"Regan," panggil Wisnu seraya menatap ke arah Regan yang berdiri di samping Vanya dengan menundukkan kepalanya.
Sontak, Regan pun mendongakkan kepalanya saat dia mendengar Wisnu memanggil namanya.
"Iya Pak?" tanya Regan seraya menghela nafasnya berat.
"Apa kamu tau kesalahan terbesarmu saat ini?" tanya Wisnu seraya memincingkan matanya kepada Regan.
Regan pun mengangguk. "Saya tau, saya meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian yang saya dan teman saya perbuat."
Wisnu terkekeh sebentar saat mendengar pengakuan dari Regan. "Saya tau kamu sangat berprestasi dan berperan penting dalam mengharumkan nama baik SMA Garuda. Tetapi apa kamu pantas untuk meniru perilaku berandalan ratu biang onar ini?" Wisnu melirik sekilas ke arah Vanya yang masih saja bersikap tenang.
"Saya minta maaf Pak atas kesalahan yang saya dan teman-teman perbuat," ucap Regan seraya menundukkan kepalanya.
"Permintaan maaf kamu tidak akan mengembalikan nama baik sekolah kita yang sudah tercemar karena perilaku berandalan kalian ini!" sentak Wisnu.
"Sekarang, pergi ke ruangan bimbingan konseling. Terima hukuman yang guru bimbingan kalian berikan!" lanjut Wisnu seraya menujuk pintu ruangannya.
"Baik Pak, sekali lagi saya dan tim saya meminta maaf atas perbuatan kami," balas Regan lalu diangguki oleh seluruh anggota timnya kecuali Vanya.
"Kamu tidak berniat untuk meminta maaf kepada saya?" tanya Wisnu sambil melirih sinis ke arah Vanya.
Vanya mengangkat bahunya acuh. "Saya rasa tidak perlu."
"Terserah kamu saja! Saya sudah pusing menghadapi tingkah laku kamu yang semakin hari semakin menjadi," balas Wisnu seraya menghela nafasnya berat dan memijit pelan pangkal hidungnya.
"Kalau pusing lebih baik Bapak istirahat saja di rumah, tidak perlu repot-repot untuk menasihati saya dan mengawasi saya," ucap Vanya seraya mengeluarkan smirk andalannya.
Seketika Regan pun menoleh ke arah Vanya, Regan merasa Vanya sudah cukup terlewat batas kepada kepala sekolah itu. Dengan gerakan secepat kilat, Regan mulai menarik tangan Vanya untuk keluar dari ruangan kepala sekolah itu diikuti dengan teman satu timnya tadi.
Vanya yang pada awalnya tersentak kaget karena perlakuan Regan yang cukup dibilang kasar, Vanya segera menormalkan ekspresi wajahnya. Setelah Vanya, Regan dan teman-temannya sudah berada di luar ruangan kepala sekolah itu, Vanya dengan cepat menghempaskan cekalan tangan Regan dari pergelangan tangan Vanya.
Seketika tatapan Vanya berubah menjadi sangat dingin. "Gue bisa jalan sendiri tanpa lo tarik."
"Lo kelewatan Van! Lo gak seharusnya bersikap gak sopan seperti tadi ke kepala sekolah," balas Regan seraya dengan nada yang sedikit meninggi.
"Dia bukan siapa-siapa gue," ucap Vanya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Gue tau dia memang bukan siapa-siapa bagi lo, tapi apa lo gak bisa menghormati orang yang lebih tua? Atau lo memang gak punya rasa hormat kepada orang lain?" tanya Regan seraya tersenyum remeh kepada Vanya.
"Gue masih punya rasa hormat, tetapi gue gak akan pernah menghormati seseorang yang diam-diam memata-matai gue atas suruhan bokap gue," balas Vanya.
"Lebih baik lo diam jika lo gak tau apa permasalahannya, dari pada pertemanan kita hancur karena urusan pribadi ini," lanjut Vanya lalu beranjak pergi dari hadapan Regan menuju ruangan bimbingan konseling yang berjarak sekitar lima meter dari ruangan kepala sekolah.
Sepeninggalnya Vanya, Regan pun mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar merasa bingung dengan ucapan-ucapan Vanya yang menurut Regan mengandung banyak sekali teka-teki kehidupan.
"Arghh! Lo kenapa sih Van!" ucap Regan seraya mengacak rambutnya frustasi.
"Lo terlalu keras sama Vanya, lo gak seharusnya bersikap seolah-olah dia selalu salah. Kalau lo mau tau keadaan dia yang sebenarnya, lo harus cari informasi secepatnya," ucap Reza yang merupakan anggota timnya, seraya menepuk pelan pundak Regan.
"Gue akan cari tau secepatnya!" balas Regan seraya menatap lurus ke depan.
"Bagus, kalau gitu sekarang kita harus ke ruang bimbingan," ucap Reza seraya merangkul Regan untuk berjalan beriringan diikuti dengan anggota lainnya yang berjalan di belakang Regan dan Reza.
Regan dan anggotanya segera berjalan menuju ruangan bimbingan konseling yang berjarak kurang lebih lima meter dari ruangan kepala sekolah. Kini Regan dan anggotanya sudah tiba di depan ruangan bimbingan konseling itu.
Sejenak Regan menghela nafasnya berat, Regan harus menyiapkan diri untuk menerima hukuman dari sang guru bimbingan konseling atas perbuatan yang telah dia lakukan kemarin.
Perlahan tangan Regan mulai meraih handle pintu ruangan bimbingan itu lalu membukanya secara perlahan. Suara decitan pintu yang terdengar nyaring itu pun membuat dua orang yang sedang beradu argumen di ruangan bimbingan itu pun terdiam sejenak dan menatap ke arah pintu ruangan itu.
"Permisi Pak, apa kami boleh masuk?" tanya Regan saat berada di ambang pintu.
"Silahkan masuk," balas Bisma.