Dua episode drama Korea dan dua bungkus kacang atom sudah dihabiskannya. Celingukan, dia belum menemukan siapapun di kelasnya. Ternyata, Lola dan Tika masih betah berada di kantin. Dan teman yang lain sepertinya sudah datang, namun masih enggan masuk kelas. Mengingat, kelas masih akan di mulai 30 menit lagi.
"Mending scroll-scroll ig aja deh." Monolognya.
Membuka aplikasi i********: di ponselnya, Tia mulai meng-scroll-scroll layar berandanya. Seperti anak kpop kebanyakan. Tia juga tak jauh berbeda. Semua media sosialnya tak jauh dari 'bau-bau' Korea.
Lola dan Tika masuk kedalam kelas. Mereka menganmbil tempat duduk di sebelah sang sahabat dengan Tia di tengah-tengah.
Merasa Tia tak merespon dan terkesan tak perduli dengan kehadirannya juga Tika, Lola berujar; "Betah amat mantengin hp, gak cape nunduk mulu?"
Merasa tersindir, Tia mendongak. "Kalo yang dilihat fresh kayak mereka sih, satu hari nunduk sambil mantengin hp juga gua sanggup. Lain cerita kalo yang dilihat modelannya kek elu gini. Jangankan satu hari. Satu menit aja gua udah melambaikan tangan ke arah kamera!" Jawab Tia sinis.
"Lo tau? Apa bedanya elo sama sampah plastik?"
"Jelas bedalah b**o!" Tia membentak. Gila aja dia disamakan dengan sampah plastik.
"Gak! Gak ada! Lu sama sampah palstik itu gak ada bedanya! Sama-sama gak berguna, menjijikan, mengotori lingkungan, menganggu pemandangan, merepotkan lagi!" Lola menjawab dengan sama membentaknya. Beda dengan Tika, jika sedang berdebat dengan Tia. Lola lebih sering menggunakan urat. Masih heran, mereka itu jarang akur, tapi masih betah berteman.
Tia melirik ke arah botol air mineral di atas meja dan Lola bergantian. Dia tersenyum sinis. "Katanya gak berguna, menjijikan, mengotori lingkungan, mengganggu pemandangan, merepotkan lagi! Tapi kok masih beli sesuatu yang ada bahan plastiknya?" Jawab Tia santai. Merasa sudah menang dari sang sahabat, yang lebih mirip kucing dan tikus.
Lola melirik botol air mineralnya "kalo yang ini kan masih berguna! Gak liat masih ada isinya?" Katanya
Tia mendengus. "Eh, titsan plangton! Sekarang memang masih berguna. Tapi kalo udah abis isinya juga bakal lo buang lo jadiin sampah! Lo pikir, dari mana sampah-sampah yang menggunung itu berasal? Piring terbang?!"
"Eh, sodara ikan buntal! Sorry ya! Gua gak pernah jadiin barang kayak gini sampah ya! Gua selalu kumpulin abis itu gua jual ke orang-orang yang suka bikin kerajinan tangan! Ginini, kalo kuliah yang dipikirin cuma opa-opa. Jadi dangkal kan pikirannya!"
"Stop! Kalian bisa gak sih debatnya yang agak bermutu dikit? Segala plastik sampah dibawa-bawa. Nyadar! Kalian tu sama-sama sampah tau gak!" Tika angkat suara. Jika dibiarkan, sampai nanti pulang pun mereka akan terus melanjutkan perdebatan. Karena mereka berdua sama-sama tak ada yang mau mengalah.
"Hem, yang waras ngalah." Ujar Lola santai.
Tia tersenyum tipis. Sepertinya masih ingin melanjutkan perdebatan.
"Mengakui aja lah kalo kalah debat sama gua! Gak usah pake bawa-bawa kewarasan segala"
Lola akan menjawab sebelum Tika menghentikan.
"Udah diem! Dosen bentar lagi masuk!"
Celingukan, Lola dan Tia mendapati teman-teman sekelasnya telah duduk dehgan tenang. Sepertinya kelas benar-benar akan dimulai sebentar lagi.
Lola dan Tia saling lirik.
Tersenyum, Tia bertanya; "Lo gak bohong kan soal dosennya ganteng?"
Lola ikut tersenyum, "lo jangan pernah ngeraguin tingkat keakuratan Lola Amanda" ucapnya.
Lalu mereka ber-tos ria. Sepertinya mereka sudah akur untuk sementara.
"Oke deh, kalo beneran ganteng berarti udah dipastiin dia calon imam gua!"
Lola memutar bola mata malas. "Sadar diri lah kentang!"
Sedang Tika menghela nafas panjang. "Serah deh, serah. Gua masih waras. Jadi, gak berteman sama orang-orang yang punya ganguan kejiwaaan" ucapnya lirih.
"Asslamualikum gays" seseorang masuk kedalam kelas.
"Waalikum salam." Jawab semuanya tak terkecuali Tia.
"Masya Allah, ini mah terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa" ucapnya dalam hati. "Bukan human ini mah udah pasti angel!"
"Sepertinya semua sudah tau ya jika saya adalah dosen baru di kampus ini. Nama saya Arjuna Pamungkas. Kalian bisa memanggil saya pak Juna" ucap sang dosen.
"Kalo dipanggil sayang aja boleh nggak?"
"Ada pertanyaan?"
Tiara, mahasiswi yang suka membeli baju kurang bahan mengangkat tangan. "Pak, bapak masih singel atau sudah taken?"
Juna tersenyum tipis. Amat tipis. "saya bukan singel sih sebenernya. Cuka belun dipertemukan aja sama jodoh" jawabnya dengan nada sedikit bercanda.
"Wah, berarti masih ada kesempatan dong untuk salah satu dari kita?" Gantian Intan, mahasiswi cantik dan multitalenta bertanya.
Juna tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Masih sama tipisnya dengan pertanyaan pertama.
Tak lama, Tia mengangkat tangan, "Pak boleh saya minta tolong?"
Juna mengernyit bingung. Mahasiswinya ini, baru di pertemuan pertama, bahkan belum mulai belajar sudah meminta tolong?
Merasa tak mendapat jawaban Tia kembali angkat suara. "Tolong bapak jangan kebanyakan senyum"
"Loh? Kenapa? Tentu kita semua tau jika senyum itu ibadah?"
"Itu untuk senyum yang wajar pak. Kalo senyum bapak itu gak wajar. Senyum bapak itu gak baik buat jantung saya. Senyum bapak yang tipis banget kayak buku seribuan itu, mengalihkan duniaku" lanjutnya.
Juna menanggapi dengan hanya senyum tipis lagi. Namun sedikit lebih lebar dari yang dilihat mahasiswa nya tadi.
"Oke kita sudahi sesi tanya jawabnya. Kita mulai belajarnya."
---
Tak terasa dua jam berlalu. Entah karena sang dosen yabg menyejukkan mata, atau cara mengajarnya yang mudah dipahami mahasiswa? Atau, suranya yang bagai deburan ombak yang menenagkan ditelinga?. Yang pasti, semua mahasiswa terbawa suasana hangat yang diciptakan sang dosen. Meski Juna memiliki perawakan yang lumayan dingin.
"Kita sudahi materi hari ini, ada pertanyaan?"
Tia mengangkat tangan.
"Iya, kamu?"
"Sebelumnya saya mau mengenalkan diri dulu pak, jangan sampai calon imamnya tidak tau nama calon makmunya sendiri. Nama saya Athia Putri, Biasa di panggil Tia. Tapi terkusus untuk bapak, mau panggil sayang juga boleh."
"Huu, di panggil sayang aja bangga. Situ gak tau ya? Makanan jatuh juga panggilannya sayang loh" potong Ricko, salah satu mahasiswa yang memiliki julukan ' mahasiswa abadi'.
"Sirik aja lo daki komodo!" Sinis Tia. Ricko ini, gak bisa banget liat yang lain seneng.
"Saya cuma mau ngasih tau aja pak, nanti pulangnya lewat selatan ya pak" Tia melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
Juna tak menjawab. Lagi-lagi dia hanya mengernyitkan dahinya.
Merasa tak ada jawaban Tia melanjutkan kembali kalimatnya.
"Soalnya perasaan saya ke bapak udah gak bisa di utarain"
Setelah itu, Tia mendapatkan sorakan dari teman sekelasnya.