Mimpi apa Shavia semalam. Dia hari ini ada di rumah orang asing dengan perasaan was-was. Satu karena dia meninggalkan dagangannya di Tanah Abang, dua karena tak bisa pulang, tiga karena bersama pria asing, nanti kalau diperk*sa atau dapat perlakuan yang tidak manusiawi bagaimana? Jangan-jangan orang ini adalah psikopat!
Tapi sejauh ini Via belum mendapatkan perlakuan kasar. Dia tidak tahu pria ini siapa, rumahnya ini letaknya dimana, baik atau tidak, yang pasti bukannya Via istirahat, dia malah terus melebarkan matanya karena ketakutan akan terjadi hal buruk.
Dari bangun tidur, Via disuapi bubur ayam dan buah-buahan. Rindu rasanya makan buah-buahan mewah, dulu Via makan tiap hari, sekarang tidak, seminggu sekali pun sayang uang hasil jualannya jika dibelikan buah-buahan.
Pria itu terlihat baik dan begitu sabar. Hey, ingat! Jangan tertipu dengan tampilannya saja. Seseorang mungkin terlihat baik dan tampan itu aslinya psik*pat, kan bahaya. Bisa jadi yang terlihat acak-acakan, kucel dan kumel aslinya orang baik dan dermawan.
Tatapan pria yang ada di hadapannya tajam, tubuhnya atletis sesuai kriteria banyak wanita, wajahnya tampan nan rupawan. Via saja sampai memperhatikan secara intens.
"Sampai kapan menatapku seperti itu?" tanya pria tampan sambil melirik Shavia. Pria ini tengah sibuk membereskan barang-barangnya agar terlihat rapi.
Via tertangkap basah tengah memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Mmmmh ….” Dia sampai bingung mau jawab apa. Via melirik tatapan mata lawan jenis yang begitu indah dan sepertinya tak asing. Dia merasa pernah melihat tatapan ini di masa lalu.
“Tidurlah dahulu. Nanti aku jelaskan siapa aku dan kenapa aku tahu kau adalah Shavia.” Dia tahu betul Shavia dari dulu, Shavia adalah cinta pertama yang sulit ia lupakan dan cinta yang tak bisa ia raih.
“Tidak. Aku tidak bisa tidur.” Via menggelengkan kepalanya yang terasa masih berat, ia tak terbiasa tidur di rumah orang, saat pertama kali tidur di rumah Andri juga sama, butuh usaha dan terbiasa dulu baru bisa tidur. Padahal di sini nyaman, bersih dan kamarnya mewah. Kasur yang digunakan sangat empuk dari bahan busa yang pasti harganya belasan juta, jika ditotalkan dengan harga ranjang akan menghabiskan puluhan juta. Kalau di rumah Andri ranjangnya sudah lapuk dan kasurnya dari kapuk yang sudah keras. Beda seratus delapan puluh derajat.
“Paksakan, nanti juga bisa, demi kesembuhanmu.” Dia terus memaksa agar Via mau beristirahat, mereka jadinya sama-sama kekeh.
“Bagaimana bisa tidur di kamar orang yang tidak aku kenal?” Via menatapnya balik dengan tatapan tajam, dia butuh kejelasan, selain orang ini yang waktu itu ia tolong, faktanya dia siapa.
“Kau mengenalku, Via. Tidurlah dulu!” Dia duduk di bangku sebelah Via berbaring sambil melihat tetesan infus.
“Hemmm aku ingin penjelasan!” Via mengerucutkan bibirnya sehingga ia terlihat sangat lucu.
“Tidurlah. Jangan membantahku!” Rupanya selain bersikap manis, dia bisa bersikap sangar juga. Via sampai bergidik ngeri.
Tangan kekar pria ini mengusap puncak rambut Shavia lembut seperti halnya memperlakukan anak kecil agar menjadi tenang. Usapan yang dia berikan juga penuh kasih sayang, tatapannya kini hangat dan membuat Shavia merasa teduh.
Untuk beberapa detik Via merasa nyaman dan terbuai, tapi setelah ia sadar bahwa orang ini bukan suami, teman atau saudara, Via pun menepis lengannya. “Jangan sentuh aku.”
“Aku berusaha agar kau tidur,” jawabnya sambil mengusap puncak kepala Via lagi. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, akhirnya dia bisa menyentuh wanita yang sangat ia inginkan dari dulu, sayang dia telat dan Via sudah jadi milik orang lain.
Bibir ranum berwarna merah muda nan indah itu pun mengatup dan membuka. Ada suara indah yang keluar dari mulutnya dan sangat enak untuk di dengar. Gendang telinga pun mencerna suara indah itu hingga respon otak ingin memuja suara merdu itu. Pria ini memejamkan matanya seakan mendalami lagu yang tengah ia nyanyikan.
“Kau bernyanyi?” tanya Via sambil memperhatikan mulut pria ini. Tadi usapan tangannya yang membuat ia tenang, sekarang suara merdunya yang membuat ia kagum dan ingin terpejam.
“Iya. Agar kau bisa tidur.” Senyuman manis pun terukir dari bibirnya seakan siap membuat seorang wanita binasa, terbuai oleh perilaku baik dan senyuman indah itu.
Lagu Rehat milik kunto Aji ia nyanyikan lebih merdu dari pemilik lagu aslinya. Tunggu, Via seakan mengenali suara ini, tak asing di indera pendengarannya.
Dalam hitungan menit setelah dinyanyikan beberapa lagu, Via pun tertidur pulas.
“Apakah mungkin aku akan bisa memilikimu?” tanyanya sambil menatap Via sendu. Dia sangat merindukan wajah damai orang yang sedang tidur ini. Tubuh kekar itu akhirnya berbaring memeluk Via dan mereka sama-sama tertidur pulas.
***
Seorang wanita tengah berbaring dibawah tubuh seorang pria, mereka sama-sama tak menggunakan sehelai benangpun untuk menutup tubuhnya. Tubuh dua insan itu bermandikan peluh sampai sekujur tubuh tak ada yang tak basah sama sekali.
Suasana malam begitu mendukung, angin yang berembus kencang dan terasa dingin kini terasa hangat karena dua insan ini beradu kekuatan di atas ranjang sampai tubuh mereka terasa sama-sama hangat. Angin malam itu tak dihiraukan dan mereka sama-sama tak ingat untuk pulang.
Suhu tubuh meningkat dan tulang-tulang semuanya terasa remuk, kasur yang semula rapi kini spreinya telah kusut dan tidak karuan. Tampaknya pemilik ranjang ini terlalu semangat bergelut hingga guling dan bantal pun berserakan di lantai.
Lampu kamar juga mati karena mereka sengaja main gelap-gelapan. Kini keduanya ambruk dan berbaring lemas.
“Ahhh ... . Leganya!” ujar si pria sambil mengecup tengkuk wanitanya. Entah sudah berapa banyak tanda yang sudah ia buat di tubuh wanita sexy ini. Anggap saja mereka cinta lokasi, tapi aslinya cinta lama yang bersemi kembali. Mereka satu kantor dan sama-sama memiliki perasaan lama yang belum tersalurkan. Karena bekerja di satu tempat, mereka pun bisa sering bertemu, perilaku mereka juga semakin romantis layaknya sepasang kekasih saja. Bukan seperti bos dan bawahannya lagi.
“Dunia begitu sempit sehingga Tuhan mempertemukan kita kembali,” ujar wanita berjari lentik yang mengusap rahang tegas ditumbuhi bulu halus itu.
“Dulu ku kira aku tak bisa meraihmu.” Pria ini merasa lega karena kini cintanya sudah tersalurkan. Dia bahkan sudah menebar benih di tubuh wanita yang ia cintai ini.
“Sekarang bisa kan? Kapan kau ceraikan istrimu mas Andri?” tanyanya sambil menatap Andri tajam. Dia tak mau lama-lama menunggu Andri meninggalkan Shavia. Shavia dan Andri menikah hanya kebetulan saja. Menurut dia, dialah jodoh Andri karena mereka berhasil bertemu kembali.
“Tunggu Sayang. Tunggu sebentar lagi. Nanti aku cari alasan dulu agar bisa menceraikan dia.” Andri butuh alasan agar dia tak terkesan yang salah, bila perlu dia akan mencari kesalahan Via agar Via mau menandatangani dokumen perceraian.
“Tunggu? Sampai kapan aku menunggu? Nanti kalau aku hamil dan kamu belum juga menceraikannya bagaimana?”