[BREAKING NEWS]
Indonusia TWA -756 who bound from Perth International Airport, Australia to Metropolis International Airport Indonusia.
Which had previously been reported to have lost contact with Air Traffic Controller Learnmonth International Airport, Australia is known to have just made an emergency landing at Australia’s Christmas Island Airport.
Until this news was published, it is not known exactly what happened to Indonusia TWA- 756, but from the landing video circulating on social media the Indonusia TWA- 756 made a emergency landing without both engines and the aircraft was unable to come to a stop before the end of the runway, hitting the airport’s ground wall.
(Source : Indonusian Times)
***
Christmas Island Airport, Australia
[ a second after stop – halfway Runways ]
Radean Wisaka tidak pernah membayangkan bahwa dia akan berada dalam situasi hidup dan mati dengan ratusan nyawa yang bergantung pada setiap tindakan nya seperti yang telah terjadi padanya beberapa saat yang lalu.
Tiga tahun masa studi nya di Flying school –Amerika, dan di tambah tujuh tahun menjadi seorang Captain di industri penerbangan tidak pernah dapat membuat Radean siap dalam mengalami malfungsi dan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi saat menerbangkan burung besi itu di atas cakrawala, tidak bahkan untuk seorang pilot dengan jam terbang tinggi sekali pun.
Sesaat setelah pesawat mereka berhasil landing di Christmas Island Airport dan berhenti tanpa hancur bahkan setelah mengalami runway excursion yang parah karena badan pesawat mereka hampir keluar separuhnya.
Akhirnya mereka semua yang berada di dalam kokpit mendesah lega dan tersenyum haru mereka bersyukur atas kesempatan hidup sekali lagi yang diberikan yang maha kuasa kepada mereka.
“Evacuate Now,” Claude berseru kepada seluruh orang yang berada di dalam kokpit, menghentikan perasaan senang itu.
Bagi Claude sendiri ini masih belum berakhir setelah pesawat dapat mendarat di darat crew on board dan penumpang hanya memiliki waktu sembilan puluh detik untuk melakukan seluruh evakuasi keluar dan menjauhi pesawat, pria itu bergerak dengan cepat melepaskan sabuk pengaman milik nya sebelum membantu Baskara melepaskan miliknya.
“Bas, lo masih bisa berdiri gak?” tanya Claude cepat sambil melihat teman nya itu yang meringis kesakitan.
Baskara terlalu lemah untuk menjawab pertanyaan Claude, energi pria itu seperti telah terkuras habis.
“Saya akan keluar untuk meminta paramedis.”
Radean yang melihat wajah pucat pasi Baskara dan gelagat pria itu yang hendak pingsan memutuskan untuk berinisiatif keluar dari kokpit lebih dulu dan memanggil petugas medis yang untungnya telah berada di atas aviobridge yang baru saja berhasil terpasang untuk memudahkan mengevakuasi dan kini mereka sedang berjalan naik menuju kokpit.
“We have an emergency on kokpit.” Jelas Radean kepada paramedis itu.
“Yes Sir!” Jawab mereka serentak.
Saat Radean ingin mengikuti paramedis itu untuk masuk kembali ke dalam pesawat seruan keras memanggil namanya terdengar dari arah bawah.
Dan Radean menemukan Bykta Wisaka dan Romanvinch Wisaka berdiri di ujung aviobridge diantara riuh orang-orang. kedua orang itu sedang menatapnya dengan binar lega yang luar biasa.
“Pa?” Bisik Radean.
“Radean.” Sahut orang itu keras.
“Papa!” Radean berteriak senang.
Setelah memastikan bahwa yang memanggilnya adalah benar ayahnya Radean bergegas turun dan menyongsong Bykta.
Pria itu masuk ke dalam pelukan hangat sang ayah karena berpikir bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan ayahnya itu setelah apa yang menimpa dirinya beberapa saat yang lalu.
“Apa ini Rae …” suara Bykta tertahan, diantara riuh sekelilingnya Bykta berusaha keras untuk tidak meneteskan air matanya ia berusaha kuat untuk Radean yang kelihatan sedikit terpukul dengan kejadian yang baru saja dia lalui,
" ... tidak pulang ke Metropolis selama setahun lamanya dan aku harus bertemu dengan kamu dengan cara seperti ini Radean? mengapa kamu suka sekali membuat Papa khawatir dengan kamu.” kata Bykta Wisaka dengan haru melihat Radean baik-baik saja tanpa kurang sedikit pun.
Bagi Bykta sendiri sebagai orang tua dia begitu sangat khawatir saat mendapatkan telepon kalau pesawat yang ditumpangi anaknya mengalami trouble.
“Maafkan Radean Pa maaf.”
Radean juga tidak menyangka bahwa dia harus melewati tragedi dramatis seperti ini hanya untuk pulang ke Indonusia setelah satu tahun berpergian keliling dunia.
Kalau tahu akan jadi seperti ini dia memilih tidak akan pulang lebih baik dia menetap saja di Perth!!!
“Bagaimana Papa bisa ada disini?” Tanya Radean dengan bingung.
“Harusnya Papa yang bertanya kepada kamu! pertama mengapa kamu naik pesawat komersial kalau kamu punya jet pribadi sendiri! kamu bahkan juga seorang pilot Radean..." Bykata berkata dengan nada tinggi.
"Dan astaga apa yang terjadi saat ini bagaimana bisa pesawat yang kamu tumpangi mendarat di sini karena Papa mendapatkan laporan dari maskapai kita bahwa TWA 756 meminta pendaratan darurat ke Cocos Keeling dan menahan semua penerbangan yang masuk dari Cocos Keeling, mereka mengarahkan kami ke Christmas Island sebab itu Papa ada di sini. Tapi mengapa di last minute kalian mengubah pendaratan!”
Bykta Wisaka yang merupakan pemilik The Wisaka Airlines tentu saja dapat dengan mudah mengetahui apa yang sedang terjadi, saat Krystal– sekretaris Romanvinch – memberitahukan kepada mereka semua yang saat itu sedang berkumpul untuk makan malam bahwa The Wisaka Airlines telah kehilangan satu unit aircraft di radar.
Karena masalah serius itu Bykta dan Romanvinch langsung bergerak cepat untuk meninjau status TWA-756. Bagi pengusaha Maskapai seperti mereka kehilangan satu pesawat saat mengudara adalah hal yang sangat fatal – itu dapat membuat citra maskapai buruk ke depannya, mereka juga bisa saja tamat saat itu juga–
Berkat Romanvinch yang menyuruh Krystal untuk mengecek daftar penumpang dan menghubungi para keluarga penumpang mereka secara tidak sengaja menemukan nama Radean Wisaka ada di daftar penumpang TWA -756 dan membuat mereka bertambah kalang kabut, Radean tidak pernah bilang akan pulang ke Metropolis namun tiba-tiba berada di dalam pesawat TWA-756 adalah sebuah kejutan – kejutan yang tidak menyenangkan.
Radean tidak harus menaiki pesawat komersial seperti itu dan mengalami kejadian naas seperti ini jika ingin pulang, karena Bykta Wisaka yang paling tahu bahwa anaknya itu memiliki sebuah jet pribadi sendiri!
Radean mengangguk paham, “Kami membuat keputusan yang sangat mendesak Pa.”
“Kami?” Tanya Bykta menatap anaknya.
“Iya, Raden ada di kokpit.”
“Jadi benar kamu yang berkomunikasi dengan Air Traffic Controller Learnmonth dan Cocos Keeling? Maskapai kita terus terhubung dengan Air Traffic Controller Learnmonth dan Cocos Keeling lewat satelit.”
“Ya, Radean membantu Crew on Board yang tersedot keluar dari kokpit Pa.”
“Tapi kamu baik-baik saja kan sekarang?”
Bykta mengurai pelukannya ia menatap Radean dari atas sampai bawah memindai apakah anaknya itu terluka atau tidak, dan ya ia menemukannya beberapa luka gores di lengan dan sebuah luka benturan benda tumpul di kening yang masih mengeluarkan darah.
“Kamu tidak baik-baik saja Radean!”
Radean meraba keningnya setengah meringis saat dia merasakan basah dan perih secara bersamaan.
“Ayo segera temui paramedis.”
Bykta setengah menyeret Radean untuk segera ke Christmas Island airport building dimana semua korban selamat telah di evakuasi di sana.
“Tunggu dulu Pa–”
Radean baru teringat bahwa ia harus mencari Annelyn, dia ingin kembali ke dalam aircraft namun di hentikan oleh Romanvinch yang kelihatan tidak senang akan tindakannya.
“Mau kemana lagi lo Mama sudah menunggu lo di Building jadi jangan buat Mama khawatir lagi she is not in good condition kalau lo lupa!”
“Mama juga ke sini Kak?”
“Semua orang kemari untuk lo jadi jangan coba-coba lagi melakukan hal bodoh.”
Radean memandang ke sekeliling dimana semua orang sangat sibuk dan para penumpang berusaha turun dari pesawat dengan emergency slide yang telah mengembang sempurna, mereka yang masih ada di dalam pesawat masih terus berusaha meluncur turun dari sana, “Tapi–”
“Urus diri lo sendiri dulu Radean!”
Putus final Romanvinch tidak ingin dibantah sama sekali oleh siapapun ia lalu menyeret Radean dengan sedikit kasar untuk menuju Airport Building.
Dan tanpa bisa lagi memberontak, Radean akhirnya pasrah saat kakaknya itu menyeret dirinya menuju building bergabung dengan keriuhan di dalamnya mereka berjalan lebih jauh lalu baru berhenti di sebuah bagian building yang tidak terlalu ramai.
Bykta mendorong pintu bertuliskan VVIP Longue itu, begitu pintunya terbuka lebih lebar teriakan haru itu menyambut mereka. Elmina Wisaka yang kelihatan pucat dan sumbat itu berhamburan menuju Radean.
“Radean!”
“Ma, Mama.”
“Papa dan Mama hampir pingsan saat mendapatkan telephon dari Krystal yang memberitahukan bahwa dirimu ada di penerbangan TWA- 756 kenapa tidak bilang kalau kamu akan pulang, Mama tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu sampai tidak selamat dan berakhir di lau–”
“Hei Ma…” Radean memegang pundak Ibunya dengan erat, menatap kedalam mata Ibunya yang telah berlinang air mata, “Sekarang Radean baik-baik saja Mama bisa melihatnya kan Radean baik-baik saja.”
Elmina menatap anaknya berusaha mencari-cari kebohongan dari mata anaknya sebelum mengangguk dengan haru. “Radean terima kasih karena telah baik-baik saja, terima kasih Mama sangat lega kamu sekarang ada di sini.” Elmina memeluk Radean erat dan dibalas sama eratnya.
Radean yang sebenarnya tidak baik-baik saja namun menutupi nya di hadapan semua orang dengan perlahan membiarkan tubuhnya terkulai lemas di pundak ibunya yang kepayahan sebelum semuanya gelap dan dia menjadi tidak sadarkan diri.
“Rae! Radean!”
Romanvinch yang tidak menyangka adiknya pingsan begitu saja di pelukan ibunya dengan segera mengambil alih beban Radean, disaat kedua orang tuanya panik Romanvinch adalah satu-satunya yang harus bisa mengendalikan diri. dia harus tetap waras dan logis agar dapat menangani masalah ini.
“Krystal siapkan mobil antar kan keluarga saya dulu kembali ke Villa sekarang dan pastikan bahwa Dokter Reinaldi sudah ada di Villa saat kalian tiba di sana, dan tinggalkan satu mobil disini saya harus menangani masalah disini terlebih dahulu, karena Bapak Presiden Indonesia mengawasi secara langsung evakuasi ini.”
Titah terakhir Romanvinch Wisaka sebelum, setengah menyeret adik nya itu untuk keluar dari Longue dan menuju mobil yang telah menunggu mereka di tengah keriuhan Christmas Islands Airport malam hari itu.
“Baik Pak Romanvinch, mari silahkan semuanya.”