8

722 Words
Regan dan anggotanya pun mulai memasuki ruangan itu, hanya ada suasana hening yang mencekam di ruangan bimbingan itu. Vanya, Regan dan anggotanya kini sudah berdiri berbaris rapi di hadapan Bisma. Tatapan tajam Bisma kepada siswa-siswi yang berada di depannya seakan-akan dapat menguliti para siswa-siswinya. "Masalah apa lagi ini?" tanya Bisma seraya melirik ke arah Vanya yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah santai. Vanya mengangkat bahunya acuh. "Sepertinya bukan masalah besar." Tatapan mata Bisma beralih kepada Regan yang berdiri tegak di sebelah kiri Vanya. Ekspresi Regan menampilkan suatu penyesalan. "Regan?" panggil Bisma dengan menaikkan satu alisnya. "Iya Pak, ada apa?" tanya Regan dengan nada gugup. "Seharusnya saya yang tanya kepada kalian! Ada apa ini?" tanya Bisma seraya memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pening di kepalanya. "Maafkan saya dan teman-teman saya Pak, kami melakukan kesalahan kemarin," ucap Regan seraya sedikit menunduk. "Jadi? Tentang berita yang beredar di luaran sana itu benar?" tanya Bisma dengan menatap tajam seluruh murid yang berada di hadapannya. "Benar Pak," balas Regan dengan anggotanya secara serempak kecuali Vanya yang hanya diam dan berdiri santai. Lagi-lagi Bisma memijit pangkal hidungnya. "Astaga, kalian ini." "Maafkan kami Pak, tujuan kami datang ke ruangan Bapak adalah menerima hukuman atas perbuatan kami kemarin," ucap Regan mewakili seluruh teman satu timnya. "Skors satu minggu," balas Bisma dengan menatap tajam ke arah mereka. Hembusan nafas berat Regan pun mulai berhembus, beberapa teman satu tim basket Regan pun turut menghela nafasnya sedikit lega karena untung saja mereka tidak sampai di keluarkan dari sekolah. "Bagaimana?" tanya Bisma dengan menautkan kedua alisnya. Regan mengangguk ragu. "Baiklah, kami akan menjalani hukuman skors itu." "Bagus, lalu bagaimana dengan kamu Vanya?" tanya Bisma kepada Vanya yang masih berdiri santai. "Dengan senang hati saya menerimanya," balas Vanya sambil mengeluarkan smirk andalannya. "Terserah kamu saja, yang penting kalian harus menggunakan waktu skorsing ini sebaik-baiknya dan renungkan perbuatan kalian agar kalian tidak mengulanginya kembali," ucap Bisma sambil menghela nafasnya berat. "Baik Pak," balas Regan dengan nada tegas. "Nanti saya akan menghubungi orang tua kalian masing-masing mengenai hukuman skorsing kalian," ucap Bisma. "Sekarang kalian boleh pergi," lanjut Bisma. Regan, Vanya dan lainnya pun mulai beranjak keluar dari ruangan bimbingan konseling itu. Saat Vanya sedang meraih handle pintu ruangan itu untuk menutupnya, suara Regan menginterupsi Vanya. "Maafin gue Van," ucap Regan seraya menatap sendu ke arah Vanya yang sedang menutup pintu ruangan bimbingan itu. "Untuk?" tanya Vanya seraya menaikkan satu alisnya. "Sorry gue tadi keterlaluan sama lo, lo benar Van. Gue memang bukan siapa-siapa lo dan sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi sebenarnya di kehidupan lo," balas Regan. Vanya menghela nafasnya. "Santai aja, gak usah dipikirin." "Tapi apa lo mau cerita yang sebenarnya sama gue? Kita juga udah kenal lama kan? Gue juga mau kok jadi tempat lo untuk berbagi keluh kesah," ucap Regan. "Gue gak bisa," balas Vanya seraya beranjak pergi dari hadapan Regan. "Vanya!" panggil Regan kepada Vanya yang sudah berjalan menjauhinya. "Biarin dia sendiri. Dia butuh waktu Re, mungkin saja dia punya masalah yang cukup berat," ucap Reza seraya menepuk bahu Regan dari samping. ***** Kaki jenjang Vanya mulai melangkah ke arah rooftop, hari ini Vanya resmi di skors. Vanya memanfaatkan sisa waktunya di sekolah hari ini untuk berdiam diri di rooftop sembari mendengarkan lagu yang mengalun indah di telinganya. Kini Vanya mulai menaiki satu persatu anak tangga yang menuju ke rooftop SMA Garuda. Sesampainya di rooftop, Vanya mulai membaringkan dirinya di sofa lapuk yang sudah biasa dia tempati. Perlahan Vanya menutup matanya, beberapa menit kemudian suara lagu yang mengalun indah di headset miliknya berubah menjadi dering telfon. Dengan cepat Vanya segera membuka matanya dan mengumpulkan kesadarannya. Vanya berdecak sebal. "Siapa sih? Ganggu gue tidur aja." Dengan gerakan malas, Vanya pun menjawab panggilan telfon yang ternyata dari Dinda. "Halo," ucap Vanya dengan nada malasnya. "Lo dimana Van?" tanya Dinda dari seberang sana. "Rooftop," balas Vanya singkat seraya menggaruk pipi kanannya yang sedikit gatal. "Si anjir gue dari tadi nungguin lo, tapi lo malah enak-enakan bolos di rooftop," umpat Dinda. "Gue gak bolos b**o! Gue di skors," ucap Vanya dengan nada kesalnya. "Lah? Ngapain lo bisa di skors? Ketahuan ngerokok lo?" tanya Dinda. "Bukan lah! Gue udah gak pernah ngerokok Dindaku tersayang," balas Vanya seraya memutar bola matanya malas. "Gue di skors karena gue ngehajar si Gavin. Banci yang nusuk Arvin sampai koma," lanjut Vanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD