Pierre tiba di Jakarta. Kabar kepulangannya sudah diketahui Ayla. Dan ia sangat tidak sabar mendengar cerita dari bibir Pierre langsung. Sayangnya ia juga harus menjaga Balqis dan Yusuf. Ayla tidak mungkin menitipkan anaknya ke sanak saudara karena memang Ayla hampir bisa dikatakan sebatang kara.
Ia cuma punya om--adik angkat almarhum ibunya. Yang dulu bertindak menikahi Ayla dengan Fawaz. Selebihnya, Ayla sangat jarang berjumpa lagi. Sejurus tidak pernah mengadu masalah rumah tangganya yang sering mendapat stigma negatif dari pihak keluarga Fawaz.
Alhasil, mereka jadi lebih leluasa membicarakan Ayla tanpa khawatir perempuan itu akan mengadu kepada walinya.
Satu-satunya yang kini bisa Ayla andalkan adalah dirinya sendiri. Sungguh, tanpa Fawaz di sisinya, Ayla terlihat sekali gelisah. Banyak hal yang ia cemaskan hadir dalam satu kali fikiran. Berputar-putar dan berganti hingga membuat kepalanya sakit sekali. Tapi yang pasti, ketakutan tidak bisa bertemu Fawaz lagi yang kini menguasai diri.
Ayla tahu, tak layak baginya mendahului takdir. Tak semestinya ia memperkirakan masa depan. Namun, ketika membicarakan hidup tanpa suami. Ayla cuma takut anak-anaknya tumbuh dalam kehampaan. Apa mungkin sosoknya bisa menjadi dua peran sebagai ayah dan ibu.
Apa mungkin, ia dianugerahi kekuatan seperti banyaknya wanita menjanda dan masih tetap tegar merawat putra-putrinya sampai usia dewasa.
"Astagfirullah al adzim," ucapnya sembari meraup wajah mungilnya kasar. Jangankan memperdulikan tampilan. Bahkan sejak kembali dari rumah mertuanya, Ayla belum makan sedikit pun.
Kini Balqis dan Yusuf sudah tertidur karena hari telah larut. Sedang Ayla menunggu kedatangan Pierre. Dipandanginya jam dinding. Katanya Pierre sampai pukul 23.30 dan jika ia langsung ke sini artinya tepat tengah malam pemuda itu sampai. Sayangnya sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan Pierre tidak kunjung datang.
"Pier mana, sih. Masa tengah malam macet?!"
Ayla bergumam tidak sabaran. Tapi tiba-tiba saja ia ingat, tengah malam. Ahk, kenapa juga harus memanggil pria lain di hari selarut ini. Apa yang tetangga katakan jika melihatnya. Suami pergi bertugas dan ia memanggil pria lain.
Memang semua tidak seperti yang terlihat. Justru ia meminta Pierre datang demi membahas keadaan Fawaz. Tapi apa benar, semua orang bisa peduli dengan alasannya itu.
Ayoklah Ayla. Mengapa jadi tidak sabaran. Bukankah sifat tidak sabaran digandrungi syaitan.
Berkali-kali bibirnya mendesah resah. Jika ia mengirim chat agar Pierre kembali besok pagi. Berarti malam ini ia akan terus dihantui rasa penasaran.
Akhirnya Ayla menutup mata. Seperti apa yang dikatakan, bahwa niat adalah level pertama dari perjalanan tujuan. Selama ia yakin niatnya baik. Maka, hasil yang ia dapat juga pasti akan baik.
Sedang di luar Pierre berjalan ragu. Ia sudah sampai pekarangan rumah Ayla. Berdiri tepat di tempat Fawaz pamit pada Ayla waktu itu. Dalam beberapa hari semua jadi berubah, padahal Pierre sangat mengingat gimana tawa Fawaz. Semua kejailannya, sampai nasihat-nasihat seolah tersiar lagi di telinga.
Andai saja waktu itu ia tahu akan seperti ini, mungkin Pierre bakalan menahan kepergiaan Fawaz. Tetapi manusia mana yang bisa mengetahui kejadian masa depan kecuali dengan kehendak Allah.
Dipandangi rumah itu. Hampir separuh lampu sudah Ayla matikan karena memang Balqis dan Yusuf tidak suka tidur dalam terang. Pierre kembali mengambil ponsel Fawaz yang ia bawa. Dari sana, Ayla dan ia berkomunikasi. Tertulis kontak Ayla sebagai 'My Wife' pada layar. Hati Pierre semakin teriris sembilu hingga melukainya begitu dalam.
"Maafin aku, Mbak," ujarnya seorang diri.
Perlahan Pierre masuk semakin dalam ke pelataran. Ia tidak menyadari ada orang yang melihat gerak-geriknya. Orang itu pak Tono dan pak Jono. Dua warga yang dinobatkan sebagai hansip menjaga keamanan sekitar.
"Eeh, itu siapa. Kok maen masuk aja,ya?"
"Tamunya pak Fawaz kalik," jawab pak Jono merasa pernah melihat Pierre. Apalagi tampilan Pierre sama persis seperti Fawaz. Yaitu, baju seragam bercorak loreng-loreng.
"Assalamuaikum, Mbak!" Pierre mengucap salam meski ia masih berstatus non muslim karena itu Ayla tidak menjawab salamnya. Ia langsung ke intinya.
"Pier. Aku tidak akan membukakan kamu pintu. Maaf, tapi saat ini mas Fawaz tidak ada di rumah, kamu juga tau. Jadi aku tidak mungkin... ."
"Ya, Mbak saya mengerti," jawab Pierre memotong pembicaraan Ayla. Suara Pierre serak. Mungkin lelah ditambah terlalu banyak berteriak memanggil nama Fawaz disertai tangis. Ayla sebenarnya ingin memberikan minum demi meringan,'kan suara parau Pierre. Lagipula sebagai tuan rumah ia merasa harus melayani tamu sebaik mungkin. Tapi ia juga enggan keluar.
Akhirnya Ayla hanya duduk di dekat jendela. Dengan begini ia harap bisa mendengar suara Pierre. Sisi luar, ada Pierre yang duduk juga menempel jendela. Punggung mereka menyatu meski diselingi jendela tebal.
Keduanya juga tidak saling menatap. Ayla menghadap kamar anak-anaknya. Sedang Pierre menghadap lurus ke jalan.
"Tolong ceritakan padaku Pier. Apa yang terjadi dengan mas Fawaz?!"
Ayla menoleh sedikit meski tidak sepenuhnya tapi ia dapat melihat punggung lebar Pierre jadi menunduk lemah.
"Mas Fawaz masih gak bisa diketemukan, Mbak," ucap Pierre pasrah. Sikapnya membuat Ayla marah. Mengapa semudah itu mengatakannya.
Perempuan itu berdiri. Membuat kursi yang ia duduki berderit mengenai lantai. Buru-buru Ayla meredam suaranya takut Balqis dan Yusuf terjaga.
"Pierre. Yang mau aku tahu gimana kejadian sebenarnya?!" Ayla melemahkan suaranya. Ia berusaha duduk tenang meski sulit.
Pierre menceritakan kembali. Ada linu di hatinya ketika membahas semua itu. Jika boleh, ia mau melupakan tapi ia sadar gak semudah itu. Nyawa lain terlibat dan sialnya orang itu banyak dicintai orang sekelilingnya. Bukan seperti ia yang tidak ada satu manusia pun peduli.
"Kalian cari mas Fawaz di mana saja, Pier?" Ayla menguatkan dirinya meski deraian air mata membasahi pipi. Ya Allah, mungkin saat ini Mas Fawaz sedang ketakutan di dalam hutan sendirian. Bagaimana jika dia terluka dan tidak ada seseorang yang bisa membantunya.
Hati Ayla semakin ketar-ketir saat tahu ini akhir bulan. Bulan sabit yang ia lihat begitu indah bisa jadi kemalangan untuk sang suami. Dalam tempat gelap dan kurangnya persiapan bisa saja Fawaz betulan gugur di sana.
Semakin ia menduga. Semakin tambah ciut nyalinya.
"Mbak. Regu kami memutuskan menyudahi pencarian tadi sore." Pria tak banyak bicara itu akhirnya dengan tega menyakiti Ayla dengan kata-katanya. Ia cuma ingin Ayla sadar, jika regu keselamatan saja sudah angkat tangan artinya kecil kemungkinan Fawaz selamat.
"Aku belum memutuskan. Mas Fawaz adalah keluargaku. Sudah seharusnya aku dilibatkan dalam pencarian!"
Ini gila. Ayla yang lemah lembut dan tidak pernah berada dalam situasi berbahaya mau mencari sang suami yang bahkan tidak ada tanda selamat. Ayla tidak akan pernah setuju menyelesaikan pencarian sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jujur, dalam dadanya sangat yakin Fawaz selamat dari maut.
Namun satu sisi, ketegasan Ayla membuka mata Pierre. Tadinya ia fikir, Ayla akan menangis saja. Ternyata, cinta bisa pula menguatkan. Bila satunya pergi maka satunya lagi mencari sepenuh hati. Definisi belahan jiwa yang sesungguhnya begitu terasa diantara Fawaz dan Ayla.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan saran Fawaz waktu di mobil. Pembicaraan tentang memberikan penjagaan Ayla pada Pierre jika Fawaz tidak ada. Jantung Pierre berdetak kencang. Mengapa ingatan itu hadir di saat seperti ini. Rasanya tidaklah pantas tetapi hatinya tertuju ke sana.
Mungkin karena perkataan itu baru beberapa hari terjadi. Apalagi itu terakhir ia berbincang santai dengan Fawaz.
'Tidak, mbak Ayla tidak boleh tahu wasiat terakhir mas Fawaz nanti mbak Ayla makin sedih.' Senandikanya sendiri. Kini Pierre pasrah jikalau Ayla menuntutnya ke kantor polisi.