Seminggu berlalu sejak kekacauan yang terjadi di penginapan karena ulah Karen. Meski dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan kemampuan Hie. Dia tetap memperlakukan Hie dengan buruk. Dia memerintah Hie melakukan apa pun sesuka hatinya seolah Hie hanyalah b***k di matanya. Sejauh ini meski sebenarnya enggan, Hie menuruti apa pun yang diperintahkan Karen padanya. Dia tak pernah menolak meskipun dia mulai berani menjawab dengan kurang ajar kata-kata kasar yang melayang dari mulut Karen padanya. Beruntungnya sikap tak sopannya tidak membuat Karen memecat apalagi mengusirnya. Seperti hari-hari biasanya, hari ini pun Hie mengawal majikannya pergi ke sekolahnya untuk menuntut ilmu. Tanpa perlu menunggu perintah dari Karen, dia akan menunggu seraya berdiri di samping pintu kelas setiap ka

