10 | Langit Tak Berjarak

2417 Words
Langkah kecilnya membuatnya tak kunjung usai berjalan di koridor. Gadis itu gemas sendiri dibuatnya. Bintang menyadari, semua orang tiba-tiba menyingkir. Namun, bukan karena dirinya. Arah pandang semua orang tertuju pada sesuatu di belakangnya. Bintang menoleh karena rasa penasaran yang besar, dan tubuh mungilnya tiba-tiba saya terhuyung. Ia menunggu b****g teposnya tersebut membentur kerasnya lantai, tapi tidak kunjung terjadi. Sepasang lengan kokoh mengunci tubuh mungilnya. Bintang kecil kini berada dalam kuasa sang Langit. Langit memeluk Bintang di depan umum! Kontan saja semua orang tercengang, berbisik-bisik, bahkan ada yang memekik dan mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut. Norak! Wajah Bintang tenggelam dalam d**a Langit. Bintang dapat menghirup aroma maskulin sang Langit yang jujur saja, membelai lembut indra penciumannya. Laki-laki yang tadi nyaris membuat tubuh mungilnya tersebut limbung, kini merengkuhnya dalam-dalam tanpa celah seolah ia tidak ingin membagi cahaya Bintangnya untuk orang-orang di sekitar. Langit bahkan tidak peduli meskipun adegan mereka saat ini menjadi santapan umum. Membuat semua yang menyaksikan tertegun, bahkan ada beberapa jomblo yang berniat melapor ke guru karena bercinta-cintaan di depan umum! Ya, kalau saja mereka tidak ingat bahwa Langit bisa saja membuat masa SMA mereka di luar kata “aman”. Yang dibicarakan ini adalah Langit Angkasa. Siapa pun tahu, Langit tidak sedikit pun ingin “disentuh”. Tapi saat ini yang mereka lihat adalah, sang Langit yang mengunci Bintangnya. Bintang begitu kecil dalam rengkuhannya, sehingga laki-laki itu harus menunduk untuk membisikan suara hatinya. “Maaf juga ya,” lirih Langit, lembut. Hidung mancungnya menghirup aroma manis yang menguar dari rambut gelap Bintang. Langit tersenyum saat kepala Bintang terasa mengangguk dalam dadanya. Ia bahkan tidak peduli bila nanti berita “Langit Memeluk Bintang” atau “Bintang Dipeluk Langit” mengalahkan rekor “Bintang Jatuh Menimpa Langit” dulu. Bintang dulu pernah janji buat berbagi kebahagiaan yang Bintang punya untuk seseorang yang berarti buat Bintang. Sang Langit mengulas senyum saat kalimat itu kembali terngiang. Seberarti itukah dirinya untuk Bintang? Langit terenyuh. Ucapan setulus kasih yang murni itulah yang membawanya ke sini. Merengkuh Bintang kecil ini. Langit akan berusaha. Entah usaha apa yang dimaksudnya, ia pun juga tidak mengerti. Tapi ia akan senantiasa menyenangi Bintang kecilnya sebesar kepedulian gadis itu padanya. Setidaknya, untuk Bintangnya. Penerang langit malamnya. *** Bulan berjalan gontai menghampiri pintu begitu seseorang terdengar mengetuknya. Matanya sempat melirik jam dinding di ruang keluarga. Ini bahkan masih terlalu pagi untuk berkunjung, dan ini masih pukul tujuh pagi! Terkutuklah siapa pun yang memutuskan mimpi dan tidur indahnya di hari libur! Ia membuka pintu dan mendapati tubuh menjulang Langit. Bulan menyipit. Antara setengah mengantuk, juga karena peristiwa “Langit membuat Bintang menangis” yang tiba-tiba melintasi memorinya. “Ngapain?” tanya Bulan dengan sebelah mata terpejam. Langit membahasi kerongkongannya. Memberanikan diri membalas tatapan Bulan yang menatap dirinya penuh kekesalan. Langit tahu, Bintang sudah menceritakan bahwa Bulan sedikit marah pada Langit karena telah meninggalkan Bintang. Meskipun Bintang berkata ia baik-baik saja saat itu, dan meskipun Bintang mengatakan Bulan “sedikit marah”, tapi Langit tahu seberapa besar kekesalan Bulan padanya dari yang gadis itu tunjukan padanya saat ini. “Bintangnya ada?” tanya Langit. Bulan mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu kemudian tertawa lantas kembali terdiam, menatap Langit tepat di kedua manik mata cokelat itu. Bulan menyilangkan kedua lengannya di atas perut. “Mau mengajak dia pergi lalu lo tinggali dia begitu aja? Nggak boleh!” “Gue minta ma—” “Kak Langit?” Bintang menghampiri keduanya dengan langkah kecil. Gadis itu tersenyum manis pada Langit yang dibalasnya juga dengan senyum oleh laki-laki itu, membuat kedua alis Bulan kontan meninggi. Bintang mengalihkan pandangannya dari sosok tampan Langit ke Bulan yang tidak berbentuk. Rambut kakaknya itu acak-acakan seperti singa betina. Belum lagi wajahnya yang terdapat garis-garis merah, seperti lecakan kaus yang dipakainya sendiri. “Bulan, Kak Langit mau ngajak Bintang jalan-jalan doang kok. Kak Langit udah janji nggak bakal ninggalin Bintang lagi,” jelas Bintang kemudian ia menatap Langit. “Iya, kan, Kak?” Langit mengangguk dengan mantap. Wajah laki-laki itu hari ini terlihat cerah, secerah pagi hari ini. Belum lagi tatapan Langit pada Bintang yang terlihat teduh dan hangat. Hidung Bulan berkedut. Ia mencium aroma yang tersembunyi di sini. “Kalian bokinan?” Tatapannya melirik Langit dan Bintang, bergilir. Bintang menelengkan kepalanya. “Bokinan itu apa?” tanyanya polos, sama sekali tidak mengira bahwa itu adalah kata gaul dari “pacaran”. Langit menahan senyum melihat kecurigaan Bulan dan kepolosan Bintang dalam menanggapinya. Tidak. Langit bahkan belum menyatakan perasaannya. Perasaan apa memang? Oh baiklah. Benar, ia memilikinya terhadap Bintang. Entah sejak kapan, tapi Langit tidak ingin memulainya dulu. Mengerti apa yang dimaksudnya? Ya, sebuah hubungan. Langit ingin menikmati dirinya dan Bintang yang seperti ini. Lagipula, meskipun memiliki perasaan pada gadis itu, Langit belum yakin bahwa perasaan ini sebesar rasa “cinta” yang sering Tata juga Pelangi ucapkan padanya. Laki-laki itu tidak perlu takut untuk mengatakan hal itu pada Bintang. Bukankah Bintang juga tidak berharap memiliki hubungan khusus dengannya? Bintang hanya ingin menjadi temannya agar Langit tidak lagi merasa sendiri. Tepat, seperti apa yang Bintang katakan padanya tempo hari. Bintang tidak akan menuntut banyak. Langit hanya teman baginya. Dan begitupun Bintang baginya, sehingga Langit tidak juga berhak menuntut apa pun dari Bintang. Gadis itu hanya menginginkan sebuah pertemanan yang tulus dengan Langit. Bintang hanya ingin membagi cahayanya untuk Langit. Dan Langit tidak keberatan soal itu. Bintang boleh memasuki kehidupannya. Perlahan. Ya, Langit tidak lagi melarangnya. Langit hanya tersenyum simpul dan meraih pergelangan mungil Bintang, menarik gadis itu berlalu dari Bulan. Bulan menatap kepergian dua remaja tersebut dengan bahu bersandar pada kusen pintu. Walaupun Bintang begitu polos, tapi ia tahu bahwa arti Langit bagi Bintang tidaklah sesepele yang semua orang lihat. Tapi, mengapa Bulan merasa… Takut? Ya, Bulan takut jika hanya Langit yang berarti bagi Bintang. Tidak sebaliknya. Dari tatapan Langit memang sudah terlihat bahwa laki-laki itu menghargai Bintang mereka. Namun, Bulan bahkan tidak bisa menerka bagaimana isi hati Langit! Bulan memandangi langit pagi di atasnya dengan tatapan sengit. “Sampai lo buat satu bintang pun nggak muncul malam ini, gue sumpahin besok lo mendung seharian!” ancamnya pada langit luas di atas sana. *** Bintang mengulum senyum mengamati Langit di sampingnya. Bintang tidak sadar, Langit memperlambat langkahnya hanya untuk menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kecil Bintang. Merasa lelah, keduanya pun beristirahat saat menemukan sebuah pohon besar di taman dekat rumah Bintang. Langit yang merasa diperhatikan, menoleh pada Bintang. Uniknya, Bintang tidak mengalihkan pandangan dengan berpura-pura tidak melihatnya. Tidak pula ada rona merah di pipi seperti kebanyakan gadis yang ketangkap basah tengah memerhatikannya. Bintang malah menunjukkan cengiran lebarnya dengan kedua mata melebar. Kalau orang lain yang melakukannya, mungkin terlihat menyeramkan. Tapi bagi Langit tidak. Bintang justru terlihat lucu dan membuat sebelah sudut bibirnya tertarik tanpa sadar. Bintang mengikuti Langit yang menyandarkan punggungnya dengan sebelah kaki berselonjor. Bintang yang menyadari dirinya memakai rok, kontan menyelonjorkan kedua kakinya. Menutupi celana dalamnya yang dapat diintip oleh semut-semut nakal. Gadis itu menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya. Mengamati ujung sepatunya yang sejajar dengan betis Langit. Pandangan laki-laki itu bertumpu pada langit biru nan luas di atas. Tidak ada pelangi meskipun semalaman turun hujan, pikirnya. Ya, tiba-tiba saja ia merindukan Pelangi. Bintang yang menangkap wajah murung itu pun mengembuskan napas. Baru saja Langit secerah pagi ini, namun lagi-lagi pemuda itu mengingat sesuatu yang membuat kesedihannya sulut. Andaikan Bintang tahu semua rahasia Langit yang begitu terkunci rapat. Andaikan Bintang diperbolehkan untuk mendengar. Andaikan Bintang bisa menepuk kepala harum Langit dan mengelus rambut lebat laki-laki tersebut seperti yang dilakukannya pada orang-orang yang bersedih. Bintang menghela napasnya. Meskipun Langit di sini, bersamanya saat ini, dan meskipun Langit perlahan tidak sedingin dulu, Bintang masih merasa dinding kokoh yang begitu kuat menghalanginya menyentuh hati Langit. Belinda pernah mengatakan bahwa Langit sebenarnya adalah laki-laki yang baik dan ramah. Bunda saja yang tidak sesering Bintang untuk bertemu dengan Langit, merasakan hal tersebut, bagaimana dengan Bintang? Mereka, bahkan Nari berkata bahwa Langit tak tersentuh. Kalau boleh Bintang berkilah, bukan Langit yang tak tersentuh. Tapi belum ada seorang pun yang berhasil “menyentuh” sang Langit itu sendiri. Andaikan Bintang memiliki tangga panjang menuju puncak agar bisa menaiki awan dan membawanya pada langit. Bintang ingin berbisik pada bintang-bintang di atas untuk dapat terus bersinar, menerangi langit malamnya. Dan Bintang ingin, langit malam dapat memercayai cahaya bintang-bintang kecil untuk menghangatkan kebekuannya. Namun, kapan kepercayaan sang Langit pada Bintang mulai tumbuh agar gadis itu bisa menjadi pendengar duka laki-laki tersebut? Agar Langit percaya bahwa Bintang ingin membagi cahayanya tanpa syarat? Keheningan nyaris membunuh atmosfer di antara keduanya. Bintang yakin, Langit tidak akan memulai sebelum dirinya. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat, batinnya. “Kak Langit?” Langit hanya bergumam. Kedua mata laki-laki itu terpejam, menikmati silir angin yang bertiup sejuk. Ya, mungkin sepengelihatan Bintang, laki-laki itu tengah menikmati segarnya udara di pagi hari hingga sepasang mata indah itu terpejam. Namun, tidak. Langit tengah berusaha menahan air matanya merebak keluar. Tata dan Pelanginya masih terukir jelas dalam pikirannya setiap kali melihat biru cerah sang langit. Dirinya sendiri, dahulu. “Bintang mau tanya soal musik itu, boleh? Boleh pasti, kan, Kak Langit udah janji sama Bintang mau jadi teman Bintang, jadi Bintang boleh nanya soal musik, kan, ya, pasti boleh kan, ya, kan, ya, kan?” cicit Bintang makin mengecil. Ia meringis kecil, menatap Langit dengan sebelah mata menyipit. Takut jika tiba-tiba saja Langit terbelalak lebar lantas menggantungnya ke atas pohon. Namun, tidak. Langit terkekeh mendengar pertanyaan bernada absurd itu. Dari posisinya, Bintang bisa melihat dengan jelas senyum juga tawa sang Langit. Bintang bersyukur, Langit masih setia memejamkan kedua matanya di saat gadis itu mengerjap-ngerjap bodoh saking cepat d**a kecilnya berdebar. Langit menikmati udara segar di sekitarnya selama beberapa saat sebelum membalas tatapan kedua mata bundar di sampingnya. Ia tidak bisa lagi menghindari sepasang mata hitam itu. Ia berjanji, terlebih pada dirinya sendiri untuk membuka diri pada Bintang. Meskipun berat. Meskipun ia masih meragu bahwa Bintang benar ditakdirkan untuk menopang kemendungan sang Langit. Bintang mengerjap-ngerjap begitu pandangan terasa panas. Menunggu Langit membuka mulutnya, membuat ia tidak menyadari kedua matanya nyaris mengering. Diamnya laki-laki itu membuat dunia seolah turut berhenti berputar, ingin mendengarkan kisah memilukan Langit mereka. Apa yang mendasari hujan turun di bumi? Apa yang menyebabkan Langit malam begitu dingin? Apa yang membuat Langit memiliki pribadi tidak tersentuh sekaligus hangat di satu sisi seperti pagi dan malam? “Ada alasan kuat yang buat gue benci dia, Bintang. Dia, semua yang berbau tentangnya. Semua yang udah ngerampas kebahagiaan gue tanpa ampun.” Dia? Tunggu! Bukankah Bintang bertanya soal musik? Lalu, siapa yang dimaksud oleh Langit dengan dia? Bibir Bintang sudah gatal ingin bertanya, siapa yang dimaksud pemuda itu. Namun, ia tidak ingin menginterupsi Langit yang telah larut dalam kisah masa lalunya… “Entah siapa yang bodoh, mereka buat gue frustrasi! Yang satu nggak mau mulai, dan yang satunya nggak sadar!” Hmm, kalau dipikir-pikir, itu seperti dirinya dan Langit. Bintang terkadang tidak mau mengganggu Langit dan dunia laki-laki itu, tapi Langit bahkan tidak menyadari laki-laki itu sendiri membutuhkannya. Em… maksudnya orang lain untuk bercerita. “Apa Bunda pernah bertengkar sama Ayah?” tanya Langit menatap Bintang. Eh? Bintang mengerjap-ngerjap mendapati sepasang mata cokelat itu menatapnya dalam. Bintang menelan ludahnya lantas menyengir. “Mana Bintang tahu, kan, Bintang nggak tahu orang tua Kak Langit.” Bintang tertawa kikuk saking bingungnya. Langit mendengus. Tidak dapat dipungkiri, kebodohan Bintang lagi-lagi membuat sudut bibirnya tertarik. Kali ini Langit mempertanyakan terlebih pada dirinya sendiri. Apakah dirinya mulai gila? Hal-hal bodoh yang terbilang menyebalkan bila Langit mendapati bahwa orang lain yang melakukannya, akan menjadi lucu dan sanggup menghiburnya bila dilakukan oleh Bintang. Sungguh, Langit? Batinnya bertanya-tanya. “Orang tua lo, Bintang.” Suara lembut Langit membelai telinganya. Lebih menggelitik daripada angin yang menerpa kulit halusnya. Bintang membentuk lingkaran mungil di bibirnya. Kemudian ia meringis, “Maaf ya, otak Bintang suka telat mikir.” Gadis itu kemudian terkikik geli. “Bintang nggak tahu, Kak Langit. Bunda sama Ayah mungkin pernah berdebat kecil, tapi nggak sampai buat Bintang takut. Mereka selalu buat Bintang nyaman berada di rumah.” Bintang tersenyum manis pada Langit. Gadis itu tidak tahu, kebahagiaan Bintang lagi-lagi menggores hati Langit. Langit tersenyum. Ia mencoba berpikir waras. Bintang tidak pantas disalahkan. Gadis itu, dengan segala kebaikannya, pantas mendapat kebahagiaan yang lebih besar darinya. Tidak pantas mendapat kesedihan, kekecewaan, maupun kesakitan seperti yang dideritanya. Namun, memang apa kesalahannya? Langit dulu hanya anak penurut yang menyayangi kedua orang tuanya. Langit tidak pernah sekalipun menyakiti hati mereka. Langit menyayangi mereka sebagaimana mereka mencintai Langitnya. Dan tampaknya takdir muak pada kebahagiaannya. Semua direnggut darinya. Yang tersisa, kini hanya Langit gelap yang tak bercahaya. “Kak Langit?” Bintang menatap Langit dengan cemas. Tiba-tiba saja wajah tampan itu pucat. Apa ia salah bicara? Langit terkesiap saat merasakan sentuhan lembut Bintang di jemarinya yang membeku. Tangan mungil itu terasa hangat dalam genggamannya kini. Langit juga tidak tahu mengapa ia malah menggenggam dan meremas lembut jemari hangat Bintang. Gadis itu bahkan terbelalak lebar dengan apa yang dilakukan Langit. Duh, kok Bintang deg-degan gini? Batinnya, bingung sendiri. “Bintang?” Bintang tertegun saat setitik air mata jatuh dari mata Langit. Gadis itu belum pernah melihat kerapuhan Langit yang seolah turut meredupkan cahayanya. “Gue benci dia, Bintang. Karena dia, Mama dan Pelangi pergi…” Bintang segera menghapus jaraknya. Memeluk tubuh besar pemuda itu dengan lengannya yang terbebas dari genggam sang Langit. Gemuruh guntur tiba-tiba menguasai bumi. Bintang mengadahkan kepalanya, menatap sendu langit cerah yang kini berganti kelabu. Dan langit pun menangis. Mendengar nama Pelangi membuat ingatan Bintang berputar saat di mana ia menemukan kalung berbandul pelangi milik Langit. Laki-laki itu sangat sensitif terhadap benda satu itu. Bintang teramat yakin, kalung itu milik seorang perempuan dan bukan milik Langit. Mungkinkah Pelangi adalah gadis yang berperan besar dalam hati seorang Langit? Benarkah Langit belum bisa melupakan gadis masa lalunya? Lantas mengapa Pelangi meninggalkannya? Langit Angkasa sosok yang nyaris sempurna baginya, dan bagi orang-orang yang mengetahui Langit. Semua orang ingin bersama Langit. Bintang ingin bertanya, namun bibir tipisnya kembali terkatup setiap kali mulai terbuka. Ia tidak ingin membuat hujan semakin deras. Membuat Langitnya semakin menangis. Keduanya tidak peduli dengan tamparan hujan deras di atas kepala mereka. Tidak peduli air mata langit terus menerus membasahi tubuh keduanya. Meskipun dinginnya terasa menusuk, Langit menikmati cahaya Bintang yang mulai menghangatkan tubuhnya dalam rengkuhan mungil sepasang lengan gadis itu. Dan meskipun penasaran, Bintang bersyukur, Langit mulai menceritakan kisahnya. Langit mulai mengikis bongkahan batu yang menjadi dinding hatinya sendiri untuk Bintang tanpa laki-laki itu sadari. Dalam rengkuhan si Bintang kecil, deras hujan, langit kelabu, rerumputan, juga pohon besar di sana menjadi saksi bahwa Langit tak lagi berjarak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD