Lanjutan

1801 Words
Sampai didepan pintu Asrama. Semuanya sudah terkunci, ruangan belajar sudah gelap. Kami berdua tak tau bagiamana dengan kelanjutan Hendri dan Dion. Tidak ada jalan lain untuk masuk ke dalam Asrama kalau tidak melalui kamar mandi. Aku memutuskan untuk melewati kamar mandi jalan kita sbelumnya. Tapi menuju kesana sangan gelap. Tiba-tiba kucing yang tadi menolong Aku dan Aldo datang lagi. "Meooong, meooonnggg" Dia mengeong seakan mau membantu kami lagi. Kita melewati Aula Paroki, memanjat pagar besi, dan sampai ke depan pintu kamar mandi. Kucing hitam itu setelah menunjukkan jalan, dia hilang entah kemana. Sampai pintu kamar mandi, aku segera membukanya karena aku tiba pertama kemudian aldo serta para bruder. "Ngeeeeeekkkkk" Pintu kamar mandi ku buka Tidak ada siapa-siapa disana. Kami dan langsung menuju dapur. Di dapur tidak ada lagi siapa-siapa. Bi Nam sudah tidak ada lagi disana. Septian, Aldi dan Aderson yang kita tinggalkan juga tidak ada. Dion dan Hendri tidak tahu kemana. Kita balik arah dan naik ke kamar 3 melewati tangga putar. Sampai diatas kita masuk ke ruangan lemari 3. Mengintip Ke arah kamar bruder Petrus. Melihat situasi, sepertinya sepi dan tidak ada siapa-siapa disana. Kita ke kamar 3. Dengan hati-hati Aldo membuka kamar 3. Melihat ke arah kasur dion, hendri, anderson dan aldi. Ternyata mereka sudah tertidur. "Itu bukan mereka lagi" "Coba lihat posisi tidur dan wajah mereka" "Mana ada orang dengan posisi tidur kaku, coba pegang tangan mereka" Kata bruder Nestor. Benar saja, badan mereka kaku, muka pucat dan tangan dingin. "Der, bagaimana dengan Septian?" Kata aldo khawatir. "Ayo kita cek ke kamarnya" Jawab bruder ray Kita pergi menuju kamar satu. Yang kita lihat sama, dengan posisi tidur septian yang kaku, muka pucat dan tangan dingin. Dengan ini semua, Aku dan Aldo pun pasrah. Tak tau mau kemana mencari teman-teman kami, begitu juga dengan Bi Nam. Ditengah kepasrahan kami ini, kucing ini datang untuk ke 3 kalinya. Kali ini dia tidak mengeong. "Mereka ada diruangan bawah" Kata kucing hitam itu. Tak hanya aku dan aldo yang kaget, ketiga bruder pun ikut terkaget mendengar suara kucing itu. Suara yang dikeluarakan kucing itu, suara wanita tua yang sudah berumur. Entah siapa dia, intinya dia sudah menolong kami. Kita ber-5 pun mengecek ruang satu persatu. Dapur, Ruang Makan, Kamar Mandi, Ruang Doa, Ruang Belajar, Ruang Rekreasi dan Gudang sekali pun tidak ada. Tempat terakhir cuma ada 2 yakni Ruangan bruder dan kamar mba Susi Dengan perlahan dan hati-hati. Kita ber-5 berjalan ke kamar mba Susi. Lampu kamarnya mati, dan kita tidak bisa melihat ke arah kamarnya. Bruder alfonsus ingat, kalau di ruangan Bruder ada kunci serep semua ruangan yang ada diasrama. "Ayo kita cek ke ruangan bruder" Ajak bruder alfonsus pada kita ber-4. Ternyata lampu ruangan bruder masih menyala. Kita mendengar, seperti ada orang yang melakukan hubungan badan dari ruangan bruder. Bruder Ray mencoba mengintip dari sela-sela lubang tempat kita biasa memasukkan kunci. "Astaga naga" Bruder Ray terkejut. "Cepattt, Dobrak" Kata bruder ray teriak Bruder Alfonsus dan Nestor pun mendobrak pintunya. "1..,2...3...." "Duaaaaarrrrr" Pintu ruang bruder Petrus terbukaa Apa yg kita lihat?. Bruder Petrus sedang berhubungan badan dengan mba Susi. Mba Susi kita lihat dengan bentuk tubuh yang berbeda. Bentuk tubuhnya dari leher-ujung kaki besar dan berbulu hitam. Seperti binatang yang tidak tahu malu, mereka berdua masih melanjutkan hubungan badannya. Bruder Petrus tak sadarkan diri, seperti mengikuti perintah dari mba Susi. Sudah dipanggil beberapa kali, Bruder Petrus tak menggubris panggilan dari bruder Alfonsus, Nestor dan Ray. "Sudahlah, itu bukan dia lagi. Itu sudah iblis dengan iblis" Kata Bruder Nestor. Akhirnya Bruder Nestor membacakan doa, mereka mulai menoleh ke arah Bruder Nelson. "Hentikaaaaaan ituuuuuu" Kata mba Susi. Sambil berhubungan badan, mba Susi hanya melambaikan tangan seperti mengusir orang. "Dubbraaaaaaakkkkkk" Bruder Nestor tercampak ke dinding Aku dan Aldo sudah merasa ketakutan. Doa-doa dari mulut kami pun tak pernah berhenti. Sekarang giliran bruder Ray yang maju. Hasilnya tidak jauh beda Bruder Ray juga tercampak kencang ke dingding. Dan mengeluarkan darah dari mulutnyaaa. Bruder Alfonsus tidak bisa tinggal diam. Bruder Alfonsus mengambil tindakan. Dari segi umur, bruder Alfonsun lebih tua diantar bruder Ray dan Nestor. Mungkin pengalaman dan iman didalam dagingnya sudah sangat kuat. Bruder Alfonsun membacakan doa. "Diaaaaaammmmm!?" Kata mba Susi teriak, yg masih b********h dengan bruder Petrus. Tak mau diam. Bruder Alfonsus terus membacakan doa. Bruder Alfonsus teriak kepada Aku dan Aldo. "Kalian juga baca doa". Karena takut, Aku dan Aldo menutup mata sambil membaca doa. Aku dan Aldo berpegangan begitu erat karena takutnya. Membaca doa terus menerus membuat mba Susi marah besar. "DIAM KALIAAAAAANN" "AKAN KU KIRIM KALIAN KENERAKAA" Teriak mba Susi kepada Aku, Aldo dan Bruder Alfonsus posisi paling depan. "Aldo, ambil kunci serep dan bebaskan orang yang ada dikamar Susi jahannam ini" Teriak bruder ke Aldo Aldo mencoba mengambil kunci serep yang berada disebelah kiri mba Susi dan bruder Petrus. Belum sempat mengambil, Aldo sudah tercampak ke arah Bruder Alfonsun. Untungnya, bruder Alfonsun sigap. Langsung menangkap Aldo. Karena punya kesempatan aku langsung menggantikan Aldo untuk mengambil Kunci Serep itu. Setelah kuambil kunci serepnya, kutarik tangan Aldo keluar dari ruang Bruder Petrus menuju kamar mba Susi. 1 per 1 kuncinya kami coba. Sudah cukup lama. Kami belum nememukan kuncinya. Hampir pasrah dengan keadaan. "Ya Tuhan, tolonglah kami" Ucap Aldo penuh dengan harapan. Tidak menggunakan kunci tapi melalui doa, akhirnya pintu kamar mba Susi terbuka. Bi Nam, Septian, Dion, Anderson, Hendri, dan Aldi ada didalam kamar mba Susi dengan keadaan tak sadarkan diri. Aku keluar kamar dari mba susi. Menuju toilet yang ada di dekat ruang rekreasi. Mengambil air di gayung lalu membawanya ke dalam kamar mba Susi. Aku berdoa "Allah Bapa yang Maha Kuasa, Engkaulah segalanya bantulah kami anak-Mu melawan percobaan ini". Setelah selesai berdoa, kubasukan ke muka Bi Nam, Septian dan teman-temanku satu persatu. "Dimana mereka ?" Tanya Bi Nam "Ada di ruangan bruder Bi Nam" Jawab Aldo. Kita semua keruangan bruder. Kita melihat bruder Alfonsus masih berdoa dibantu okeh bruder Nestor dan Ray untuk menahan serangan dari mba Susi. Sedangkan bruder Petrus sudah jatuh tak sadarkan diri kebawah lantai. Kemudian Bi Nam, duduk bersila dan membantu membacakan doa. Tak banyak mengambil tindakan. Kami mengikuti Bi Num. Septian menangis, "Nek bantu aku, nek" Ucap septian, kepada neneknya yang sudah lama meninggal tapi masih menjaga septian sampai saat ini. Kucing Hitam tadi pun datang, dan berubah wujud menjadi seorang nenek yang cukup tua. Bahasa yang digunakan nenek itu bahasa daerah. Seperti omongan orang jawa, tapi Septian bukan berasal dari Pulau Jawa. Mba Susi masih sama. Masih berontak dengan teriakannya yang sangat menakutkan. Para bruder juga berusaha menguatkan iman dan berdoa. Bi Nam dan kami anak-anak lainnya ikut membantu doa. Dan Nenek Septian mengeluarkan jurus-jurusnya sembari menyerang mba Susi. Mba Susi yang bertubuh besar seperti gorila dengan bulu yang hitam bertarung melawan Nenek Septian dan dibantu doa kami. Pertarungan begitu lama, hampir 2 jam mereka bertarung. Sekali lagi kita diperintahkan bruder untuk lebih dalam doanya dan menguatkan iman kita. Doa yg tak putus-putus. Dan atas kuasa Tuhan. Akhirnya mba Susi terjatuh dan tergeletak dilantai. Dengan tanpa busana, kulit mba Susi terbakar. Wajahnya tampak sudah seperti orang yang sudah berumur. Tidak seperti pertama kali datang ke asrama. Kemudian, Bi Nam menutupi mba Susi dengan kain. Begitu juga dengan Bruder Petrus yang masih tergeletak dilantai tanpa busana. Kita mengangkat mereka berdua ke ruang doa, dan didoakan agar jiwa mereka kembali. Pagi hari pun tiba Anak asrama sudah bangun dan mandi, setelah belajar pagi, anak asrama bersiap-siap berdoa pagi. Tapi mereka dikagetkan oleh, 2 raga tanpa jiwa. Raga mereka masih ada tapi jiwanya entah kemana. "Semuanya, mari kita memdoakan mba Susi dan Bruder Petrus. Dan mari kita memaafkan kesalahnya mereka. Mudah-mudahan mereka diampuni oleh yang Maha Kuasa" Kata bruder Alfon yang akan memimpin doa. Doa selesai. Kemudian bruder Alfonsus mempercikkan air suci dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah di percikkan "Ohooohhkkk ohoookkk" "Uhuuuukkkk uhuuukkk" Suara batuk bruder Petrus dan mba Susi mempertandakan mereka sudah sadar. Bersyukur kepada Tuhan, karena dia Maha pengampun. Jiwa bruder Petrus dan mba Suci bisa kembali. Dengan rasa bersalah, mba Susi meminta maaf kepada semua pihak asrama dan semua anak-anak asrama. Begitu juga dengan Bruder Petrus yang sudah melanggar peraturan sebagaimana menjadi rohaniawan khatolik maka dia dikeluarkan dan dicoret. Dia bukan lagi bruder melainkan sebagai orang biasa. Begitu juga dengan mba Susi yang dipecat oleh Bruder Alfonsus. Bagaimana dengan kisah penunggu asrama dengan mba susi? Tak hanya sampai disitu ternyata. Banyak kesalahan yang harus ditebus mba susi. Bukan kepada manusia. Melainkan kepada penunggu-penunggu asrama. Manusia bisa memaafkan tapi tidak tahu dengan dendam mereka. Sebelum mba Susi pergi dari asrama, mba Susi membereskan pakaiannya. Sebelum izin pamit pergi meninggalkan asrama. Dia meminta maaf kepada semua anak-anak asrama saat makan siang. Banyak anak asrama yang tidak memperdulikannya. Sudah merasa jijik melihat muka mbak susi. Mukanya penuh dengan luka bakar dan bulu hitam yang bau disekujur tubuhnya. Mungkin itu karma yang harus dia terima. Setelah itu meminta maaf kepada Bi Nam. Mba susi meminta maaf karena sudah mengancam Bi Nam. Bi Nam pun memaafkannya. Setelah itu pamit ke anak-anak asrama dan pamit kepada Bi Nam. Mba susi meskipun sudah berbuat kesalahan yang sangat besar, dia tidak takut untuk meminta maaf. Karena sudah menumbalkan bruder Petrus, mba Susi mau meminta maaf kepada Bruder Petrus. Berjalan melewati tangga putar, berniat untuk meminta maaf ke kamar bruder. Namun apa boleh dibuat, masih ada yang belum bisa memaafkannya. Penunggu tangga putar dan toilet tidak memaafkannya. Mba susi terjatuh di tangga putar. Terjatuh dari anak tangga yang paling atas dan terguling sampai ke lantai bawah dan berakhir diselokan depan kamar mandi. Anak Asrama berlari keluar ruang makan, melihat mba Susi dengan kepala berdarah dan posisi tubuh yang di dalam selokan. Mba susi kita angkat kedepan ruang makan. Pas cek nafasnya dan detak jantungnya sudah tidak ada lagi. Begitu juga jawaban suster kesehatan dari poliklinik. Dia sudah tidak ada. Mari kita berdoa dan memaafkannya. Karena dengan pengelihatannya Septian bisa melihat arwah mba Susi. Dan setiap ketemu dengan Septian, arwah mba susi malu dan pergi begitu saja. Tahun 2014. Saya lulus. Lulus dengan Bruder baru dan kepala Bruderan Baru. Begitu juga dengan Septian, yang lulus di Tahun 2015. Septian masih, melihat arwah mba susi di Asrama. Sampai pada awal tahun 2016 ketika pengambilan ijazah. Jiwa-jiwa yang tidak bisa pergi-pergi dari sini dan menjadi tahanan tetap di asrama putra oleh penunggunya. Itulah arti dari nama P E N J A R A K U D U S Penjara yang bukan hanya buat siswa bandel seperti kami, juga penjara bagi mereka yang berbuat kesalahan dan jiwanya tertahan disini. Hati-hati dimana pun kita berada tetap jaga kelakuan dan tindakan jangan pernah ceroboh. Ingat, bukan cuma kita yang tinggal disini. Hati-hati tak bisa KEMBALI!?. Sekian Thread dari Susi dan Penunggu Asrama Semua tokoh dan tempat disamarkan, buat teman-teman tidak usah meramalkan dimana tempat ini, kasus ini juga tertutup hanya pihak dari asrama dan yayasan yang mengetahuinya. Sekian dari saya, Saya deff pamit undur diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD