“Tak usah mengantarku sampai dalam.” Via melirik Boy sinis, pasalnya Boy terlalu lebay. Boy takut Via kembali sakit jadi dia membukakan pintu, menuntun Via sampai ke pintu masuk juga. Padahal Via sudah bisa berjalan normal dan tak sakit perut lagi. Untuk apa orang sehat dituntun dan diawasi. Via jadi risih dan merasa semua orang memperhatikannya gara-gara ini.
Malu, Via benar-benar malu karena Boy menempel padanya, padahal di tempat ini semua orang sudah tahu Via sudah memiliki suami meski Andri tak pernah datang menunjukkan batang hidungnya. Nanti yang dikira suami Via adalah Boy bukannya Andri bagaimana?
Memang ada rasa senang karena diperlakukan romantis, sayang bukan oleh suami sendiri. Via jadi berpikir memang iya kata orang-orang, pria bersikap baik dan manis saat menginginkan kita saja, setelah kita sudah menyerahkan semuanya, mereka mengkhianati atau bersikap lain, seolah kedoknya telah terbuka dan enggan untuk menggunakan kedok itu lagi.
“Tak apa-apa, aku yang ingin.” Boy bersikukuh ingin mengantarkan Via sampi di tokonya. Dia tak mau Via sakit lagi. Tadi pagi saja Boy yang menyiapkan bubur untuk sarapan Via. Jika suami sendiri tak peduli istri sakit, pria lain malah over protektif.
“Aku bilang tak usah!” Via menghentikan langkahnya, dia tak mau meneruskan langkah kakinya jika Boy terus saja ikut dengannya.
“Aku mau!” Boy yang inisiatif sendiri, bukan Boy namanya jika tidak kekeh.
“Keras kepala.” Via mau bagaimana lagi, dia pun pergi ke tokonya sambil diikuti Boy. Ini pasangan suami istri atau bos dengan bodyguard yang sedang berjalan. Keduanya bisa dilihat sebagai bos dan pengawal lalu sepasang suami istri.
“Laeha!” panggil wanita bertubuh pendek dan badannya ramping yang sedang duduk lalu berdiri saat melihat Via.
“Ya Minah. Ada apa?” Via segera berlari menghampiri tetangga tokonya itu, pada Minahlah dia menitipkan dagangannya. Setidaknya tempat Minah lebih luas dari tempatnya. Tapi Via tak sepenuhnya percaya pada orang lain, nanti dia takut Minah di belakangnya berubah jadi jahat dan punya niat buruk. Syukurlah ternyata Minah benar-benar menjaga barang dagangan Via.
“Tadi mertuamu mencarimu kesini.” Dia kan sempat bertemu Fatimah tadi, awalnya Minah tak tahu kalau Fatimah adalah mertuanya, tapi setelah berkenalan, jadilah ia tahu. Maklum Via terlihat berjuang sendiri dan tak dapat bantuan dari siapapun, mendadak ada mertuanya mencari pun jadi mencurigakan.
“Hanya mencari saja?” tanya Via, ada perasaan khawatir. Berarti ibu mertuanya itu mencari Via antara khawatir atau kepo. Khawatir karena tak pulang atau kepo Via kemana dan ingin memarahinya. Jika akan di marahi, Via harus pasang badan, jika di cari dan dikhawatirkan berarti dia sedang beruntung.
“Iya. Bagaimana dengan daganganmu ini?” tanya Minah sambil melirik barang milik Via yang di titipkan padanya. Dia ini pedagang bukan penjaga barang.
“Aku pulang dulu, ya. Titip lagi.” Via malah ingin pergi lagi. Pembicaraan mereka tak Boy dengar karena pria itu berdiri lumayan jauh dari toko Via.
“Ada apa sampai dicari dan sekarang mau pulang?” Minah jadi curiga. Dia punya rasa kepo sebagai seorang manusia. Dia curiga Via tidak pulang semalam ke rumahnya.
“Nanti aku jelaskan.”
Via memohon-mohon kali ini pada Boy agar tak mengikutinya pulang ke rumah. Dia tak ingin Boy terlihat menonjol dan banyak diperhatikan orang.
Kedua langkah kaki Via menuntunnya untuk menaiki angkot yang arahnya tujuannya adalah rumah Via. Jantung yang letaknya terkurung tulang dan terbungkus daging itu berdegup kencang. entah kenapa perasaan Via juga mendadak terasa aneh.
Bru saja di ujung gang dan ingin ke rumahnya. Fatimah sudah berdiri di ambang pintu, ternyata menunggu kedatangan Via. Fatimah menyilangkan tangannya di depan d**a.
“Dari mana saja kamu?” tanya Fatimah ketus, emosi dia sudah di ubun-ubun dan tinggal meletus saja. Niatan Fatimah kan ingin memarahi Via dengan cara membabi buta.
“E- e- enggak kemana-mana.” Via sampai kesulitan menjawabnya. Dia sempat terbata. Sayang tadi di mobil dia malah mengarang cerita dulu dan temen. Ya sudah, Elitia pasrah saja.
“Gak kemana-mana kok semalam gak ada di rumah?” tanya Faimah lagi-lagi ketus. Di pikiran Fatimah saat ini, dia sedang menyiksa Via sampai Via menyerah atas hidup ini.
“Ah itu. Kelelahan berjualan jadi Laeha tidur di rumah teman.”
“Sana masuk, Andri memanggilmu.” Untung otak Via sedikit bisa di kompromi, dia jadi bisa mengarang cerita. Bibir Fatimah yang pedas sepedas bon cabe level lima belas pun siap-siap akan menceritakan kelakuan Via pada para tetangganya.
Via langsung masuk ke rumah mertuanya yang berantakan ini, tak ada Via ya tidak ada yang beres-beres. Andri sedang duduk di ruang tamu sambil menyangga dagunya.
“Sayang ….” panggil Via pada Andri agar suaminya menoleh. Baju yang digunakan Andri sekarang adalah baju santai yang biasa digunakan tidur, mana Via tahu bahwa Andri semala tak pulang dan tidur bersama wanita lain..
Via sudah memanggil Andri beberapa kali tapi tak mendapat jawaban. Via pun mencoba merayu dengan mengusap pipi seminya.
“Hmmmm …. Jangan sentuh aku.” Andri malah menepis tangan Via seolah dia makluk bersih yang tak mau di sentuh oleh orang kotor. Via dianggap kuman mungkin.
“Lho kok kenapa?” tanya Via heran. Andri kan paling suka jika dibelai.
“Kemana kamu semalam?” tanya Andri ketus sambil menatap Via tajam. Andri yakin hari ini dia akan berhasil menyingkirkan Via dan mendapatkan wanita yang ia cintai.
“Kelelahan berjualan jadi menginap di rumah Minah, tetangga tokoku.” Alasannya harus sama dengan yang tadi ia sebutkan ke Fatimah, kan kalau beda ketahuan bohongnya.
“Minah perempuan atau pria?” tanya ANdri lagi sambil menyandarkan punggungnya pada kepala bangku.
“Perempuan.” Minah ya memang ia perempuan, kalau tanyanya Boy baru akan ia jawab pria.
“Pria kali.” Seringai iblis terukir di wajah Andri. Wajah iblis yang sudah siap menceraikan istrinya.
“Perempuan ahh!” Via bersikukuh agar dia terkesan memang tidak berbohong.
“Ini pria!” Andri menaruh ponsel Fatimah di atas meja. Dia ingin Via melihat dengan mata kepalanya sendiri gambar dirinya ini.
“Apa itu?” tanya Via. Handphone ibunya lumayan jadul, jadi Via agak tak mengerti cara menggunakan gawai milik ibu mertuanya itu.
“Lihat saja.” Andri menunjuk dan Via pun melihat fotonya. Foto seorang pria tengah berjalan dengan seorang wanita yang terlihat mesra. Pasangan di foto terlihat serasi.
Via seakan terjun ke lubang jurang paling dalam. Bisa-bisanya kesalahan dia sering diburu sedangkan kesalahan orang lain tidak. Hidup memang tak adil, orang baik malah di sakiti dan di sia-siakan, giliran orang jahat disanjung, banyak teman dan hidup senang, jika orang jahat malah gampang menggapai impiannya.
“Dia siapa? Mana mungkin kalau teman mesra seperti itu.” Andri terus mendesak seolah Via yang salah. Via dianggap mengkhianatinya dengan pergi bersama pria lain.
“Dia teman biasa, sumpah!” Via mengangkat tangannya. Dia sama persis seperti anak SD yang tengah di hukum oleh guru, sama sekali tak duduk malah terus diinterogasi.
“Temanmu menghangatkan ranjang ya, kan?” Lagi-lagi NAdri menyudutkan Via.
“Tidak. Bukan seperti itu.” Via buru-buru menggeleng. Tuduhan Andri sungguh tak benar. Suaminya kini berhati batu dan berjiwa iblis.
“Jangan banyak alasan. Sudah ada bukti jelas. Ucapanmu bisa saja bohong tapi bukti ini sudah bisa menjelaskan bahwa kamu tak baik.” Andri terus saja mendesak jika belum sampai pada tujuannya.
“Kamu yang tidak baik. Aku lihat pipimu di cium oleh wanita lain.” Via emosi. Wanita ini mengepalkan tangan dan ingin memukul wajah Andri, Andri sendiri menuduhnya, dia juga bisa menuduh Andri balik.
“Dimana kamu melihatnya?” tanya Andri percaya diri, dia sampai berdiri dan berhadapan dengan Via.
“Di depan gang.” Via menunjuk ke arah luar rumah.
“Mana buktinya?” tanya Andri sambil mengulurkan tangannya. Dia yakin Via tak punya bukti kuat.
“Tidak ada.” Api cemburu membuat Via muak dan langsung ingin pergi, dia tak mengambil gambar sama sekali adegan suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain. Sial, kan skor perkelahian mereka pun kalah.
“Tuduhan kamu lemah, tak ada bukti kuat.” Dalam hati Andri bersorak sorai. Dia yakin dia yang menang melawan Via.
“Aku ingin kita cerai!” Kata ini yang terucap di mulut Andri. Jika dulu ijab kabul yang ia ucapkan, kali ini adalah kata meminta untuk berpisah.
“Bawa barang kamu dan keluar dari rumah ini!” Fatimah melemparkan tas berisi baju Via.
Mata Via melebar melihat ibu mertuanya sama sekali tak meminta Andri untuk menjelaskan alasan kenapa dia tidak pulang. Fatimah terlihat berada di kubu Andri dan tak memihak Via.
Papa mertua pun tak ada, mungkin jika ada ayah mertuanya, dia bisa ada yang membela.
“Aku bisa jelaskan, Sayang.” Via mendekat dan meraih tangan Andri. Sayang Andri menepisnya dengan kasar.
“Sana pergi kamu!”