35

1855 Words

Vanya berdecak sebal. Bisa-bisanya Dinda meminta semua hal itu kepada Vanya yang sedang dalam mode bad mood. "Iya gue beliin!" "Terima kasih Vanya manis! Gue tunggu lo di rumah! Jangan lama-lama ya!" ucap Dinda. "Iya!" balas Vanya dengan nada yang sedikit meninggi. "See you Van," ucap Dinda lalu memutuskan sambungan telpon mereka. Setelah Dinda memutuskan sambungan telpon mereka. Vanya kembali teringat tentang ucapan Ayahnya dan Bryan mengenai perjodohan antara dirinya dan Alfa. "Kenapa harus gue? Kan masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari gue. Dan ini kenapa juga hati kecil gue menyarankan untuk menerima perjodohan ini? Gue kan masih teguh sama pendirian gue, kalau gue gak akan menjalin hubungan apapun sama laki-laki," batin Vanya. Perasaan Vanya sekarang sangatlah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD