1.Gosip

712 Words
Tia Berjalan dikoridor kampus, celingukan dia menghela nafas panjang. Tak menarik seperti biasanya. Tia berjalan ke Arah kantin, setidaknya dia bisa menemukan seseorang yang bisa membuat kampus menjadi sedikit menarik. Ya ... Hanya sedikit. Uhuk, uhuk Suara gebrakan meja membuat Tika, sahabat Tia terkejut. Memutar bola mata dia melirik ke arah objek yang membuatnya tersedak kuah bakso. "Lo mau bikin gua mati muda ?!" kesalnya. "Ups, maaf. Gua gak sengaja. " Tia membela diri. Duduk di depan sang sahabat, dia meminum es yang ada di atas meja. "Minta dikit." ucapnya saat melihat tatapan tidak suka dari Tika “Lo tau nggak? Lo itu ganggu! " “Masa sih? Kok gua gak merasa lagi gangguin elo ya Tik? Jangan ge-er dong! " "Muka tembok emang!" "Muka jodohnya Sehun ini!" Tika diam. Orang kayak Tia itu gak usah di ladenin. Bikin naik darah, juga bikin kita dikira orang gila. Merasa Tika tak menjawab lagi Tia mulai berulah lagi. Tersenyum dia tarik mangkok bakso di depan Tika. Lalu memakanya dengan gaya slow motion. Dia tersenyum saat melihat wajah merah sang sahabat. Tia memang jagonya kalo bikin orang naik darah. "Beli sendiri dugong!" Teriak Tika. Kesal dia menuangkan es tehnya ke mangkok. Biar gak ada yang makan sekalian. Dari pada makan bakso tapi malah bikin darah tinggi. “Gak boleh mubazir makanan Tik. Lo tau ?, banyak banget orang yang gak bisa makan di luaran sana. Dan lo dengan mudahnya nuangin es teh ke bakso yang lagi di makan sama orang? ” Tia tidak kesal dengan apa yang dilakukan sahabatnya barusan. Karena ia tau, Tika memang seemosian itu. "Oh, lo merasa lo itu orang?" “Hem, emang lo bisa ngomong sama selain orang?” “Gua kira selama ini lo itu setan!” Emosi Tika menaikan suaranya. “Gua baru tau kalo lo temenan sama setan.” Jawab Tia santai. “Assalamualikum gays, tumben ni pada akur? Ngobrol gak ngajak-ngajak ya kalian” Suara lain mengintrupsi. “Kalo lo mau ngobrol sama kembaran bayi dugong ini sih silakan, gua mah ogah” ucap Tika. “Lo ngulah lagi, Ya?” tanya Lola, teman Tia yang baru dikenalnya saat pengospekan maba. “Gak, dia aja yang emosian”  Tia menunjuk Tika dengan dagunya. Tika tak merespon “Heran gua, kenapa kalian bisa sahabatan dari kecil sih? Padahal tiap hari berantem doang?” “Itu seninya berteman, La. Lo yang temenanya bukan sama orang mana ngerti.” Jawab Tia. “Iya sih, lo kan bukan orang.” Ucap Lola, Tia itu muka tembok emang. “Eh, Btw gua ada gosip nih.” Ucapnya lagi. “Apa? Apa?” Tia semangat. Tia itu emang selalu semangat kalau berhubungan sama gosip. “Ada dosen baru gays. Masih muda umurnya baru 28 katanya, ganteng lagi.” Lola lebih semangat. Mereka memang cocok. Heran aja kenapa Tika mau ada di tengah-tengah mereka?. “Gila! Ini beneran kan?” Tanya Tia. “lo gak lagi bohong kan, La?” lanjutnya lagi. “Ngapain juga sih gua bohong?” “Itu yang dinamakan paket komplit, udah ganteng, masih muda, mapan lagi. Cup! Kalo beneran ganteng, dia punya gua!” Tia menunjuk dirinya bangga.  “Yakin lo, tu dosen mau sama muka kentang kayak elo?” Lola terkekeh, "saingan Lo itu anak sekampus pecinta laki tampan dan mapan, Ya'. Gak yakin gua dari sekian banyak lautan manusia dia bakal milih kentang kayak elo.” “Emang siapa sih yang bisa nolak pesona seorang Athia Putri heh?” “Muka kentang gaya sok Miss internasional” sela Tika, setelah diam cukup lama. “maaf ya mbak Tika yang terhormat, Miss internasional juga bakal minder kalo ketemu gua di jalan. Udah ah, bay!” ucap Tia, lalu berdiri hendak pergi, namun Lola memegang tangannya. “Mau kemana lo?” tanyanya. “Ke kelas” “Ngapain? Belajar” kembali, Lola bertanya. “dih, ya kagak lah. Gua mau nonton drakor bay!” Meninggalkan teman-temannya, Tia berjalan santai menuju kelas. Dia berfikir, akan setampan apa dosen barunya ini? Semoga memang tampan seperti yang Lola bilang. Mirip Sehun Misalnya, atau Jimin, Atau Namjoon. Yang penting perutnya berbentuk roti sobek bukan donat. Tia emang suka donat. Tapi kalo buat di elus-elus roti sobek lebih enak.  Sampai di kelasnya, dia duduk di bangku paling belakang. Kelas sepi, karena memang kelasnya baru di mulai satu jam lagi. Ini gara-gara bundanya, udah di bilangin hari ini masuk siang, tapi gak percaya. Padahal sama anak sendiri. Akhirnya terpaksa Tia berangkat pagi jam 6.30 padahal masuknya jam 10.00. Tapi untungnya Tia sempat meminta Lola dan Tika berangkat lebih pagi sebelum mandi tadi. Jadinya dia tidak begitu ngenes karena harus sendirian di kelasnya. Tia mengeluarkan ponsel dan headset dari dalam tasnya. Tidak lupa kacang atom yang sebelumnya ia beli di minimarket dekat kampusnya. Gak pa-pa deh berangkat pagi, dia malah bisa nonton episode drakor yang belum dia tonton kan jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD