Squawka 7700

1950 Words
Cockpit View Above Indiana Ocean, Australia – [07:10 PM Mid-Flight After Bird Strike] “Radean apa yang sedang kamu lakukan!” Mengabaikan teriakan Annelyn di belakangnya Radean memaksakan tubuhnya untuk masuk ke dalam kokpit di ikuti oleh Algis Hestamma dibelakangnya. Mereka lalu menutup pintu kokpit dengan susah payah dan mengunci pintunya dari dalam hingga tekanan di cabin passenger kembali normal, setelah memastikan bahwa udara di cabin passenger normal setidaknya mereka dapat fokus untuk mengendalikan masalah yang ada di dalam kokpit. Begitu Radean dan Algis masuk kedalam kokpit dia melihat Claude Sasongko memegang kemudi pesawat dengan wajah pucat pasi pria itu kesulitan bernapas karena hypoxia. Semua orang tahu semakin tinggi posisi mereka dari permukaan air laut maka oksigen semakin tipis dan Radean tahu bahwa Claude dan Baskara tidak memiliki cukup oksigen dalam jaringan untuk mempertahankan fungsi tubuh mereka sendiri. Dan yang paling memperhatikan selain itu adalah keadaan Baskara Mannue yang setengah tubuhnya terjulur keluar jendela karena kaca depan yang pecah. Radean bertindak cepat memasang masker oxygen kepada Claude lalu melanjutkannya dengan duduk di jump seat di ikuti Algis yang juga duduk di jump seat samping Radean, mereka memasang seatbelt dan masker oxygen. Tangan Algis memegang erat tubuh belakang Baskara mencoba menarik tubuh itu ke dalam namun sia-sia sedangkan Claude yang tahu kalau dia tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan Baskara dari Hypoxia. Dia mulai berusaha untuk mengambil alih kontrol pesawat dari sistem yang terus eror, dia mencoba melakukan manual aircraft seorang diri, terlalu beresiko namun dia tidak memiliki banyak waktu nyawa Baskara dan semua orang yang di pertaruhan disini. Claude mendorong mundur perlahan yoke ditangannya mengontrol pesawat, dengan pitch hingga membuat pesawat kembali mendaki ke atas hampir dengan posisi vertikal tajam membuat tubuh Baskara yang sebelumnya berada di depan kini terhempas ke belakang berlawanan dengan arah windscreen. Radean dan Algis menahan tubuh Baskara dengan erat mencoba mendudukkan pria itu di kursinya dan memasangkan shoulder harness untuk pria itu walaupun sulit mereka tetap melakukannya dengan secepat mungkin. Tangan Radean dan Algis menarik Baskara sekuat tenaga hingga pria itu duduk kembali di kursinya dengan setengah sadar, pria itu terserang hypoxia parah. Radean paham betul, mereka ada di ketinggian tiga ribu dua ratus kaki dan hanya punya tidak lebih dari dua menit untuk tetep sadar dan sepertinya Baskara berada di ambang kesadaran itu, dengan cekatan Radean memasang masker oxygen tangannya kembali menutup pintu kokpit yang kembali terbuka dan menguncinya memastikan bahwa cabin temperatur tidak turun. Karena tidak mungkin bagi Baskara untuk melakukan tugasnya dan Claude yang tengah sibuk mencoba menstabilkan pesawat, akhirnya Radean memutuskan untuk mengambil alih tugas Baskara dan membantu Claude menjadi Pilot Monitoring untuk pria itu Pertama-tama Radean mematikan alural warning dan melakukan reset pada master cautions bersamaan dengan Algis mereka melakukan non-normal checklist lalu berlanjut melakukan test warnings untuk memvalidasi indeks peringatan sesegera mungkin karena mereka gak punya banyak waktu untuk memikirkan segalanya. “We got rollin back," kata Algis berseru dia melepaskan masker oxygen nya sejenak sebelum menepuk keras bahu Claude dan Baskara mencoba membuat mereka kembali dari poor coordination. Bagaimana pun juga Claude dan Baskara lah yang memegang kendali penuh aircraft dan tiga ratus lima nyawa ada di tangan keduanya. Keadaan windscreen yang blow out tentu saja membuat keadaan menjadi tidak memungkinkan untuk berpindah duduk. Baskara yang mulai dapat bernafas dengan normal menekan tombol Squawka tujuh tujuh kosong kosong disampingnya memberikan sinyal kepada Air Control Service bahwa pesawat mereka dalam keadaan darurat dan butuh pertolongan segera. Claude yang tahu kalau satu mesin mereka kehilangan daya mencoba memanfaatkan peluang glide yang ada karena mesin pesawat yang masih berputar karena aliran udara yang melewati baling-baling dimanfaatkan Claude untuk melakukan windmilling namun tidak berhasil- they lost thrust. Satu engine tidak bisa dinyalakan kembali walaupun mereka telah mengikuti prosedur sesuai dengan Emergency Responses Guide sebuah Buku Panduan Tanggap Darurat, untuk Responden Pertama Selama Fase Awal keadaan bahaya pesawat. “Decompression!” kata Radean berteriak tepat di samping Claude dan di respon anggukan Claude. Dan satu-satunya keputusan yang paling mendesak dan masuk akal yang bisa mereka lakukan sekarang adalah menurunkan ketinggian dengan segera agar memperoleh supplai oksigen yang mencukupi sebelum memutuskan melakukan prosedur yang berikutnya. “Start Descend to ten thousand, fourty thousand feet," kata Claude selaku pilot flying, dia memberikan command untuk semua orang. “Clear descend to fourty thousand feet, Mayday mayday mayday we’ve lost thrust on engines one and the windscreen blow out!” Radean yang menggantikan Baskara menjadi seorang Pilot Monitoring dengan segera mengecek altitude mereka ia juga berusaha untuk berkomunikasi dengan Air Traffic Controller Learnmonth International Airport satu-satunya airport servis terdekat dalam jangkauan mereka, sedangkan Algis menekan tombol memasukan altitude ke dalam sistem. “Mayday Mayday Mayday! Indonusia TWA 756 Contact Learnmonth International Airport," teriak Radean kencang berusaha membuat suaranya cukup terdengar untuk Air Traffic Controller. “What? Sorry sir? I can hear you," sahut Air Traffic Controller Learnmonth di ujung sana imgin kembali mengkonfirmasi apa yang ia dengarnya. “We’ve lost thrust on engines one and the windscreen blow out!” Ulang Radean penuh penekanan. “What?The windscreen blowout!- supp! we have emergency here!!” Radean menepuk keras bahu Baskara menyuruhnya menaikan volume perangkat komunikasi mereka. Pria yang mulai sadar itu mengangguk lemah dengan tangan terjulur memutar volume. “We’ve got rapid decompression! Request Decrease to ten thousand feet.” Kata Radean meminta Air Traffic Controller untuk membersihkan jalur mereka. “We have cleared the traffic, you are safe at an altitude of ten thousand twelve thousand feet, TWA Indonusia 756.” kata mereka di ujung sana. “Bas!!” Algis berteriak keras di telinga Baskara membuat pria itu berusaha menegak kan badan nya. Walaupun sekujur tubuhnya sakit dan dia tidak dalam kondisi baik namun dia harus tetap mengendalikan pesawat karena tidak ada pilihan lain. “Lo bisa kan Bas hang on oke?” Baskara mengangguk, dia menoleh sejenak ke arah Claude yang sangat fokus meneliti panel sistem dan juga di saat yang bersamaan tengah mengendalikan pesawat. “A/p engaged,” kata Claude keras. “Check,” jawab Radean. “Gears up,” kata Claude lagi. “Check,” jawab Radean. “Okay!” Dengan perlahan Claude mulai menurunkan ketinggian pesawat dari tiga puluh ribu feet menuju ke dua belas ribu feet awalnya mereka mulai descent secara mulus. Namun saat pesawat mereka berada di altitude dua puluh lima ribu feet dengan speed hampir tiga ratus knots tanpa dapat mereka deteksi pesawat mereka masuk ke dalam posisi Clear air turbulence, jenis turbulensi pesawat yang sulit untuk dideteksi dan terjadi secara tiba-tiba. Keadaan clear air turbulence membuat pesawat mereka berguncang karena turbulence yang hebat dan saat itu juga mereka kehilangan transmisi dengan ground. “CAT.” Radean menekan panel di atas, kembali membunyikan dentingan hingga tiga kali memberikan peringatan kalau mereka mengalami turbulence yang keras dan cukup parah. Pesawat berguncang dengan hebat teriakan dan barang-barang yang berjatuhan di cabin passenger terdengar hingga kokpit dan Radean hanya berharap kalau semua passenger mematuhi perintah emergency safety procedure dari flight attendant dan ia juga berharap semua orang baik-baik saja walaupun kecil harapan itu terjadi. Dengan satu engine yang kehilangan thrust dan windscreen yang pecah benar-benar tidak menguntungkan mereka, pesawat mereka dalam bahaya, resiko stall dan kerusakan struktural pesawat ada di depan mata. Belum lagi oxygen yang hanya bisa mensuplai mereka untuk dua puluh dua menit ke depan, mereka di ambang kematian dan berharap ada keajaiban. Pesawat mereka mengalami penurunan lebih dari sepuluh ribu feet dengan cepat, Baskara yang peka dengan efek ‘terhempas’ karena clear air turbulence mendorong tuas ke depan dengan susah payah. Sedangkan Claude mencoba membuat pesawat berada dalam posisi normal. Alural sistem dari master cautions terus berbunyi nyaring menjadi latar belakang suara yang mencekam di kokpit. Tujuh menit berikutnya setelah berjuang mati-matian mempertahankan posisi pesawat mereka berhasil keluar dari CAT setelah menjauhi troposphere, dan berada pada ketinggian dua belas ribu feet. “Indonusia TWA-756 do you hear me?!" “Indonusia TWA -756?” Panggilan dari traffic controller itu terdengar berulang, dan Radean menghela nafas lega karena transmisi itu mulai bekerja kembali, ia mengambil alih komunikasi membiarkan Claude dan Baskara menstabilkan pesawat mereka yang masih melaju tidak stabil. “Indonusia TWA-756 call Learnmonth tower, we’ve got CAT, windscreen blow out, and lost thrust in one engine, and request an emergency landing!” “Are you declaring an emergency TWA-756.” “Yes, TWA-756 request an emergency landing!” “Okay, Do you want to go back to learnmonth TWA Indonusia 756?" Claude Sasongko melihat panel sistem, mengecek status fuel, engine dan altitude mereka. Baskara menggeleng pertanda itu tidak mungkin setelah melihat ke radar jarak antara mereka dan Learnmonth hampir mendekati sembilan belas ribu kilometer dengan keadaan di ambang hancur bagaimana mereka bisa kembali? Claude dan Baskara melepas masker oksigennya begitu pesawat mereka terbang dalam ketinggian aman untuk dapat bernafas dan berada dalam kondisi stabil, mereka mendesah berat. “I am afraid we can make it. Is there anything we can land on whatever that is?" Radean sangsi dengan pertanyaannya sendiri mereka ada di tengah samudra jadi apa yang mereka harapkan. “Seven hundred kilometres there is Christmas Island Airport. And one thousand kilometres for Cocos Keeling Island. Can you make it TWA-756?” Butuh lima detik untuk Claude dan Baskara memutuskan mereka akan landing dimana dengan keadaan Pesawat yang kehilangan satu engine dan kaca depan, dengan mempertimbangkan dimensi pesawat dan beba Maximum untuk mendarat mereka akhirnya memilih bandara dengan runway yang lebih panjang. “Let’s try Cocos Keeling Island.” ucap Claude dengan melihat semua orang yang berada di Kokpit, Baskara mengangguk setuju. “Indonusia TWA-756 heading to Cocos Keeling Island,” kata Radean kepada ATC meneruskan command yang dikatakan oleh Claude. “We contact Cocos Keeling Island for an Emergency landing you’re safe at an altitude of eight thousand to twelve thousand feet and sir, “ “Yes?” “Stay safe.” “Thank you.” “Passanger, this is your First Officer Claude Sasongko, TWA-756 will be makin an emergency landing on the Cocos Keeling Island. Please fasten your seat belt and follow our purser for safety procedure thank you. May god protect us.” “I will take over Capt,” Umum Claude saat melihat Baskara yang tidak dalam kondisi baik-baik saja, pria itu berada di batasnya. Mereka harus segera memutuskan siapa yang akan mengambil alih- Pilot in Command. “Claude.” “Nope look at you now!” “Claude benar Bas. Dan lo membutuhkan medis segera.” Algis menimpali, melihat keadaan Baskara yang tidak memungkinkan untuk mengendalikan pesawat sebagai seorang Captain. Baskara mengalah dia mengangguk dan berkata Ya dengan lirih, Claude beralih ke Radean menatapnya sejenak dengan tatapan penuh tanda tanya dan waspada, harusnya di dalam kokpit tidak boleh ada orang asing karena resiko pembajakan yang sangat tinggi. “You are-“ “Radean, saya salah satu passenger first class tapi saya adalah pilot too, saya punya enam lisensi.” Claude mengangguk kepada pria yang menolong mereka menghadapi krisis “Okay Radean aku mengerti, Algis aku butuh kamu untuk mengawasi instrumen dan Cabin Temperature get it, Radean descend to eleven thousand feet.” “Recovery Cabin temperature check Captain.” “Eleven thousand feet check and done.” Radean kembali memasukan altitude mereka ke sistem. “Airspeed.” Kata Claude “Check.” “Maximum engine two.” Kata Claude lagi. “Set done.” “Here we go, watch your head Bas.” kata Claude dengan keras. Pesawat mereka mengudara dengan kecepatan maksimal satu engine menuju Cocos Keeling Island. Dan Claude Sasongko berusaha keras untuk mengendalikan pesawat agar tidak mengalami stall, dan dua jam kemudian mereka lewati dengan kecemasan yang luar biasa, mereka hanya perlu bertahan hingga dua puluh menit ke depan. Hanya dua puluh menit dan seharusnya mereka baik-baik saja, ya harusnya mereka baik-baik saja bukan?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD