MAYDAY

1810 Words
[Cockpit View | 9:18 PM | 2 Hours after Bird Strike – Above Indiana Ocean] Pesawat yang mereka tumpangi mengudara dengan kecepatan maksimal dengan hanya satu engine yang menyala menuju Cocos Keeling Island Airport. Dan Claude Sasongko yang mengambil alih tugas Baskara menjadi Pilot Flying sekaligus Pilot in Command yang artinya merupakan penanggung jawab penuh Boeing 777 300 ER dengan seluruh isinya berusaha sangat keras untuk mengendalikan pesawat agar tidak mengalami stall. Claude berusaha sangat keras agar pesawat yang ia bawa tetap dalam posisi normal, dia juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak menaikkan sudut angle of attack. Karena kalau ia salah sedikit saja bukannya gak mungkin kalau pesawat mereka kehilangan daya angkat dan posisi mereka sekarang yang glide juga sangat rentan bagi kecepatan udara mereka, salah posisi sedikit saja bisa mengakibatkan sayap mereka untuk kehilangan daya angkat dan berakhir jatuh seperti batu. Dia tidak ingin! dan tidak ingin membayangkan itu terjadi – it's really scary! Dan dua jam kemudian mereka lewati dengan kecemasan yang luar biasa, mereka hanya perlu bertahan hingga dua puluh menit ke depan untuk sampai ke Cocos Keeling Island, dan semuanya akan baik-baik saja. Semua orang yang berada di dalam kokpit terus waspada, disela-sela tugas nya mengendalikan aircraft itu agar tetap stabil, Claude sesekali memastikan keadaan Baskara yang bertambah memburuk seiring waktu. Pria itu bersandar lemas di kursi miliknya walaupun tubuh nya lemas tidak bertenaga mata Baskara berusaha fokus untuk memonitor keseluruhan instrumen pesawat, tidak ingin ada kesalahan karena memang hanya ini kesempatan satu-satunya yang mereka miliki. “Learnmonth Tower contact TWA Indonesia 756 radar service terminated contact Cocos Keelingan island 133.50.” Suara dari Air Traffic Controller Learnmonth International Airport, memberitahukan bahwa mereka akan memasuki kawasan radar Cocos Keelingan Island Airport. “TWA Indonusia 756, Cocos Keeling island 133.50 bye bye,” kata Radean dengan suara yang tegang kentara. Di saat Claude memfokuskan diri untuk mengendalikan pesawat, Radean dan Algis juga terus menajamkan mata mereka untuk memantau seluruh panel instrumen juga sesekali mengecek kondisi Baskara. Di dalam kokpit tidak ada lagi yang bersuara selain desingan berisik angin dan suara mesin yang dipaksakan untuk melampaui limitnya, semua orang begitu fokus dan tenang namun dibalik ketenangan mereka tersimpan kekhawatiran yang mendalam tentang bagaimana mereka akan mendaratkan pesawat yang mereka tumpangi dalam satu bagian – tidak hancur – “Cocos Keeling Island tower receiving Indonusia TWA- 756 do you have us on radar? We have you on primary radar confirm you are at 30 miles out?.” Air Traffic Controller Cocos Keeling terdengar mengkonfirmasi keberadaan mereka setelah pesawat TWA-756 berada dalam jangkauan radar airport Cocos Keeling Island. “This is Indonusia TWA-756, we are trying to make the runway please describe runway heading and lengths.” Baskara yang masih tidak memungkinkan untuk mengambil alih Pilot Monitoring digantikan oleh Radean yang mulai membantu Claude mengakumulasi runway yang akan mereka gunakan untuk landing. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah melakukan flight ke Cocos Keeling Island jadi semuanya benar-benar baru. – tidak ada pilot briefing, Pilot Flying, Pilot monitoring, IRO Duties dan Threat Error Management.– tidak ada, mereka harus menebak-nebak sendiri dan itu bukan perkara yang mudah. Jadi Claude harus berusaha sangat keras memahami kondisi tempat ia akan mendaratkan pesawatnya. “Indonusia TWA -756, Runway is fifty and thirty three eight thousand nine feet long airport dead ahead on your prison heading please advise when you have insight.” jawab mereka perlahan, memastikan bahwa Crew TWA 756 tidak melewatkan satu pun informasi penting tersebut. “Indonusia TWA 756, We can not see the airport yet, we will tell you when we can," balas Radean dengan tangan yang sibuk mengakumulasi safety landing untuk pesawat mereka. Bagi Radean sendiri itu bukan hal yang mudah dia bukan expert pengetahuannya mengenai Boeing tidak sebagus pengetahuannya mengenai Airbus. “Kita dekat juga dengan Christmas Island ya?” tanya Claude memastikan, pria itu menoleh sejenak ke arah semua orang yang berada di kokpit. “Iya lebih dekat sih sepuluh miles out namun Runway dari Christmas Island tidak terlalu panjang masih panjang milik Cocos Keeling Island Airport.” Radean menyahut, sesuai dengan perhitungan nya jarak antara mereka dengan Christmas Island sebenarnya memang lebih dekat daripada Cocos Keeling. “Fuel, bobot dan dimensi dari Boeing sendiri memang gak memungkinkan sebenarnya untuk kita mendarat di ke dua airport," kata Algis mengingatkan. Pesawat yang mereka bawa berdimensi cukup lebar dan Boeing ER sendiri merupakan versi large-nya, terbesar di dunia lebih besar dari pesawat manapun dan gak banyak airport yang punya landasan pacu yang panjang. “Okay, keputusan kita untuk ke Cocos Keeling Island adalah yang terbaik untuk saat ini,” kata Claude, suaranya malah terdengar seperti dia tengah meyakinkan dirinya sendiri. “Iya benar,” jawab Algis menepuk pelan pundak Claude, pria itu menyetujui dan mendukung Claude sepenuhnya. Kalau harus mengikuti Standar Operasional Prosedur dari Maskapai atau pun dari Boeing mereka aslinya gak boleh mendaratkan pesawat mereka di landasan pendek tapi kalau mereka harus memaksa mencapai airport yang punya landasan panjang bukannya gak mungkin kalau mereka bisa saja jatuh ke laut leboh dahulu sebelum sampai. “Captain, minimum rat speed is one hundred forty knots maximum speed for gravity gear extension two hundred knots,” Radean mengingatkan kembali Standar Operasional Prosedur sesuai dengan aircraft log book dan Claude mengangguk mengerti. Mereka semua sama-sama khawatir dan juga gugup karena kini mereka memasuki masa-masa paling berbahaya dan kritis dalam kondisi yang tengah terjadi– mendaratkan pesawat Boeing 777- 300 ER yang mereka tumpangi dengan utuh– “I am not lowering the gear until last minute okay.” Ingat Claude kepada semua orang, pria itu tidak ingin ada kesalahan dalam pendaratan super bahaya yang mereka jalani. “Okay as your command Captain.” Radean mengangguk mengerti, doa menghormati pilihan Claude sepenuhnya. “Tapi saya juga sedikit khawatir karena runway nya tidak sesuai dengan standar prosedurnya," sambung Radean dengan suara pelan, pria itu mengutarakan kembali kekhawatirannya. Claude pun paham hal itu normalnya untuk Boeing tipe 777- 300 ER yang merupakan pesawat terbesar di dunia, mereka memerlukan at least two thousand feet untuk landing. “Cocos Keeling Island Airport adalah pilihan terbaik kita, Aircraft kita berdimensi lebar dan kita hanya memiliki pilihan untuk mendarat di Cocos Keeling Island atau Christmas Island. Saya gak menyarankan kalau kita harus bertahan sampai Metropolis dengan glide kita enggak akan sampai," kata Claude dengan suara yang tercekat. Pria itu gak ingin mengambil resiko lebih besar lagi, sudah terlalu banyak yang dia korbankan untuk mengambil keputusan ini. “Kamu benar Captain.” Kata Algis menyetujui. Baru saja mereka selesai berdiskusi dentingan alural dari berbunyi berbarengan dengan suara master cautions yang kembali berbunyi. Mereka seketika menegang di tempat mereka masing-masing dan suasana kokpit mendadak lebih mencekam karena mereka tidak dibiarkan lega walaupun hanya sedetik. Claude dengan segera mematikan alarm master cautions yang berbunyi nyaring sebelum memindai semua monitor mencari apa lagi yang salah dengan pesawat mereka, hingga caution terus memberikan mereka warning. “We rapidly lose altitude,” ucap Algis dengan suara bergetar setengah takut setengah terkejut, saat melihat bahwa ketinggian mereka perlahan turun karena tidak ada daya angkat. “Now we little lose power on the engine two,” kata Radean menambahi, pria itu mengkonfirmasi keadaan engine mereka. Seperti yang di serukan oleh Radean maupun Algis, Claude dapat melihat dalam master monitor bagaimana jarum speed mereka perlahan menurun. Claude yang bertanggung jawab penuh terhadap pesawat mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tetap waras dan dapat berpikir untuk menemukan solusi yang terbaik untuk semua orang dia harus bisa menjadi orang yang paling rasional ditengah tekanan luar biasa ini. Sekali lagi Claude mengamati panel instrumen yang menunjukkan bahwa memang benar mesin mereka perlahan kehilangan daya. “Engine two idle,” Radean memberikan konfirmasi kepada Claude bahwa mesin kedua mereka memang positif idle mesin kedua pesawat mereka mamang benar dalam kondisi stasioner di mana energi yang digunakan hanya sedikit atau berfungsi namun sangat pelan. “Okay calm, I start the engine ... engine Start.” Dengan suara setenang mungkin Claude mencoba menyalakan kembali mesinnya sesuai dengan standar prosedur yang ada di Quick Reference Handbook. “Not working,” jawab Baskara dengan lirih, pria itu dalam kesadaran yang tipis melihat bagaimana frustasinya temannya itu yang harus memikul beban seorang diri. Pengumuman dari Baskara dan Radean tidak membantu Claude sama sekali, dia luar biasa tegang di detik-detik mendekati approach mereka kembali menemukan masalah pada instrumen mereka. Suasana dalam kokpit mendadak senyap karena mesin kedua sekaligus mesin pesawat terakhir yang mereka miliki secara perlahan kehilangan daya. Dan beberapa saat kemudian suasana di dalam kokpit senyap tanpa ada suara berisik mesin hanya ada desingan angin yang sangat menakutkan tidak berhenti di situ saja sedetik kemudian semua instrumen pesawat mati karena tidak ada lagi daya pada pesawat, dari kokpit Claude juga dapat mendengar dengan jelas pekikan terkejut dari cabin passenger. Dan disusul suara para flight attendant yang mengintruksikan semua orang agar tetap tenang dan memasang safety belt semua orang mungkin sangat terkejut karena lampu padam dan tidak ada suara bising lagi. Semua orang sedang menjalankan tugas masing-masing dan Claude tidak akan menyerah begitu saja. Claude tahu semua orang takut dan sedang menahan diri mereka sendiri. Tidak ada yang bisa tenang saat mereka berada di atas awan, dengan kondisi pesawat yang mati total dan hanya kegelapan yang menemani mereka, tidak ada yang bisa tenang saat nyawa mereka yang dipertaruhkan. Jarak mereka dengan Cocos Keeling Island adalah fourty miles out yang jadi masalah disini adalah ketinggian Altitude mereka yang sangat rendah untuk mencapai Cocos Keeling Island. Claude tidak tahu apakah pesawat mereka dapat glide sejauh itu atau tidak. “Okay we totally lost thrust on the engine two Captain!” Umum Radean saat monitor telah memastikan bahwa daya mereka benar-benar telah hilang. “I am starting the APU, get out the QRH book,” kata Claude cepat tanpa membaca QRH Claude percaya bahwa menyalakan Auxiliary Power Unit adalah pilihan yang paling tepat sekarang mereka tidak memiliki daya jadi APU lah yang mereka butuhkan untuk menggantikan energi untuk fungsi lain selain propulsi dengan Claude menyalakan APU setidaknya itu dapat mensuplai kelistrikan pesawat walaupun terbatas. Baskara mengulurkan QRH book yang berada di tangannya kepada Radean yang segera di terima pria itu untuk mencari penyelesaian atas masalah mereka. Saat Claude menyalakan prosedur APU, Radean berusaha menemukan issue yang sesuai dengan kondisi mereka sekarang. setelah menemukannya dia melakukan Checklist kepada semua instrumen sesuai dengan petunjuk QRH Book. Beberapa detik setelah Claude menyalakan APU, panel light instrumen di dalam kokpit kembali menyala berbanding terbalik dengan suasana cabin passenger yang masih gelap gulita dan senyap mencekam karena APU sebagai generator cadangan hanya dapat mensuplai sedikit kelistrikan di panel instrumen kokpit. “Mayday mayday mayday we lost thrust on both engine and now we are gliding now!” Teriak Claude. “....” “Claude–" “INDONUSIA TWA 756 MAYDAY MAYDAY MAYDAY!” kata Claude sekali lagi berusaha menjangkau ATC mana saja yang dapat menerima signal Mayday dari mereka saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD