5 Maaf Pak Sengaja

937 Words
Tika sedang di dalam kelas sendirian, memainkan ponsel sambil memakan keripik kentang yang dibelinya dari mini market depan. Terlaku asik hingga tak tau ada orang yang datang padahal mereka tak pernah bisa tenang. Brak! Tia menggebrak meja Tika yang sontak membuat sang empunya terkejut sampai membuat ponsel yang sedang dipegangnya terjatuh, dan dia tersedak keripik yang dimakannya. “Minum dulu Tik” Lola menyodorkan air mineral yang memang sudah ada di atas meja. “Lo tu ngasal banget sih Ya'. Heran gua!” lanjutnya sambil menjitak kepala Tia pelan. Tia tak perduli, dia menyeret kursi terdekat lalu diduduki. Lola pun melakukan hal yang sama. “Lo, jadi asdosnya pak Juna Tik?” Tak menjawab, Tika justru memukul kepala Tia dengan botol air mineral yang dia pegang. “Lo beneran pengen gua mati muda Ya'? Gak perlu pake gebrak meja, asal lo panggil nama gua, gua pasti denger!” “Ck” Tia berdecak “iya maaf” katanya sedikit tidak ikhlas. “Tapi bener kan elo asdosnya pak Juna?” tanyanya lagi. Tika memutar bola matanya malas. Gini ini yang bikin dia melas berurusan sama dosen yang katanya calon imam Tia itu. Kalau nggak dikerjain sama si Andre sang ketua kelas dia gak bakalan jadi Asdosnya pak Juna. Dia melas ribet dengan menjawab semua pertanyaan gak bermutu sahabatnya. “Hm” jawab Tika singkat. “Lo punya nomernya?” “Hm” Tia tersenyum penuh arti. “Gua minta dong Tik, kita kan udah temenan sedari orok.” “Terus, hubungannya nomer pak Juna sama kita temenan sedari orok apaan?” “Yaa ... karena kita udah temenan sedari orok, elo pasti bantuin gua dong. Lumayan kan, bisa jadi kalo gua sama pak Juna jodoh nilai kalian A terus” “Bodo’ Ya' gua gak perduli. Gua gak mau ikut-ikut. La, lo juga jangan ikut-ikut! Si Tia ini emang suka bikin masalah. Tapi karena dia sendiri yang bikin jadi nanti kalo ada apa-apa biar dia juga yang beresin!” Lola mengangguk sedikit tidak yakin, karena dia kemarin sudah menemani Tia buat modusin pak Juna di perpus. “Tik, pliss dong. Janji gak bakalan gangguin elo lagi abis ini” Tia mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. Berkata dengan nada memohon. “bulshit!” Jawab kedua temannya. Tia sehari aja gak gangguin mereka? Tangannya langsung alergi mungkin. “Nanti ada waktunya lo dapet nomer pak Juna” kata Tika lalu meminum kembali air mineralnya. “Gua juga bilang gitu tadi, tapi susah emang kalo ngomongnya sama kembaran bayi dugong” timpal Lola. “La,” Tika memegang tangan Lola “dia bukan kembaran bayi dugong. Tapi kutil kudanil” keduanya tertawa. “Bukan, dia itu daki kebo” keduanya tertawa lagi. “Ohhh ... Tapi kenapa lebih mirip komedonya mimi peri ya?” sekarang mereka terbahak. Jika untuk menistakan satu sama lain, meraka pasti akan kompak. “Kalian emang cocok ya, sama-sama upil gorila sih” Jawab Tia asal. Namun bukanya tersinggung kedua temanya malah tertawa semakin keras. “Syutt! Stop!” Kata Tia “radar pak Juna gua bunyi, gua yakin orangnya ada di luar pasti” Tia berlari ke arah pintu, lalu celingukan. Dilihatnya Juna tak jauh dari kelasnya. Meski hanya terlihat punggungnya saja. Tapi Tia yakin, karena selain Arya pemilik punggung peluk abel bagi Tia itu ya Juna. Tia berlari ke arah Juna, mengambil kesempatan memeluk punggungnya dari belakang dan menempel sepedti cicak. “Ups, maaf pak, saya sengaja” katanya. “Oke, tapi bisa kamu lepaskan tangan kamu dan menyingkir dari saya?” ujar Juna sambil berusaha melepaskan tangan Tia yang melingkari perutnya. “Maaf pak, gak bisa, salah siapa punggung bapak ini sandarable  kan Saya jadi gak tahan buat gak meluk bapak” “Kamu tidak lihat, banyak orang yang menatap ke arah kita?” Tanya Juna mengingat mereka sedang ada di koridor kampus yang dipadati mahasiswa. “Bagus dong pak, kan mereka jadi tau kalo pak Junjun itu milik Athia seorang” jawab Tia tak perduli. Juna mengernyir bingung. “Siapa Junjun?” Tanyanya. “Bapak Dong, itu panggilan sayang dari Tia khusus untuk calon imam” Juna menghela nafas lelah “Sekarang bisa kamu lepaskan tangan kamu dan menyingkir dari tubuh saya?” Tia menggeleng di balik punggung Juna “Gak bisa” katanya “punggung bapak itu pas banget buat saya peluk. Seakan-akan punggung bapak ini di ciptakan emang Cuma buat Athia Putri seorang” “Ck” Juna berdecak “anak kecil!” gumamnya tapi masih terdengar oleh Tia. “Bapak jangan salah, orang yang bapak sebut 'anak kecil' ini bisa menghasilkan 'anak kecil' tau!” jawab Tia menekankan kata anak kecil. “Kalo bapak gak percaya hayu lah kita buktikan!” “Dan itu bukan kata-kata yang seharusnya terucap dari mulut seorang mahasiswi seperti kamu!” Ujar Juna dingin. Dia melepaskan paksa tangan Tia yang melingkar di perutnya. Memutar tubuhnya dengan masih tetap memegang tangan Tia erat. "Saya ingatkan kamu! Jaga sikap kamu di depan saya! Saya adalah dosen kamu, saya tidak mengerti kenapa bisa ada wanita sebar-bar kamu, dan setidak tau malu kamu! Kamu adalah seorang wanita, sudah selakyaknya kamu bersikap sopan dan menjaga kehormatan kamu di depan seorang pria! Dan saya beri tau" Juna mendekatkan wajahnya ke telinga Tia" saya tidak berminat dengan anak kecil seperti kamu" Tia terpaku, tubuhnya menegang, entah karena syok atas perkataan Juna atau perlakuannya. Melihat itu, Juna menyunggingkan senyuman sinis, dia menghempaskan tangan Tia kasar, lalu meninggalkan gadis itu. Sedang Tia masih terpaku di tempatnya. Setelah sadar apa yang terjadi, Tia berteriak di tempatnya. "Maaf pak, saya itu orangnya konsisten, sekali saya mau bapak, saya bakal dapetin bapak! Bapak bilang gak suka anak kecil?! Liat aja nanti, bapak bakal punya banyak anak kecil dari saya!" Teriakan Tia menggelegar di sepanjang lorong kampus. Semua yang sudah mengenal Tia tidak akan merasa heran. Namun Juna, pria itu menunduk merasa malu. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah ajaib Athia Putri itu, yang tidak lain adalah mahasiswinya. Sementara di depan kelas, "Tik, temen lo tu! Malu-maluin banget!" Ujar lola, yang sudah menyaksikan drama dosen masasiswi itu dari awal. "Temen lo kali, gua gak berasa punya temen model gitu!" Jawab Tika tanpa menoleh. Ya, mereka mengikuti Tia saat melihat Tia berlari keluar kelas, dan mereka tak terkejut dengan drama yang disuguhkan di depan mata itu. Karena mereka memang tau keabsurdan seorang Tia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD