Vanya mengangguk singkat dan tersenyum tipis. "Iya, terima kasih ya Pak, Bi. Kalau begitu, Vanya berangkat dulu." Marni dan Warno mengangguk bersamaan. Seulas senyuman tipis mereka rekahkan kepada Vanya. Jujur saja mereka sangat tidak tega melhat seorang Vanya yang notabennya seorang putri semata wayang di keluarga Alexan harus meninggalkan rumahnya sendiri. Setelah berpamitan dengan Marni dan Warno, Vanya segera membuka pintu mobilnya dan bersiap untuk melajukan mobilnya. Suara deru mesin mobil Vanya telah mendominasi suasana hening di halaman itu. Dengan berlari tergopoh-gopoh, Warno pun membukakan pintu gerbang rumah itu. Pintu gerbang telah terbuka lebar, mobil Vanya pun segera melesat meninggalkan halaman rumahnya. Kini tujuan Vanya hanya satu, yaitu Cafe miliknya. Ya benar, Vanya

