Sebelum pulang ke Tanah Abang:
Semilir embusan angin malam masuk ke dalam kamar melalui jendela yang masih terbuka. Tubuh wanita yang tadi tertidur pulas dalam pelukan seorang pria pun kini membuka matanya.
Alat kecil menyerupai jarum yang terbuat dari plastik dan tersambung pada selang yang ujungnya dipasangi botol berisi Ringer laktat pun sudah dilepas tanpa sepengetahuannya, mungkin karena tidur pulas jadi tak sadar saat perawat melepaskan alat yang masuk ke dalam urat pena itu.
Tubuh yang semula lemas kini terasa segar, sedangkan lambung yang tadinya terasa perih dan sakit kini sudah tak lagi mengalami keluhan. Obat yang diberikan telah mampu membuat dirinya merasa lebih baik.
Sayangnya ada yang membuat dia salah fokus. Bukan karena infusan yang tidak lagi terpasang, tapi karena dia ternyata tidur dalam pelukan seorang pria, pria si penolong hidupnya.
"Aduh …. Kok bisa-bisanya dia tidur meluk aku?" Via berusaha melepaskan diri tapi pelukannya sangat erat, dia ingin bergerak menjauh saja sulit. Perasaannya campur aduk saat ini, bagaimana kalau Andri marah karena dia tak pulang? Mama dan papa mertuanya juga mungkin mencarinya, bisa habis bersih nanti dimarahi.
Via juga takut semalam ada kejadian yang tidak diinginkan. Bolehkah dia berburuk sangka pada penyelamatnya sendiri? Dari mulai membuka matanya, Via hanya melihat infusan saja yang tidak lagi terpasang dan wajah pria ini saja yang begitu dekat.
Tidak ada yang aneh. Bahkan tubuhnya terasa ringan dan hangat. Kalau dia jadi korban pemerk*saan pasti ada jejak rasa pegal-pegal dan perih pada daerah kewanit*annya, ini tidak apa-apa.
"Kapan dia naik ranjang dan meluk aku kayak gini?" Semalam hanya ingat dinyanyikan lagu dan diusap rambutnya saja, setelah itu dia tidur. Mungkin karena kelelahan dan tidak enak badan, jadinya tidur pun pulas dan tidak bergerak sama sekali.
Pelukan hangat ini malah membuat dia nyaman. Berbeda dengan pelukan Andri yang makin hari terasa semakin tak berarti, hampa dan terasa tak nyata.
Ah …. Mungkin karena Andri sudah pula pelukan hangat baru dengan wanita di masa lalu yang masih ia cintai, sikapnya juga sekarang dingin pada Via.
Terkadang pria jika sudah punya uang dan kedudukan, jadi lupa dengan seseorang yang menemaninya dari nol, setia menyemangati dan mendampingi hingga mendapatkan kesuksesan.
"Astaga Shavia, kamu tidur pulas sekali." Shavia menepuk keningnya sendiri dengan tangan kanannya. Gerakan itu membuat pria yang ada di sebelahnya bergerak semakin memeluknya erat. Saking eratnya pelukan itu, membuat Via sedikit kesulitan bernapas, bukan karena pelukan saja sih, tapi karena wajah pria ini yang kini terbenam di tengkuknya.
"Oh astaga. Bagaimana cara melepaskan diri?" Pipi Via memanas dan kini berwarna merah jambu.
Jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Kebiasaan Via bangun jam segini, bukan karena jendela yang terbuka dan embusan anginnya masuk saja, dia kan terbiasa bangun untuk masak, beres-beres lalu pergi ke Tanah Abang untuk mencari nafkah.
Nyatanya Andri sudah bekerja pun Via tetap berjualan. Lebih enak pakai uang sendiri daripada pakai uang suami tapi merasa tidak nyaman menggunakannya. Andri terkesan tidak ikhlas memberikan uang belanja dan nafkah Shavia, uang dilempar ke kasur atau ke lantai sampai-sampai Via saja tak nyaman meraih lembaran uang tersebut.
"Siapa sih kamu? Aku sungguh ingin tahu mengenai dirimu!" Via hanya bisa melirik bahunya saja karena wajah si pria sudah terbenam di tengkuknya.
Geli, embusan napas pria ini benar-benar membuat Via geli, boro-boro bisa tidur lagi. Dia hanya bisa jadi patung saja, diam tanpa bergerak dan tanpa bisa kembali tidur.
"Ayo cepat pagi …. Cepatlah pagi!" gumam Via dalam hati sambil memandang langit-langit kamar.
Jika dipikir-pikir, dia dan pria ini seperti suami istri saja, tidur saling menghangatkan dan membuat rasa nyaman. Via seperti mendapat pelukan penuh kasih sayang dari orang yang paling dekat dengannya.
Ada aroma parfum yang rasanya sangat maskulin sampai-sampai Shavia terbangun karena mencium aroma ini. Tak ada lagi pelukan hangat dan teman sekasur di sampingnya. Orang yang Via cari tengah menyemprotkan parfum pada tubuhnya, sudah rapi menggunakan pakaian kerja dan sudah terlihat begitu segar.
“Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Via sambil meregangkan otot tangannya. Dia cantik biarpun bangun tidur dan tidak menggunakan make up. Biarpun kulit Via kini tak sebening dulu lagi dan ada freckles di pipinya, kecantikan alami yang diturunkan ibunya tak luntur.
“Kamu masih butuh banyak istirahat.” Pria misterius ini kini menata rambutnya dengan pomade.
“Aku ingin pulang.” Via pasti sudah dicari oleh keluarganya, belum lagi bagaimana dengan nasib dagangannya.
Pria tampan yang menggunakan kemeja kotak-kotak biru pun mengusap puncak kepala Via. “Suamimu mau kerja dulu, nanti ku antar pulang setelah pulang kantor.” Dia kemudian terkekeh, sayang yang ia ucapkan itu hanya halu. Kalau jadi kenyataan kan beruntung!
“Suamiku ada di rumah, bukan kamu.” Via mengerucutkan bibirnya. Sudah dibawa pergi, tak boleh pulang, sekarang malah mengaku-ngaku jadi suaminya, pria ini butuh dokter psikiater sepertinya.
“Hahaha. Aamiinkan saja.” Otaknya berpikir jahat, berharap Via jadi miliknya dan Via berpisah dengan suaminya. Sebenarnya dia telah menyelidiki Andri. Dia tahu kelakuan Andri di belakang Via seperti apa.
“Aku ingin pulang sekarang.” Via tak mau lebih lama di sini, lama-lama nanti dia semakin terpesona pada pria yang ia anggap psikopat ini.
“Apa yang dirasakan sekarang?” tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Via.
“Tidak ada. Aku sudah merasa lebih baik.” Via memang sudah merasa lebih enak sekarang, dia kalau sakit tak akan lama.
“Mandi dan pakailah baju itu, nanti ku antar pulang.” Sudah tersedia pakaian bersih bermotif bunga dan berwarna merah muda untuk Via kenakan.
“Itu untukku?” tanya Via, dibelikan baju oleh Andri saja tak pernah. Dia terharu karena sudah diobati, diberikan tempat menginap, sekarang malah baju ganti.
“Ya.” Senyuman yang terukir di wajah pria ini begitu indah.
“Emmh …. Tapi aku ingin tanya sesuatu dulu.” Via melirik dengan tatapan penuh tanya.
“Apa itu?” Dia mengangkat satu alisnya.
“Siapa kamu dan kenapa bisa mengenalku?” Via sungguh penasaran, apakah orang ini pria baik atau jahat dan kenapa tahu nama aslinya.
“Apa kau ingat pria culun semasa SMA yang dibully karena gendut dan jelek, bau dan berkulit hitam?” Dia malu dengan masa lalunya yang dulu suram. Dia jadi bahan bullyan di sekolah dan merasa sangat minder.
“Siapa?” tanya Via bingung, anak culun kan banyak. Via dulu tergolong anak keren dari keluarga kaya yang dikagumi dan dihormati banyak orang.
“Namanya Boby dan dia pakai kacamata serta kawat gigi.” Sungguh sangat berbeda dengan dia yang sekarang, mana mungkin ada orang yang kenal.
“Boby? Aku tak ingat namanya tapi ingat ciri-ciri itu.” Via dulu pernah kenal dan dekat dengan pria culun, tapi teman-teman kerennya melarang Via untuk dekat dengan pria itu.
“Orang lain menyebutku si pria cupu. Waktu itu aku sedang sendirian dikerumuni oleh tiga orang anak nakal, kau yang menyelamatkanku.” Saat dulu jadi pecundang, dia dipalak geng cowok-cowok nakal. Saat terdesak dan hampir dipukuli, Via berteriak dan mengancam anak-anak itu agar mau melepaskannya.
“Jadi kau pria itu?” tanya Via setelah mengingat masa lalunya.
“Masa iya?” Via memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Anak yang dia tolong sangat gendut, mungkin bobotnya seratus kilo, matanya sipit dan tatapannya sayu, lalu giginya dipakaikan kawat agar rapi, kacamata juga tak pernah lepas.
“Iya. Sayang semua fotoku sudah aku bakar semuanya.” Dia sangat membenci masa lalunya yang suram dan jelek.
“Kenapa bisa berubah drastis seperti ini? Kau dan pria yang kau sebut Boby itu sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.” Bisa saja hanya mengaku-ngaku, jadi Via tak langsung percaya.
“Panggil aku Boy Candra sekarang karena Boby telah lama mati.” Semua kenangan masa lalu dilupakan kecuali gadis yang ia sukai bernama Shavia. Karena mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, dia berusaha untuk berubah.
“Boby yang dulu lemah, mudah tertindas dan tak punya keberanian.” Dia sadar akan hal ini, makanya ingin berubah, buktinya sekarang sudah beda jauh dengan Boby yang dulu.
“Aku ingat sekarang. Kenapa kau pergi setelah menaruh bunga mawar di mejaku?” Via padahal ingin mengucapkan terima kasih tapi orang yang mengirimkan ia bunga kesukaannya malah sudah pergi dan tak lama ada kabar pindah sekolah.
“Aku malu mengatakannya. Kau tak usah tau.”