4.Calon Mantu

954 Words
“Assalamualaikum bunda ... puterimu yang cantik jelita pulang. Tiadakah terbesit niat di hati bunda untuk menyambutnya?” Tia berdiri di depan pintu. Dan membuat keributan seperti biasanya. “Waalaikum salam. Tia! Bisa nggak sih, kalo pulang itu gak usah teriak-teriak! Malu kedengaran tetangga. Bunda gak b***k!” Santy-bunda Tia- datang dari arah dapur. Dengan membawa sebilah pisau dan talenan. “Bun, tolong bun, gini-gini Tia masih darah daging bunda. Anak bunda satu-satunya.” Tia mundur teratur, meneguk ludah yang serasa menyangkut di ujung tenggorokan. “KDRT itu di larang bun. Pelakunya bisa di penjara. Dan Tia gak mau bunda sampe ngalamin itu.” “Kamu kenapa sih?” Tia berkedip, menunjuk hati-hati pisau juga talenan yang di bawa sang bunda. “Bunda mau cincang Tia? Tia gak akan minta disambut lagi bun. Beneran deh. Nanti tiap abis pulang ngampus Tia langsung masuk kamar. Tapi ya gak usah nyambut pake bawa-bawa piso segala lah bun” Santy tertawa ”Maaf-maaf-maaf. Bunda tadi lagi motong bawang di dapur.” Setelah mengucapkan itu, Santy berjalan kembali menuju dapur lalu hilang tertelan pintu. “Assalamualaikum semuanya ... ayah yang ganteng banget kayak Jin Bts pulang, yang absnya kayak punya Jungkook come back, yang duitnya lebih banyak dari Soho Exo disini.” Jangan lupakan satu anggota keluarga lagi yang ... ahh, mungkin sikap tidak tau malunya Tia itu faktor keturunan. “Ayah, Tia disini” Tia menutup telinganya, menatap Arya-ayahnya- datar. “Eh? Anak ayah, calon istrinya Sehun. Sejak kapan kamu berdiri di situ?” “Sejak pintu terbuka, lalu ada manusia yang berteriak menyombongkan diri, padahal itu semua hanya mimpi” “Ah, bisa aja anak ayah yang cantik banget ngalahin bidadari” Arya tak menghiraukan kata-kata sang anak. Dia tau Tia hanya bercanda. “Ayah tumben udah pulang jam segini? Biasanya menjelang maghrib baru sampe rumah?” Tia mendekati ayahnya, mencium punggung tangan, lalu berjalan memesuki rumah beriringan. “Kebetulan hari ini kerjaan ayah gak sebanyak biasanya” Arya tersenyum hangat. “Ayah doain Tia aja biar cepet wisuda terus dapet kerja. Nanti ayah sama bunda tinggal istirahat duduk dirumah, Tia yang cari duit” Tia memandang Ayahnya, ayahnya memang masih muda, umurnya baru memasuki 45 dan rupanya juga awet muda. Persis om om di novel-novel. “Gak usah, nanti kalo Tia udah kerja, uangnya Tia tabung buat kita liburan sekeluarga” jawab Arya. Tia tersenyum lalu kembali melangkah. Menggoyangkan tangan ayahnya yang ia gandeng.  “Nanti kita ke arab saudi dulu, abis itu ke negara ibu mertua. Gimana? Ayah setuju? Setuju dong. Masa mau ketemu besan gak setuju” “So pasti setuju dong. Jadi dari semuanya, mertua kamu orang tua siapa?” “Nanti Tia semedi dulu, buat cari pencerahan”  --- “Kamu lagi liat apa?” Arya menghampiri putrinya yang sedang duduk bersila di atas sofa dengan tv menyala, tapi kepalanya malah menunduk. “Calon mantu ayah” jawab Tia singkat tak mau repot-repot mengangkat kepala untuk melihat sang ayah. “Siapa? Sehun? Yang yang badannya kayak badan ayah ini?” Tia menggeleng Arya mengernyit “Taehyung? yang tingkahnya masya Allah absurd?” Tia menggeleng lagi “Ahh ... atau seokjin yang jago masak?” Tia masih menggeleng. “Terus siapa?”  Tia mendongak “Namanya Arjuna Pamungkas, dosen Tia di kampus” katanya “ni, ayah liat fotonya, gantengkan?” Tia mengangkat handponnya. Arya mengangguk, lalu mengernyit dalam. “Yakin kamu, itu dosen di kampus?” “Yakin lah, masa sama dosen sendiri gak yakin sih?” “Ya ... kan kirain” Arya memalingkan wajah, sedang Tia mendengus. Arya masih belum percaya jika foto yang dilihatnya tadi adalah dosen sang anak, bisa jadi kan, Tia ngambil fotonya dari google? Untuk manusia seaneh Tia, itu bisa terjadi. Sedang Tia, dia juga tau jika ayahnya tak percaya. Padahal Tia gak bohong, Tia suka heran, kenapa human-human di bumi ini bawaannya curigaan terus sih kalau sama Tia? “Tia gak bohong yah, kalo ayah gak percaya, ayah bisa liat langsung ke kampus. Cari aja dosen yang namanya Arjuna Pamungkas, pasti semua orang juga tau. Lagian ini fotonya Tia ambil waktu dosen Tia itu mau keperpus kok.” Tia menjelaskan, berharap sang ayah percaya. Tia akhir-akhir ini punya hobi baru, mengstalk dosennya. Berhubung Juna tak punya akun media sosial, dia berinisiatif untuk mengambil foto dosennya itu. Mulai dari Juna yang lagi mengajar,  yang lahi baca buku, Juna yang lagi makan diruanganya, bahkan sampai Juna yang mau masuk kamar mandi Tia punya fotonya. Mungkin ditempat yang lain Juna sedang merinding sekarang. “Anggap aja ayah percaya”  “Suka suka ayah aja deh, Tia bodo amat!” “Eh, tapi nasib calon mantu ayah yang ada di Korea gimana?” Tia menggeleng, “Tia mau cari yang pasti pasti ajalah. Mereka itu bagai bintang, ada untuk dipandang, bukan digapai.  Karena sebanyak apapun kita berusaha bintang tak akan pernah bisa tergapai. Bahkan orang yang katanya pernah keluar angkasa pun, gak ada satupun yang pernah pulang bawa bintang” Arya mengangguk setuju, Tia sedang berevolusi menjadi Tia yang bijak. “Lagian Tia gak pengen jauh-jauh dari ayah sama bunda, sekarang besok atau selamanya. Kalau pun harus jauh, seenggaknya gak beda negara”  “Tapi sebenernya jauh itu kalo udah beda planet sih, kalo beda negara naik pesawat juga sampe. Kalo beda planet kan harus naik roket”  “Ayah! Tia serius ih! Ayah mah gitu bercandanya gak tau tempat. Kan tadi Tia lagi bijak, udah keliatan kalem juga” Tia memukul pundak Arya, arya mengaduh kecil lalu meminta maaf sambil tertawa kencang. Gak ikhlas minta maafnya. “Tapi kenapa kamu gak mau jauh-jauh dari ayah bunda? Padahal ayah sama bunda ngarepnya kamu tinggal jauh-jauh lo. Ayah tu ada niat buat bikin kejutan buat kamu” Tia mengangkat sebelah alisnya “apa?” tanyanya. “Kalo dikasih tau bukan kejutan lagi dong namanya. Tapi gak papa, biar kamu gak penasaran, ayah kasih tau sekarang aja” Arya tersenyum, senyum yang sarat akan makna. “Apa?” “Niat ayah itu kalo kamu tinggalnya jauh kan ayah sama bunda di rumah berdua doang tu. Jadi ayah mau bikin program adik baru untuk Tia. Bagus kan?”  Tia mendengus, memukul lengan Arya lagi. Arya mengaduh kecil. “Gak boleh! Tia gak mau tau pokonya gak boleh! Ayah itu udah tua!” “Ayah keluar rumah, terus ngaku masih umur 30 juga orang percaya” Iya juga sih “gak boleh, tetep gak boleh.” Tia heboh, “nanti kalo Tia udah nikah, waktunya ayah nyayang cucu bukan malah punya anak yang udah kayak cucu!” Arya tertawa, putrinya itu memang penuh dengan kejutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD