Terpaksa Nikah - 4

1270 Words
Revan duduk di sebuah kursi, menunggu Hana dan kedua temannya datang. Melihat Hana memasuki Cafe Revan tersenyum. Senyuman Revan ditanggapi dingin oleh Hana. "Cantik" gumam Revan. Hana mendengar gumaman itu namun tidak peduli. Alunan lagu Cantik dari Kahitna di kafe itu sangat pas dengan perasaan Revan saat ini. Cantik ingin rasa hati berbisik Untuk melepas keresahan dirimu oh Cantik bukan ku ingin menganggumu Tapi apa arti merindu selalu oh ho Walau mentari terbit di utara Hatiku hanya untukmu Revan duduk di meja yang diperuntukkan untuk dua orang. Revan berdiri saat Hana datang dan menarik kursi mempersilakan Hana untuk duduk. "Kok kursinya cuma dua? Buat Mira dan Cecil mana?" "Mereka biar duduk di meja sebelah aja." ucap Revan "Gue pengen mereka satu meja sama gue." tawar Hana. "Hana, nggak papa kok kita beda meja sama lo." ucap Mira "Iya Han, kita nggak kemana-mana cuma di sebelah aja." Kata Cecil. Dengan berat hati Hana duduk tepat di depan Revan, Mira dan Cecil memilih duduk di meja lain tidak jauh dari meja mereka. Revan menatap Hana lekat-lekat, namun yang ditatap justru melihat ke arah lain. Ada hati yang termanis dan penuh cinta Tentu saja kan ku balas seisi jiwa Tiada lagi tiada lagi yang ganggu kita Ini kesungguhan sungguh aku sayang kamu "Kamu cantik," puji revan "Nggak usah muji-muji deh, langsung to the point aja. Jadi kak Revan mau ngomong apa?" "Segitu nggak sabarnya kamu, aku panggil waiter dulu. Pesen minum." Revan melambaikan tangan memanggil pelayan Cafe. "Nggak usah ber aku-kamu kak. Aneh." "Kalo gitu panggil sayang aja, ya ya ya?" "No, kak Revan bukan siapa-siapa aku!" "Aku pastiin kamu bakal jadi sayangnya aku." ucap Revan penuh percaya diri. "Ogah!" tolak hana sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tidak lama seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. Cantik bukan ku ingin menganggumu Tapi apa arti merindu selalu oh ho Walau mentari terbit di utara Hatiku hanya untukmu Ingin ku berjalan menyusuri cinta Cinta yang abadi untukmu selamanya "Kemarin kak Revan bilang ada dua hal yang mau disampein, yang satu terima kasih dan satu lagi apa?" Gue harus ngungkapin sekarang. Now or never. Batin Revan Revan mengambil nafas dalam-dalam mempersiapkan dirinya. Ini kali pertama ia mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis. Ada hati yang termanis dan penuh cinta Tentu saja kan ku balas seisi jiwa Tiada lagi tiada lagi yang ganggu kita Ini kesungguhan sungguh aku sayang kamu "Gue.suka.lo." "Hah?!" "Hana Maisya Wisesa, gue suka sama lo. Mau ya jadi cewek gue?" "Nggak!" Tolak Hana "Lo nolak gue?" "Iya" "s**t!" Revan tidak menyangka ia akan ditolak. Pembicaraan mereka terpotong karena pelayan yang membawakan pesanan mereka. "Kenapa? Kenapa lo nolak gue?" "Gue nggak mau pacaran." Hana menyesap minumannya. "Apa karena Rio?" Suara Rrvan meninggi. "Kak Rio nggak ada hubungan apa-apa sama gue." Hana menjawab santai sambil menikmati minumannya. "Terus kenapa?" "Gue nggak mau pacaran, itu aja." "Atau ... lo tipe ukhti-ukhti gitu ya yang maunya taaruf? Gue nggak keberatan kalo kita taaruf terus nikah." "Seragam gue masih putih abu-abu kak, untuk nikah masih butuh 2 setengah tahun lagi sampe gue lulus. Mana ada taaruf selama itu ?" "Gue bersedia nunggu, berapa pun lamanya. Asal orangnya itu lo gue bersedia." "Tapi gue nggak mau. Gue nggak pacaran dan gue nggak suka cowok yang hobinya tawuran." "Gue janji nggak bakal tawuran lagi, gue bakal ikutin semua mau lo asal lo jadi cewek gue." "Lo nggak paham juga ya. Gue. Nggak. Pacaran. Dah gue mau pulang." Hana berdiri lalu pergi. Revan mengepalkan tangannya sampai buku-bukunya memutih. ●○●○● "Gue ditolak." Revan duduk bersama sahabatnya Andre. "Apa?" "Gue ditolak Ndre. Ditolak." "Lo udah nyatain perasaan lo?" "Udah." "Terus?" "Ditolak. Tadi kan gue udah bilang gue ditolak ta*!" "Kapan?" "Kemaren." "Jadi abis kita ngobrol itu lo langsung nemuin dia?" "Iya." "Jelas aja lo ditolak, lo maen nembak aja nggak pake pedekate dulu. Dia kan beda nggak kayak cewek-cewek yang naksir lo." "Kelamaan Ndre, kalo pedekate dulu keburu ditikung Rio gue." "Cewek kayak Hana tuh spesial, dia berjilbab terus gayanya nggak ada centil-centilnya cool gitu masa lo nggak bisa bedain sama cewek yang biasa naksir lo. Wajar si lo ditolak, dia pasti seleranya tinggi." "Ta* lo!" Andre memang pernah melihat Hana. Pertama kali Revan datang ke sekolah Hana, Andre mengikuti dari kejauhan. "Terus gue harus gimana sekarang?" "Strategi tawuran aja lo jago, yang beginian lo payah!" "Lo punya saran?" "Kasih perhatian, cewek tuh bakal luluh kalo lo kasih perhatian. Nggak perlu yang besar yang penting sering walaupun kecil." "Gue harus nyusun strategi nih." ucap Revan sangat serius. ●○●○□ Setelah penolakan itu selama beberapa hari Revan tidak lagi datang ke sekolah Hana. Hana menjalani hari-harinya seperti biasa. "Kalian saya beri tugas membuat makalah berkelompok, satu kelompok berisi dua orang. Tugas kalian adalah membandingkan transportasi online dengan transportasi umum lainnya misalnya angkot. Cari responden minimal 100 orang untuk menjawab pertanyaan yang sudah saya siapkan. Lalu olah datanya, buat perbandingan dari sisi ekonomi dan sosial. Makalah dikumpulkan paling lambat 7x24 jam dari sekarang. Oh ya kalian juga harus merasakan naik kedua jenis transportasi itu, sertakan bukti berupa foto. Silakan pilih partner kalian" Jelas pak Joko guru ekonomi pada siswa di kelas Hana. Para siswa mencari partner tugas mereka. Hana satu kelompok dengan Cecil, Mira bersama Nita. Bel pulang berbunyi. Semua siswa merapikan tasnya lalu keluar kelas. "Kak Revan nggak ke sini lagi Han?" Tanya Cecil "Nggak." "Lo sih tega banget nolak babang Revan" "Kalo lo suka lo aja yang pacaran sama dia Mir" "Tapi kan dia sukanya sama lo Han" "Hana ada kak Revan!" "Heuh..."Hana menghela nafasnya. "Hai Han!" Revan melambaikan tangan sambil tersenyum. "Mau ngapain kak?" "Nganter kamu pulang" "Nggak usah, biasanya gue dijemput." "Mana? Jemputan lo belum dateng. Ikut gue aja" Keterlambatan mang Ade adalah bagian dari strategi Revan, untuk memberi cukup waktu bagi Revan mendekati Hana. "Mending gue nunggu mang Ade aja." "Yaudah gue nemenin lo nunggu" "Han, gue balik ya. Gojek gue udah dateng" Kata Mira "Gue juga balik Han. Nyokap ngomel nanti klo gue telat pulang." Ujar Cecil. "Bye Hana, kak Revan jagain Hana ya" Cecil dan Mira kompak. "Pasti" jawab Revan sambil mengacungkan jempolnya. Setelah Cecil dan Mira pergi, kecanggungan melingkupi keduanya. Revan mencari bahan yang bisa membuat mereka mengobrol. "Han, lo punya kembaran kan di Cakrawala. Hanif ya" "Iya" "Gue sempet ngobrol sama Hanif" "Gue tau" "Hanif cerita?" "Iyalah, nggak ada rahasia antara gue sama Hanif" "Dia tahu gue nembak lo" "Tau" "Terus menurut dia gimana?" "Nggak gimana-gimana, biasa aja" Duh mang Ade mana si, lama banget. Hana mengeluarkan ponsel nya lalu menghubungi supirnya. "Halo mang, kok belum sampe?" "...." "Ban bocor?" "....." "Cepetan ya mang!" "....." Hana menyimpan kembali ponselnya. "Kenapa?" "Ban mobil bocor jadi ganti ban serep dulu." Boleh juga tuh kerjaan si Andre. Batin Revan. "Gue anter aja gimana? Dari pada nunggu kelamaan." "Nggak. Dari pada lo yang anter mending naik taksi." "Jangan jangan. Jangan naik taksi. Nunggu di sini aja gue temenin." Nggak pa-pa lah nggak nganter pulang juga yang penting bisa ngobrol lama. Lanjut Revan di hati. "Han" "Hm" "Honey" "Kakak manggil apa?" "Nggak." Revan memegang tengkuknya. "Ng.. itu gue mau ngembaliin ini." Revan mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dari sakunya. "Sapu tangan gue. Kirain ilang." "Kan waktu itu lo pake buat nahan darah gue." "Oh iya ya. Makasih ya kak, sapu tangan ini penting banget loh. Dari oma gue." Hana tersenyum dengan matanya yang berbinar sambil memegang sapu tangannya. "Lo.. cantik banget kalo senyum gitu." puji Revan. Hana mengerjap. "Gue harap bisa sering liat senyum lo itu." "Eh itu mang Ade udah dateng. Makasih udah nemenin, bye kak!" Hana s.egera mendekati mobil. Sebelum masuk ia sempat menoleh ke arah Revan. Revan melambaikan tangan sambil tersenyum. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD