5

732 Words
Banyak tatapan-tatapan memuja dan tatapan iri yang Regan dan Vanya dapatkan dari semua siswa-siswi yang sedang berlalu lalang disana. "Masuk yuk! Jam pertama gue fisika nih," ajak Vanya. "Wih mantep tuh, jam pertama lo udah di kasih sarapan fisika aja," balas Regan sambil terkekeh. "Ck, nyebelin tau! Guru fisika paling hobi banget buat kasih soal di papan tulis buat gue kerjain," gerutu Vanya. "Aduh kasihan banget ini Neng cantik," ucap Regan sambil terkekeh dan merangkul Vanya untuk berjalan beriringan dengannya. Vanya dan Regan pun mulai berjalan memasuki sekolahnya dan melalui beberapa koridor. Banyak sekali yang dengan terang-terangan memuji ketampanan Regan serta menyapanya. "Pagi kak Regan, aduh tambah ganteng aja nih," "Eh, calon imamku udah berangkat ya," "Aduh, goals banget sih kak Regan sama kak Vanya," Kira-kira begitulah celotehan beberapa siswa-siswi saat Regan dan Vanya melewati koridor sekolah. Setelah beberapa menit berjalan melewati koridor dan beberapa kelas, kini mereka sudah sampai di depan pintu kelas yang bertuliskan XII IPA 3, kelas itu adalah kelas yang Vanya tempati. "Belajar yang bener! Jangan bolos mulu lo!" titah Regan. "Iya-iya santai aja kali," balas Vanya sambil terkekeh. "Udah sana masuk, nanti sore kita ada latihan basket ya, lo jangan sampai lupa!" peringat Regan seraya mengulas senyuman. "Siap! Gue masuk dulu ya," pamit Vanya lalu mulai memasuki kelasnya. Regan pun segera menuju ke kelasnya, kini mereka mulai menjalankan rutinitasnya di sekolah. Entah sedang kerasukan setan apa, Vanya mendadak menjadi sangat rajin hari ini. Bel istirahat pun sudah berbunyi, seluruh siswa segera berhamburan untuk keluar kelasnya menuju ke kantin. Tetapi tidak dengan Vanya dan Dinda yang duduk sebangku, mereka masih berkutat dengan catatan fisika mereka. Saat ini suasana kelas Vanya sedang hening, hanya ada Vanya dan Dinda yang masih berada di dalam kelas untuk mengerjakan tugas. "Van! Lo udah jawab nomor dua puluh belum?" tanya Dinda seraya menulis beberapa rumus di buku fisikanya. "Udah, gue kurang lima soal lagi nih," balas Vanya seraya melihat beberapa rumus yang berada di buku cetak. "Anjir lo! Gue baru nomor dua puluh Van, bantuin gue woi!" ucap Dinda. "Iya bentar, nanti kalau gue udah selesai gue contekin kok. Santai aja sih," balas Vanya. "Santai-santai pala lo peang! Gue sebel banget sama pelajaran fisika ya gini, udah itu guru kalau kasih soal banyak banget ditambah rumus-rumusnya juga ribet," ucap Dinda seraya sedikit mencibir. "Iya juga sih, tapi kan lo tumbenan banget gak semangat sekolah hari ini. Lo kan biasanya rajin Din," balas Vanya. "Iya elah, gue capek Vanya. Gue kemarin ada rapat osis sampai jam tujuh malem disini. Mana gue gak dijemput sama supir ataupun nyokap lagi," balas Dinda dengan wajah kesalnya. "Widih, gila banget! Kenapa gak sekalian lo tidur di sekolah Din?" tanya Vanya seraya terkekeh. "Sialan lo ya! Udah deh gak usah ..." ucapan Dinda terpotong saat ada seseorang yang memasuki kelas mereka dengan terburu-buru. Seketika Dinda dan Vanya beradu pandang, mereka sama-sama bingung dengan kedatangan seorang siswa laki-laki bertubuh jangkung ke kelas mereka, siswa itu adalah Regan. "Van! Gawat! Lo di panggil kepala sekolah sekarang!" ucap Regan dengan napas yang terengah-engah karena dia berlari menuju kelas Vanya tadi. "Ngapain?" tanya Vanya dengan menatap bingung ke arah Regan. "Lah, gue juga gak tau. Gue sama anak-anak tim gue juga di panggil kepala sekolah," balas Regan. "Udah, lo ke ruang kepala sekolah aja Van. Biar gue yang kumpulin dan kerjain sisa tugas lo. Bisa aja kan kepala sekolah mau ngomongin tentang lomba basket," ucap Dinda memberi saran. "Nah itu! Tapi gue juga ragu sih, biasanya kan guru olahraga yang panggil tim basket sekolah kita kalau mau konfirmasi tentang perlombaan basket," sahut Regan. "Iya juga sih, tapi beneran lo gak papa gue titipin tugas gue?" tanya Vanya dengan raut wajah yang menampilkan keraguan. "Iya gue gak papa, udah sana buruan pergi ke ruang kepala sekolah," balas Dinda seraya mendorong bahu Vanya untuk segera pergi. "Iya udah okay, gue pergi dulu. Bye Din!" ucap Vanya seraya beranjak berdiri dari kursinya. Vanya dan Regan segera beranjak pergi dari ruangan kelas Vanya. Kini mereka sedang berlari ke arah ruang kepala sekolah, setibanya di depan pintu ruang kepala sekolah, Regan dan Vanya berhenti sejenak untuk menetralkan nafas dan detak jantung mereka yang tidak beraturan. Setelah merasa siap dan yakin, perlahan Vanya mulai membuka pintu ruangan kepala sekolah itu. Suara decitan pintu itu terdengar nyaring karena suasana hening yang tercipta di ruangan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD