Dimulailah awal cerita horor mulai dari sini :)

2479 Words
Kita berdua turun kebawah, melewati ruang belajar menuju pintu depan. Tak lupa kita mengintip ruangan bruder terlebih dahulu, ternyata bruder tidak ada. Kita sudah sangat senang karena bisa keluar dengan aman. Sewaktu melihat pintu kita akhirnya kecewa, pintunya ternyata dikunci. Akhirnya dengan rasa kecewa kita kembali naik ke kamar, kita tiduran sambil memikirkan cara untuk keluar dari asrama. Dan tiba-tiba ada seorang anak mengajak kami untuk keluar melalui kamar kosong yang ada dikamar satu. Saya nggak pernah lihat anak itu, dan mukanya tidak terlalu familiar. Begitu juga dengan indra tidak kenal anak itu, dan sebelumnya belum pernah melihat anak itu. Wajar saja,karena di asrama baru 2 minggu. Dan anak asrama bisa sampai 100 - 150 orang. Kita berpikiran kalau anak itu mungkin kakak kelas, atau seangkatan dengan kita tapi beda kelas. Kamar kosong yang ada di kamar satu tidak pernah terbuka, selalu terkunci. Kita pun tak pernah tau apa isi di dalam ruangan itu. Yang pastinya ruangan itu udah pasti bau dengan udaranya yang pengap. Aku dan indra mengikuti anak itu ke arah kamar kosong itu. Kita berdua nggak pikir panjang, kok ruangannya bisa terbuka dan siapa sebenernya anak itu. Untuk cara turun kebawah aku sudah kepikiran karena memang ada beberapa pohon jati yang menempel ke dinding asrama. Pikiran kita sudah terbawa ke dalam nafsu, jadi sudah bodo amat dengan kejadian janggal itu. Ketika masuk keruangan kosong dan gelap itu, kita meraba-raba untuk mencapai pintu ke balkon. Anak itu menawarkan tangannya untuk menuntun kami ke arah pintu balkon. Indra memegang tangan anak itu, dan mengituki sampai ke pintu dekat balkon. Sampai dibalkon, anak itu menyuruhku untuk terlebih dahulu duluan turun, kemudian indra. Terkahir kita menunggu anak itu. Namun anak itu tak kunjung datang kunjung turun. Akhirnya aku menyuruh Indra untuk manjat dan melihat anak itu lagi. "Ndra lihatin gih, apa dia nggak bisa turun" kataku perintahkan kepada indra. Indra manjat naik keatas dan tidak melihat anak itu lagi, begitu juga dengan pintu kamar kosong itu sudah tertutup. "Jo.. Udh nggak ada anaknya" kata indra dari atas pohon. "yaudah mungkin dia nggak berani cabut". Setelah itu kita langsung menuju warnet bang eri. Seperti biasa dengan ramahnya bang eri mempersilahkan kita. "Mau brp jam ?" kata bang eri. "begadang boleh nggak bang ?" tanyaku. "Boleh 15K, tapi sampai jam 6" jawab bang eri. "Gas" sahut indra dengan semangat yang udah nggak sabar buat main. Hanya kita berdua malam itu yang begadang. Ditemani bang eri, yang sudah kelihatan mulai mengantuk. "Eh, abang tidur duluan ya. Nanti kalau mau pulang bangunin abang, abang ada dikamar" sekalian bang eri mengunci pintu depan warnetnya dan memasukkan kunci ke saku celananya. Ditengah asik main game, ada orang mengetuk. "Tok.. Tok... Tok..." "Tok..Tok..Tok", kita berdua bertatapan. Karna tak mau ambil pusing, aku mengisyaratkan untuk diam kepada indra dengan bahasa tubuh. Jam sudah menunjukkan pukul 03.15, mata sudah mulai mengantuk dan sudah terasa bosan bermain game. Begitu juga dengan indra, dari sejam yang lalu sudah buka youtube. Ditengah - tengah malam yang hening itu, tiba-tiba suasananya menjadi sepi dan dingin. "Eh jo lu kedinginan nggak sih ?" tanya indra. "Iya dingin sih" jawabku. Mana kita kurang persiapan untuk cabut dan lupa membawa jaket. Gak tau sampai mana kita ngobrol, hingga mengarah topik pembicaraan ke anak yang mmbawa kita keluar melalui kamar kosong. "Eh jo ngomong-ngomong, lu kenal sama anak tadi ?" tanya indra. "Belum pernah lihat sih, kayanya kakak kelas. Makanya dia tau cara keluar dari situ" jawab saya. "Jo jo,, tapi tadi rada aneh tau. Tangan anak itu pas gua pegang dingin banget" kata indra yang sudah mulai ketakutan. "ahh, emang karena dingin kali" "berlebihan lu" "udahlah mabar lagi kuy" "pemanasan lagi" kataku sembari menghangatkan suasana. Sudah pukul 5.30, kita membangunkan bang eri. Kita keluar dari warnet dan langsung pergi ke track jogging anak asrama biasanya. Ada beberapa anak asrama yang jongging, dan kita mengikuti mereka dari belakang sampai tiba di asrama. Pagi setelah jogging kita mandi, makan dan bersiap-siap untuk ibadah pagi di gereja katolik. Tak tau kenapa, indra mengeluh badannya lemas dan suhu tubuhnya naik. Mungkin karena begadang, jadi tubuhnya melemah. Setelah pulang ibadah, di jam kebersihan kita ga ikut. Saya sudah mengantuk jadi memilih untuk tidur. Begitu juga dengan indra, yang dari tadi sudah mengeluh langsung tertidur pulas di sebelahku. Lonceng berbunyi menandakan jam makan siang. Aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara lonceng itu, dan langsung membangunkan indra untuk makan siang. Sewaktu membangunkan indra bandanya dingin sekali. Aku mewarkan indra, agar makannya biar aku saja yang ambilkan di ruang makan dan dia menunggu di tempat tidur saja. Cara berbicara sudah berbeda, suaranya agak terputus dan serak serak basah. "iyaakkk, tolong ambillkaaann" kata indra setelah aku tawarkan. Setelah itu aku mengambilkan makanan dan sebotol air di dalam botol minumku, dan membawanya keatas. Salah satu temanku bertanya, itu makanan untuk siapa ? "untuk indra sam" jawabku kepada samuel. "Indrakan udah dibawa tadi ke poliklinik" (sebelah asrama puteri tempat anak asrama biasanya berobat ketika sakit). "Hah mana ada, orang indra diatas kok" kataku nyolot dan tidak percaya. Karena aku baru saja menawarkan indra untuk diambilkan makanannya dan indra pun mengiyakan. Karena tidak percaya, aku langsung mengajak samuel ke kamar satu untuk meyakinkannya. Dan benar saja, indra tidak ada disana. "Tuhkan bener" kata samuel. "Indra udah di bawa ke poliklinik" tegas samule kepadaku. Seolah ada hal yang janggal tapi dimana? Aku tidak mengerti dan tidak dapat berpikir. Akhirnya aku meletakkan makanan dan minuman itu diatas kasur. Samuel bilang "aku kebawah dulu ya, jam makan belum selesai" samuel pun meninggalkanku sendirian di kamar satu. Ketika samuel pergi, tiba-tiba datanglah anak kemarin yang memberi jalan untuk keluar melalui kamar kosong. "Eh ini makanan siapa ? Aku makan ya" katanya. Aku pun membiarkan dia memakanya. Dia makan begitu lahap dan rakus, kaya nggak prnah makan. Sembari dia makan, aku hendak berkenalan dengannya bertanya nama dia siapa dan kelas berapa? "nanti dulu ya lagi makan" jawabnya. Aku pun merasa memang iya sih nggak baik orang lagi makan malah ditanyain. Setelah dia makan, aku nggak sempet bertanya dia dengan terburu-buru "Enak ya makananya, aku mau minum dulu kebawah" katanya pergi lalu meninggalkanku. Aku belum tersadar, apakah kalian yg baca sudah sadar? Disitu posisinya jam makan, dan dia bertanya ini makanan siapa, apakah dia belum makan? dan kenapa dia minum kebawah ? padahal aku juga ada bawa botol minum yang sudah di isi. Entahlah, mungkin aku kecapaian akibat begadang hingga tak menyadarinya. Sampai akhirnya aku tertidur dan terbangun sebelum magrib. Aku terbangun, melihat indra sudah ada disebelahku. Dia menungguku hingga aku terbangun. "eh udah bangun jo" sapanya. Tapi suara dia berbeda. Itu bukan suara Indra. Aku menyadarinya tapi masih berpikiran mungkin efek minum obat atau kelelahan. Lonceng berbunyi, menandakan doa sore pukul 18.00, aku mengajak indra turun kebawah untuk doa bersama, tapi dia menolak. "Aku disinilah, masih cape, lemes juga aku" kata indra dengan raut wajah yang memang seperti orang kelelahan. Aku pun berniat menemani indra pada saat itu. Sampai jam doa selesai, akhirnya jam makan malam pun tiba. Kita berdua turun kebawah, indra bilang "aku ke toilet dulu ya". Saya pun mengiyakannya. Saya ke ruang makan terlebih dahulu, karena meja makan saya dan indra agak berjauhan jadi saya tidak memperhatikannya lagi. Setelah selesai makan malam, aku berniat untuk menemui indra dan mengajaknya belajar bareng. Tapi kita tidak ketemu di ruang makan. Aku pikir, indra sudah naik dulu ke kamar satu untuk mempersiapkan perlengkapan untuk belajar malam ini. Sampai dikamar, aku menuju ke lemari nomor 11 persis didepan pintu gudang. Pintu gudang tidak tertutup tetapi lampunya mati dan cukup gelap. "ndra, kita semeja ya" kataku pada indra. Dia hanya mengangguk. Gambar (Kasur Tingkat) Aku heran dengan tingkah indra, ah mungkin moodnya belum baik, masih kecapaian dan masih sakit pikirku. Sampai di ruang belajar, aku lihat indra sudah duduk. Meja paling sudut di dekat tangga simanis. "Ga ada meja lain apa ? Sudut banget" gerutuku pada indra. Dan dia hanya diam. Anak anak yang lain melihati kami berdua, "Kenapa sih ngelihatin ?" tanyaku pada indra. Dia hanya dia diam. Mungkin dia lagi fokus belajar pikirku. Aku juga kembali fokus pada soal latihan matematika di buku yang aku baca. Hari-hari berlalu, aku tidak pernah melihat anak misterius itu lagi. Setiap hari, aku selalu bersama dengan indra ketika mau tidur, menuju ruang makan, dan belajar di posisi meja yang sama diujung didekat tangga simanis. Tapi aku tidak pernah ketemu dengan indra ketika diruang doa, setiap aku ajak ke ruang doa dia selalu menyuruhku duluan. Indra yang hampir seminggu ini berbeda, dia tak banyak bicara dan mengangguk ketika mengiyakan atau menggeleng ketika bilang tidak. Pada waktu malam minggu, aku berusaha cari cara untuk menghibur indra. "Apa aku ajakin indra ke warnet ya?" Yaudah deh, kayaknya itu salah satu cara buat ngehibur indra. Malam Minggu, Pukul 21.00. Waktu belajar sudah selesai, seperti biasa anak-anak berlarian keruang tv, lapangan volly dan berebut gitar. Aku membisikkan kepada indra, "Ndra kita cabut lagi yok. Lewat kamar kosong ?" ajakku kepada indra. "Indra tersenyum lebar, dan iya setuju". Tampaknya ini memang cara yang tepat untuk menghibur indra pikirku. Setelah itu aku dan indra bergegas ke kamar satu. Meletakkan tas dikasur dan menuju kamar kosong yang ada di kamar satu. Aku melihat dengan jelas kalau kamar itu ternyata tergembok dan sudah kucoba mengotak-atik gemboknya nggak bisa dibuka. Tapi siapa sangka, indra hanya menariknya pelan gemboknya pun terbuka. "Loh, kok bisa ndra ?" indra tak menjawab. Pintu dibuka, bau ruangan ini berbeda dengan minggu lalu. Kalau minggu lalu hanya penggap, kali ini ruangannya berbau bangkai. Ga lama indra masuk dan aku ikutin dari belakang, sama seperti minggu lalu dan sama persis seperti anak misterius itu, indra menawarkan kepadaku. Awalnya aku biasa saja, dan sewaktu memegang tangan indra, tanganya begitu dingin dan kaku seperti tangan orang yang sudah meninggal. Aku melepaskan genggamanku, tiba - tiba indra teriak dengan suara serak basak "Pegang tangannkuuuu, akan kutuntun kau ke neraka". Aku kaget dan melepaskan tangan indra, indra langsung berbalik badan, dan yang aku lihat bukan indra melainkan anak misterius itu. Aku kaget langsung teriak, "siapa kamu ?" "dimana indra ?". "Hihiahaha, kamu tidak perlu tahu siapa saya" "ayo ikutlah denganku" sambil tertawa anak misterius itu tak menjawab pertanyaanku. Aku menolak, "aku tidak mau". Aku mencoba lari keluar dari ruangan itu. Ketika mau keluar, aku tersandung kaki meja. Lututku berdarah. Aku memegang lututku, sembari kesakitan. Aku teriak "TOLONGGGGG,, TOLONG,,, TOLONGGG,,," "TOLONG, TOLONG, TOLONG" suasana hening, udara ruangan semakin dingin. Sisi-sisi tembok seperti mengecil dan ruangan semakin menyempit, suara tawa anak kecil misterius itu tiba-tiba muncul. "hiiihahahahaha" "hihaahahaha" "ayo ikutlah denganku" "ini aku indra sahabatmu" anak misterius itu tertawa sembari berucap kalau dia adalah indra. Aku berusah bangkit, dan berusaha keluar dari ruangan itu. Tapi pintunya tiba - tiba tertutup sendiri. Aku ketakutan, aku panik, aku gedor-gedor pintunya dan minta tolong. "TOLONGG, TOLONG, TOLONGG AKUUUU" "TOLONGGGG" hampir 15 menit aku minta tolong tidak ada yang menolongku. Suara tawa semakin kencang, aku tidak kuat mendengarnya, telingaku terasa sakit ketika mendengar suara tawa anak misterius itu. Semakin kecang dia berteriak, semakin sakit pula telingaku. Kututup telingaku tapi suaranya masih tembus. Tak sadar, seperti ada carian yg mengalir dari telingaku, sekarang pendengaranku sudah tidak jelas. Kaya ada suara kencang yg teriak ditelingaku, tetapi seperti diredam oleh air. Aku teriak minta tolong terus menerus. Perasaan campur aduk, antara takut dan panik. Gak bisa kemana-mana, ruangan gelap dan pintu terkunci. Cuma minta tolong yang bisa aku lakukan. Hampir 30 menit minta tolong, akhirnya ada yang buka. Ternyata yang buka bruder zebua "kenapa bisa ada orang di dalam?" "saya heran sekali, siapa yang mengunci kamu didalam ?" "astaga, itu telinga kamu kenapa ? berdarah seperti itu" tanya bruder zebua yang sudah cukup panik. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas, hanya suara seperti diredam yang bisa aku dengar. Bruder zebua langsung menggendongku ke poliklinik. Ada beberapa anak asrama yang sedang bermain di lapangan volly dan yang sedang bermain gitar melihat bruder zebua yang sedang menggendongku. Mereka kira aku terjatuh, mereka belum tau kalau aku dikurung anak misterius dikamar kosong dan diteriakin tawa yang sangat kencang, hingga pendengaranku rusak. Sampai di poliklinik akhirnya telingaku dibersihkan, dan pendarahan dari telingaku sudah berhenti. Sudah tenang, aku di tanya oleh bruder zebua "kenapa kamu bisa terkurung di sana ?", "saya diajak indra der" jawabku mengelak dengan berbohong. "Indra mana ? Disana tidak ada orang selain kamu". Tegas bruder zebua. Mendengar itu, suster teresia langsung memotong pembicaraanku dengan bruder. "Der, indra minggu lalu juga sakit, badannya hangat sekali dan dibawa pulang oleh orang tuanya" jelas suster Teresia. "Indra kan seminggu ini diasrama sus" kataku meyakinkan. Dia seminggu ini sekolah. Makan, mandi, belajar juga bareng sama saya. "Enggak, indra dijemput orang tuanya hari minggu siang sekitar jam 11an" kata suster. Ada bruder ray, dan bruder ray juga yg mengizinkan indra dirawat dirumah. Aku seolah olah merasa dibodohi dan tidak percaya. Akhirnya untuk meluruskan ini semua, bruder zebua memanggil bruder ray dari bruderan. Aku disuruh cerita dari terlebih dahulu, awal mula kejadiannya. Apa yang kami lakukan di minggu lalu sebelum indra sakit. Aku ceritakan semua, kalau aku dan indra cabut dari asrama untuk begadang di warnet melalui kamar kosong di kamar satu, yang di tawari anak misterius. "Anak misterius ini menawari lewat kamar kosong, dan dia tidak ikut pergi kewarnet. Setelah itu hari minggu setelah pulang dari gereja, indra udah mulai gejala sakit" Jelasku pada bruder bruder dan suster. "Setelah itu 1 minggu kemudian nggak pernah ketemu sama anak misterius itu, tapi sifat indra semenjak sakit sudah mulai berubah. Menjadi pendiam dan tidak terlalu banyak berbicara" tambahku lebih jelas. Akhirnya bruder menjelaskan, kalau indra sewaktu pulang gereja, mengeluh sakit. Dan minta dianter berobat ke poliklinik dan kemudian indra meminta orang tuanya ditelpon. Setelah itu indra dijemput dan orang tuanya dan minta izin agar indra dirawat dirumah. Jadi selama satu minggu ini, aku hanya berbicara dengan jelmaan indra. Dan belajar disudut deket tangga si manis sendiri karena yang bisa melihat jelmaan indra cuma aku. Sempat kepikiran anak-anak, kok aku berani duduk disudut sendirian. Tapi mereka tidak terlalu mempermasalahkan, dan aku sering dilihat anak-anak berbicara sendiri yang dimana aku sedang berbicara dengan jelmaan indra. Anak-anak bingung mereka pikir aku sedang menghafal, makannya berbicara sendiri. Semua kegiatan yang kulakukan bersama indra, cuma keruang doa indra tidak pernah mau aku ajak. Jadi memang benar kalau anak misterius itu menjelma sebagai indra. Setelah 2 minggu sakit ternyata indra ketempelan dan sudah disembuhkan oleh orang pintar disektiar tempat tinggalnya, begitu juga dengan aku semenjak orang tuaku tau akan kejadian ini aku dipindahkan dari asrama dan pindah sekolah ke kota asalku. TKP : Lemari No.11 depan gudang Kasur tingkat disudut deket Ruang kosong (gambar) Okay, kalau ada yg mau ditanyakan silahkan. Sekian cerita dari Kamar 1 part 2 Versi Jonathan Saya deff pamit undur diri, Trima kasih Kalau mau tau siapa anak misterius itu, sampai saat ini nggak ada yg tahu. Saya juga selama di asrama nggak pernah ketemu sama anak misterius ini. Begitu pula dengan jonathan karna sudah tidak nyaman lagi, akhirnya orang tuanya memindahkan jonathan ke kota asalnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD