Juna menghempaskan badanya kesofa ruangan khusus di cafenya. Ia ingin istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah di tubuhnya. Di ruangannya Juna itu ada kaca sebesar papan tulis, kacanya itu langsung menghadap ke cafenya. Dia biasanya liatin pelanggan yang dateng dari kaca itu, kalo lagi gak disuruh Arga jual tampang di kasir. Tapi kacanya gak tembus pandang kok kalo dari luar, jadi aman kalo dia sama Arga lagi bikin aib. Tapi ada yang berbeda kali ini di meja sudut yang tak jauh dari ruangannya, Tia beserta teman-temannya sedang duduk menikmati segelas capuccino. Tumben, biasanya juga mereka di kantin. "Liatin apa sih Jun, serius banget?" Arga datang sambil menepuk bahu Juna. "Enggak" jawabnya Arga mengikuti arah pandang sepupunya, setelah melihat objek yang menarik matanya dia ter

