Disini gua bakalan cerita tetang Kamar 1 yang dialami oleh Jonathan temen gua. Tempat kejadian masih sama di Asrama Putera. Semua nama tokoh, lokasi disini disamarkan, demi kenyaman bersama. Gua bakalan cerita sebagai sudut pandang orang pertama "Gua sebagai Jonathan".
Perkenalkan, nama saya Jonathan. Saya kelas 1C, asal dari kota A. Umur saya sekarang 13 tahun. Begitulah awal mula perkenalan ketika masuk asrama. Aku tidak pernah suka diatur dan terikat dengan peraturan.
Kenapa aku bisa masuk asrama? Sebenarnya ini bukan pilihanku, ini adalah pilihan dari kedua orang tuaku yang dimana aku tidak dapat menolaknya.
Ketika masih SD, aku sering banget bermain game online di warnet. Karena ketagihan game online aku sampe berani mencuri uang orang tuaku.
Bahkan saat Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional pun aku ada di warnet. Bukan tidak pernah dicari, melainkan memang aku terlalu pintar bersembunyi ketika orang tuaku datang ke warnet untuk mencariku.
Sampai suatu ketika orang tuaku merasa kesal dengan tingkahku. Orang tuaku akhirnya berdiskusi, pro kontra satu sama lain. Ibuku mengusulkanku untuk tinggal di asrama, sedangkan ayahku tidak setuju dengan pendapat ibuku.
Ibuku sangat berkeinginan anak satu-satunya bisa mandiri. Berbanding terbalik dengan ayahku, yang selalu manjakanku. Apapun keinginanku pasti dikabulkan oleh ayahku, tak heran kalau ayahku juga sering memberi uang lebih untukku, yang aku pakai untuk bermain game online.
Ribut satu sama lain, hingga ibuku meneteskan air mata. "Mas, aku mau anak kita bisa mandiri, aku juga nggak mau jauh dari dia. Lagian kalau dia di asrama dia bisa lebih disiplin dan belajar dengan baik" kata ibuku meyakinkan ayahku. Kalau ibu menangis, sungguh hancur hati ini.
Akhirnya aku pun setuju untuk dimasukkan ke asrama, dan melihat ibuku sudah menangis saya tak kuat untuk menolaknya.
Hari pertama di asrama, perasaanku begitu sepi. Biasanya ada ayah yang menemaniku bermain game, atau kita biasanya main bareng. Meskipun banyak teman di asrama aku belum terlalu cocok dengan mereka. Karena aku orangnya sangat selektif memilih teman.
Terikat dengan banyak peraturan dan harus disiplin membuatku tidak dapat menikmati lagi game online yang sering kumainkan, bahkan untuk menggunakan hp pun kita tidak bisa. Ketika rindu orang tua juga harus bergantian bertelepon melalui telepon kantor bruder.
Hingga 3 hari di asrama. Akhirnya aku menemukan teman yang hobinya sama denganku "Game Online". Indra dulunya sama juga sepertiku, dimasukan ke asrama karna lupa waktu bermain game.
2 minggu sudah berlalu diasrama, aku dan indra sudah seperti sepasang kaos kaki. Kemana pun selalu bersama.
Diakhir bulan, di hari sabtu 21.00, waktu jam bebas. Anak asrama biasanya selesai belajar, langsung berlarian ke ruang tv untuk berebut kursi dan remot tv, atau ada yang berebut bola volly, dan ada juga yang berebut gitar.
Minggu lalu aku dan indra hanya bisa tidur di kamar satu dan bercerita tentang hero favorite di game online.
Tapi beda dengan malam minggu kali ini, karena hasrat dan nafsu ingin bermain game online, akhirnya aku ngide. "ndraa, cabut yuk dari asrama" "kemana ?" sahut indra semangat seperti menyatakan setuju.
"Kita kewarnet bang eri aja" saranku, "yakin nggak nih ?" sahut indra yang mulai seperti mengurungkan niat. "Ayo aja, besok kita pagi pulang sama anak-anak yang jogging" sembari membujuk indra. Memang biasanya di hari minggu anak-anak jogging pagi.