Debaran yang Tak Terduga
(POV Nadia)
Acara kantor sumiku selalu membosankan. Seringkali aku hanya duduk manis, tersenyum pada kolega suamiku yang datang menyapa, lalu menghabiskan waktu dengan memainkan ponsel atau mengobrol ringan dengan para istri lainnya. Namuku Nadia Keisha Azalea. Seorang penulis dan seorang istri dari Amri Putra Pratama, seorang pekerja kantoran di perusahaan terkenal dari divisi pemasaran.
Saat Amri memegang lenganku dengan lembut dan membawaku ke arah seorang pria tinggi tegap di dekat bar, napasku hampir tertahan.
"Nadia, ini Reza, kolega baru. Dia baru pindah dari cabang Surabaya. Reza, ini istriku, Nadia," kata Amri ramah.
Aku mengangkat tangan untuk bersalaman, dan saat jari-jari kami bersentuhan, ada sesuatu—sebuah kejutan listrik kecil yang membuat jantungku berdegup kencang. Reza tersenyum, genggamannya kuat, tapi tidak kasar. Aku bisa merasakan betapa terlatih tangannya, seperti pria yang rutin mengangkat beban.
"Senang bertemu denganmu, Nadia," katanya, suaranya dalam dan hangat.
Tapi yang membuatku benar-benar terkejut adalah apa yang terjadi selanjutnya. Matanya menyipit sejenak, lalu tiba-tiba ia berkata, "Kita pernah bertemu sebelumnya, kan? Kamu... Nadia dari SD Negeri 5? Kelas 3B?"
Aku tertegun. Seketika, ingatanku melayang ke masa kecil. Bocah gemuk berkacamata tebal yang selalu duduk di bangku depan, sering diejek karena culun tapi selalu juara kelas. Reza. Reza Arkana.
"Ya ampun... Reza?" mataku membelalak. "Kamu dulu yang..." Aku hampir mengatakan "gendut dan kutu buku", tapi cepat-cepat mengubah kalimat. "...yang selalu ranking satu?"
Dia tertawa lepas, seolah tahu apa yang hampirku ucapkan. "Iya, betul. Aku dulu si anak gemuk berkacamata yang suka dibully."
Aku tersipu malu. Aku ingat dulu bahkan pernah ikut menertawakannya sekali—sesuatu yang sekarang membuatku menyesal.
Tapi Reza kini... sama sekali berbeda. Badannya kekar, rahangnya tajam, dan kacamatanya sudah hilang, digantikan oleh mata hitam yang tajam dan berbinar. Senyumnya membuat dadaku berdebar aneh.
Amri terlihat senang melihat kami saling mengenal. "Wah, berarti kalian teman SD! Asik, jadi nggak canggung."
Aku mencoba tersenyum, tapi pikiranku kacau. Ini Reza? Yang dulu jalannya tertatih-tatih saat lari di pelajaran olahraga?
"Kamu... berubah banget," kataku, berusaha terdengar biasa saja.
Reza mengangkat bahu, senyum kecil mengembang. "Dulu sempat insecure, makanya pas SMA mulai nge-gym dan belajar pede."
Matanya menatapku, seolah menantang. "Kamu sih dari dulu memang selalu cantik."
Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat tengkukku panas. Aku ingat dulu dia sering memandangiku dari balik kacamatanya yang tebal, tapi aku tak pernah benar-benar memperhatikannya.
Amri, yang tak menyadari gejolak dalam diriku, berseloroh, "Nadia dulu tomboy banget, ya? Suka rebutan main bola."
Reza tertawa. "Iya, dulu aku selalu kagum sama keberaniannya." Lalu, dengan tatapan yang membuatku merasa seperti satu-satunya wanita di ruangan itu, dia menambahkan, "Sekarang lebih anggun, tapi kayaknya jiwa petualangnya masih ada."
Ada sesuatu yang berbahaya dalam cara dia memandangku—seolah dia melihat Nadia, bukan sekadar istri Amri. Dan yang paling menggangguku... aku menyukai perasaan itu.