Baru saja sepuluh menit Vanya bermain sosial media, tiba-tiba Regan menelpon Vanya. Vanya pun segera mengangkat panggilan telfon itu.
"Halo," sapa Vanya seraya menempelkan ponselnya ke telinga kanannya.
"Halo Van, lo udah on the way ke sekolah belum?" tanya Regan dari seberang sana.
"Belum, kenapa Re?" tanya Vanya seraya menautkan kedua alisnya.
"Bagus deh, gue jemput ya!" balas Regan dengan nada bersemangat.
Vanya membulatkan matanya. "Lah kok? Kan rumah lo sama rumah gue beda arah Regan, udahlah gue berangkat sendiri aja."
"Please Van, gue udah ada di depan rumah lo nih," balas Regan dengan nada memohon.
"Ck, ya udah, tunggu sebentar," ucap Vanya seraya memutuskan sambungan telfon itu.
"Ini anak kenapa coba? Tumben banget ngajak gue berangkat bareng, mana udah nungguin di luar lagi," gunam Vanya.
Dengan gerakan secepat kilat, Vanya menyambar tas ranselnya yang berwarna hitam dengan aksesoris gantungan berlogo BTS boyband korea yang sedang naik daun. Vanya langsung saja beranjak keluar dari kamarnya, dengan sedikit terburu-buru Vanya pun menuruni satu persatu anak tangga.
Sebenarnya Vanya mengetahui jika ada dua pasang mata yang sedang mengamati gerak-gerik Vanya sendari tadi saat menuruni tangga, tetapi Vanya tetap bersikap acuh dan sama sekali tidak menganggap bahwa ada orang lain di rumahnya.
Saat Vanya sedang melewati ruang makan,
"Vanya! Sarapan dulu yuk Nak," ajak Reva saat melihat Vanya menuruni tangga.
Seketika langkah kaki Vanya terhenti saat melewati ruang makan itu, dengan memasang ekspresi datar dan dingin andalannya, Vanya pun membalikkan badannya menghadap kedua orang tua yang tengah duduk di ruang makan itu.
"Gak usah, makasih," ucap Vanya dengan nada penuh penekanan.
"Hey, nanti kamu sakit loh kalau gak mau sarapan. Ayo sini sarapan, Mama buatkan nasi goreng kesukaan kamu loh sayang," balas Reva seraya tersenyum.
Vanya tersenyum kecut, "Makan saja sendiri, saya tidak pernah meminta anda untuk memasak makanan untuk saya kan?"
"Vanya!" tegur Alex dengan suara baritonnya yang sudah meninggi.
Vanya hanya memutar bola matanya jengah, dia sudah bisa menebak jika di pagi hari ini akan ada suatu perdebatan kecil seperti hari-hari sebelumnya.
"Hargai ajakan Mama kamu! Dia sudah susah-susah memasak makanan kesukaan kamu agar bisa lebih dekat dengan kamu," ucap Alex seraya menatap tajam ke arah Vanya.
"Maaf, Vanya buru-buru. Permisi," balas Vanya sambil beranjak meninggalkan ruang makan itu.
Kini Vanya sudah sampai di halaman rumah miliknya, Vanya segera menuju ke arah gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Gerbang itu sudah terbuka lebar, menampilkan sosok Regan yang sedang duduk di atas motor sports merah miliknya. Perlahan Vanya mulai menghampiri Regan.
"Sorry lama," ucap Vanya setibanya di hadapan Regan.
Regan tersenyum lebar. "Eh, enggak kok. Santai aja kali."
"Ya udah, berangkat sekarang," ucap Vanya.
"Siap! Nih pakai helm dulu," balas Regan sambil menyodorkan satu helm berwarna hitam.
Vanya pun menerima uluran helm itu dan memakainya. Kini Vanya mulai menaiki motor sports milik Regan. Setelah Vanya menaiki motor itu, tiba-tiba Regan melepaskan jaket hitam yang dia pakai, Vanya mengerutkan dahinya sebagai tanda dia sedang bingung.
"Nih ambil," ucap Regan seraya menoleh ke belakang dan menyodorkan jaket hitam miliknya kepada Vanya.
"Buat?" tanya Vanya dengan wajah cengonya.
"Tutupin paha lo, lo gak mau kan paha mulus nan indah yang lo punya di lihat banyak orang nanti?" tanya Regan seraya terkekeh.
"Ya enggak lah! Awas aja itu mata lo juga dijaga, jangan curi-curi kesempatan ya!" ucap Vanya dengan nada sebalnya.
Regan pun terkekeh. "Iya, siap!"
Seperkian detik kemudian, Regan mulai menyalakan mesin motor sports miliknya dan mulai menarik gas motor itu. Motor Regan pun sudah melanju dengan cepat ke arah SMA Garuda. Disepanjang perjalanan Vanya hanya diam, menikmati suasana pagi yang tidak begitu macet.
Lima belas menit sudah Vanya dan Regan berada di perjalanan menuju ke SMA Garuda. Kini motor sports Regan mulai berbelok melewati gerbang SMA Garuda yang telah terbuka lebar. Banyak siswa siswi yang menatap kagum ke arah Regan dan Vanya, tetapi banyak juga yang mencibir kedekatan antara Vanya dan Regan. Regan memarkirkan motornya di parkiran motor yang telah disediakan oleh sekolahnya, tidak lama kemudian Vanya pun turun dari motor sports Regan seraya memberikan jaket hitam milik Regan dan melepaskan helm yang dia pakai.
"Nih, thanks udah jemput gue," ucap Vanya sambil menyodorkan helm yang sudah dia lepas tadi.
"Santai aja kali, gue juga siap jadi tukang antar jemput lo," balas Regan sambil terkekeh kecil dan menerima helm itu.
"Idih, lo jadi tukang ojek sekarang?" tanya Vanya dengan tatapan penuh menyelidik.
"Eh enak aja, ya enggaklah! Orang tua gue masih kaya, mana mungkin cowo seganteng gue jadi tukang ojek," elak Regan seraya menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan.
Vanya pun terkekeh geli, "Percaya diri banget lo."
"Harus dong," balas Regan seraya mengacak puncak kepala Vanya dengan lembut dan sayang.