Alih-alih minta penjelasan, nyali via malah ciut. Dia terlanjur sakit hati dan kini ingin ketenangan.
Percuma ternyata pulang lebih dulu ke rumahnya. Dia lewat saja suaminya tak meliriknya sama sekali. Masih berbincang dengan wanita yang mengantarnya saja sampai menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit.
Via sudah mondar mandir kesana kemari menunggu suaminya di kamar. Setelah suaminya masuk malah tak saling sapa, keduanya diam seribu bahasa. Andri yang baru datang langsung mandi dan ganti baju, sibuk dengan urusan membersihkan diri.
Jika pasangan lain pulang kerja saling sapa bahkan cium pipi kiri dan kanan, untuk mereka tidak. Via sengaja tak membukakan dasi dan tak menyiapkan baju ganti untuk Andri. Dia pura-pura berbaring dan sedang mengantuk.
Andri yang memang dasarnya pria b******k. Dia dalam mode santuy. Dari datang sibuk cipika cipiki dengan Angel, istri lewat pun sampai tak sadar. Sekarang istri butuh penjelasan malah tak mengajak bicara sama sekali.
Via belum makan dari tadi siang. Dia juga saekarang kehilangan selera makan meskipun perutnya keroncongan. Cacing di perut memang sulit di kompromi, tapi mulut juga bisa menolak untuk membuka, menutup dan mengunyah.
Andri malah kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian saja, setelah itu dia bergabung dengan ibunya yang tengah makan di dapur. Keduanya tak mengajak Shavia malah asyik makan berdua saja.
“Biarkan, Dri. Mungkin sedang diet.” Ibu Andri seperti biasa mengompori agar anaknya tak peduli pada istrinya.
Andrinya juga sangat mudah untuk dihasut, ibu dan anak sama saja, sama-sama jahat. Bayangkan, Shavia yang membeli semua persediaan dapur dan membantu perekonomian malah tak disediakan makan malam, ditawari makan saja tidak.
Shavia di kamar hanya mendengar suara garpu dan sendok yang berdenting akibat beradu dengan piring. Ada juga suara decapan dari mulut ibu mertuanya yang biasa berisik jika sedang makan.
Krukkkk ….
Suara cacing di perut Shavia pun berbunyi begitu nyaring. Sepertinya semua cacing ingin di isi makanan.
"Tahan, Via. Tahannn …." Shavia bahkan menunggu suaminya barangkali akan masuk ke kamar dan menawarkan makanan atau membawakan makanannya ke kamar.
Eh ternyata boro-boro, memang dasarnya cowok ngeselin. Sudah sepuluh menit Via menunggu tapi tidak ada kepastian.
Menahan lapar berlanjut hingga pagi hari. Via memaksakan diri untuk tidur saja. Belaian tangan Andri pun tak ia hiraukan. Untuk apa memberikan jatah pada pria yang jelas-jelas menyakitinya.
Via berangkat sangat pagi ke Tanah Abang. Dia sama sekali tak berpamitan pada Andri atau ibu mertuanya yang bernama Fatimah.
Kedua tangannya menenteng dua plastik besar isi pakaian dalam model terbaru. Jika wanita lain pasti mengeluh keberatan dan butuh bantuan, sebisa mungkin Via tak mau menyusahkan orang lain.
Dari pagi hingga lumayan siang, dia berteriak menawarkan barang dagangannya, berharap ada yang membeli, saat itu pelanggan cukup sepi.
Tiba saatnya perut Via terasa perih dan berbunyi sangat nyaring, tampaknya lambung itu dari kemarin kosong terlalu lama, asam lambung Via pun naik.
"Mmmh …. Perih banget perutnya." Dia tak sempat mengisinya tadi pagi saking sibuk dan lupa waktu.
"Harus di isi bubur, makanan yang lain pasti bikin makin perih." Ada tukang bubur yang buka dari pagi hingga malam hari tapi letaknya agak jauh dan harus menyebrang jalan.
Via menitipkan dagangannya sebentar pada pegawai toko sebelahnya. Langkah kaki Via dan tubuhnya yang sedikit sempoyongan pun menuntunnya pergi ke warung bubur. Saat hendak ingin menyebrang jalan, kepala Via terasa berat dan pandangannya sedikit kabur. Dalam hitungan ketiga sesuai langkah kakinya pun tubuhnya hampir ambruk. Tubuh via serasa terhuyung-huyung angin.
Tinnnnn …. Suara klakson mobil mengisyaratkan agar Via cepat menyingkir. Via sama sekali tidak jelas mendengarnya.
Brug ….
Seseorang menarik Via yang hampir saja tertabrak mobil.
"Mmmh …." Via pun kehilangan kesadarannya. Kedua tangan dan kakinya lemas dan matanya tertutup rapat, untung pria kekar yang menolongnya itu kuat. Dia digendong ala bridal style sampai di mobil mewah berwarna hitam pekat.
Kini tangan kiri Via sudah terpasang selang infus dengan tetesan pelan. Warna cairan infus yang biasanya bening pun berwarna kemerahan. Seorang dokter telah mencampurkan vitamin pada cairan infus untuk menambah cairan dalam tubuh Via dan membuatnya bugar saat bangun. Via juga sudah diberikan obat melalui suntikan.
Kedua netra Via tertutup rapat dan seakan lengket untuk dibuka perlahan.
Pria dengan setelan kemeja kotak-kotak berwarna biru pun mengusap punggung tangannya.
"Kenapa bisa tumbang seperti ini?" tanyanya pada tubuh Via yang terbaring lemas.
"Apa yang terjadi padamu?" Dia tau Via wanita yang kuat, pintar dan baik hati. Kenapa bisa jatuh pingsan seperti ini.
Setelah selama beberapa jam Via tertidur pulas, dia merasa perih pada bagian tangannya. Via membuka matanya secara perlahan. Alangkah kagetnya saat dia melihat punggung tangannya sudah dipasangi selang infusan dan dia berada di ruangan kamar yang begitu mewah dan luas. Jelas ini bukan kamarnya di rumah kediaman ayahnya. Ini di kamar orang lain yang tidak Via kenal.
"Dimana ini? Bagaimana dengan daganganku?" Sempat-sempatnya dia memikirkan dagangannya di pasar. Via harusnya fokus pada kesehatannya.
Tak lama terdengar langkah kaki seseorang yang mendekat dan membuka pintu kamar.
Pria tampan yang terlihat tinggi dan rahangnya terlihat tegas pun mendekati Via, membawa baki berisi semangkuk bubur dan segelas air.
"Kamu siapa?" tanya Via pada pria tampan yang ada di hadapannya. Menaruh baki di atas meja.
"Aku pria yang kau tolong waktu itu di pinggir jalan," jawabnya sambil tersenyum ramah. Dia sangat rindu dan ingin memeluk Via.
"Tolong? Aku tolong apa?" Via menekan pelipisnya yang terasa sakit agar bisa mengingat orang ini siapa. Perasaan mereka tak pernah bertemu.
"Memperbaiki mobilku." Mungkin Via jadi ingat setelah diberi tahu. Tapi dia tak bilang siapa dia yang sebenarnya.
"Ah …. Iya. Aku ingat." Via pun ingat hari itu dia sampai ketakutan dan ingin kabur. Via sempat salah paham karena menganggap pria ini adalah pria m***m yang genit.
"Kau yang menolongku tadi saat pingsan?" Jika iya berarti Via berhutang Budi.
"Iya." Pria itu menjawabnya singkat sambil mengaduk bubur ayam untuk Via makan.
"Kau yang merawatku?" Via melihat botol infusan yang tergantung meneteskan air berisi vitamin.
"Iya. Tentu dengan bantuan dokter." Dia bukan orang medis yang mampu menusukkan jarum pada urat Vena Viam
"Ah …. Terima kasih. Boleh bantu aku lepaskan ini dan pulang?" Hari sudah terlihat sore dan Via takut dagangannya dicuri orang. Dia juga harus menyiapkan makan malam dan menyambut Andri. Ah iya, Andri si pria menyebalkan tapi suami dari Via yang harus Via layani.
"Tidak boleh. Kau harus istirahat dan banyak makan dulu, baru boleh pulang." Dia menyodorkan sendok yang sudah terisi bubur, tinggal Via lahap dan kunyah saja.
"Tidak bisa. Bagaimana dengan daganganku di pasar." Perkataan Via ini membuat si pria kesal. Sedang sakit saja masih ingat dagangan.
"Jangan pikirkan itu. Pikirkan dulu kesehatanmu. Aku bisa menggantikannya dengan yang lebih." Dia menganggap enteng.
"Tidak mau. Aku akan istirahat nanti di rumah setelah menutup toko dan mengemas daganganku dulu." Via bersikukuh dan tak mau memakan bubur yang pria ini hidangkan.
"Tidak boleh. Kau tidak akan bisa pulang jika kondisimu tidak membaik."