalnya yang pernah Bintang lakukan—tidak pernah sedikit pun mereka meninggikan intonasinya saat berbicara pada Bintang. Apa lagi di depan umum! Dia, si Bintang kecil. Begitu bercahaya, namun juga begitu rapuh. Bulan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri begitu ia dan Belinda telah selesai berbelanja dan mencari Bintang dan Langit. Tanpa sengaja, pandangan kedua perempuan itu terarah pada adegan seru bagi orang-orang yang berlalu lalang di sana. Bintang yang menunduk dan Langit yang membentaknya. Brengsek! Satu umpatan kasar berhasil ia tahan dalam-dalam di hatinya, mengingat kehadiran Belinda di sampingnya. Mulai detik ini Bulan bersumpah. Apa pun yang berbau dengan Langit Angkasa, akan ia jauhkan dari Bintang kecilnya! *** Kedatangan Langit di kelas 10.3 membuat suasana kelas yang tadinya bising, kontan berubah sunyi. Mungkin suara nyamuk yang membentur dinding akan terdengar saat itu juga. Tatapan tajam itu menyisir ruang kelas. Namun, ia tidak melihat apa yang dicarinya. “Nari?” panggil Langit begitu ia mengenal wajah salah satu di antara mereka. “Di mana Bintang?” Nari yang sejak tadi berusaha membuang pandangan dan berpura-pura sibuk dengan novel yang dibawanya, lantas mendongak dan mendapati tatapan Langit yang membuatnya tidak dapat berkilah. Diam-diam Nari meneguk ludahnya. Sepasang mata cokelat itu menuntut jawaban. “Ke toilet, Kak,” jawab Nari tidak sepenuhnya berbohong. Bintang memang mengatakan ingin ke toilet tadi, namun Nari tidak tahu pasti apa yang dilakukannya. Biasanya Bintang selalu meminta Nari untuk menemaninya kalau gadis itu ingin buang air kecil karena tidak berani sendirian. Tapi tidak kali ini. Nari menaruh khawatir padanya, belum lagi Bintang terlihat begitu murung hari ini. Tapi lagi-lagi, Nari tidak bisa memaksa sahabatnya itu untuk bercerita. Adalah hak Bintang untuk menyimpannya maupun berbagi. Apa ada sangkut pautnya dengan Langit? Batinnya. Entah mengapa Nari berpikiran seperti itu. “Sejak kap—” “Kak Langit?” Suara itu, disusul dengan sosok mungil Bintang dari belakang membuat bibirnya lantas terkatup. Gadis itu tersenyum manis pada Langit yang mengernyit aneh. Laki-laki itu merasa heran pada dirinya sendiri. Inilah Bintang. Berdiri di hadapannya. Lantas apa yang akan ia lakukan? Langit bahkan tidak tahu apa tujuannya mencari Bintang. “Kenapa cari Bintang? Ada perlu apa?” tanya Bintang ceria, seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka sebelumnya. Langit menggeleng samar. “Nggak. Cuma mau tahu, waktu itu pulang naik apa?” Bintang paham. Yang dimaksud dengan “waktu itu” adalah malam di mana Bintang, Bulan, dan Belinda menghilang tanpa memberitahu Langit. Bintang pun juga sangat merasa bersalah karena tidak memberitahu laki-laki itu. Pikirnya, bagaimana jika Langit khawatir dan mencarinya kesana-kemari? Namun, mengingat ucapan tajam Langit yang menggoreskan luka kecil di hatinya membuat Bintang tiba-tiba berpikir, “mustahil bila Langit mencemaskannya”. Bintang mengulum senyum. “Bintang naik taksi, Kak.” Gadis itu tidak berbohong, tapi ia tidak mengutarakan hal yang benar sepenuhnya. Batin Langit tiba-tiba terasa dialiri air dingin yang menyejukkan. Ada perasaan lega begitu mengetahui kendaraan apa yang digunakan keluarga kecil itu untuk pulang. Setidaknya, taksi menurutnya lebih aman ketimbang angkutan umum. Belum lagi, susah untuk mendapatkan bus di daerah tersebut, apa lagi di malam hari. Langit memanggut-manggut lantas berlalu begitu saja. Keduanya bahkan tidak sadar akan keheningan yang menyergap atmosfer kelas. Percakapan ringan tersebut membuat seluruh telinga terbuka lebar dan seolah memiliki kekuatan besar untuk menguping bahkan dari sudut kelas. Bintang menatap punggung Langit dengan tatapan kosong. Bagaimana dengan misinya? Apa Bintang menyerah sampai sini begitu mengetahui sebuah fakta yang sedikit menjatuhkan dunianya? Sepertinya tidak. Hatinya justru semakin mantap. Senyuman manis di wajahnya kembali terukir. Membuat anak-anak kelas yang melihat hal itu salah paham karena mengira Bintang kegirangan disamperi Langit! “Cieee, lagi berbunga-bunga nih!” “Asyik, asyik! Ada traktiran dari Bintang!” Pensil dan pulpen kontan melayang dan menghantam kepala kedua laki-laki jahil tersebut. Nari dengan horornya melotot pada mereka yang tengah bersungut-sungut. “Traktir-traktir! Uang dari langit?!” Nahas. Niatnya mau membungkam sepasang biang onar di kelas tersebut, kalimat itu malah membuat seisi kelas salah paham. “Demi apa Kak Langit mau bagi-bagi duit?!” “Gue kira ‘duit jatuh dari langit’ itu cuma ada di iklan sabun cuci.” “Ganteng, baik, tajir. Gebetlah, Bi!” Nari memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut. Sementara Bintang hanya terkikik geli mendengar gurauan mereka. Berbeda dengan penghuni kelas yang sedang dalam keadaan riang, Langit malah merasakan langkahnya semakin berat menjauhi kelas Bintang. Langit berusaha tidak menoleh dalam langkahnya hanya untuk memastikan sosok mungil itu masih berdiri di tempat yang sama. Berhasil. Ia menghilang di balik dinding antara kelas dan tangga. Namun, tidak pada perasaan asing yang semakin mengganggunya. Bintang tidak mencegahnya pergi dan membiarkan dirinya berlalu. Oh, demi Tuhan! Memangnya untuk apa gadis itu menahannya? Hati dan pikirannya beradu argumen. Ia benci perasaan ini! *** “Last night I lay in bed so blue, ‘cause I realized the truth, they can’t love me like you. I tried to find somebody new. Baby they ain’t got a clue, can’t love me like you…” Langit kontan menghentikan langkahnya begitu ia nyaris sampai pada pohon besar di hadapannya. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Senandung kecil yang membuat rerumputan juga daun-daun yang berguguran di sekitarnya seolah turut menari karena kelembutannya. Tubuh Bintang yang mungil, sanggup tertelan oleh batang pohon yang besar. Langit tidak dapat melihat Bintang sedikit pun dari tempatnya berdiri saat ini, tapi ia yakin, gadis itu tengah duduk bersandar seraya mendengarkan musik dari mp3 biru mungilnya dengan kepala berayun-ayun, menikmati irama yang membelai telinganya. Bintang menyadari kehadiran Langit. Gadis itu ternyata tidak sepenuhnya mendengarkan apa yang tengah berputar dari earphone-nya. Ia sedikit melonggarkan posisi earphone di telinga kirinya agar bisa menangkap jelas langkah Langit yang semakin mendekat. Bintang seolah tidak peduli dengan kebencian Langit pada musik maupun suaranya yang mirip seperti tikus kejepit, ia tetap bersenandung sampai sosok Langit benar-benar tiba di sampingnya. “Ini bukan tempat lo.” Suara dingin itu membelai kedua telinga Bintang. Gadis itu beranjak dari posisinya, tersenyum lantas mengangguk. “Iya, tahu kok. Makanya Bintang ke sini, biar bisa ketemu Kak Langit. Bintang mau ngajak Kak Langit jalan-jalan…” Langit mendengus. “Kemarin itu karena Bunda lo. Bukan berarti lo jadi bebas pergi dengan gue semaunya.” Bintang tertegun. Langit menjadi orang tersulit untuk dipahami bagi Bintang. Terkadang, biru cerah itu muncul. Tapi tak jarang pula gelapnya malam kembali membekukannya. Batin Langit menguatkan tekadnya untuk tidak lagi goyah dengan gadis ini. Kedekatannya dengan Bintang sudah terlalu jauh hingga perasaan asing yang tidak ia sukai itu muncul. Langit tidak ingin kembali memiliki perasaan yang sama. Ia tidak ingin semakin larut dalam kesedihan ketika semua yang berarti, meninggalkannya. Bintang menelan ludahnya. “Bintang tahu kok, Bintang bukan siapa-siapa Kak Langit. Tapi Bintang cuma pengin nemenin Kak Langit ke mana pun yang Kak Langit mau. Bintang ngerasa Kak Langit kesepian, Kak Langit sering sedih kalau lagi sendirian. Bintang pengin dengar Kak Langit ketawa lagi kayak yang Kak Langit lakukin waktu bersama Bunda dan Bulan di rumah Bintang,” cerocosnya, tulus. “Tahu apa lo soal itu?” tukasnya menajam. Tatapan elang sang Langit bahkan membuat cahaya Bintang kontan meredup. Tiba-tiba keberaniannya seolah lenyap seiring langkah Langit yang tiba-tiba saja menghapus jaraknya. “Gue benci sama siapa pun yang suka ikut campur urusan pribadi, persis kayak yang lo lakuin saat ini. Jangan pikir karena perlakuan gue ke elo beda sama yang lain, lo jadi besar kepala. Ternyata lo sama, Bintang.” Langit berdecak dan kembali melanjutkan kalimat sarkasmenya. “Udah bosan sama hidup sendiri sampai lo rela ngurusin gue? Apa semua masalah lo sudah selesai, hm?” Bintang mendongak, mengabaikan air matanya yang kini membasahi pipinya. Gadis itu tersenyum pada Langit yang masih bertahan pada kebekuannya. Diam-diam Bintang meremas jemarinya yang terasa ikut membeku. Menarik napas berat dari hidungnya yang memerah. “Bintang cuma pengin nepatin janji Bintang sama Ayah. Bintang dulu pernah janji buat berbagi kebahagiaan yang Bintang punya untuk seseorang yang berarti buat Bintang. Itulah kenapa Ayah senang sama nama Bintang. Bulan nggak bisa nyinarin cahayanya tanpa Bintang, itulah juga kenapa Ayah minta Bintang untuk selalu sayang dan sama Bulan.” Bintang menatap langit siang di atasnya yang begitu cerah saat ini, kemudian beralih pada sepasang mata cokelat indah milik Langit yang menatapnya tajam. Setajam kebekuan langit malam. “Apa langitnya bisa cerah tanpa hadirnya matahari? Apa Kak Langit bisa menemukan kebahagiaan tanpa sedikit pun penerang?” Bintang tertawa kecil, namun tidak pada sepasang mata bundarnya. Telapak tangannya yang lembab, meremas seragamnya dengan gelisah. “Bintang cuma nawarin buat nemenin Kak Langit kok. Bukan besar kepala, Bintang juga nggak pernah anggap Bintang lebih beruntung dari mereka yang pengin dekat sama Kak Langit. Bintang cuma pikir, siapa lagi yang bisa Kak Langit percaya?” Bintang menarik napas sejenak. “Tapi yaudah deh. Maaf ya kalau Bintang banyak omong,” lirihnya pilu, lantas berlalu. Meninggalkan Langit yang membeku. Di tatapnya langit siang di atasnya. Begitu cerah, seolah mengkhianati suasana kacau sang Langit saat ini. Pikirannya kembali terngiang pada ucapan Bintang beberapa saat lalu. Benar, Langit akan terus menerus merasakan dunia tak sebaik ini karena ulahnya sendiri. Hatinya masih penuh dengan rasa dendam dan benci. Dan sampai kapanpun, hidupnya tidak akan terasa bahagia karena perasaan-perasaan keji yang belum ia singkirkan. Tapi, bagaimana menyingkirkan rasa itu ketika sumbernya berasal dari pencerah Langit sendiri? Sang Surya. Dan sebuah bisikan tak kasat mata, menyerukan nama gadis itu. Hatinya terluka oleh lidahnya sendiri. Mengapa ia begitu kejam pada gadis sebaik Bintang? Baik Tata maupun Pelangi, tidak sedikit pun mengajarkannya bertindak jahat. Apalagi membuat Bintang yang senantiasa menerangi Langit malam bersedih? Langit menarik napas dalam, sebelum akhirnya berlari mengejar Bintang. Ia menyusul Bintang dengan cepat. Kemudian sanggup membuat semua orang tercengang dibuatnya   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD