"Duri Yang Menusuk Hati"

1660 Words
“Cowok itu kalau ga punya penghasilan harus di curigai. Yang pertama mungkin malas cari uang saking enak karena istri yang cari, yang kedua karena kecanduan main game jadi malas kerja, yang ketiga karena punya cewek lain, jadi uangnya buat cewek lain bukan buat istri dan terakhir doyan berjudi.” Ucapan ini keluar dari ibu-ibu yang sedang antri di kasir, mereka bergosip seperti menggunakan toa, kencang sekali. Dunia juga berasa hanya milik mereka sampai khusu bergosip di tempat ramai seperti ini. Yang diucapkan ibu tersebut merupakan kecurigaannya pada suami temannya. Kebetulan Shavia mendengarnya dengan jelas. Ia langsung curiga mengenai kelakuan suaminya sendiri yang sampai saat ini bermalas-malasan di rumah dan belum juga dapat pekerjaan. Via curiga bahwa suaminya memang sedang menggilai game pertarungan yang mendapatkan hadiah senjata dan uang. Bukan Shavia ingin berburuk sangka, hanya saja yang disebutkan oleh ibu yang ada di hadapannya itu ada benarnya juga. Jika dipikir secara logika Via menduga Andri masuk dalam satu kriteria tersebut. Sampai kapan dia yang berjuang sendiri, dia juga wanita yang ingin dicintai, dimanja dan dihargai. Semakin kesini perlakuan suami dan mertuanya semakin buruk, hanya ayah mertuanya saja yang lumayan baik. Di awal kedekatan, Andri seperti malaikat yang diturunkan Tuhan untuk melengkapi hidupnya, bersikap manis dan romantis, sekarang sudah menikah malah sebaliknya. Via pun termenung sendiri hingga ia dipanggil kasir pun untuk maju dan membayar barang beliannya tak memberikan respon. Via sampai harus dipanggil sebanyak empat kali, barulah dia menoleh. Di rumah, ibu mertua Via, memanggil anaknya yang tengah berbaring di kasur. “Belum makan, kan?” tanyanya pada Andri yang begitu ia sayangi dan ia manja. “Belum, Ma.” Dia pun bangun untuk mendekati mamanya. Andri sudah tau gelagat ini, pasti gelagat mencurigakan saat Via tak ada di rumah. “Julaeha ke mana?” tanya wanita paruh baya ini sambil menyelidik ke seluruh pojok kamar. Pandangannya tajam setajam silet demi tak melewati jejak Shavia. “Kayaknya beli teman nasi, Ma,” tebak Andri karena Shavia pasti belum makan siang sama sekali pulang dari berjualan. Jemari tangan yang kulitnya sudah keriput ini pun mengibaskan tangannya mengajak sang anak untuk mengikuti langkah kakinya. “Ayo kita makan duluan mumpung dia gak ada. Mama punya sate dari uang kamu.” Dia rupanya membawa satu kantong plastik isi satu kodi sate ayam yang dibeli tadi saat teman-teman arisannya sudah pulang. “Ayo!” Andri bukannya menolak malah menerima ajakan tersebut. Sebagai suami yang baik, harusnya dia menunggu kedatangan Shavia untuk makan bersama. Anak dan ibu ini pun makan hanya berdua saja, tak menyisakan satu tusuk sate pun untuk Shavia.  Waktu kedatangan Shavia ternyata bertepatan dengan waktu selesainya Andri dan ibunya makan. Via pun membuat telur dadar dan mie instan untuknya makan siang, dia juga membuatkan untuk Andri, sedangkan mertuanya tak mau makan meski Shavia sudah menawarkan masakannya. “Cukup nasinya, Mas?” tanya Shavia saat sudah menaruh satu centong nasi di piring Andri. “Cukup.” Andri kan tadi sudah makan, sekarang makan lagi hanya untuk menemani Via saja sekaligus berpura-pura jika dia belum makan. “Kok makannya dikit banget?” tanya Via sambil melihat Andri yang seperti tak semangat mengunyah makanan masakannya. Mie instan goreng dengan taburan bawang kriuk yang diberikan toping telur dadar begitu enak dan merupakan makanan mewah untuknya saat ini. “Enggak laper.” Andri menjawabnya ketus. Andri memang bilang tak lapar. Makan Andri juga sedikit ketika ada Via di rumah. Via pun menyelidik postur tubuh suaminya yang makan sedikit tapi semakin hari semakin menggemuk. Bukankah kalau orang hilang selera makan itu semakin hari semakin kurus, ini malah sebaliknya. Dia jadi berprasangka aneh saat itu juga. Saat Andri sudah pergi meninggalkannya, Via mendapati isi piring Andri juga masih banyak tersisa nasi dan telur dadar. Via membuang sisa makanan itu ke tong sampah. Rupanya plastik yang digunakan untuk menampung sampah itu bocor sehingga lantai sedikit basah. Tadinya Shavia tak melihat sampah tusuk sate saat membuang sampah bungkus mie dan cangkang telur. Setelah dia mengangkat plastik isi sampah dan menggantinya, barulah dia tak sengaja melihat ada sampah tusuk sate dan kertas nasi. Pantas saja plastiknya sampai bolong. Sampah ini masih baru karena yang kemarin sudah Sahavia buang.  Via pun tak mau ambil pusing dan tak mau mengintrogasi Andri atas kejadian ini. Via percaya, pikiran yang baik akan jadi doa baik juga. Berhari-hari Via berjualan, panas terik matahari sebagai penyemangatnya dalam menjalani hari, peluh yang membasahi tubuh sudah jadi teman akrab yang ia hiraukan kehadirannya saking sering.  Andri kala itu membawa map berwarna biru, menyusuri jalanan ibu kota. Langkah kakinya membawa dia ke setiap perkantoran untuk mencari kerja. Langkah kaki itu terhenti saat dia mendapati sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Tampaknya mobil ini mogok karena mesinnya mati. Seorang wanita cantik pun turun dari mobil tersebut.  Mesin bagian depannya mengeluarkan asap, jadi dia keluar untuk membuka penutup dan memeriksa mesinnya barangkali ada gangguan. “Perlu saya bantu, Nona?” tanya Andri pada wanita ini. Andri tak tega melihat wanita kesusahan, jika melihat istri sendiri kesusahan bawa barang dagangan saja malah tega. Wanita berambut keriting gantung pun menoleh. Dia kaget melihat siapa yang ada di hadapannya ini. Pria dari masa lalu yang ia sukai, sayang ada kesalahpahaman sehingga membuat keduanya tidak bisa bersama. “Andri? Kamu Andri kan?” tanya wanita bernama Angel. Dia sangat merindukan Andri, suatu kebetulan hari ini mereka kembali dipertemukan. “Iya. Ka- ka- kamu Angela bukan?” Andri menjawabnya saja sampai terbata-bata saking gugup bertemu mantan wanita yang ia cintai dan sedikit meninggalkan luka sebelum berpisah. “Hai Andri. Apa kabar?” Angel menjabat tangan Andri yang bergemetar. “Baik. Kamu?” Andri membalas jabatan tangan Angel. Tangan wanita cantik ini terasa hangat dan membuat hati Andri melambung tinggi. “Kurang baik karena mobilku tiba-tiba mogok,” keluh Angel sambil meratapi keadaan mobilnya.  “Biar aku bantu.” Andri pun melinting bagian lengannya agar kemeja yang ia gunakan tak kotor.  “Kamu bisa?” Angel sedikit ragu Andri tak bisa membantunya Biar dia menghubungi bengkel saja. “Bisa.” Andri tahu sedikit tentang mesin. Dia mengamati mesin mobil milik Angel, memeriksa kabel, air radiator dan mendengar barangkali ada yang bocor atau berbunyi nyaring karena terjadi kerusakan. Rupanya ada bagian yang kotor dan ada sesuatu yang menyumbat bagian mesin sehingga kinerja mobil tiba-tiba lemah dan mati. Ada kabel juga yang longgar dan Andri sudah memperbaikinya. “Coba nyalakan?” Dia menyuruh Angel masuk lalu menyalakan mesin mobil. Angel memutar kunci mobilnya. Tadi biar usaha bagaimanapun mesin tak menyala, sekarang malah bisa menyala. “Wahh bisa!” Dia senang sekali karena bisa menghadiri acara siang ini yang begitu penting. “Terima kasih!” Angel tersenyum begitu manis. Senyuman di pipi Angel serta lesung pipinya yang menawan berhasil membuat Andri jatuh hati lagi. “Sama-sama. Kalau begitu aku pamit, ya!” Andri ingin mencari pekerjaan lagi, sudah kepalang main panas-panasan jadi malas untuk pulang. “Kamu bawa apa itu dan mau ke mana?” tanya Angel memperhatikan bawaan Andri. Langkah Andri jadi terhenti akibat panggilan ini. “Oh, a- aku mau cari kerja!” Andri menjawabnya begitu jujur, kalau saja tidak keceplosan dia bisa berpura-pura jadi CEO. “Bekerjalah di tempatku!” Angel pun menawarkan bantuan. Mulai dari hari itu, Andri akan resmi jadi karyawan A company. Shavia yang baru masak pun dikagetkan Andri yang langsung memeluk tubuhnya dari belakang. “Aku dapat kerja!” Andri bahagia sekali setelah mendapat pekerjaan tanpa perlu wawancara dan tes lain, dia lewat jalur teman. “Di mana?” tanya Shavia tak percaya. Dia bersyukur berarti Andri tak akan menyusahkannya lagi. “Di tempat Angel, sahabat dekatku dulu.” Via tak tahu siapa Angel dan apa hubungannya begitu dekat atau tidak dengan suaminya. Yang pasti saat ini dia begitu bersyukur karena Andri sudah dapat pekerjaan setelah lama menganggur. * Seperti biasa Shavia alias Julaeha setiap dini hari sudah ada di Tanah Abang dan siang hari sudah pulang. Saat ini ia ingin uang tambahan jadi membuka lapak di pinggir jalan dekat taman. Julaeha pun berteriak, “Underwearnya Bunda-bunda. Cantik ini motif dan bahannya adem.” Dia sampai mengangkat satu celana dalam bermotif bunga-bunga merk sorex yang bahannya lembut dan menyerap keringat. “Lingerie-nya bunda-bunda, biar sexy saat di kamar dilihat suami.” Dia juga mengangkat lingerie berwarna merah motif bunga-bunga yang memperlihatkan bagian belahan d**a dan bagian tubuh yang begitu menerawang. “Yuk diborong yukk. Diskon hari ini sepuluh persen, Bunda.” Dia terus berteriak agar ada orang yang lewat mau membeli barangnya. Shavia tak malu berjualan seperti ini asal uang yang ia hasilkan ini halal. “Underwear murah ini. Yuk ayuk belanja. Diborong-diborong.” Dia terus berteriak hingga lupa kerongkongan ini tak sama sekali dilewati air sampai mengeluarkan suara lagi pun sedikit serak. Panas terik matahari tak ia hiraukan, baju yang sudah basah oleh peluh sekujur tubuh pun terasa lengket, wajah dan rambut yang sudah tak karuan pun ia hiraukan juga. “Kok berasa ada yang perhatiin, ya!” Dia melirik kesana kemari sambil memperhatikan ke segala arah, barangkali memang benar ada yang memperhatikannya. Hari sudah sore dan saatnya Shavia beristirahat. Meski Andri sudah bisa cari uang, tapi Andri belum di gaji karena belum satu bulan bekerja, Via yang memenuhi segala kebutuhan dengan uang hasil jualannya. Andri baru dua minggu ini jadi pekerja kantoran dan pulang sore. Saat mobil angkot sudah sampai di gang menuju rumahnya, Via membayar ongkos dengan dua lembar uang berwarna biru tua. Dia susah payah mengangkat plastik isi dagangan.  Netra Via terbuka lebar saat melihat mobil berwarna hitam menurunkan seorang pria yang ia kenal. Via senang karena dia bisa meminta tolong pada Andri untuk membawakan barang bawaannya ini. Sayang baru saja melompat kegirangan dan siap berlari mendekati Andri, ternyata yang mengantarkan Andri pulang itu seorang wanita dan alangkah kagetnya saat pipi suaminya itu dikecup mesra. Via mengepalkan tangannya, dadanya terasa panas dan sakit. Seperti duri yang tiba-tiba tertancap pada hatinya. Via sampai-sampai duduk di atas aspal setelah melihat pemandangan kurang mengenakkan tersebut. Dia pun bangun dan menggenggam dua plastik besar dagangannya yang terasa sangat berat itu. “Aku butuh penjelasan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD