Ada apa kisah disumur tua ?
Okay gua bakal mulai kisahnya. Selamat datang semua, kenalin nama gua deff.
Letak sumur ini diantara ruang makan dan lapangan volly, sumurnya sudah lama tak digunakan, airnya kotor dan bau "seperti bau rendaman besi berkarat-karat dan sering terdapat bangkai tikus yang jatuh ke sumur
Tak sedikit anak asrama yang malas membuang sampah bekas jajan ke tong sampah akhirnya membuang sampah plastiknya ke sumur ini ketika melawatinya. Debit dari air sumur tidak kurang tidak tambah, tetap segitu selama 3 tahun saya tinggal di asrama dengan bau yang tetap sama.
Pernyataan saya, "Kenapa sumurnya tidak ditutup kalau memang sudah tidak dipakai lagi ?" entahlah itu kenapa atau alasan apa, saya tidak pernah tahu dan tidak mendapat jawaban.
Kita masuk ke cerita intinya Rabu 12.30, pulang sekolah. Saya dan roby pulang ke asrama, kebetulan kita sekelas. Suasana asrama begitu ramai karena hari rabu memang hari yang ditunggu-tunggu anak asrama.
Dimana hari ini adalah hari bebas, orang tua bisa membawa anak keluar asrama mulai pukul 13.00 atau anak asrama bisa keluar bebas pukul 15.00 - 17.30. Biasa orang tua/keluarganya yang masih tinggal di kota "P" ini mengunjungi anaknya, dan membawa anaknya buat perbaikan gizi.
Setelah berganti baju, saya dan roby turun kebawah menunggu lonceng berbunyi yang menandakan jam makan siang. Turun tangga dan menuju arah sumur. Tak tau kenapa pikiran saya ke arah sumur. "Mungkin biar lebih dekat ke ruang makan kali".
Pernah nggak kalian ngelakuin teriak di sumur atau ruang kosong ?
Pas sampai di sumur, melihat isi sumur yang begitu kotor. "Joroknyaaaaa" kata saya sambil teriak di sumur dan diikuti suara gema pantulan dari sumur "joo... rokk.. nyaa.. aaa.. aa.. a.. a.."
Karena bergema, timbullah niat iseng teriak teriak disumur. Tak hanya saya, roby pun ikut mencoba. Setelah kita teriak-teriak ga jelas, datanglah Ryan temen saya yang isengnya berlebihan.
Ryan ini mengambil batu dan lempar ke sumur hingga percikan air sumur muncrat ke muka saya dan roby. Airnya bau, bau bangett. Dan baunya lengket kalau kena ke kulit. Saya langsung ngelap muka pake kaos putih dalaman yang saya pakai.
Tidak lama dari situ, mulai kesel sih. Ngelihat kelakuannya saya teriak "Ryan bau airnya anjeng". "wkwkwkwk" Ryannya ketawa tertawa lepas.
Setelah itu Ryannya pun mencoba untuk teriak di sumur, "Woaaaaa... Woaaa.. Woaaa.." Wops saya selalu berpegang mata ganti mata, gigi ganti gigi. Dia bercanda mari kita balas.
Ketika dia masih teriak-teriak nggak jelas di sumur, saya ambil batu yang lumayan besar seukuran 2 kali kepal tangan saya lalu saya ayun dan lemparkan ke sumur itu.
Tidak hanya Ryan, saya dan roby juga ikut terkena cipratan air sumur itu. Roby, "kok bodoh kali, orang bodoh kok kau ikut ikutin deff" roby kesal karena dua kali ke cipratan airnya.
Ryan juga kelihatannya jadi kesal sehingga dia nyeletup "kok bodoh kali kau kont*l, besar kali batunya anji*g. Basah semua muka sama bajuku babi-babi dan diakhir dia bahasa kasar "sumur kont*l, aiir kencing suster ngesot bau kali babi"
Akhirnya kita cuci muka, cuci muka pakai sabun biar baunya nggak kecium lagi. Pas cuci muka tangan saya berasa panas dan berat. Saya rendam di bak mandi biar adem sembari menunggu roby dan ryan.
Kita bertiga keluar dari toilet, lonceng tak kunjung berbunyi. Akhirnya kita mau duduk kearah lapangan volly, saya duluan dan diikuti roby, dan terakhir ryan. Tidak tahu kenapa ketika melewati sumur tiba-tiba ryan terjatuh. Dan dia sesak nafas, kaya tersedak makanan.
Dia mau menjerit tapi nggak bisa, saya dan roby pun menolongnya. Roby memposisikan badan ryan (posisi tidur) dan mengangkat perutnya. Ini saya kurang tau sih, kalau orang sesak tiba-tiba, perutnya yang diangkat.
Setelah itu ryan pun masih sesak nafas, dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata sama sekali. Saya hanya bisa diam dan tangan saya yang mulai panas dan membengkak.
Akhirnya saya panggil temen-temen yang lain, dan mereka pun langsung datang membantu. Ada beberapa orang tua siswa lain yang melihat, tak banyak bicara dan koordinasi kita langsung mengangkat ryan ke Lantai 2 dan di bawa ke tempat tidurnya Ryan.
Dia hanya bisa memegang perutnya layaknya orang kena pukul dibagian perut. Dan tangan saya semakin membengkak dan berat sekali rasaya mau mengangkat tangan saya. Tidak lama, suhu badan saya mulai naik. Dan badan saya rasanya lemas sekali seperti orang nggak makan 3 hari.
Roby meminta tolong ke vero buat panggilin bruder. Vero berlari kebawah menuju ruangan bruder. Ternyata diruangan bruder tidak ada siapa-siapa. Vero berlari lagi ke Lantai 2 menuju kamar bruder. Ternyata bruder tidak ada juga.
Akhirnya vero minta ditemanin sama rado, buat cek bruder di bruderan "tempat tinggal bruder yang mengajar disekolah" dan kebetulan bruder rafly adalah kepala bruder di sekolah dan asrama.
Sampai di bruderan dengan jarak kurang lebuh 150 m dari asrama, ternyata yang ada hanya ada bruder alfonsus.
Ketika bruder datang, saya sudah tidak sadarkan diri. Seperti didalam mimpi saya bertemu suster yang memakai jubah hitam dan bertubuh cukup besar. "Kenapa kau mengotori air suci itu ?" kata suster itu dengan tawa cekikiknya sambil memegang erat tanganku.
Aku tak tau berbuat apa, aku hanya bisa berdoa dan minta pengampunan kepada Tuhan. Doa Bapa Kami selalu berulang-ulang saya ucapkan. Ketika mengulang Doa Bapa Kami, semakin lama semakin keras pula suara suster itu dan semakin kencang pula dia menggenggam tanganku.
"Didalam nama Bapa , Putera dan Roh Kuduh berkatilah aku anak-Mu ini ya Bapa" dan aku teriak "ma, tolong aku ma". Perasaan sedih bercampur takut. Cuma mikirin apakah masih bisa lihat mama? "Maaaa... Tolong akuu maaa..."
Tak lama, akhirnya aku terbangun. Sudah ada bruder rafly dan dan pak Nz (salah satu guru silat sekali gus guru MTK di sekolah kami) pak Nz ini juga tau ttng hal - hal mistis seperti yg sedang kita alami sekarang ini.
Pak Nz menawarkan air putih dan disuruh minum sampai habis. Rasa air itu sangat pahit sekali, mau muntah rasanya, tapi kupaksakan buat minum pemberian pak Nz. Aku minum dan lega rasanya tapi tanganku masih bengkak.
Ryan gimana ? Okay ini versi ryan. Dan kebetulan gua deket sama anaknya jadi kalau mau up cerita ini dia sans dan ngizinin. Sekalian juga buat pengetahuan buat pembaca, harus jaga sikap dimana pun kita berada.
Ryan ketika terjatuh sebenernya sudah tidak sadarkan diri walaupun matanya terbuka, dia sesak nafas dengan raga yang tidak kenapa-napa, namun jiwanya dibawa pergi kedalam sumur (dunia mereka).
Sepenglihatan manusia biasa, ryan hanya sesak nafas dan merasa kesakitan akibat terjatuh. Tapi kalau orang yg bener-bener bisa lihat hal yang begituan "anak indigo" Ryan sudah nggak ada di situ, sudah di bawa pergi.
Pak Nz menolongku terlebih dahulu supaya dua-duanya kami nggak dibawa ke alam mereka. Setelah menolong aku, akhirnya pak Nz membentuk posisi duduk dengan kaki bersila dan tangan yang seperti mengeluarkan jurus-jurus untuk menolong Ryan melalui kuasa Tuhan Yang Maha PENGAMPUN.
Yang dirasakan ryan saat itu sangat gelap dan hanya ada suara, "Kamu mau kemana? Disini saja sama saya ya" dan ada beberapa bahasa yg tidak ryan mengerti. Ryan hanya bisa diam dan ketakutan.
Pak Nz menyuruh Bruder Rafly, Alfonsus dan teman teman yang lain mendoakan Ryan. Kita berdoa yang dipimpin bruder Alfonsus. Berulang ulang kali kita berdoa dan doa kita tak putus putus, dan diulang-ulang terus. Jikalau kalian melihat ini sungguh menyedihkan dan menakutkan.
Setelah itu Pak Nz, membuka baju dan celana Ryan, kita disuruh mengangkat Ryan ketempat Ryan terjatuh. Setelah diangkat ke tkp, pak Nz meminta satu ember air dan garam. Garam dimasukan ke dalam air, Pak Nz seperti memanjatkan doa sambil mengaduk air dengan garam itu.
Pak Nz mengambil segelas air garam dan memaksa Ryan untuk minum. Ryan beronrak dan nggak mau minum. Bruder dan Pak Nz sadar kalau itu bukan Ryan. Pak Nz teriak "ayo nak, kamu bisa melawannya, Ryan kamu kuat" "Ryan ayo bangun" "Dengarkan bapak" "ayo ryan"
Dengan penglihatan yang sangat gelap, Ryan bisa mendengar suara pak Nz. Yang dimana Ryan juga berusaha berdoa dan meminta pengampunan kepada Tuhan. Ryan berdoa dan mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas sikap yang dilakukan.
Sambil memaksa akhirnya Ryan minum air garam itu. Sama seperti yang saya rasakan, air itu terasa pahit sekali. Ketika ryan minum pun dia memuntahkan sebagian air garam itu. Akhirnya Ryan tersadar dengan tubuh lemas dan capek kemudian dimandikan dengan sisa air garam tadi.
Setelah itu, kita bersih-bersih dan mandi. Makan siang baru dimulai pukul 17.00 kita berdua minta maaf kepada seluruh teman seasrama dan bruder, begitu juga berterima kasih kepada teman-teman, bruder, pak Nz dan Tuhan yang masih menolong dan menyertai kami berdua.
Setelah makan, saya memutuskan untuk istirahat. Dengan tangan saya yang masih bengkak, dan Ryan juga sepertinya kelelahan.
Kita terbangun dengan lonceng yang menandakan doa sore pukul 18.00. Kita bergegas bangun dan ke bawah menuju ruang doa. Setelah doa sore, bruder ingin menyampaikan beberapa kata. Terlebih lagi untuk kebaikan semuanya sikapnya lebih dijaga lagi. Dan jangan sembarangan berucap.
Bruder disini baik-baik, bukan marah tapi lebih mengarahkan kita ke arah yg lebih baik. Thanks bruder.
Sekarang waktunya untuk makan malam, menuju ruang makan saya sama sekali tidak berani melihat kearah sumur. Saya seolah-olah melupakan kejadian siang tadi. Begitu juga setelah makan malam, naik ke kamar tidak ingin melihat sumur itu lagi.
Lonceng berbunyi pertanda kita semua harus turun dan mulai belajar. Kita belajar biasanya diawasi oleh 2 orang pengawas. Bisa diawasi bruder atau guru lajang/honorer disekolah kita.
Pas ditengah jam belajar, suasana yang saya rasakan sangat berisik dan kepala saya mulai berat. Tangan saya mulai membiru dan seperti bekas kena pukul atau ke jepit beda berat. Mulai panik dan takut. Apakah ini belum selesai?
Tidak lama kemudian Ryan teriak, "Aku mau anak ini" cikikikikkki. "Anak ini harus bersamaku". Teriak Ryan. Ya, Ryan kesurupan dan tubuhku makin melemah seperti yang kurasakan siang tadi.
Suasana asrama menjadi gaduh dan semua anak asrama ketakutan. Teriak-teriak sambil berpelukan. Vero dan andre yang duduk disebelah Ryan langsung menjauh. Pak guru, pak G dan S "Pengawas belajar malam ini" langsung memegang Ryan.
Pak S, langsung mengeluarkan hpnya dan menelpon bruder Rafly. 30 Menit Ryan sudah ditahan, akhirnya bruder datang, lumayan lama karna bruder harus menjemput pak Nz dulu dari rumahnya yang cukup jauh.
Pak Nz, langsung menyuruh pak G dan pak S mendudukan Ryan. Pak Nz langsung duduk bersila dan tangannya bergerak seperti mengeluarkan jurus, dan mulutnya komat kamit memanjatkan doa.
Anak - anak asrama lain, diawasi oleh bruder dan tetap disuruh fokus, berdoa dan jangan sampai pikiran kita kosong. Banyak yang teriak ketakutan, berpelukan, dan ada beberapa yang emng penakut banget sampai nangis karna nggak kuat ngelihat kejadian itu.
Pak Nz mengeluarkan dari kantong bajunya seperti akar pohon tapi tidak telalu panjang. Konon kata akar ini ditakuti oleh mereka mahkluk goib, dan ini bisa juga dipakai jadi cabuk bagi pengguna ilmu kekebalan diri atau pengguna ilmu hitam.
Pak Nz tidak pikir lama, setelah berdoa dan meminta kekuatan dari Tuhan langsung mengibaskan akar itu ke badan Ryan. Ryan teriak "Sakiiiieeeettt, sakkeeettt" "ampunn" "Sakittttttt" "ampunnn" Anak yang lain semakin takut dan berpelukan begitu erat. Sampai saling bertindihan.
Pak Nz tidak menghiraukannya terus mengibaskan akar itu, "kluar sekarang, dia anakku dan disini semua anakku, jangan pernah kau ganggu". Ryan terjatuh dan tertidur. Akhirnya dia dibawa ke ruangan bruder dan disuruh beristirahat.
Kita lengah ketika ryan istirahat diruangan bruder. Tak ada orang yang menemani. Dan ryan terbangun. Ryan tersenyum, layaknya dia tidak mengalami hal apa-apa.
Untung bruder menyadari, kalau itu bukan Ryan. Bruder langsung menarik tangan ryan ketika keluar dari ruangan bruder dan ingin menuju lapangan volly. "Kamu mau kemana ryan ?" tanya bruder.
"Lapar der, saya mau makan" jawab ryan. Bruder sadar, kalau ryan mau ke ruang makan, maka ryan harus melewati sumur itu lagi. "biar saya saja yang mengambilkan makanan untukmu" kata bruder. "gausah der, saya sendiri saja. Ngerepotin bruder" jawab ryan.
"Tidak, kamu disini anak saya. Saya sebagai orang tua nggak keberatan cuma mau mengambilkan makanan untukmu!" bentak bruder karena sudah mulai kesal, karena sudah capek seharian ngurusin hal hal diluar nalar ini. Karena tidak diizinkan, ryan teriak tapi yang keluar suara wanita.
"Aku mau anak ini" "Ini makananku" "kamu tak perlu mengambilkannya" "aku bisa ambil sendiri" teriak ryan. Suasana baru saja tenang sudah gaduh kembali. Mendengar teriakannya pak G, S dan pak Nz langsung datang melihat Ryan dan Bruder.
Ryan berontak minta dilepaskan. "Lepaskan tanganku" "Biarkan aku pergi bersama anak ini" Untungnya bruder memegangnya dengat erat. Pak Nz, "kau belum kapok juga ya" Sini kukasih pelajaran, pak Nz mengeluarkan buah dari kantongnya. Buah itu bentuknya seperti buah jengkol.
Dan rasanya juga pahit. Pak Nz, langsung mengunyah buah itu sambil memegang pundak ryan, menatap ryan dengan tajam. Mulutnya pak Nz komat kamit sembari mengunyah buat itu sambil meminta doa pertolongan dari Maha Kuasa.
Setelah mengunyah, dia langsung menyemburkan kemuka ryan. "Panasss" "Panaaasss" "Panassss" "Apa yang kau lakukan" "Panass" "Panas" ryan kepanasan dan kesakitan sembari berontak.
Pak Nz meminta air, dan diambilkan dari ruang bruder oleh pak S. Langsung diminum pak Nz dan menyumburkanya lagi ke muka ryan. Akhirnya tanpa berontak lagi, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Ryan langsung jatuh ke lantai. Lalu dibawa ke ruang bruder dan dijaga oleh pak S.
Sembari ngobrol dengan bruder, pak Nz masih merasa janggal. Seperti masih ada yang kurang dan belum selesai. Yaps, benar sekali ada tanganku masih ketempelan.
Pak Nz, nggak lama memanggil saya. "Sini tangannya" tangan saya diurut. Bagaikan tulang yang dipatahkan, bagaikan tulang yang remuk, itu yang saya rasakan. Saya tak kuat menahannya hingga saya menangis.
Sudah diurut akhirnya tangan saya dibungkus pakai kain. Dan jangan dibuka sampai besok pagi, pesan dari pak Nz. Setelah itu bruder tetap kasih masukan agar berdoa selalu. Waktu menunjukkan sudah pukul 20.45. Bruder menyudahi jam pelajaran. Kita berdoa bareng sebelum tidur.
Kita tertidur dan malam ini tidak ada gangguan sama sekali. Dan tangan saya yang dibungkus oleh kain, ketika paginya saya buka sudah sembuh. Oh iya, pas kita tidur nggak ada yang sendiri. Ada yang berdua, bertiga dan ada yang berempat di tempat tidur yang bertingkat.
Sampai seminggu setelah kejadian, kita selalu mengadakan doa bersama sebelum tidur. Dan syukur tidur seasrama nyenyak dan tidak ada gangguan lagi.
Sedikit Informasi, sebelum bangunan itu ada. Sumur itu sudah ada terlebih dahulu. Pak Nz sudah menjelaskan, kalau sumur itu dulu bersih dan dipakai oleh satu kampung.
Dan ada suatu ketika suster yang sedang menimba air "Kepala Suster" jatuh ke dalam sumur karena terpeleset. Bangkainya nggak pernah ditemukan dan semenjak itu airnya menjadi bau dan sumur itu tak pernah lagi dipakai.
Sumur itu sudah beberapa kali ditutup, tapi ketika ditutup tiba-tiba air dari dalam sumur meluap. Dan ketika dibuka, airnya surut kembali dan kembali seperti debit air biasanya. Dan ini masih diluar nalar kita. Saya pun belum bisa menemukan jawabannya kenapa bisa seperti itu.
Terima kasih kalian yang sudah baca, ambil pesan penting dari cerita saya ini, semoga bermanfaat dan tidak terulang kembali.