9

752 Words
"Lah? Keciduk lo?" tanya Dinda. Vanya memutar bola matanya malas. "Iya jelaslah! Nyatanya gue di skors, berarti kan gue keciduk d***o!" "Iya-iya, santai dong Ratu. Ya udah kalau gitu nanti sore ngemall yuk!" ajak Dinda dengan nada bersemangat. "Boleh juga tuh, gue juga udah lama gak ngemall. Sekalian mau ngehabisin duit si tua itu," balas Vanya sambil terkekeh. "Jangan panggil dia begitu Van, dia Ayah lo Van," ucap Dinda memperingatkan. "Hm iya sorry. Nanti sore gue jemput di rumah lo aja, atau kita pulang sekolah langsung aja ke mall," balas Vanya. "Okay, siap bos!" ucap Dinda lalu memutuskan sambungan telfon mereka. Belum lama dari itu, jari-jari lentik Vanya mulai menari-nari di atas ponselnya untuk mencari satu nama yang akan Vanya hubungi. Setelah menemukan seseorang yang akan Vanya hubungi, Vanya pun menekan tombol berlogo telfon di ponselnya. "Halo bos! Ada apa?" tanya seseorang dari seberang sana. "Gue ada tugas baru buat lo, cari seseorang yang sama sekali bukan anggota tim basket Regan atau anak buah gue yang berani masuk ke basecamp gue kemarin sore saat gue ngehajar Gavin," balas Vanya. "Baik bos laksanakan!" ucap seseorang itu. "Bagus," balas Vanya lalu memutuskan sambungan telfon itu. Hembusan angin pagi menjelang siang di rooftop itu mulai kencang, hembusan angin yang mampu membuat rambut seorang Vanya seolah berterbangan. Kini mata hazel milik Vanya mulai memejam sejenak menikmati semilir angin yang berhembus. Seketika Vanya terlelap dan bermimpi, ****** Lampu ruangan bernuansa putih itu masih saja menyala menampilkan warna merah yang berarti sedang ada kegiatan operasi yang dilakukan. Seorang gadis cantik tampak sedang terduduk di kursi tunggu ruangan operasi itu, gadis itu selalu merapalkan doa-doa dan menatap penuh harap ke arah pintu ruangan operasi yang masih tertutup rapat itu. Bulir-bulir air mata gadis itu masih setia mengalir deras dari pelupuk matanya, bahu gadis itu bergetar hebat. Seolah menunjukkan bahwa dia sedang menahan isak tangisnya. Gadis itu bernama, Revanya Putri Alexandra yang masih duduk di bangku SMA. "Bunda harus kuat ya," ucap Vanya lirih. "Anya di sini untuk menemani Bunda," lanjut Vanya seraya menatap ke arah ruang operasi itu. Sejenak Vanya teringat oleh sang Ayah yang belum mengetahui keadaan sang Bunda sekarang. Tangan mulus Vanya mulai merogoh ke dalam saku rok abu-abunya untuk mencari handphone miliknya. Setelah menemukan handphone miliknya, Vanya pun segera mengeluarkan handphone berwarna hitam yang berlogo apel dari dalam saku roknya. Jari-jari lentik Vanya mulai menari-nari di atas layar handphonenya untuk mencari sebuah nomor yang dia beri nama 'Ayah', dengan gerakan secepat kilatnya, Vanya segera menekan tombol telfon kepada nomor sang Ayah. Beberapa saat kemudian, Vanya mulai menempelkan handphonenya ke telinga kanannya. Seperkian detik kemudian ada suara yang membalas panggilan telfon itu. "Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Harap hubungi beberapa saat lagi," "Sial! Mengapa operator yang menjawab telfonku dan bukan Ayah!" gerutu Vanya. "Ayolah Ayah! Angkat telfonku!" ucap Vanya seraya menelpon Ayahnya kembali. "Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Harap hubungi beberapa saat lagi," "b*****t! Astaga, ya Tuhan bagaimana ini?" Vanya menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. "Please, satu kali saja. Angkat Ayah!" ucap Vanya seraya menekankan tombol telfon kepada nomor sang Ayah. Beberapa detik kemudian setelah Vanya menekan tombol telfon itu, terdengar suara pria paruh baya yang menjawab panggilan telfon itu. Seketika mata hazel Vanya berbinar senang. "Halo Ayah!" panggil Vanya. "Ada apa? Kau mengganggu saja!" bentak Alex. "Ma ... maaf Ayah, Va ... Vanya hanya ingin memberitahu jika Bunda sedang menjalankan operasi cangkok ginjalnya," balas Vanya dengan sedikit terbata-bata. "Oh begitu," ucap Alex dari seberang sana. Vanya mengerutkan dahinya. "Apa Ayah tidak khawatir? Ayolah Ayah kemari, temani Vanya di rumah sakit. Vanya takut menunggu sendirian." "Hahaha! Apa katamu? Saya khawatir? Tentu saja tidak! Saya ....," ucapan Alex terpotong saat ada seorang wanita yang sedang bersamanya memanggil dirinya. "Sa ... sayang, ayo lanjutkan permainan kita. Telfon sialan itu mengganggu aktivitas kita di hotel ini," panggil wanita itu dengan suara serak. Seketika hati Vanya terasa sangat sesak, bulir-bulir air mata Vanya pun jatuh tak tertahankan. Kepala Vanya dengan spontan pun menggeleng, seakan mengisyaratkan untuk ketidak percayaan. "Ayah? Ayah dimana? Siapa wanita itu?" tanya Vanya diiringi dengan isak tangisnya. "Di hotel bintang lima yang saya pesan dengan wanita pilihan saya," balas Alex dengan nada tenang. "Apa yang kau lakukan Ayah? Jangan mengkhianati Bunda!" bentak Vanya. "Kau yakin ingin mengetahui apa yang ku lakukan? Aku sedang bermain di atas ranjang dengan wanita pilihanku, dan soal pengkhianatan itu? Oh tentu aku tidak perduli. Urus saja Bundamu! Jangan menggangguku lagi anak sialan!" balas Alex dengan nada tinggi lalu memutuskan sambungan telfonnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD