Nama yang Sama

979 Words
Ternyata semesta selucu itu. Dia menakdirkan kita untuk bertemu. Setelah diam-diam, mengukir namaku dan namamu pada hal yang sama. *         "Apa?” teriakan Dewi seketika membuat seisi kelas 3A Matematika terlonjak kaget dan menatap kepada perempuan dengan label aneh tersebut.         “Ewik,” seru Adi sang ketua kelas atau yang familiar di dunia perkuliahan dengan sebutan kosma. “Nggak usah berisik, bisa, kan?” tanyanya kesal.         Bukan Dewi namanya kalau ia akan mendengarkan orang begitu saja. Tanpa menoleh sama sekali ke arah Adi, Dewi kembali menfokuskan dirinya kepada Anye.         “Nama dia Dewa Prasetyo?” tanyanya tak yakin. “Dewa?” seru Dewi. “Prasetyo?”         Anye menarik pergelangan tangan Dewi agar kembali duduk di kursinya. Tujuan Anye menceritakan tentang Dewa adalah agar Dewi menghindar dari segala hal yang akan membuat murka cowok itu membumbung ke angkasa. Hanya saja sahabat anehnya ini malah fokus kepada nama lengkap Dewa.         “Nggak ada mirip-miripnya sama nama lo,” ujar Anye tahu sekali tentang apa yang ada di pikiran Dewi saat ini. “Nggak usah heboh.”         “Nggak ada mirip-miripnya gimana?” tanya Dewi. “Beda di huruf vokalnya aja.”         “Nah itu,” seru Anye. “Beda di huruf vocal,” tutur Anye. “Jadi lo tahu, kan kalo nama kalian beda. Jadi, nggak usah heboh.”         Dewi berdecak. “Astaga. Sebanyak miliyaran manusia di atas bumi ini kenapa harus ada namanya yang sama persis kayak gue?”         “Anak ini,” desah Anye tak percaya. “Eh, manusia kaleng. Nama lo itu pasaran. Sangat amat pasaran sekali kalo boleh gue boros pake kalimat,” ujar Anye. “Jangan berharap lo satu-satunya.”         Dewi menatap Anye, lalu mulai memasang wajah masam. Rasanya hal-hal kecil sangat mampu membuatnya membuat kesal setengah mati.         *         “Apa lo bilang?”             Dewa tidak bergeming sama sekali ketika teriakan itu terdengar mengisi seluruh ruangan mewah ini. Ia hanya menatap santai pada seorang pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.         “Lo udah denger apa yang gue bilang,” balas Dewa datar.         Gio, sang wakil AA corp. semakin menajamkan tatapannya terhadap Dewa. “Kenapa lo ceroboh banget sih?” erang Gio kesal.         “Bukan gue,” jawab Dewa cepat.         “Gue nggak peduli sama cewek itu.” Gio juga menyela cepat. “Yang gue tahu proyek besar ini berpotensi gagal.”         “Gue bisa buatin lagi. Kasih gue waktu seminggu.”         “Seminggu pala lo botak?” kesal Gio. “Besok pagi perwakilan dari Oemar Development Co. udah mendarat di sini,” cecar Gio.         “Lo bisa ajak mereka survei lokasi dulu,” balas Dewa. “Atau jalan-jalan. Apa aja,” kata Dewa. “Lo kan udah ahli, Bang.”         Gio mendengus. Menghunuskan tatapan menusuknya kepada Dewa sekali lagi. “Nggak elo, nggak Aga sialan emang kalian semuanya.”         Dewa hanya melihat Gio yang mulai melimpahkan kekesalannya. Dewa tahu kalau beberapa bulan yang lalu, AA corp. hampir kehilangan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan besar asal Unit Emirat Arab tersebut karena Aga, sang CEO sekaligus pemilik kabur begitu saja dari meeting. Meninggalkan Gio yang kalang kabut menjelaskan kepada mereka saat itu dengan mengarang berbagai alasan.         “Lima hari,” sabda Gio. “Dalam lima hari miniatur elo nggak kelar, hidup lo yang gue kelarin.”         Dewa tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Hanya saja ia tahu betul kalau setelah ini, ia akan meninggalkan kasurnya untuk beberapa saat.         *         “Sini lo,” ujar Dewa sambil menarik tangan Dewi yang baru keluar dari kantin.         “Eh, eh.” Dewi berteriak kaget. Lalu dengan langkah terseok-seok ia berjalan mengikuti langkah lebar Dewa. “Ada apa sih?” tanya Dewi.         Dewa menghentikan langkahnya. Dengan sedikit mengerahkan kekuatan ia melepaskan tangan Dewi. Membuat perempuan itu menatap Dewa dengan sengit. “Lo hobi banget pake tenaga,” kesal Dewi. “Lo nggak pake tenaga kuda juga gue rasa udah bisa matahin tulang gue.”         “Bacot,” balas Dewa. “Ganti rugi lo.”         “Ganti rugi apa?” tanya Dewi.         Dewa menajamkan tatapannya. Seketika langsung membuat Dewi mengerti. “Oh, yang kemarin.” Lalu Dewi mulai merogoh tasnya dan mengeluarkan dompet. “Gue cuma punya dua ratus ribu cash,” kata Dewi sambil menunjukkan dua lembar uang ratusan di depan wajah datar Dewa. “Harus gue bayar berapa?” tanya Dewi. “Papan-papan kecil kayak gitu berapaan sih?”         Dewa mengatupkan rahangnya, menahan diri agar tidak kembali melakukan kekerasan fisik kepada gadis di depannya ini. Demi Tuhan, tangannya sudah gatal sekali ingin menghancurkan sesuatu.         “Eh gue kayaknya punya seratus ribu di kantong celana. Wait the minute,” kata Dewi sembali merogoh saku celananya. Kemudian bersorak senang saat mendapati dua lembar uang lima puluh ribuan dari sana. “Tiga ratus ribu, cukup nggak?”         Dewa mengukur kadar emosinya sendiri. Hanya saja dalam skala satu sampai sepuluh, kemarahannya sudah mencapai angka seratus. Jauh di atas batasnya.         “Ng.” Dewi menatap Dewa lama. “Nggak cukup ya?” tanyanya. “Gue harus bayar berapa?”         “Lo pikir gue nggak ada uang?” teriak Dewa.         Dewi memperhatikan penampilan Dewa dari atas sampai ke bawah, lalu kembali menatap wajah Dewa dan menggeleng pelan. “Tapi lo tadi minta ganti rugi,” sela Dewi. “Tunggu bentar deh, kayaknya gue masih punya uang di sini,” ujar Dewi. Lalu gadis itu mengeluarkan semua isi tasnya, membuat mereka kembali menjadi tontonan.         Dewa memperhatikan Dewi yang mengacak-acak isi tasnya, lalu mengumpulkan uang receh untuk kemudian ia serahkan ke Dewa.         “Lumayan ini cukup sampe seratusan. Empat ratus ribu nggak cukup juga, ya?”         Membuang napasnya kasar, Dewa berkata garang. "Jangan sampe gue liat lo lagi."         Setelah mengucapkan hal itu  Dewa memilih pergi dari sana. Sebelum keinginan untuk mencekik manusia bernama wanita itu benar-benar menguasai dirinya. Lupakan saja untuk kali ini. Sesekali ia memang harus menekan amarah. Lain kali kalau ia berurusan dengan cewek itu, akan Dewa pastikan ia akan memberikan pelajaran yang setimpal.         *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD