Vanya menggeleng lemah. "Gue bakal tetap nolak Din, gue gak mau mengingkari pendirian gue dan janji gue." "Pendirian? Janji?" tanya Dinda dengan kedua alis yang telah menaut sempurna. "Iya gue punya pendirian kalau gue akan tetap berusaha berdiri sendiri dan gak akan menjalin hubungan apapun sama laki-laki. Gue udah janji sama diri gue sendiri sama semua itu," balas Vanya. Tangan Dinda tergerak untuk mengambil guling di sebelahnya. Dia pun segera memukul pelan Vanya menggunakan guling itu. "Lo benar-benar gila Van! Pendirian dan perjanjian konyol apaan itu?" "Nih ya, gue kasih tau! Gak ada manusia yang bisa hidup sendiri, semua pasti butuh pasangan," lanjut Dinda. "Gue cuma trauma Din," ucap Vanya dengan nada lirih dan kepala yang menunduk. Seketika Dinda merasa iba kepada Vanya. Dia

