Perasaan Kehilangan

1506 Words
Malam ini demam Fawaz semakin menjadi. Dimulai sore hingga larut. Panasnya belum juga turun. Bila dipegang badannya sudah layak memasak telur saking panasnya. Nimas sendiri bertugas mengompres Fawaz. Gadis itu tidak meninggalkan Fawaz sedikit pun. Ia mengikuti semua apa kata abinya supaya lelaki yang mereka tolong merasa lebih baik. Nimas memastikan kenyamanan Fawaz. Ia ingin memperlakukan tamunya sebaik mungkin. "Hai, kamu harus kuat,ya. Kamu pasti bisa bertahan!" Hibur Nimas. Lelaki itu saja bisa bertahan dari serangan babi hutan pastinya ia juga bisa melewati malam kritisnya. Memang ini adalah rangkaian sakit yang akan diderita seseorang ketika mengalami musibah tanpa mendapat pertolongan secara tepat. Apa yang pak Majid lakukan terlalu cetek. Dengan luka menganga seperti ini semestinya Fawaz langsung dibawa rumah sakit besar untuk cepat ditangani dokter ahli bedah. Pak Majid cuma bisa menghela nafas berharap dedauan alami mampu mengurangi rasa sakit lelaki malang itu. Setidaknya sampai menunggu mantri Yanto kembali. *** "Hah!" Ayla mendesah. Dia tidak mungkin menyalahkan Pierre lebih lanjut. Seraya memijit ujung hidungnya, Ayla meminta Pierre pulang. Tapi sebelum itu, Pierre mau mengembalikan barang-barang Fawaz yang tertinggal di barak. Semuanya, dari tas berisi perlengkapan kemah, ponsel, dompet serta figura yang menunjukkan gambar Ayla dan anak-anaknya. Figura itu Fawaz pajang di atas tempat tidur. Sebagai penguat dikala rindu merenda. "Mbak. Aku letakkan di sini. Aku pamit, Mbak," kata Pierre sembari memandangi pantulan Ayla dari balik gorden diiringi penerangan yang temaram. Rasa iba semakin terasa, walau hanya melihat punggung saja, Pierre bisa tahu kegundahan apa yang Ayla kini hadapi. "Yah. Terima kasih, Pier." Namun yang membuat hati Pierre semakin perih karena Ayla tidak menyalahkannya. Pierre pulang dalam kekosongan luar biasa. Belum pernah ia ada di posisi ini. Biasanya ia selalu berada di pojok, sekedar tidak dianggap atau disalahkan atas apa yang bukan kuasanya. Dan sekarang, ia menjadi tokoh utama dalam kepergiaan Fawaz. Pierre berjalan tertatih seakan menarik kakinya untuk melangkah. Ia mengingat lagi ketika Yunus serta yang lain menyayangkan tragedi itu dan tentu dibumbui tudingan pada dirinya. Semua perkataan seolah masuk seluruhnya dalam sanubari. Pierre cuma bisa mengepal tangan dan diletakkan tepat ke jantung. Lantas Pierre berlari. Maunya berlari dari nasib hanya pada kenyataannya itu tidak mungkin terjadi. Pierre sampai di rumahnya. Seperti yang ia duga tempat ini sepi. Tidak ada satu orang pun yang menunggu kepulangannya. Bahkan andai ia gugur dalam tugas, Pierre berencana menyerahkan kepengurusan jenazahnya pada negara saja. Yah, alasan ia menjadi aparat negara didasari keputus asaan Pierre dengan hidupnya. Ada atau tidak dirinya, semua seolah tak ada beda. Pierre jenuh seperti ini. Hidup seolah bagai tahanan penjara. Harus menjalani hukuman terasing ditemani rasa sepi hingga menggerogoti kewarasannya. Suatu hari, ia melihat kesempatan mengabdi pada negara lebih baik lagi. Menjadi tim petugas perbatasan. Tentunya sebuah keputusan yang harus diambil secara matang. Tapi ia memutuskan hal itu dengan entengnya. Karena memang tujuan Pierre berbeda, ia ingin meninggal di sana. Tanpa ada seseorang pun yang melihat. Jadi ia tidak akan merasa sedih jika nanti kuburannya tidak ada yang menengok. Pierre berencana menghilang dalam sunyi. Tertutupi alam yang semakin hari semakin tumbuh. "... Mulai saat itu tujuan hidupku mulai pasti. Dan aku menentukannya dengan mudah." Akan tetapi, ketika semuanya ada di depan mata. Ia malah takut mati. Ternyata Pierre masih seperti yang lain. Ia belum siap angkat kaki dari dunia yang fana ini. Satu yang ia fikirkan, ke mana ia setelah itu. Setelah tak ada lagi di dunia ini? Dan apa ia telah menyelesaikan 'misinya' hidup di dunia. Bagaimana jika ia lebih banyak mengisi waktu dalam kesia-siaan. Bagaimana jika ia termasuk orang yang merugi. Malah, kemalangan yang ia angan,'kan bisa terjadi pada dirinya, berlaku ke Fawaz. Pierre hampir tidak paham mengapa itu terjadi. Apa ini sebagai peringatan untuknya. Agar tidak berfikir yang macam-macam. Tapi mengapa harus Fawaz. Pierre POV Satu-satunya orang yang menganggapku ada adalah mas Fawaz. Ia memperlakukanku seperti saudara kandung. Dulu, sewaktu sekolah aku ingat. Teman-teman meneriakiku sebagai anak haram. "Kalau gak punya bapak berarti anak apa?!" "Yah, anak haram!" Lantas mereka tertawa riang. Mungkin kata-kata itu sudah mereka lupakan. Tapi masih membekas di hatiku sampai detik ini. Suara sumbang yang membuatku sengaja menutup diri. Aku pun tidak pernah tanya sama ibu di mana ayah. Sampai beliau juga pergi meninggalkanku selamanya. Tersisa hanya aku di sini. Kadang-kadang aku berpikir, apa benar aku anak di luar pernikahan sah. Tapi apa layak istilah itu disematkan padaku. Bahkan aku saja tidak pernah meminta dilahirkan. Kata orang, gak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Sebuah pertemuan dengan seseorang pasti memiliki tujuan. Entah kehadirannya mengubah hidup atau aku yang mengubah hidupnya. Dalam kasusku dengan mas Fawaz terjadi keduanya. Mas Fawaz merubah hidupku jadi lebih baik. Ia membuatku kembali percaya pada orang lain. Tapi aku malah merubah hidupnya masuk dalam kemalangan, dalam kesialan yang aku punya sebagai anak haram. Mungkin benar, yang orang katakan tentangku, aku hanya aib semestinya aku tidak semudah itu dekat dengan Mas Fawaz. Kata makian itu mengganjal dalam hati. Aku tergelitik untuk berpikir apa mungkin kesialan bisa disalurkan pada orang lain. Tapi kalau aku bilang gini sama mas Fawaz, ia pasti mengomeliku. Mas Fawaz tidak suka aku mencap diriku sebagai pembawa petaka. Sayangnya kejadian-kejadian buruk selalu menghantui sekitaranku. Penghinaan untukku tidak sampai pada masa sekolah. Itu berlanjut hngga aku bekerja bersama mas Fawaz. "Pier, Lo kan bule. Kok mau, sih jadi abdi negara?" tanya Bima. Aku tidak bisa menjelaskan alasanku. Karena nanti aku semakin terlihat aneh dan konyol. Aku cuma bisa terdiam. Saat yang sama mas Fawaz membelaku. "Lah. Memangnya Pierre harus bilang alasan dia ke kamu. Kan, enggak. Iyah, Pier?" Ia menyenggol bahuku dengan bahunya. Seakan kita sudah lama akrab. Padahal saat itu, kami baru pertama kali berjumpa. Ku tatap wajahnya, ia tersenyum ceria. Baru pertama kalinya aku dibela. Itu membuatku tidak nyaman. Hingga aku memutuskan menjauh darinya. Ku geser bahu. Sedikit menunduk berniat pamit. Sejak dulu aku tidak suka orang lain berusaha akrab denganku. Oh, bukan karena aku manusia anti sosial. Tapi aku takut, luka masa kecil kembali terulang. Dihina dan diremehkan sebab tidak memiliki ayah jadi menguar dimasa dewasaku. Bisa dibilang, aku memprotek diri dengan benteng kokoh supaya tidak terluka lagi. Atau karena aku mau melupakan fakta itu. Sayangnya apa pun yang ku lakukan. Masa lalu, selalu menjadi background tak terpisahkan. Maka dari itu, aku menghindar. Memastikan jika kehadiranku tidak diperhatikan oleh siapa pun. Aku pikir, tidak akan butuh waktu lama untuk anggota baru sepertiku dilupakan. Akan tetapi, mas Fawaz begitu gigih mendekat. Ia menawarkan persahabatan tulus dan hampir tidak bisa ku hindari. Aku jadi larut dengan pikiran-pikirannya. Dalam cara sederhananya memandang arti hidup. "Jadi alasan kamu melamar satgas pamtas karena mau gugur saat tugas? Haha ... Pier, Pier." Ketika tahu alasanku, mas Fawaz justru tertawa. Padahal aku mengumpulkan keberanian untuk bercerita. Spontan aku mendelik tak senang. Memang seharusnya aku tidak mengatakannya pada siapa pun. Aku membungkam mulut dan memasang wajah ketus. "Tunggu.., tunggu. Aku gak bermaksud mentertawakan kamu Pier. Tapi kamu emang lucu! Haha... ." Meski menjengelkan tapi pada akhirnya aku ikut terkekeh karena suara tawanya. Sungguh mas Fawaz menularkan rasa bahagianya tepat di dadaku. Ia mengelap secuil air mata yang ke luar. Suara tawanya perlahan terhenti. Berganti dengan mimik serius. "Kalau begitu, kamu harus merubah tujuanmu Pierre. Itu tidak benar, kamu harus punya keinginan untuk hidup. Bahkan disaat tidak alasan untuk itu. Kamu tetap diperintahkan untuk bersemangat menjalaninya. Ketahui, Pier. Tidak ada yang sia-sia diciptakan Tuhan. Kehadiranmu sampai sini pastinya ada maksud lain. Bagaimana kalau kamu berfikir, dengan adanya kamu, alam jadi lebih terjaga. Dijauhkan dari orang-orang nakal yang mementingkan dirinya sendiri. Kamu bisa berguna bukan cuma untuk sesama manusia. Tapi dengan mahluk lainnya. Selebihnya jangan berpikir hal negatif lain. Aku percaya kamu orang baik, Pier." Dan mas Fawaz membuktikan. Ia tetap menemaniku sampai aku layak ditugaskan. Ia tidak meninggalkanku sendiri. Bahkan setelah tau masa lalu yang membayangiku. Hanya mas Fawaz yang tidak segan memuji ketika aku benar dan mengatakan mana yang salah lalu memberi aku petunjuk saat aku lalai. Dengan semua itu, betapa aku sangat kehilangan Mas Fawaz. *** In fact : Nama Pierre diambil dari salah satu pahlawan revolusi yang gugur setelah menjadi korban gerakkan G30S PKI, beliau adalah Pierre Andreas Tendean. Lelaki berperawakan putih, tegap nan tampan memiliki kisah cinta yang pilu bersama sang kekasih, Rukmini--gadis asal Sumatera. Sebelum kepergiannya mereka berjanji untuk menikah tapi Pierre harus gugur setelah ditembak lalu jenazahnya di masukkan ke lubang buaya bersama para jendral lain. Kala itu, Pierre adalah ajudan Jendral Abdul Haris Nasution. Disaat rumah sang jendral telah dikepung. Pierre yang berniat istirahat di ruang tamu langsung mengaku dirinya adalah Jendral AH. Nasution. Semata, menyelematkan sang jendral dari musuh. Pierre diculik dan mengalami nasib naas malam itu juga. Praktis lelaki keturunan Belanda-Perancis itu gagal melangsungkan pernikahannya bersama kekasihnya. (Sumber : Google ) Menurutku, ini salah kisah cinta manis tapi berakhir tragis. Bayangkan Pierre dan Rukmini berjanji menikah bulan november 1965 tapi pada 1 oktober 1965 Pierre menghembuskan nafas terakhirnya akibat gerakan G30S PKI. Sebaik-baiknya rencana, hanya Allah SWT, sang Maha Menentukan. Tapi aku salut atas kegigihan Pierre. Demi mempersunting Rukmini. Dia sampai rela menjadi supir traktor tiap malam untuk menambah pemasukkan. Terima kasih atas segala jasa para pahlawan sampai saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD