Bird Strike

1555 Words
Cockpit View Above Indiana Ocean, Australia – [07:02 PM Mid-Flight After Cruising Altitude] Sekali lagi Claude melirik Baskara yang baru saja menyelesaikan makan malamnya sedangkan ia memilih untuk melewatkan makan malamnya dan sebagai gantinya dia fokus untuk mengawasi instrumen aircraft – mereka harusnya bergantian untuk memonitor instrumen di dalam kokpit.– “I’m done,” katanya mengumumkan, pria itu memanggil Cabin Crew mereka untuk membereskan nampan miliknya sebelum kembali bertugas. “Lo benar-benar tidak ingin makan malam Claude? atau mau makan kudapan malam misalnya, menu kudapan mereka kali ini lumayan loh padahal.” “Nope, I am full Bas," tolak Claude cepat. “Bukan karena Cecila Fransisca?” tanya Baskara iseng, membuat Claude menatap kesal rekannya itu. Setelah penolakan Claude kepada Cecila Fransisca, wanita itu gak lagi memunculkan wajahnya di kokpit sebagai gantinya dia mengutus Maitre D'Cabin nya untuk menggantikan tugasnya. Crew Kokpit juga tidak berkomentar banyak karena tahu kalau Cecilia tetap memaksakan masuk kek kokpit pun suasana nya akan menjadi canggung dan intinya gak enak lah. “Tidak lah ngapain,” jawab Claude cuek, geram juga sebenarnya kalau dia diingatkan dengan Cecilia Fransisca. “Gue bisa minta yang lain untuk mengantarkannya," kata Baskara menggoda lagi. Pria itu nggak menyerah untuk menggoda temannyakarena bagi Baskara hal seperti ini sangat langka dan dia gak akan melewatkan setiap detiknya. “Gak Bas, enggak oke I am full," kata Claude begitu tegas, tidak goyah sama sekali. “Fine tapi jangan merengek kalau kelaparan ya setelah ini," kata Baskara pada akhirnya. Claude terkekeh, ia hanya mengangguk untuk merespon perkataan Baskara. “TWA Indonesia 756, Contact Learnmonth at 132.45.” Suara dari Air Control Service Learnmonth International Airport terdengar kala mereka melakukan prosedur maintaning flight level dan Claude segera menjawab panggilan itu mereka memang berada dalam jangkauan Air Control Service Learnmonth Airport yang memang secara khusus memandu lalu lintas untuk penerbang yang sedang menjelajah atau en- route flight. “132.45 Contact Learnmonth, TWA Indonesia 756 bye bye," kata Claude melakukan copy command kepada Air Controller Service Learnmonth International Airport. Gak beberapa lama setelah mereka melakukan maintaining flight level, Claude mengerutkan keningnya pria itu agak memajukan tubuhnya ke windshield untuk melihat dengan jelas apa yang ada di depan, karena gak yakin Claude menepuk lengan Baskara meminta perhatian pria itu. "Bas Bas what is that?" “Apaan Claude?” tanya Baskara meletakkan tumbler berisi kopinya di tempatnya sebelum menoleh ke arah Claude. Jari jemari Claude menunjuk ke kaca depan mereka setelah selesai mengontak Air Control Service untuk request frequency, Baskara yang hendak mengencangkan kembali shoulder harness belt -nya ikut melihat arah jari telunjuk Claude menghentikan sejenak kegiatannya. Dari penerangan aircraft light sekumpulan burung dalam skala yang cukup besar berterbangan ke arah mereka dan sialnya begitu semakin mendekat mereka berterbangan tidak tentu arah dan kebanyakan dari mereka menabrak kaca depan aircraft dengan sangat keras. “Oh s**t itu bird Strike!” kata Claude setengah berteriak, dan tanpa bisa terhindarkan pesawat mereka bertabrakan dengan burung dengan bobot seberat sembilan kilogram dan bentang sayap sepanjang hampir tiga meter itu dan menghasilkan guncangan yang cukup untuk membuat seluruh crew cabin siaga. “Is it Vultur Ruppel?” tanya Claude Setengah gak menyangka bahwa pesawat mereka bertabrakan dengan salah satu spesies burung terbesar yang masih ada di zaman modern ini. Dan Baskara mengangguk menyetujui, hanya ada Vultur Ruppel yang terbang lebih dari tiga puluh ribu kaki bahkan mendekati tiga puluh ribu tujuh kaki ketinggian jelajah Vultur Ruppel bahkan melebihi ketinggian jelajah rata-rata pesawat terbang, yang hanya berkisar antara tiga puluh lima ribu kaki dan sialnya mereka bertemu spesies itu sekarang, kejadiannya yang mustahil – langka namun sekarang terjadi. Baskara yang tersadar akan bahaya yang bisa mengancam mereka dengan segera menekan tombol di panel, membuat bunyi ding terdengar dua kali memberikan tanda kepada Cabin Crew untuk bersiap akan guncangan dan mengaktifkan safety belt sign. “Learnmonth Tower Contact TWA Indonesia 756. Identify status?” suara dari radio communication terdengar mengagetkan mereka berdua. “TWA Indonesia 756 to Learnmonth Tower, we hits birds.” Baskara melaporkan situasi mereka kepada Air Control Service Learnmonth yang mungkin menyadari penurunan altitude mereka yang tanpa melakukan konfirmasi lebih dulu. “Bas Bas!” panggil Claude lagi kali ini suaranya agak panik, Baskara yang merasa terpanggil segera mengalihkan pandangan nya dari panel dan ikut melihat Claude yang tengah memandang windscreen di depan mereka yang menampilkan keretakan. “Ini retak.” kata Claude dengan suara pelan. “Sial!” Umpat Baskara pria itu buru-buru mengkontak kembali Air Controller Service Learnmonth International Airport “TWA Indonesia 756, contact learnmonth tower!!!" “Bas pakai shoulder harness belt lo dulu woi !” Peringat Claude saat temannya itu melupakan shoulder harness yang harusnya tetap melingkar di tubuh Baskara, sepertinya pria itu melepaskannya saat sedang makan malam tadi. “Learnmonth tower here, TWA Indonesia 756 go ahead.” Belum sempat mereka berkata untuk membalas, windscreen di depan mereka pecah dengan suara keras mirip seperti ledakan dibarengi dengan kokpit yang kehilangan tekanan udara secara drastis. barang-barang ringan berterbangan tidak tentu arah di kokpit. Baskara yang tidak siap karena belum sempurna memasang shoulder harness belt tersedot ke depan namun untungnya tertahan dengan lap belt yang melingkar cukup kuat di pinggang pria itu yang memang pria itu kenakan tidak pernah dilepaskan. Sedangkan Claude yang melihat rekannya hampir tersedot membelalakkan matanya panik salah satu tangannya secara refleks terjulur berusaha menarik Baskara untuk duduk ditempatnya kembali namun tidak berhasil karena tekanan yang terlalu tinggi mustahil bagi dirinya untuk menarik Baskara kembali ke tempat. Keadaan kokpit menjadi chaos hanya dalam hitungan detik semua barang-barang berterbangan dan dalam hitungan kurang dari sepuluh detik mereka mengalami Rapid decompression kehilangan udara yang cepat di dalam kokpit, gak berhenti di situ saja suara peringatan alert auto pilot yang mengindikasikan switch on master key terdengar begitu nyaring. Dalam saat krisis itu Claude juga kehilangan kendali atas pesawatnya yang mengakibatkan moncong pesawat menukik ke bawah, sistem MCAS pesawat mendeteksi penurunan yang signifikan dan otomatis menaikan moncongnya kembali terus seperti itu – mirip seperti roller coaster – Claude hanya bisa berharap bahwa Algis yang sebelumnya keluar ke Cabin passenger segera kembali ke kokpit dan membantunya menangani masalah ini sebelum semuanya terlalu terlambat. *** Disisi lain Annelyn yang baru saja akan menggunakan lavatory mendengar dentingan ding dua kali sebelum tiba-tiba pesawat berguncang dan tubuhnya lalu terlempar ke depan dan kebelakang di iringi oleh teriakan panik dari arah passenger cabin sedetik setelah terdengar ledakan yang sangat keras itu. Salah seorang cabin crew yang kebetulan baru saja berpapasan dengannya juga terlempar dengan kencang menabrak penyimpanan membuat beberapa peralatan dinning yang belum sempat dimasukan berhamburan keluar menimpa tubuh mereka. Annelyn merasakan tubuhnya di dekap erat seketika dan dia mendengar suara barang-barang berjatuhan lagi –Crew Cabin itu melindunginya dari ancaman cidera serius karena benturan benda tumpul– “Back to your seat ma’am!” kata Pria itu berteriak suaranya teredam oleh desingan suara angin yang sangat memekakan telinga. “Thank you… Sir Algis.” Jawab Annelyn, wanita itu sempat melirik ID Card nama yang terkalung di lanycard nya. Tidak ingin berlama-lama dalam posisi itu mereka buru-buru berusaha bangkit Annelyn mengabaikan perintah Algis yang menyuruhnya kembali ke kursi, tangannya bergerak menutup semua penyimpanan yang beresiko membuat barang-barang yang dapat menghantam kepala mereka membantu Algis dengan tugasnya. Pesawat berguncang lagi dan mereka terhempas ke belakang lebih kencang dari sebelumny diikuti dengan suara keras dari kokpit yang pintunya terbuka kembali. “Annelyn!” Teriak Radean. Radean pria itu tiba-tiba muncul dari connecting door dengan susah payah bersamaan dengan temperatur suhu di cabin yang menurun karena pintu kokpit yang terbuka. Berbarengan dengan itu masker oxygen terjulur keluar seiring dengan seruan emergency safety yang di teriakan oleh para flight attendant. Annelyn susah payah menjulurkan tangannya kepada Radean yang terdorong kebelakang karena tekanan udara dari kokpit, dibantu dengan lilitan di perutnya oleh Algis, Annelyn menarik Radean berusaha membuat pria itu tidak berada di depan pintu kokpit yang terbuka. Posisi pesawat yang mendadak melakukan climb mendaki dan descend menurun secara terus menerus benar-benar membuat semua orang berteriak -mereka mirip naik wahana rollercoaster tapi dalam versi lebih parah. “Hei are you okay Annelyn?” Radean bertanya dengan sangat khawatir, pria itu memeriksa Annelyn dengan raut tidak terbaca. Annelyn mengangguk mereka berpegang erat pada cabin mencegah tubuh mereka terhempas. “Apa yang sedang terjadi?” Annelyn berteriak, karena suara riuh di sekeliling mereka. “Saya gak yakin, but I check it soon. Kembali ke seat kamu pakai seat belt dan masker oxygen go ahed.” Radean memberikan perintah itu kepada Annelyn lalu pria itu berusaha melawan tekanan udara untuk menuju kokpit. “Radean-“ “Annelyn, tolong bilang Ya untuk semua tawaran saya sebelumnya.” Kata Radean tiba-tiba. Annelyn terdiam sejenak, dia menatap Radean dengan binar redup. Pria itu berkata seolah-olah akan ada hal buruk yang akan terjadi padanya -pada mereka. Tapi ditengah situasi mencekam seperti ini Annelyn tidak memiliki pilihan lain, kematian ada di depan matanya. Dan mereka semua bisa jatuh kapan saja-bahkan dalam hitungan menit – tidak bahkan dalam hitungan detik! So this is the end? “Ya.” Radean sempat melemparkan senyum tipis kepada Annelyn sebelum melanjutkan langkah nya ke kokpit. “Okay terima kasih.” kata pria itu sambil melemparkan senyuman tipis. “Sir bahaya-“ peringat Algis, saat melihat seorang penumpang bergerak mendekati kokpit. “I am pilot too.” Teriak Radean dengan keras. “Radean-“ Teriakan Annelyn terpotong karena pintu cockpit lebih dulu tertutup dengan rapat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD