11 – Cantik

1221 Words

Sejak tadi, senyum Mama tak luntur dari bibirnya. Senyum itu menular pada seisi rumah, termasuk aku salah satunya. Jika ada yang berkata, seorang ibu menjadi pilar utama dalam kelangsungan rumah tangga, itu benar. Apa pun yang Mama rasakan, akan dirasakan juga oleh seisi rumah. “Jadi, setelah ini Chiki boleh sekolah, Ma?” Gadis yang selalu setia mengenakan kupluk itu menatap penuh harap. Tatapan itu hanya ditujukan pada Mama yang duduk di sebelahnya. Mama selalu berusaha melayaninya, yang sekarang duduk tepat di depanku. “Ya, tentu saja. Chiki bisa sekolah. Tapi, Chiki tidak lagi sekelas dengan teman-teman Chiki yang dulu.” Mama menjelaskannya dengan pelan. Dengan nada suara paling ringan yang semoga saja bisa diterima oleh Chikita. Mama pernah membahas soal ini padaku. Bagaimana cara me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD