"Rencana Kejahatan"

1076 Words
Rumah yang ukurannya kecil dan sangat sempit terlihat sangat berantakan. Letak rumah ini di perkotaan dan wilayahnya kumuh, berdempet dengan rumah tetangga lain hanya dengan pembatas sekat bangunan saja, tak ada taman atau pagar sebagai pemisah antara satu rumah dengan rumah lain.  Seorang wanita yang baru saja bangun tidur pun hampir terpeleset karena menginjak plastik yang tergeletak di atas lantai. Wajahnya memerah dan tangannya pun mengepal. “Jeleha …. Juleha …. Kemana kamu?” teriak Fatimah sambil berjalan mendekati kamar menantu dan anaknya. Pagi ini ruangan dapur dan ruang tamu begitu berantakan, tak rapi seperti biasanya. Shavia biasanya sebelum berangkat ke Tanah Abang bersih-bersih rumah dan masak dulu. Tadi Fatimah lihat dapur masih berantakan dan belum ada makanan di atas meja, bahkan nasi saja belum masak di magicom. “Kenapa ini dapur berantakan sekali?” tanya Fatimah sambil membuka pintu kamar. Ruangan empat kali lima meter itu terlihat masih rapi, tidak terlihat bekas orang tidur, bahkan hawanya saja dingin, seperti tempat yang tak berpenghuni. “Leha …. Lehaaaa ….” Fatimah mencari Shavia ke depan rumah bahkan ke toilet tapi tak menemukan batang hidung menantunya itu. “Kemana ini anak kok gak ada?” tanyanya sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal, acara memarahi Shavia pun gagal total. Tadinya Fatimah ingin teriak-teriak agar semua tetangganya tahu kelakuan Shavia, dia juga ingin memarahi Via habis-habisan hingga anak itu bergidik ngeri. Sayang Via tak ada, jadi Fatimah gagal membuat kiamat kubro. Bahkan Fatimah tak menemukan anaknya juga. Andri sepertinya tak pulang, taka ada sepatu kerja, baju kemeja kotor dan tasnya sama sekali. Fatimah sudah merasa jika Andri tak pulang itu hal yang biasa untuk anak laki-laki, jika Shavia kan perempuan, masa iya kelayapan sampai tak pulang. Pikiran Fatimah langsung diisi dengan yang buruk-buruk saja. Dasar pikirannya sudah teracuni dengan ramuan suudzon, jadi dia pikir Shavia kabur agar hidup enak lagi bersama ayahnya atau sedang berselingkuh. Fatimah langsung berpamitan pada suaminya yang masih tidur, dia ingin mencari Shavia ke Tanah Abang, siapa tahu wanita itu sudah mulai berdagang. Langkah kaki Fatimah pun terhenti tepat di seberang bangunan tinggi dan besar yang terlihat sangat ramai pengunjung, banyak orang berlalu-lalang. Ada kuli panggul barang milik pelanggan, ada anak-anak kecil penjual plastik, bajai, angkot serta tukang ojek yang sibuk mencari nafkah. Pandangan Fatimah pun tertuju ke pintu masuk. Tanpa ragu dia melangkah menuju ruko kecil yang Via sewa untuk berdagang. Ternyata toko itu tutup dan tak berpenghuni, bahkan Fatimah tanya toko di sebelahnya, dia bilang tak tahu Via kemana, dia hanya menjaga barang dagangan Via saja yang di titipkan kemari beserta kunci rukonya. Fatimah pun geram, pikirannya semakin buruk. Kapan Fatimah berpikiran baik dan bersikap baik pada Via, sepertinya kapan-kapan! Wanita paruh baya ini pun hengkang kaki dari jajaran pertokoan Via. Dia ingin melaporkan ini pada suami dan anaknya, siapa tahu Andri pulang.  Saat Fatimah sampai di depan gedung ini, ada pemandangan yang membuat matanya fokus dan dia pun langsung bersembunyi. Dia melihat Via yang sedang turun dari mobil mewah dan bersama pria tampan. Fatimah yang memang dasarnya julid langsung meraih ponselnya dan mengambil gambar. Dia mengambil gambar ini untuk dilaporkan pada Andri. Pasti anaknya nanti akan marah dan menceraikan Via. Fatimah bisa saja bilang bahwa Via selingkuh sampai tak pulang satu malam. Wanita ini telah banyak mengambil gambar saat Via berjalan bersama pria itu dari parkiran sampai masuk ke gedung. Tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi Andri. “Nak. Kamu di mana?” tanya Fatimah saat mendengar sapaan dari anaknya yang seperti baru saja bangun tidur, suara Andri serak dan berat. Andri jelas saja baru bangun tidur setelah semalam menghabiskan waktu bersama selingkuhannya Angel. Ketika kucing diberikan ika, ya pasti langsung dilahap. Saat Andri diberikan sesuatu secara cuma-cuma oleh Angela, mana mampu dia menahan godaan dan tidak mencicipinya. “Sedang menginap di hotel bersama Angela, Mah.” Tanpa malu Andri mengakuinya. Masa bodo, toh dia tahu ibunya lebih menyukai Angela. Gadis itu baru saja datang ke rumahnya, langsung Fatimah puji-puji. Andri tahu ibunya jika sudah menyukai seseorang ya pasti akan terobsesi untuk mendekatinya dan cari tahu kesukaannya apa. “Pantas saja semalam tak pulang. Kapan dia jadi mantu mama? Mama pilih dia daripada Via.” Benar saja, wanita ini malah condong ke Angela, padahal mantunya siapa, malah pilih yang lain yang jelas-jelas perebut suami orang. Wanita seperti Angela ada banyak dan meresahkan para istri sah. Mana Angela kekeh ingin Andri menceraikan Shavia. Andrinya juga lebih condong ke Angela. Di sini pasti yang kalah jelas Shavia. Ibu dan suaminya malah memilih wanita lain.  “Tak lama lagi, tidak mungkin juga sekarang.” Andri mengucapkannya berat.  “Mama ada ide. Kamu cepat pulang dulu, Nak.” Tampaknya rencana jahat dari Fatimah akan berhasil. Dalam lima belas menit, Andri pun sampai di rumahnya. Fatimah bukannya beres-beres dan masak, dia malah menunggu Andri di ruang tamu.  Biar saja pekerjaan rumah dikerjakan oleh Shavia nanti saat pulang, Fatimah sibuk merangkai kata untuk menjelekkan anak itu saja. Saat Andri datang dia langsung heboh memperhatikan Andri yang pulang sendirian. “Mana Angel, Dri?” Padahal dia ingin bertemu dengan Angel. Biasa kalau perempuan kan sukanya ngerumpi, kebetulan dia satu server dengan Angel yang sama-sama doyan ghibah, kalau Via gak doyan mengobrolkan orang, urusan sendiri saja sudah buat dia ribet. “Dia kelelahan jadi tak antar aku pulang. Tapi aku pulang bawa mobilnya, Ma.” Andri menunjukkan kunci mobil pajero milik Angel yang ia kendarai untuk membawa tubuhnya pulang. “Astaga, baik sekali mau meminjamkan mobilnya. Sampaikan salam dan terima kasih dari mama.” Fatimah kelewat lebay, cuma dipinjamkan saja kok, bukan dibelikan. “Mama tadi mau bilang apa?” Andri duduk di ruang tamu sambil menghela napas, dia masih ingin tidur karena semalam begadang bersama Angel menghabiskan tiga ronde. “Itu …. Kelakuan isteri kamu sudah kelewat batas.” Fatimah ikut duduk dan mengusap puncak kepala anaknya. “Apa memang?” Andri penasaran, apakah ini bisa membantunya untuk menceraikan Via. “Dia tak pulang semalam. Mama lihat dia sampai di Tanah Abang diantar seorang pria.” Fatimah merogoh ponselnya yang berisi foto-foto Via. “Apa ada buktinya?” Kalau tak ada bukti nanti tuduhan saja tak akan cukup untuk membuat istrinya bersalah. Dia kan mau Via yang disudutkan, bukan dia yang jelas-jelas selingkuh. “Ini dia.” Dia menunjukan gambar yang memperlihatkan Via tengah menggunakan pakaian berwarna merah jambu dan berjalan bersama seorang pria yang telah membukakan pintu mobil untuknya. “Benar, Ma. Ini Shavia.” Seringai iblis pun terukir di wajah Andri. “Kena kau!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD