Susi dan Penunggu

3860 Words
Halo semuanya, Saya deff, disini saya akan menceritakan : Susi dan Penunggu Asrama Putera Melalui sudut pandang saya Seperti biasa nama, tempat disamarkan untuk menjaga privasi dan kenyamanan bersama. Hati - hati dalam membaca, jangan sampai terbawa suasana. Sebab mereka ada, bukan hanya dari cerita tapi berdampingan dengan kita. Tahun 2013, masa libur telah usai, hari ini waktunya untuk kembali ke asrama. Suasana asrama hari ini sama seperti suasana tahun lalu, banyak suara tangis dari siswa baru yang ditinggalkan orang tuanya di penjara kudus ini. Suara gaduh, semua menyusun pakaian dan peralatan, nge-set up tempat tidur bertingkat, ada juga yang main gitar dibangku cadangan lapangan volly. Hari ini, bruder masih sibuk mengurus siswa baru. Jadi, kita mengambil kesempatan dalam kesempitan. Nonton tv diruang rekreasi, dan bermain volly. Hingga pukul 17.30 suasananya masih gaduh, sudah banyak orang tua yang pulang tapi ada juga yang masih menemani anaknya. Seperti biasa orang tua kalau mau pisah dengan anaknya memberikan nasehat dulu. Aku sekarang tinggal dikamar 3, karena memang sudah kelas 3. Jadi kita setiap kenaikan kelas, kamarnya juga berpindah. Keluar dari ruang rekreasi aku memutuskan untuk mandi, berlagak seperti senior biasanya jalanku songong melewati tangga. Kebetulan aku di devisi keamanan diasrama. Tugasnya mengamankan anak asrama. Kita bebas main tangan kepada yang melanggar peraturan dan yang berbuat salah. Keamanan harus bisa menjadi contoh buat semua anak-anak asrama, kalau ada masalah dan keributan seksi keamanan yang duluan di hajar. Bruder baru bertanggung jawab atas semua peraturan ini. Bruder Petrus menggantikan bruder Rafly sebagai kepala bruderan. Kita tahu setiap ada pergantian pasti banyak yang berganti pula. Aku coba kontrol ke kamar 1 melihat situasi disana. Banyak siswa baru yang masih beres-beres, bersih-bersih, dan ada pula yang sudah datang dari pagi dan bisa duduk santai dikasur. Mereka belum berani membaur. Cuma sekitaran kasur dan berkenalan sebelah lemari / tempat tidur. Aku bertanya kepada mereka dengan suara sedikit lantang, "Kalian sudah mandi sore ?" Ya seperti biasa, namanya juga junior masih takut dengan senior. Mereka bahkan tidak ada yg berani menjawab. "Silahkan mandi sekarang karena sebentar lagi kita doa sore" Perintahku pada siswa2 baru itu Beberapa dari mereka bergegas mengambil peralatan mandi dan langsung menuju kamar mandi 3. Aku juga mau mandi, dan aku keluar dari kamar satu menuju kamar tiga. Tak sengaja aku berpapasan dengan seorang wanita, berparas begitu cantik, membawa alat kebersihan menuju kamar satu. "Kakak siapa tuh anjir, cakep bener" gumamku. Teman - temanku yang di ruang seterika pun meneriakiku "mata woi, mata, mata itu dijaga", "hahaha, tau aja ye yang cantik". Setelah itu aku langsung mandi dan bersiap-siap doa sore. Doa sore kali ini bisa dibilang lumayan ngaret, karena siswa baru yang belum tau peraturan yang ada disini jadi kita harus menunggu beberapa diantara mereka yang telat mandi. Selesai doa, aku langsung mengarahkan semuanya ke ruang makan. Dan ada beberapa yg izin keatas untuk mengambil peralatan makan. Sesampainya diruang makan, mengatur posisi anak anak. 4 K 1, 2 K 2, 2 K 3 Sudah peraturan turun-temurun, agar Kelas 2 dan Kelas 3 bisa mendidik Kelas 1. Tak lama, bruder Petrus pun datang bersama dengan bruder Alfonsus bersama wanita cantik tadi sore. Bruder Petrus, Bruder Alfonsus memperkenalkan diri diikuti oleh Bi Nam dan Mba Susi kepada siswa baru. Bi Nam sebagai tukang masak, yang sudah bekerja diasrama selama 20 Tahun lebih. Dan mba Susi sebagai pembantu bruder untuk membersihkan ruangan bruder, kamar bruder, dan bruderan. Hari-hari berlalu, kegiatan dan aktifitas seperti biasanya berjalan dengan lancar. Mba Susi selalu membersihkan ruangan bruder,kamar bruder, dan bruderan setiap harinya. Permasalahan muncul ketika awalnya mba Susi terpeleset di ruang makan. Pada saat itu tidak ada siapa-siapa yang mendorong mba Susi, begitu juga dengan lantai yang kering. Tapi nggak tau kenapa mba Susi bisa terjatuh sendiri. Bi Nam yang mempunyai sedikit kemampuan mengurut langsung memegang kaki mba susi, dan mengurutnya. "Aduh Nam, Nam, pelan - pelan". Jerit mba Susi dengan suara pelan. Ketika jam makan sudah selesai, kita akan belajar malam. Biasanya, kalau selesai makan beberapa orang ada yang ketoilet dulu. Aku dan beberapa temanku juga ke toilet. Dikamar mandi 3, terdengar ada suara keributan. Septian anak kelas 1 teriak, dia mendengar suara ketawa dari perempuan dari kamar mandi 3. Setelah di cek, tidak ada orang dikamar mandi itu. "Halu kamu mah" kataku meyakinkannya. Sebenrnya kalau udah ada kejadian seperti ini biasanya sebagai pertanda, kalau salah satu diantara kita ada yang berbuat kesalahan. Lonceng kubunyikan menandakan sekarang jam belajar. Ditengah jam belajar saya kebelet mau buang air kecil. Saya izin ke pak S yang sedang mengawas belajar malam ini. Sewaktu menuju ke kamar mandi 1, saya kaget ada mba Susi di kamar mandi 3. "Lagi apa mba ?" tanyaku heran "Eh, ini lagi bersihin kamar mandi" Mba susi menjawab dengan gugup. Dalam pikiranku, "Sejak kapan mba Susi jadi tukang bersih-bersih kamar mandi dan buat apa bersih bersih kamar mandi malam-malam begini, kaya nggak ada waktu aja". Setelah keluar dari kamar mandi, aku mencium seperti bau kemenyan dan kembang. Kemenyan dan kembang biasanya di daerah sini dibuat sebagai pewangi ruangan, kemenyan juga dipakai buat campuran tembakau untuk perokok. Aku berpikir lagi, "Tapi masa iya sih, bikin pewangi kamar mandi dari kemenyan dan kembang". Setelah belajar malam, anak - anak naik kekamar masing masing. Dan biasanya sebelum benar-benar tidur. Seksi keamanan keliling dulu untuk memastikan apakah masih ada yang dibawah. Lampu kamar mandi, ruang makan, ruang belajar, dan lapangan volly begitu gelap. Dengan penerangan senter, Aldi menyenter ke segala arah dan bergantian dengan Anderson, memastikan tidak ada lagi yang dibawah. Ketika Aderson menyenter ke ruangan rekreasi terdapat sosok wanita memakai baju putih. "Do.. Do.. Coba lihat sini" Panggil Anderson Aldo, Aldi, Andreson melihat wanita tinggi dan postur tubuhnya yang sama seperti mba susi. Berjalan mengarah ke ruang rekreasi yang gelap. Aldo adalah ketua Asrama di Tahun 2013. Orang yang paling bijak dan tau mengambil tindakan kearah mana yang lebih baik. Terkait kejadian yang baru dilihat Aldo, Aldi, dan Andreson. Itu sudah hal wajar, melihat beberapa penampakan diasrama. Tapi yang kita takutkan adalah siapa yang sedang berbuat kesalahan dan berimbas kepada semua anak asrama. Setelah Aldo, Aldi dan Anderson melihat itu, akhirnya kita keamanan kumpul dan diskusi. Semua keamanan dipanggil ke kamar 3. Aldo yang sudah menunggu, dan Aldi yang memanggil aku dan hendri yang kontrol dikamar satu, begitu juga dengan Andreson memanggil Dion dan Calvin dari kamar 2. Kita ngebahas, tentang kejadian yang dilihat oleh Aldo, Aldi, dan Anderson. Mereka menjelaskan, kalau mereka melihat sosok seperti mba Susi pakai baju putih berjalan mengarah ruang rekreasi. Dengan rasa curiga juga, aku memberi tahu kepada mereka kalau aku tadi bertemu mba Susi di kamar mandi 3 yang sedang bersih-bersih, dan sewaktu aku keluar kaya ada bau kemenyan dan kembang gitu. Ditengah-tengah pembicaran "Ngeeeakkkkkkk" pintu terbuka Dan terlihat mba Susi yang tersenyum manis :) "Kalian kok belum tidur ?" tanya mba Susi mengagetkan kita "Iya mba lagi diskusi 5 mnt lagi tidur" Jawab aldo gugup "Iya mbak" kita pun ikut meyakinkan. Setelah itu mba Susi menutup pintu dan pergi. "Nggak mungkin mba susi melakukan begituan" kata Calvin sambil menatapku yang lain juga tampaknya tidak percaya, dengan perkataanku. Aku bersih keras melakukan sebuah pembelaan. "Suer, aku lihat tadi. Kalau nggak percaya ayo sekarang ke kamar mandi kita lihat siapa yang berbohong" "Gila lu, Udah gelap serem lagi" kata dion yang sudah ketakutan. "Ngeeeekkkkkkkkk, dup" Kita ber-7 kaget pintu terbuka lagi. Ada bruder Pertus. Mukanya tampak pucat, dan seperti bukan manusia. "Kenapa kalian belum tidur ?" tanya bruder. "Kita lagi diskusi der, kebetulan piket asrama lumayan berantarakan jadi mau dibetulkan" bohong Aldo sang ketua asrama. Tanpa ada perkataan lagi. Bruder pergi meninggalkan kita dan masuk kekamarnya. Dan kita pun menyudahi diskusi malam ini. Kita tertidur sampai pagi pun tiba. Aku bangun pagi sekali, dan bangun pertama. Aku membangunkan beberapa keamaan untuk membuktikan perkaraanku semalam. Ada Calvin, Dion, hendri, dan aku yang memimpin jalan ke arah kamar mandi 3. Sampai dikamar mandi 3, bukan bau kemenyang dan kembang yang kita cium, tapi bau bangkai. Bangkai ayam yang kira-kira sudah satu minggu. Kita ber-4 keluar dari kamar mandi. "Ooaaaakhhhhh" Terus menerus perut mengocok sangking baunya, hingga mau muntah. Bruder yang sudah bangun melihat kami keluar dari kamar mandi 3. Bruder langsung menemui kami, "Ada apa ini ?" Tanya bruder. "Ada bangkai dikamar mandi der" Jawab Hendri. "Hoooaakkk" Dion mau muntah mengingat baunya "Dimana bangkainya?" Tanya bruder yang kurang percaya. Kita berjalan ke kamar mandi 3 menunjukkan tempat bangkai itu kepada bruder. "Dikamar mandi ini der" tunjuk saya sambil menutup mulut. Aneh-aneh makin aneh. "Haaaaah" ? Kita ber-4 Kaget Bangkainya sudah tidak ada lagi. Melainkan hanya ada sebuah ember yang mengantikan posisi bangkai itu tadi. "Mana bangkainya ?" "baru pagi sudah ngaur" Bruder pergi meninggalkan kita. Jam segini bruder pergi ke bruderan karena di bruderan ada doa pagi. Setelah itu kita memutuskan untuk mandi, begitu juga anak - anak yang lain sudah pada bangun dan ingin mandi. Selesai mandi kita ber-4 ngobrol lagi. Dengan wajah begitu t***l, apalagi wajahku yakin kalau ini ada yang nggak beres. Ketika mau naik ke kamar, kita berpapasan ditangga dengan mba Susi yang baru membersihkan kamar bruder. Dia melihat kita dan tersenyum. Entah kenapa senyumnya terasa aneh. Seakan senyumnya seperti ketawa yang sangat besar melihat kita. Tak hanya aku. Hendri pun berpikiran demikian. "Aneh banget sih senyumnya, seneng banget kaya dapet rezeki nomplok". "Heh, mulut kau" "Udah syukur di senyumin" Kata Dion memotong Hendri. Memang siapa pun laki-laki yang di senyumin Mba Susi pasti langsung jatuh cinta, dengan wajah yang cantik dan tinggi sekitar 160 cm. Pulang sekolah kita makan siang "Buarr, Prinkkkk, Prinkkkk, Prinkkk" Suara piring, gelas. Jatuh pecah. Mba susi yang jatuh di depan ruang doa. Sewaktu dia mau ngantar makanan ke ruangan bruder. "Gpp mba ?" Tanya dimas anak kelas 1 "Iya, gapapa kok" Jawab mba susi Tidak hanya hari ini, mulai bekerja di asrama mba Susi sering kali terjatuh Ditangga, Kamar 1, Tangga Putar, Dapur, Ruang Makan, Dekat Sumur. Dan hampir semua tempat. Setelah makan, aku mengajak aldo ngobrol tentang kejadian kemaren. Begitu juga dengan dion temanku yang asik mendengarkan kami berdua. "Do, gimana kalau kita belajar bareng?" Kataku mengajak Aldo "Boleh, posisi kita hadap ruang tv" Jawab Aldo setuju. "Iya bener " "kita bisa lihat pergerakan" Hendri menawarkan diri juga. Jam belajar malam pun tiba. Malam ini kami melihat mba susi dengan dandanan yang begitu cantik. Layaknya kembang desa yang sedang mekar-mekarnya dan siap dimadu. Aku langsung kode ke Aldo dan Hendri "Shuuuut, itu tuh" Kataku pada Aldo dan Hendri Aldo langsung ambil tindakan, izin ke kamar mandi kepada pengawas. Mba susi berjalan dari kamarnya melewati teras ruang belajar menuju ke arah kamar mandi. Aldo berfokus kepada mba Susi yang berjalan masuk ke kamar mandi. Aku dan Hendri izin kepada pengawas dan langsung mengikuti Aldo. Kita sudah koordinasi kumpul di depan ruang doa. Setelah itu kita pergok bersama-sama. Denahnya. Kalian bisa lihat kamar pemasak? Itu kamar mba Susi. (GAMBAR Denah Susi) Langkah demi langkah. Kami masuk ke kamar mandi 3. Mengintip sedikit dan "Sedang apa kalian bertiga?" Kata bruder mengagetkan kami. "Ini der, nemenin aldo" kata Hendri takut dimarahin "Ketoilet aja harus bertiga" Kata bruder sambil meninggalkan kami. Aku tersadar, itu bukan bruder. Dari cara berbicaranya hingga tatapannya itu bukan bruder. Bahkan dari wajahnya pun sudah ketahuan, kalau itu sebenarnya jelmaan. "Heran banget gua cok" "gua lihat sendiri loh" "itu si mba susi pergi ke kamar mandi 3" Aldo sambil menggaruk garuk kepalanya. "Lu lihat nggak wajah bruder tadi ?" "Pucet kan ?" Kataku kepada Hendri dan Aldo. Kita kembali ke ruang belajar. Di perjalanan aku menyampaikan kepada Aldo kalau yang kita lihat tadi itu bukan bruder. Itu udah jelmaan. Nggak lama, mba susi kembali kekamarnya. Sama seperti tadi pagi, dia tersenyum sambil menatap kami. Seakan dia tahu kalau kami sedang mengintainya. Kami buat rapat lagi antara, Aku, Aldo, Aldi, Hendri, Dion, Calvin dan Anderson. Kita membicarakan tentang kejadian aneh dikamar mandi dan tatapan mba susi serta senyumannya yang aneh. Karena penasaran sama mba Susi. Kita susun rencana untuk melakukan pengintaian lebih lanjut Keesok harinya kita seperti dalam rencana kita melakukan hal yang sama ngecek ke kamar mandi, dan yang kami temukan sama seperti kemaren bangkai ayam. "Oaaaakkk, bau banget" Hendri nggak kuat dengan baunya "Ambilin ember deff" Suruh Aldo padaku Setelah aku mengambil ember, bangkai ayam itu kita masukkan kedalam ember dan kita tutup menggunakan plastik, supaya baunya tidak kemana-mana. Sembari mmbawa ke depan kamar bruder, baunya tiba-tiba hilang. Aldo membuka plastiknya "ANJIRRRR, KOK JADI KEMBANG" Kita semua yang melihat dan heran. Kenapa setiap kita mau mengadu ke bruder selalu gagal, apakah ini kebetulan?. Ketika kita didepan kamar bruder, tiba-tiba mba susi keluar dari kamar bruder. Bukannya mau membersihkan tapi terlihat seperti baru bangun tidur dengan rambutnya yang acak-acakan. "Kenapa? Kalian belum puas juga ?" Mba susi tersenyum sinis, seakan menyatakan kemenangan. "Mana bruder" Tanya Aldo yang sudah mulai kesal Mba susi hanya tersenyum, mengunci pintu kamar bruder dan meninggalkan kami sembari turun melewati tangga putar menuju ke dapur. Aldo memutuskan untuk membuang kembang itu. Singkatnya kita mandi bersiap-siap untuk belajar pagi, doa pagi, dan makan pagi. Setelah makan pagi, kita biasanya kebersihan terlebih dahulu baru apel pagi. Kebetulan septian adalah petugas kebersihan di tangga putar. "Hihihihihi" "Hihihihihihi" Tiba-tiba septian tertawa seperti suara kuntilanak. Suara itu membuat kita terkejut. Kita yang baru keluar dari ruang makan tiba-tiba dikagetkan dengan kejadian ini. Saya, Bi Nam, Aldo dan teman-teman yang lain melihat kejadian Septian ini. Saya tahu, kalau itu bukan Septian tapi penunggu tangga putar. "Dia orang jahat" "Dia pembawa petaka disini" "Cepat usir dia dari sini" Ntah apa dan siapa maksud dari perkataan septian kita tak tahu. Bi Nam adalah orang yang cukup mengerti tentang hal mistis. Bi Nam yang biasanya ramah kepada kami dan terbuka, sekarang seperti ada yang membungkam dia dan tidak berani bercerita kepada kami. Bi Nam hanya bisa terdiam. Apa sebenarnya yang terjadi, dan apa maksud dari perkataan Septian? Nelson anak 2A yang memang pemberani dan Agama-is diantara semua anak di asrama. Langsung membacakan doa-doa dan meminta pertolongan kepada Tuhan. Septian akhirnya terjatuh. Kami mengangkatnya Septian ke dapur. Bi Nam membuatkan minuman, lalu diberikan kepada Septian. Septian ini memang sosok orang yang mempunya jiwa lemah dan gampang buat di masukin oleh meraka mahkluk yang tak kasat mata. Aku bukan tak percaya akan kejadian-kejadian aneh ini. Tapi yang membuatku bingung, apa maksud dari semua ini?. Siapa yang berulah, siapa yang jahat dan siapa pembawa malapetaka itu? Apakah benar mba Susi wanita pembawa malapetaka? Hari-hari berlalu, septian beberapa hari ini selalu kerasukan sama penunggu asrama putera yang ada di setiap sudut bagian asrama. "Usir dia" "Dia Tidak baik" "Dia jahat" "Pembawa malapetaka" Hingga, akhirnya orang tua Septian pun membawa pulang Septian untuk diobati dulu. Beberapa hari ini, ketika septian kesurupan. Mba susi tidak pernah lagi kami temui lagi pergi ke arah kamar mandi 3. Kenapa dia tak pernah pergi ke kamar mandi 3 semenjak Septian kesurupan? Menjadi sebuah pertanyaan bukan?. Namun ketika Septian di jemput orang tuanya. Mulailah lagilah, aksi mba Susi. Tiap malam ke kamar mandi 3, dan paginya ada anak asrama yang menemukan bangkai ayam. Dan ketika dilapor ke bruder, bangkai itu tidak ada. Dan Aldo sebagai ketua asrama juga sudah melapor ke pada bruder tentang sikap dan tingkah laku mba susi. Namun bruder selalu membantah akan omong Aldo. "Kamu jangan mengada-ngada" "Kalau tidak benar, itu fitnah namanya" Kata bruder kepada aldo. Aldo menyerah, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena tak punya bukti yang cukup kuat. Dan saksinya pun cuma kita teman-teman Aldo. Setelah 1 minggu lebih. Septian akhirnya kembali ke asrama. Dia masih normal, ketika ngobrol pun masih nyambung. Dan kata orang kalau dia gila itu salah banget. Beberapa hari setelah dia datang, dia tak pernah lagi kesurupan. Dan semenjak Septian datang mba susi tak pernah lagi kamar mandi 3. Apakah ini kebutulan? Tepat dimalam Jum'at. Sepulang missa malam, aku berganti baju. Mengambil tas dan perlengkapan buat belajar. Selesai itu, saya ke toilet ditemani beberapa teman yang lain. Karena saya di kamar 3, jadi track yang harus aku lewati itu ruang lemari 3, tangga putar, kamar mandi 1, kamar mandi 2, kamar mandi 3, ruang doa, baru sampai ke ruang belajar. (Gambar Denah Susi) Sewaktu ke kamar mandi 1, tidak ada hal aneh. Selepas buang air kecil aku pun dan teman-teman berjalan melewati kamar mandi 2, dan sebelum sampai di kamar mandi 3 sudah tercium bau kemenyan dan kembang. "Son, lu cium bau menyan nggak?" Tanyaku pada Anderson "Iya nyengat banget" Jawab Anderson Begitu juga dengan beberapa teman-temanku nyeletup. "Siapalah yang pakai menyan di toilet" Berarti tak hanya aku yang mencium tapi ada beberapa orang yang mencium bau itu. Aku suruh Anderson buat jaga disini, dan aku panggil Aldo yang sudah di ruang belajar. "Do, Aldooo" Panggilku "Iya kenapa deff ?" Jawabnya "Udah ayok ikut" Sambil menarik Aldo ke kamar mandi. Aldo pun juga sama, bisa mencium bau kemenyan dan kembang itu. Kita mencoba ngobrol dengan Bi Nam yang ada didapur tanpa di ketahui mba Susi. Bi Nam akhirnya angkat suara. "Cuma anak itu yang dapat menolong". Suara itu bukan suara Bi Nam. Melainkan Penunggu tangga putar. Kita kenal suara itu karena seringnya Septian kerasukan penunggu Tangga putar . "Septian ?" Tanya Aldo "Iya, cuma dia yang dapat menolong" Kata Bi Nam (masih keadaan dirasukin). Habis itu kita langsung memanggil Septian ke dapur. Septian kita introgasi, masalah apa yang sedang menimpa kita semua. Karena cuma dia yang bisa menjelaskan ini semua. Pengakuan darinya Septian sebenarnya adalah anak "Indigo" bisa melihat mahkluk yang tak khasat mata. Sebagai anak Indigo dia juga ada yang menjaga, yaitu neneknya. Neneknya dulunya orang spritual dan mempelajari ilmu-ilmunya hingga turun ke Septian. Belum banyak penjelasan yang kita dengarkan dari Septian, dan belum banyak cukup fakta dan bukti kita kumpulkan, tetapi Mba susi dan bruder Petrus datang ke dapur. Seperti mengetahui apa yang sudah kita bicarakan. Bruder Petrus menyuruh kita bubar dan ke ruang belajar. Keesokkan harinya, selesai jam makan siang. Aldo berusaha untuk mengajak ngobrol Septian dan Bi Nam agar semua ini bisa selesai. Seperti mengetahui rencana Aldo, mba Susi tak kunjung pergi dari dapur hingga sore hari. Kita coba dimalam hari setelah belajar malam, kebetulan Bi Nam masih ada di dapur. "Panggil Septian dan Keamanan yang lain" Kata Aldo menyuruhku "Oke do" Jawabku terburu-buru mamanggil Septian dan yang lain. Akhirnya Septian dan beberapa keamanan yang lain sudah ada di dapur. Septian memulainya dengan tarikan nafas yang begitu panjang. Sepenglihatannya mba Susi mempunyai setan peliharan yang ditempatkan dikamar mandi 3. Setan peliharaan ini didapat nya ketika sebelum bekerja di asrama. Dan menurut septian, bekerja di asrama hanyalah kedok, untuk mendapatkan tumbalnya. Untuk mendapatkan kecantikan yang sempurna, mba Susi mendapatkan beberapa syarat yang harus dipenuhi setiap minggu dan setiap bulannya. Setan peliharaannya ini meminta makan ketika malam kamis dan malam jum'at. Seekor yang ayam baru dipotong sebagai makanannya, dan darah segar ayam itu ditaruh ke dalam cangkir sebagai minuman setan peliharaannya. Dan setiap bulannya, mba Susi harus mempersembahkan seorang perjaka. Dia harus b********h dengan perjaka. Ketika yang diberikan sudah tidak perjaka, maka kecantikannya mba susi akan luntur. Dan wajahnya akan kembali seperti dulu lagi. Maka mba Susi pun dapat keahlian dari setan peliharaan itu. Mba susi dapat melihat dan mencium aroma laki-laki yang masih perjaka atau bukan. Tak hanya itu Setan peliharaan mba Susi juga lumayan cukup kuat. Dia juga memberikan kekuatan jahat kepada mba Susi. Kekuatan berubah wujud, berubah menjadi siapa saja dan bisa masuk kedalam mimpi. Septian mengeluarkan fakta terakhir yang dia lihat. "Kalian semua tau nggak?" "Mulai awal datang sampai sekarang kenapa mba Susi sering terjatuh ?" Tanya Septian kepada kita semua. Bi Nam jawab, Sebenernya itu bukan jatuh yang wajar. Melihat kakinya setelah terjatuh seperti ada yang memegang kakinya, dan sengaja menjatuhkan mba Susi. Hari sudah semakin larut, ditengah pembicaraan. "Cuma menjatuhkan mba Susi mereka bisa" Kata Bi Nam. Penunggu asrama ini tidak sanggup untuk melawan peliharan mba Susi. Karena peliharaan mba Susi ini banyak pengikutnya. Begitu juga karena peliharaannya diberi makan dan diberi tumbal, membuatnya sangat kuat. Bi Nam minta maaf, dia diam dan tidak speak up ke kita karena selama ini dia diancam. Kalau engga dia dan keluarganya akan dibuat sengsara oleh mba Susi. Setelah meminta maaf, Bi Nam juga menyampikan seperti teka-teki tapi bisa menjadi salah satu obat dari semua ini. "Jikalau ada Tuannya, maka ada pengikutnya" "Jikalau sengsara Tuannya, begitu juga dengan pengikutnya" Kata Bi Nam, mengakhirinya. Logika kita dipaksa untuk mencerna pesan dari Bi Nam. Masalah ini sungguh sangat besar, kita perlu orang yang dapat bersuara dan membantu kita menyelesaikan masalah ini. Dion memberi saran agar, Dia dan Hendri akan pergi ke bruderan. Menemui bruder yang lain untuk menyampaikan masalah ini. "Gimana do ? Ada benarnya juga" Kataku menyetujui pendapat dion "Boleh, tapi kalian harus hati-hati" Kata Aldo menitip pesan. "Kalian jangan lupa berdoa" "Mintalah pengampunan" "Supaya kita diampuni" "Mintalah kekuatan" "Supaya kita di beri Jalan" Doa Bi Nam, menyertai kita semua. Setelah mengambil kunci pintu depan dari aldo, Dion dan Henri berdoa. Mudah-mudahan semuanya akan berlalu. Amin. Sampai pintu depan, Hendri membuka pintu. Sedangkan Dion mengamati sekitar tidak ada siapa-siapa karena jam segini, anak asrama sudah tertidur. Ketika pintu dibuka oleh Hendry. "Astagaaaaa, apaa ini?" Dia dikagetkan oleh Bruder Petrus dan mba Susi. Begitu juga dengan Dion merasa kaget. "Mau pergi kemana kalian ?" Tanya Bruder sambil tersenyum "Hihihihihihi" "Hihihihihi" "Hihihi" Mba susi tertawa sini, seakan dia tawa rencana kami. "Mau mengunci pintu der" Jawab Hendri yang sudah ketakutan "Loh - loh, emang Aldo kemana ?" Tanya bruder dengan muka pucatnya. Perjalanan Hendri dan Dion kalian harus dihalangi. Mereka berdua tidak bisa melapor ke bruderan. Dan dihalangin oleh mba Susi begitu juga Bruder Petrus yang sudah dibawah kendali mba Susi. Sebenarnya Bi Nam sudah tau akan permainan mba Susi. Ketika anak-anak mau melapor ke bruderan, pasti dia akan menghalanginya. Namun Bi Nam sudah mempersiapkan jalan lain untuk itu. Ketika Dion dan Hendri pergi meninggalkan ruang makan. Aku dan Aldo juga pergi, tapi beda arah dengan Dion dan Hendri. Dion dan Hendri melewati biasa melalui depan. Sedangkan Aku dan Aldo melewati kamar mandi. Pintu kamar mandi kami buka, dan melihat keluar begitu gelap. Pintu kamar mandi batasi dengan pagar yang lumayan tinggi. Namun urusan panjat memanjat, aku dan aldo sudah ahli. Aku dan Aldo menyusuri kegelapan. Tak sengaja, kita bertemu dengan kucing hitam. "hussssshh" "husssssshhh" Usirku kucing itu karena takut "Meoonnggg, Meeeongggg" Kucing itu mengeong dan tak mau pergi. "Pussshhhhh" Aldo mengusir dan melemparnya dengan sendal bekas. Kucing itu tak mau pergi. Akhirnya Aku dan Aldo berusaha untuk cuek ke kucing itu. Kita memanjat pagar, dan menyusuri Aula Paroki. "s**t, terkunci semua" Kata Aldo padaku Kucing itu mengeong, seakan mau menunjukkan jalan. Awalnya tak mau untuk mengikutinya, takutku itu kucing suruhan mba Susi untuk menjebak kita. Tapi setelah kita pasrahkan semuanya, kita pun mengikuti jalan kucing itu. Sudah sekitar 5 menit berjalan, akhirnya Aku dan Aldo sudah sampai di gerbang selatan sekolah. Perasaan kita pun begitu lega, kita langsung berlari menuju bruderan. "Tok, tok, tok" "Bruder, bruderrrr, bruderr" Panggil kamu sembari mengetok pintunya bruderan. Bruder Alfonsus membukan pintu untuk kami. "Ada apa kalian tengah malam begini datang kemari ?" Tanya bruder Alfonsus. Kita menjelaskan semuanya ke Bruder Alfonsus. Tak lama dari situ, dia memanggil bruder Ray, dan bruder Nestor. Kita ber-5 menuju ke Asrama Putera P E N J A R A K U D U S Lanjutttt . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD