Jika orang lain pada siang hari sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Membersihkan rumah, bersekolah dan bekerja, berbeda dengan keluarga Fatimah, dia malah sedang sibuk mengusir dan menyalahkan Via.
Siapa lagi yang mengambil gambar Via dan Boy jika bukan Fatimah, Via tadi sempat diberi tahu bahwa mertuanya itu tadi mencarinya. Saat suasana memanas dan kini yang disalahkan malah salah orang, saat itu pula air mata Via jatuh membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak dan kedua tangannya bergetar hebat.
Pria yang ia sayangi dan ia anggap seorang pelindung ternyata penghianat. Andri sendiri yang menyalahkan Via dan berdalih bahwa dia yang selingkuh duluan. Mata Via pun memerah dan melirik Fatimah sinis. Wanita paruh baya itu selalu saja jahat, berpikiran buruk dan menyalahkan Via.
“Apa kamu lihat-lihat saya?” Fatimah malah nyolot, dia memelototi Via. Ibu mertua yang harusnya jadi penengah kala anak dan menantunya sedang bertengkar, malah tak mau menengahi dan malah menyudutkan.
“Mama. Mama yang ambil foto aku itu, kan?” tanya Via di ambang pintu. Dia sudah didorong ke luar dari rumah ini. Fatimah tak menjawab, dia malah menyilangkan tangan di depan d**a sambil mengangkat dagunya.
“Mama kok tega sih adu domba aku dan Andri. tolong jelasin, Ma, aku sama cowok itu bukan siapa-siapa.” Via meraih tangan Fatimah, siapa tahu ada setitik saja rasa kebaikan di ibu mertuanya.
“Kalau gak ada apa-apa mana mungkin semalamnya tak pulang Via?” Fatimah malah menyudutkan bukannya membela. Dia senang adanya kejadian ini, kebetulan sekali dia ingin menantu baru dan menyingkirkan Via yang ia anggap mandul ini.
Bukannya Via tak mau memeriksakan dirinya ke dokter obgyn, hanya saja saat uang sudah ada, Andri yang tak bisa menemaninya dan Via sibuk saja berjualan. Mens Via juga setiap bulannya lancar, anehnya dia tidak kunjung mengandung.
“Aku sakit, Ma.” Punggung tangan Via saja masih terpasangi plester bekas infusan tadi. Tubuhnya masih sedikit lemas walau dia berusaha terlihat sehat.
“Aku sakit sayang. Orang itu yang nolong. Please dengerin penjelasan aku dulu.” Kini dia yang meraih tangan Andri, memohon ampun dan keluasan hati suaminya agar mau memaafkan dia. Biar bagaimanapun, Via yang salah karena semalam tak pulang. Sayang Via tak tahu bahwa andri juga semalam tak pulang.
“Tidak. Sudah jelas kamu semalam habis tidur dengan pria itu.” Andri mendorong Via keluar dari rumah mereka. Dia melemparkan tas isi baju dan dagangan Via yang ada di rumah.
“Tidak. Kita temui pria itu bila perlu.” Via yang sudah terdorong pun maju untuk meraih tangan Andri lagi. Ia ingat momen beberapa bulan lalu saat dia berjuang dengan Andri untuk bisa menikah. Semua usaha tak mudah hingga Via rela hengkang dari rumahnya yang mewah.
“Tidak Via. Kamu sudah tidur dengan pria lain dan mengkhianatiku.” Andri terus saja mendesak, dia malah mendorong Via lebih kencang sampai tubuh Via pun akhirnya membentur lantai. Via sampai merasa kesakitan karena pantatnya membentur benda keras yang terasa dingin itu.
“Auu …. Kamu yang selingkuh lebih dulu dengan bosmu.” Via lihat dengan mata kepalanya sendiri, sayang dia tak punya bukti hingga Andri tak mengakui kesalahan itu.
“Pergi, Via. Tak ku terima semua sanggahan dan tuduhanmu.” Andri sudah dibutakan dengan rassa cintanya pada Angel. Harta, tahta dan wanita, tiga elemen pada pria yang membuat mereka lupa diri. Andri sudah punya gaji besar, sudah punya jabatan di kantornya dan kini sudah punya wanita cantik.
“Tidakk …. Aku tak mau ceraiiii ….” Teriak Via sambil menangis histeris. Tangisan itu bisa didengar orang banyak.
Kini banyak tetangga yang keluar rumah dan melihat pemandangan Via sedang di usir dari rumah itu. Bagaimana mereka bisa dengar? Wong rumah dempet-dempetan, mana tetangga di sini nyinyirnya minta ampun, kejulidannya begitu HQQ.
Via bisa apa kalau seperti ini? Dia hanya bisa elus d**a, sabar dan cari jalan keluar lain.
“Oh Tuhan. Seperti inikah perlakuan wanita yang aku muliakan dan aku anggap ibu sendiri. Seperti inikah juga perlakuan laki-laki yang aku perjuangkan? Semuanya penjahat.” Via menangis sambil terduduk di lantai, dia meraih tas yang ibu mertuanya dan Andri lempar. Kalau anda ayah mertuanya, mungkin saja ada yang membela, atau mungkin saja mereka sama.
Dengan hati yang merintih kesakitan, Via berjalan lemas meninggalkan rumah ini, rumah yang selama beberapa bulan ia tinggali dan menjadi saksi dimana dia mencintai Andri dengan tulus dan menjadi menantu yang baik untuk Fatimah.
Via baru saja berjalan lima langkah, dia pun berhenti lalu melirik ke belakang. Wajah dua orang yang tadinya ia sayangi terlihat bahagia dengan kepergiannya. Wajah Andri saat ini tak akan Via lupakan. Pria yang memandang dia penuh cinta kini memandangnya dengan api kebencian.
“Aku tak akan menoleh ke belakang lagi. Selamat tinggal, kalian kan jadi masa lalu yang pahit untukku,” gumam Via dalam hati sambil berdoa dia akan mendapat kebahagiaan suatu saat nanti.
“Ingatlah, roda kehidupan itu berputar. Nanti kamu akan rasakan rasa sakit yang aku rasakan!” teriak Via untuk Andri. Andri tak menjawab, dia malah menutup pintu rumahnya rapat-rapat.
Di ujung gang ada seorang pria yang berdiri bersembunyi dibalik tembok rumah warga. Dia menyaksikan sendiri bagaimana jahatnya suami dan mertua Via. Tangannya mengepal dan matanya pun memerah. “Seperti itukah kau memperlakukan dia? Tak apa, kau tak pantas mendapatkannya, biar dia untukku saja.”
Langkah kaki Via begitu lamban karena dia kini tak tentu arah. Mau pulang ke mana, ayahnya sendiri sudah mengusirnya.
Tujuan pertama Via kini ke Tanah Abang. Dia perlu membereskan dagangannya dan berjualan dulu, siapa tahu dapat uang untuk ongkos pulang ke rumah ayahnya.
Sampai di Tanah Abang, nyatanya semangat Via ciut, dia malah menangis sambil terduduk di tokonya yang sempit dan paling kecil. Minah yang mendengar suara tangisan itu pun menghampiri Via saat pelanggannya sudah pergi.
“Kamu kenapa?” tanya Minah sambil mengusap punggung Via, mungkin dengan ini dia bisa membuat Via tenang. Via butuh pelukan dan butuh bahu untuk bersandar. Dia ingin menenangkan diri dan menyendiri, sayang pikirannya tak kunjung membaik.
“A- a- aku diusir dari rumah suamiku.” Dia menatap Miaar sendu. Dari datang hingga berjam-jam di sini, Via diam di sela-sela tumpukkan lemari rak dagangannya. Biasanya celah sempit ini ia gunakan untuk istirahat dan makan.
“Kok bisa?” Minah ingin tahu, mungkin dengan menceritakan semua hal yang terjadi pada Via, dapat membuat wanita yang tengah menangis ini tenang. Tapi jika Via memilih untuk memendamnya sendiri, Minah bisa apa, dia hanya bisa menyemangati.
“Salah paham.” Via malu menceritakan hal yang terjadi padanya. Dia tak mau orang lain tahu selain tetangga-tetangga nyinyir di dekat rumah Andri.
“Yang sabar, ya. Semoga masalah kalian bisa selesai.” Minah memeluk Via erat. Pelukan ini lumayan membuat Via semakin merasa tenang.
Dengan perasaan yang tidak karuan, Via bisa berjualan meski hasil jualannya tak seperti hari-hari biasanya. Beruntung dia punya simpanan uang yang dia sembunyikan dari Andri. Mungkin uang ini bisa ia gunakan untuk bertahan hidup.
Tujuan pertama Via adalah rumah yang sudah ia tinggali dari sejak lahir namun ia tinggalkan beberapa bulan ini, rumah siapa lagi jika bukan rumah orang tua Via. Ayah Via adalah Arif Candradinata, seorang pengusaha kaya raya yang namanya sudah tersohor di kota ini.
Via sama sekali tak pernah pulang semenjak sang ayah mengusirnya. Baru kali ini lagi dia melangkahkan kaki untuk berdiri dan bisa memandang rumahnya dari jarak dekat. Tak banyak berubah, hanya saja penghuninya yang bertambah dan ada yang tersingkirkan. Rumah Via kini diisi ayah, ibu dan adik tirinya.
Di depan pintu gerbang Via bisa melihat rerumputan, tanaman hias dan bangunan rumahnya yang megah. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti dan masuk ke rumah megah itu, mobil hitam kesayangan ayahnya Via. Ada adik dan ibu tirinya yang keluar dari rumah tersebut untuk menyambut kedatangan Arif, sepertinya Arif baru pulang kerja.
Pemandangan yang Via lihat kini adalah keluarga yang bahagia tanpa kehadirannya. Ilene terlihat sangat bahagia memeluk dan mencium pipi Arif, ayah tirinya. Ilona juga terlihat meraih tas Arif dan mengajaknya masuk.
Via memberanikan diri untuk melangkah masuk dengan debaran jantung yang begitu kencang. Dia takut diusir lagi, dia takut ayahnya tak menganggap dia ada, dia takut mendapat perlakuan tak baik. Hari ini sungguh melelahkan dan sungguh menguras emosi Via.
Dia menyapa penjaga gerbang dan meminta izin masuk, memang tak ada larangan untuk menerima Via jika dia ingin kembali ke sini. Via membalas kebaikan penjaga rumahnya dengan sebuah senyuman.
Langkah kaki Via pun terhenti di ambang pintu, dia ingin mengetuk pintu rumah ini tapi masih ada perasaan ragu. Dulu dia bebas keluar masuk, bebas melakukan apapun di rumah ini, berbeda dengan sekarang, Via merasa dirinya asing dan tidak pantas ada di sini.
“Pantaskah aku kembali dan meminta ampunan mu ayah?” tanya Via sambil memandang pintu rumah ini. Ada perasaan malu yang Via rasakan, dia sudah diusir masa kembali untuk meminta tinggal di sini lagi?
“Aku anak yang duhaka, tak mau mendengarkan mu dan malah kekeh dengan pendirianku. Aku pantas diusir dari rumah ini.” Nyali Via nyatanya malah semakin cius, dia tak berani bertatap muka dengan ayahnya. Dia juga tak berani bertemu dengan ibu dan adik tirinya dalam keadaan seperti ini. Sungguh tak pantas. Wajah kucel dan kumel, baju bau debu dan polusi, rambut lepek oleh keringat dan mata sedikit sembab.
“Maaf ayah!” Via memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Dia pun berjalan untuk meninggalkan rumah ini.
“Lho, Non. Gak jadi masuk?” tanya satpam yang dari tadi memperhatikan Via. Rasa keingintahuan pria ini tinggi, pasalnya dia sudah lama tak melihat majikannya ini, majikan yang tadinya ratu di rumah ini dan menjadi kesayangan Arif.
“Tidak, Pak.” Via menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala yang lemah.
“Non mau ke mana?” Pertanyaan ini sama sekali tak Via jawab.
Dia kembali ke rumah Minah, tadi dia titipkan semua dagangannya di rumah satu-satunya teman Via yakni Minah.
Teman kampus yang lain tak lagi menganggap Via ada, mereka pura-pura tak kenal karena Via tak lagi kaya dan modis. Kita bisa tahu mana lawan mana teman saat dalam keadaan susah, jika mereka tak ada pada saat kita dalam keadaan terpuruk maka mereka bukan teman sejati, jika mereka ada untuk membantu dan menguatkan, maka dia benar-benar teman sejati. Ternyata mencari teman sejati bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami, semuanya hanya memanfaatkan Via karena banyak uang saja, saat Via miskin mana? Mereka malah tak mau ada yang membantu.
Via menyesal dulu dia bersikap royal dan membela serta membantu saat teman-temannya dalam keadaan susah, giliran dia yang mengalaminya sendiri malah tak ada satupun yang membantu. Dari sinilah Via tak mau berteman lagi dengan orang lain, dengan Minah pun dia tertutup soal masalah pribadi.
“Menginaplah di sini dulu. Hari sudah gelap. Besok baru cari kontrakan.” Tawaran menggiurkan dari Minah ini sungguh membantu Via yang tak punya tempat tinggal.
Via sebenarnya merasa tak enak terus merepotkan Minah, dia jadi punya hutang budi banyak pada gadis ini. Minah masih gadis dan anak perantauan. Dia hanya tinggal sendiri di kost kosannya ini yang letaknya di gang sempit.
“Besok aku bantu cari kontrakannya, ya!” Minah menggenggam tangan Via dn mengajaknya masuk.
“Tapi kamu kan harus jualan, Min.” Sudah sering menitipkan barang dagangan, ditambah menginap, masa Via mau merepotkan Minah lagi dengan mengantarnya mencari kontrakan.
“Gak papa libur sehari aja. Kasian masa kamu cari kontrakan sendiri. Kalau aku bantu, siapa tahu dapat harga miring!” Minah terkekeh, dia jagonya tawar menawar.