Christmas Island Airport Australia Runway [a second after stop - Evacuate Moment]
Annelyn menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi begitu suara riuh di sekelilingnya terdengar begitu nyata– suara tangisan lega dan seruan syukur terdengar diucapkan berulang-ulang saat mereka akhirnya lolos dari kematian yang mengintai mereka.
Beberapa orang yang cukup sehat mulai berdiri dari seat mereka masing-masing saat para Flight attendant dengan cepat menginstruksikan para penumpang untuk segera keluar lewat emergency door yang sudah di buka dan sliding emergency yang telah mengambang dengan sempurna –semua pintu evakuasi dan peralatan evakuasi digunakan secara keseluruhan.
Dan dalam sembilan puluh detik pertama sesuai dengan standar operasional prosedur keselamatan, flight attendant berhasil mengeluarkan setengah penumpang yang sehat.
Karena waktu mereka gak banyak beberapa petugas medis ikut masuk dengan tandu untuk membawa beberapa penumpang yang mengalami cedera cukup serius karena Clear air turbulence dan Rapid decompression – mereka mungkin yang gak memakai seat belt mereka dengan kencang akan terhempas ke sana ke mari seperti yang Annelyn rasakan sebelumnya —
Sebenarnya juga yang lebih banyak mengalami cedera serius sepertinya Flight Attendant The Wisaka Airlines, tragedi mengerikan itu terjadi saat para Flight Attendant dari The Wisaka Airlines tengah menyajikan makan malam untuk para penumpang, jadi lah mereka tidak berdiri di antara lorong kabin tanpa pengaman.
Saat semua proses evakuasi itu sedang berlangsung, demi menunjang keselamatan semua orang – crew dan para medis yang kesulitan untuk melakukan evakuasi penumpang yang terluka dan petugas firefighter tidak pernah mengendurkan kewaspadaan.
Mereka bahkan tidak berhenti menyemprotkan air ke beberapa bagian pesawat juga ekor pesawat memastikan api padam dan tidak menyebabkan kebakaran besar, mereka masih perlu waktu untuk mengevakuasi orang yang tidak bisa keluar dengan kaki mereka sendiri.
“Ma’am can you stand?” salah seorang Flight Attendant berseragam berwarna biru tua mendekati Annelyn, yang memang masih duduk di seat miliknya.
Karena wanita itu baru saja menolong seorang penumpang lain yang mengalami cedera fraktur.
Annelyn mengangguk berusaha berdiri dengan kakinya sendiri walaupun rasanya sangat sulit, semua tenaganya hilang entah kemana.
“Get out now, I'm afraid there will be a fire and it will explode,” katanya sambil dengan cekatan membantu Annelyn berdiri dan mengarahkannya keluar menuju emergency exit yang seluruhnya telah dibuka.
Keberadaan mereka yang dekat dengan sayap akhirnya membuat mereka memilih untuk melompati jendela yang telah dibuka daripada menuju pintu.
“Jump now!” perintahnya membuat Annelyn menjatuhkan tubuhnya ke emergency slide yang mirip perosotan itu dan mereka akhirnya meluncur dari sliding emergency dengan cepat ke bawah dimana beberapa petugas rescue telah menanti mereka.
“You alright ma'am?” tanya seorang dari mereka kepada Annelyn yang jelas tidak baik-baik saja.
Tidak lama setelah Annelyn meluncur dia dapat melihat bahwa beberapa orang muncul dari arah pintu terdepan dimana kokpit berada, Annelyn berdiri dengan cemas dan mengabaikan pertanyaan.
Dia yang berniat menghampiri rombongan tandu itu namun belum sempat ia melakukannya dia merasakan tarikan cukup kuat dari belakang.
Annelyn seketika menoleh dan mendapati Claude tengah berdiri tegak dengan senyum lebar pria itu menarik Annelyn masuk kedalam pelukan erat Claude.
Dan saat itu juga Annelyn menangis keras ia balas memeluk Claude sama eratnya.
Annelyn pikir Perth International Airport menjadi saat terakhirnya melihat kembarannya itu.
“How was your flight?" tanya pria itu dengan suara tertahan.
Kecemasan yang tadi menyelimuti Annelyn lebur berganti dengan kelegaan luar biasa karena mendengar suara kembarannya itu.
“So great you are doing so well Claude thank you thank you for being safe!!" Kata Annelyn dengan suara bergetar.
Tidak dapat dipungkiri bahwa melihat kembali Claude membuat Annelyn begitu haru dan lega luar biasa.
Annelyn benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaan dirinya sekarang, tapi yang jelas melihat Claude baik-baik saja didepannya bebannya perlahan terangkat perasaan lega, senang, bangga dan haru mendominasi Annelyn.
Dan Annelyn baru menyadari betapa lemahnya dia sekarang, Annelyn berpegang erat pada pundak kokoh Claude sedangkan adiknya itu dengan hati-hati memisahkan diri ia menatap Annelyn meneliti sekujur tubuh kakaknya itu memastikan bahwa dia baik-baik saja.
“Lo baik-baik saja kan Kak?” Tanya Claude cemas, dia menelaah dan memindai seluruh tubuh Annelyn dan dia memang menemukannya– kakaknya itu kacau dan berdarah-darah.
“Ya aku baik-baik saja terima kasih berkat kamu," Jawab Annelyn.
“You are not–” kata Claude, pria itu melihat robekan di celana kakaknya itu dan menjadi sangat yakin kalau kakaknya gak baik-baik saja.
“Lo gak pakai sabuk pengaman kak tadi?” tanya Claude gusar, pria itu sungguh khawatir walaupun di luar sepertinya tampak baik-baik saja dalamnya kan tidak ada yang tahu.
“Pas mid- accident emang gak pakai aku ke lavatory tadi," jawaban Annelyn membuat Claude membulat terkejut.
“Astaga!! how come!!” kata Claude pria itu melepaskan rangkulannya dan menegakkan tubuh Annelyn.
Dia benar-benar memindai keseluruhannya dengan cermat, dan semakin dia cermati keadaan kakaknya memang sangat sangat kacau dan gak dapat dikatakan baik-baik saja.
“Gak apa-apa Claude yang penting kita sekarang baik-baik saja," kata Annelyn menenangkan Claude mau tidak mau akhirnya mengalah dan menyetujui perkataan kakaknya.
“Glad to hear that, memang melegakan," Claude tersenyum tipis dia merengkuh pinggang Annelyn dan membawanya mendekati temannya yang baru saja turun dari pesawat.
“Gis, semua orang sudah keluar? Gue belum sempat sampai belakang tapi banyak asap yang keluar,” tanya Claude kepada Algis.
Dia memang sempat mengecek cabin passenger namun di pertengahan dia mendengar bahwa semua orang yang diluar berteriak menyuruh semua orang menjauh dari pesawat.
“Sepertinya sudah di evakuasi, kita harus segera menjauh mereka bilang memang ada bagian lain yang terbakar dan merambat ke tengah kabin," kata Algis dengan suara yang sedikit gak tenang.
“Tapi gue harus dapat jumlahnya gue perlu tahu siapa yang terluka, seberapa parah gue butuh sekarang juga Gis," kata Claude dengan bersikeras.
“Mustahil mendapatkan jumlah yang pasti sekarang Claude kita harus menjauh dulu dari sini bahaya pesawatnya bisa saja meledak!” kata Algis dengan rasional.
“Benar Claude kita harus menjauh dulu," kata Annelyn mengangguk menyetujui perkataan Algis.
Claude yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya mengalah menuruti kemauan kakaknya.
Kaki mereka perlahan menjauhi pesawat dan dari tempat mereka berdiri sekarang mereka dapat melihat dengan jelas bagaimana riuhnya runway Christmas Island, petugas damkar, ambulance, polisi hingga petugas medis tersebar ke segala penjuru melakukan evakuasi.
Annelyn juga dapat melihat bagaimana keadaan pesawat yang tadinya mereka
tumpangi, mengalami runway excursion yang untungnya pesawat mereka tidak terbelah ataupun hancur ia juga dapat melihat mesin di sayap yang rusak parah dan masih mengeluarkan asap berwarna abu-abu pekat.
“I will guide you Captain," kata salah seorang petugas medis menghampiri mereka.
"Thank you!"
Mereka diarahkan menuju bangunan utama airport dan di sepanjang perjalanan menuju ke bangunan mereka dapat dengan jelas melihat bekas gesekan roda pesawat dengan aspal runway yang menghasilkan lubang memanjang sedalam beberapa sentimeter. Menunjukkan bagaimana Pilot berusaha sangat keras untuk menghentikan laju pesawat.
Melihat pemandangan itu Annelyn jadi merasakan bagaimana Claude telah bekerja keras, bagaimana Claude yang berada di kokpit dan tertekan berhasil memutuskan semuanya dengan cepat untuk menyelamatkan mereka semua – tiga ratus orang, tiga ratus nyawa yang bergantung kepada seluruh keputusan dan tindakan Claude –
“Number Reisa?"
Claude bertanya kepada Reisa yang kebetulan berada paling dekat dengannya, wanita itu menoleh lalu menggelengkan kepalanya belum sempat menghitung jumlah Crew TWA-756 dia terlalu sibuk mengarahkan seluruh penumpang untuk keluar.
“Cecila Fransisca sudah dihitung?"
Claude menyongsong ke arah Pusher mereka dengan masih bersama Annelyn di sampingnya. Matanya berkelana menghitung jumlah crew The Wisaka Airlines.
Uniform berwarna biru putih bermotif unik yang mereka gunakan memudahkan Claude untuk menghitung – Claude harus memastikan kalau mereka semua ada dan selamat.
“Saya tidak dapat menjumlahkan semua passenger dengan pasti namun saya sudah menghitung awak jumlahnya tiga belas, kurang dua saya tidak melihat Sylvia dan Amora," jawabannya dengan panik.
“Sial," kata Claude tertahan.
Keduanya mendadak panik, Cecila sudah berlari ke segala arah untuk mencari Crew Cabin yang bernama Sylvia dan Amora itu.
“Do your job Claude, aku akan menunggu kamu."
“Kamu akan baik-baik saja?"
“Iya tentu saja."
Setelah mendapat persetujuan Annelyn, Claude mulai bergerak ke segala penjuru mencari keberadaan Sylvia dan Amora.
Setelah Claude bergabung dengan keriuhan Airport Annelyn melangkahkan kakinya tertatih seorang diri menuju bangku terdekat yang masih kosong menenangkan dirinya sendiri setelah kejadian luar biasa yang baru saja menimpanya.
Bohong kalau dia bilang ia baik-baik saja tidak ada orang yang baik-baik saja setelah merasakan dirinya di ambang kematian.
Sampai sekarang Annelyn bahkan masih bisa merasakan tubuhnya yang bergetar ketakutan saat pesawat yang dia tumpangi kehilangan daya, dan mengakibatkan seluruh kabin senyap gelap mencekam hanya terdengar desingan angin dan gumaman lirih orang yang berdoa kepada tuhan mereka karena tahu bahwa mereka mungkin saja akan berpulang.
“Ann," panggilan dari arah belakang Annelyn diikuti pelukan yang cukup erat di tubuhnya membuat Annelyn terkejut.
“Jae–”
Belum reda keterkejutan nya karena pelukan itu, Annelyn dibuat semakin terkejut setelah mengetahui siapa pelaku yang kini memeluknya.
Jaenalendra Andaru – Orang nomor satu di Indonusia sekaligus mantan tunangannya sekarang berada di hadapannya tanpa jarak tengah menatap nya dengan raut wajah kuyu karena khawatir.
“Kamu baik-baik saja?"
“Bapak Jae apa yang kamu lakukan disini?"
Annelyn dengan kesadaran diambang batas mencoba mengurai pelukan mereka namun semakin ia mencoba mengerahkan tenaga nya semakin lemas dan tidak bertenaga.
“Lemme take care of you," kata pria itu tanpa kompromi, dan tanpa bisa Annelyn cegah tubuh nya diangkat dengan begitu mudah oleh Jaenalendra pria itu membopong nya dan berjalan dengan cepat di tengah kerumunan orang-orang di Christmas Island dibantu dengan beberapa Paspampres.
“Jae, tapi Claude," kata Annelyn dengan lemah.
“Jangan khawatir dengan itu, karena Claude baik-baik saja dia bersama Oliver kamu harus mengkhawatirkan dirimu sendiri dahulu," katanya.
Annelyn baru menyadari jika dia benar-benar lemah dan shock, kepalanya lunglai di pundak Jaenalendra dan Annelyn tidak merasakan apapun selain pusing yang mendera kepalanya dan rasa berat di matanya sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Kita adalah makhluk terkutuk yang sadar akan batas dan kematiannya sendiri — yang tahu segala sesuatu yang bisa terjadi — but isn't — who is given things to love and then all is taken away ... But, the answer is not despair. It’s to take on the suffering head- first.
Pikir Jaenalendra, pria itu menatap Annelyn dengan raut wajah tidak terdefinisi – karena kejadian ini dia bisa saja kehilangan seorang Annelyn Sasongko selama-lamanya dalam hidupnya.