bc

Kidnap Me, Please!

book_age18+
1.6K
FOLLOW
13.0K
READ
kidnap
drama
comedy
like
intro-logo
Blurb

DAMAR CAKARA ARBI dalam bahasa Jawa berarti "Cahaya yang melindungi dan bangsawan Jawa yang memiliki kelebihan ilmu".

HANENDA JANADI PRADHIKA dalam bahasa Jawa punya makna "Orang yang pantang menyerah, berjiwa baik dan anak lelaki yang diberikan kelebihan".

.

ARBI diculik! Setelah sekian lama dia hidup dan nonton berita soal penculikan, akhirnya kejadian itu menimpa dirinya. Arbi tidak paham kenapa harus dia. Setahunya, dia tidak pernah berbuat jahat. Arbi mikir pasti ada hubungannya dengan nama. Makna namanya kan bangsawan Jawa yang memiliki kelebihan ilmu. Meski aslinya dia justru oon setengah mati.

.

NENDA sudah kaya. Dia hanya iseng ya main culik-culik tidak jelas begini. Dia punya dendam dengan mantan kekasihnya, Damar Cakara Anggita. Dia ingin culik cewek itu. Namun sayangnya, malah cowok oon yang diangkut anak buahnya! Setelah diselidiki, cowok oon ini sepupu mantannya. Mau dilepaskan takut bocor, ditahan juga tidak ada gunanya. Jadi, dia tawan sementara sampai Gita mau balikan!

chap-preview
Free preview
Saya Hanya Cahaya Zaman Pembodohan

            Kalau kalian ingin tanya siapa itu Damar, maka kalian akan membayangkan mas-mas wajah manis dan teduh yang selalu tersenyum. Atau tipe anak rumahan yang patuh dan mencintai mamanya sepenuh hati, bahkan ikut kondangan dengan tertib. Bisa jadi kalian anggap Damar yang itu adalah anak baik-baik, sesuai dengan citra namanya dalam bahasa Jawa yang artinya lampu, cahaya yang menerangi. Namun kalau kalian membahas nama Damar Cakara Arbi, maka bersiaplah kecewa. Meski namanya berat dan juga butuh sandingan alias sesajen untuk ruwat asma, Damar atau yang biasa disapa Arbi itu tidak sehebat namanya. Kalian pasti menyesal. Pasti.

Damar hanya seorang anak Jawa, yang konon katanya masih ada darah biru mengalir dalam garis nadi keturunannya. Meski Damar alias Arbi tidak terlalu peduli soal itu. Dia hanya murid SMA biasa, yang akhirnya terdampar di asrama sekolah seni. Sekolah berkapasitas dinamis, dimana kreasi tidak dinilai dengan kemampuan menghitung dan berlogika. Yang paling aneh yang dinilai paling kreatif.

Arbi anak seni yang agak nyeleneh, dengan IQ jongkok, atau bahkan sudah tiarap karena efek global warming. Arbi sudah biasa disebut oon, dodol, lemot, lola dan yang lain sejenis dengan itu. Meski Arbi tahu kalau julukan itu lebih tepat disematkan pada merk makanan dan nama cewek.

"Masih di sini? Udah packing?" Sang Ibu berteriak di ambang pintu, menatap anak semata wayangnya yang sedang terpekur.

"Belum, biyung." Ah, entah sejak kapan anak itu sudah bersatu dengan cerita kolosal soal kerajaan Jawa! Ibunya tersenyum miris, melangkah masuk ke dalam kamarnya.

"Kenapa gitu saja masih nunggu mama?"

"Saya harus menyusun daftar barang yang ingin saya bawa terlebih dahulu, biyung."

Sang Ibu melongo. Sabar, sabar!

"Juga, sejak kapan kamu panggil mama dengan sebutan biyung?" Mamanya mendelik dengan raut tidak terima. Arbi tersenyum, lantas menunjukkan beberapa halaman yang sudah dia lipat. Buku bertulisan "Asal Mula Nama Bangsawan Jawa" menghiasi cover buku itu.

"Dari tadi kamu sempat baca ini, tapi nggak sempat buat packing? Inget nggak kalau kamu tinggal di asrama itu bukan buat sehari dua hari?" Sang Ibu sudah tidak tahan lagi. Arbi berkedip, menatap sang Ibu yang sudah tidak sabar. Arbi tersenyum, berdiri dan mengedikkan bahunya.

"Maafkan Arbi, biyung."

Ibunya sudah tidak tahan lagi. Beberapa hari yang lalu ada sebuah surat sampai di rumahnya. Surat itu adalah surat resmi yang berisi undangan untuk Arbi, agar masuk ke sekolah seni. Sekolah seni yang memiliki asrama. Ibunya menatap Arbi waktu itu. Mungkin naluri seorang ibu selalu menyangkal apa yang selalu orang katakan tentang anaknya. Arbi bukannya bodoh, dia hanya terlalu sering disalahpahami.

Tidak ada orang yang sanggup mengerti jalan pikiran anaknya.

Termasuk sang Ibu.

"Sini mama bantu!" Lalu Ibunya beranjak ke depan lemari baju Arbi, membuka pintu lemari itu. Beliau melotot kaget mendapati apa yang ada dalam lemari anaknya. Semua baju yang dimiliki anaknya begitu aneh. Sejak kapan ada anak lelaki yang mengoleksi jaket ngejreng dengan gambar hati dan bunga?

"Kamu dapat darimana yang kayak gini?"

Arbi mengerjap.

"Saya dapat itu dari pasar loak, biyung."

Ibunya merasa sakit kepala tiba-tiba. Dia juga ingin anak semata wayangnya itu memanggil mama dengan akrab. Atau memakai diksi "aku" tiap kali bicara dengannya. Tidak terlalu fleksibel dan nyeleneh, hingga orang-orang menatapnya aneh.

Jadi ekspresif bagus, namun bila terlalu ekspresif malah membuat sakit kepala. Karena itulah, sang Ibu setuju ketika surat resmi itu datang mengundang anaknya untuk datang dan pindah. Karena hanya sekolah seni yang mengerti jiwa bebas anaknya. Jiwa yang orang bilang dengan sebutan "aneh", bahkan tidak segan-segan berubah jadi "oon".

Entahlah....

"Kamu mau pakai ini?"

Arbi menggeleng.

"Saya hanya bisa mengagumi, namun sayangnya tidak punya nyali untuk memulai."

Tolong, pukul anaknya sekarang agar bertingkah lebih wajar seperti anak usianya! Arbi pernah tinggal bersama neneknya di daerah keraton. Di sana dia diajari dengan keras soal ngajeni yang lebih tua, menggunakan krama alus ketika bicara dengan orang yang usianya lebih di atasnya, hingga kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Bahkan ketika dia sudah besar, dengan bahasa Indonesia yang terdengar aneh untuk diucapkan dalam ragam santai.

Lagipula, Arbi memang selalu jadi anak bawang.

"Nanti saya akan jadi adik kelas, biyung." Arbi mencoba curhat. Panggilan mama yang kemarin masih dia ucapkan kali ini berubah jadi lebih njawani. Sang ibu sudah tidak tahan untuk mendengarkannya lagi.

"Kamu...." Ibunya batal mengucapkan sesuatu, lalu menari koper yang teronggok mengenaskan di sudut ruangan. Arbi menunduk, mengambil beberapa lembar pakaiannya. Lalu dia mulai melipat baju itu dan memasukkannya dalam tas yang lebih kecil.

"Bi, bilang nanti sama Papa kalau kamu berangkat pagi. Biar Papa nggak kesiangan besok." Mama berpesan. Arbi mengangguk dengan wajah mengantuk. Arbi terdampar di atas kasurnya, terpejam setelah mamanya mengomel tanpa jeda. Besok dia harus berangkat ke sekolah barunya. Sekolah yang katanya mampu menerima segala pemikiran nyeleneh dan anehnya. Sekolah yang katanya mampu menerima kapasitas IQ tiarap namun berjiwa seni tinggi. Meski pada kenyataannya orang kreatif itu memiliki dominan IQ di salah satu ruang otak.

Tapi Arbi malas mikir.

Keesokan paginya, seisi rumah heboh. Papa dan mama berteriak kencang, menjerit kencang pada Arbi. Alasan? Karena anak itu bangun kesiangan.

"Kamu tuh, ya Bi! Mama udah bilang suruh pesen sama Papa. Akhirnya Papa nggak bisa bangun pagi. Kamu juga malah santai-santai!" Mama berteriak kencang, lalu berlari ke sana ke mari. Papa yang nggak dapat wangsit sebelumnya hanya menghela napas, lalu menatap tajam wajah anak semata wayangnya.

"Papa heran, kamu kok masih bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini!"

Arbi mengedikkan bahu, mengunyah roti berselai sambal. Seleranya sudah aneh, kok! Papa ikut ribut bersama mama, membantu memasukkan koper ke dalam mobil.

"Bi, kamu yakin mau pindah sekolah?" Papanya bertanya sekali lagi.

"Yakin, romo."

Papanya melongo, melotot dengan wajah kaget. Ya ampun kenapa anaknya berubah seperti ini? Arbi menyelesaikan sarapannya. Sebelum melangkah menjauh, dia juga sempat mengunyah roti lain. Kali ini berselai kecap.

Papa dan mamanya mendadak emosi.

Mungkin tindakan yang tepat kalau anaknya dipindahkan ke sekolah seni. Apalagi anaknya itu suka sekali dengan lukisan surealisme. Cocok dengan jiwanya yang tidak nyata.

Mereka berangkat ke sekolah dengan berbagai ekspresi. Meski hari pertama mereka yakin tidak akan langsung dilempar ke kelas, namun tetap saja mereka harus mengurus ini itu. Menjelang sore mereka sampai.

"Kamu itu, ya!" Papa masih mengomel dengan wajah lelah.

"Saya sudah mendengar kalimat itu sejak berangkat, romo. Tolong jangan ulangi lagi!"

Mamanya memijat pelipisnya, lalu melangkah lebih dulu. Mamanya menemui kepala sekolah sekaligus pengawas asrama. Arbi sampai di kamar barunya, dengan dua koper di tangan kanan dan kiri.

"Jadi ini kamar saya?" Arbi mengerjap. Satu kamar asrama dihuni oleh dua orang, namun karena penghuni asrama berjumlah ganjil maka dia harus tinggal seorang diri untuk sementara ini.

"Semoga betah, ya!"

Arbi mengangguk paham. Mama dan papanya menunggu di ruang tamu asrama. Mereka tampak sedang mengobrol dengan anak perempuan. Arbi tahu itu siapa. Sepupunya. Damar Cakara Anggita.

"Budhe benar-benar titip Arbi sama kamu, ya Git!" Mamanya berpesan, mengelus pipi sepupunya itu.

"Budhe yakin mau nitipin mas Arbi di sini? Nggak cemas dia bakalan...." Anggita melirik Arbi. Cowok itu sudah duduk manis di depan mereka. Arbi menegakkan badan, mencoba bersikap santai meski gagal. Gita adalah murid seni tari dan tinggal di asrama putri.

"Iya, tadi juga sudah wawancara. Dia masuk di seni lukis, Git."

Gita melongo.

Setahu Gita, sepupunya itu sudah aneh sejak kecil. Dia suka sekali naik pohon hanya untuk menatap tekstur batang pohon. Bukan hanya itu keanehannya. Sejak kecil Arbi sudah mulai menggoreskan pensil warna, crayon, bahkan spidol di manapun dia berada. Bahkan buku matematikan Gita dulu pernah jadi korban.

Masalahnya, kalau lukisannya indah sih masih bisa dimaklumi. Namun Arbi tidak pernah punya keinginan untuk melukis lukisan yang indah menurut orang lainnya. Dia bebas melukis apa saja. Karena itulah Gita dipanggil dan diomeli di ruang BP karena di bukunya muncul gambar-gambar aneh, yang didominasi wanita telanjang yang seksi. Tanpa sensor.

Gita merinding kalau ingat itu.

Dia juga ragu menjaga mas sepupunya itu di sini.

"Tinggal sekamar sama siapa, mas?" Gita bertanya cepat. Arbi mendongak, menggeleng setelah itu.

"Masih sendirian."

"Iya, nanti juga bakalan ada penghuni baru."

"Di sebelah kamar saya ada siswa dari kelas seni rupa."

Gita terbatuk kencang.

"Mas udah tegur sapa sama dia?"

Arbi menggeleng.

"Saya mencium bau tanah liat, semen dan juga bau asem dari bajunya."

Gita nyengir. Dia tidak tahu kalau Arbi juga punya kemampuan mengenali seseorang hanya dari bau. Bahkan dia bisa mengacungi jempol karena Arbi bisa mengendus aroma itu dari jarak yang lumayan jauh.

"Mungkin dia baru saja bikin patung, mas."

"Iya, karena itu saya coba menguji dan saya cium bajunya langsung."

Ketiga pasang mata lainnya terbatuk kencang. Mata mereka melotot tak percaya. Anak mereka di hari pertama sudah mulai bertingkah tidak wajar. Gita menatap budhe-nya, tersenyum miris seketika.

"Budhe beneran titip masmu, lho Git!" Setelah itu kedua pasutri itu melarikan diri. Mereka tidak tahan berdekatan dengan anaknya sendiri.

***

Yang disebut dengan asrama adalah sebuah kos-kosan resmi yang punya aturan. Arbi mengucek matanya, mengerjap. Kamarnya masih berantakan. Selimut dan spreinya tergulung jadi satu. Bajunya ada yang sudah masuk lemari, namun sisanya masih dalam koper. Bel pagi tanda sarapan berbunyi.

Arbi mengacak isi kopernya dan menemukan sesuatu.

Roti selai kecapnya.

Dia tidak butuh sarapan, dia hanya harus mandi dan juga berangkat sekolah. Lalu setelah itu dia berlari ke arah kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Hidupnya sudah berantakan – dalam artian fisik yang jauh lebih manusiawi.

Hari pertama sekolah.

Arbi nyasar.

"Mau ke mana?" Seorang guru tiba-tiba menegurnya. Arbi menoleh dengan wajah kaget lalu menggaruk tengkuknya.

"Jam pertama saya di laboratorium seni."

"Anak seni lukis?"

Arbi mengangguk. Guru di sekolah ini sepertinya punya kemampuan menebak jurusan muridnya.

"Ayo ikut!"

Arbi mundur sambil menggeleng ragu.

"Saya harus ke kelas, tidak ada waktu untuk ikut ngobrol."

Guru itu melongo. Lalu dalam satu embusan napas beliau langsung berteriak gahar di depan wajah si murid baru.

"Hari ini jam saya di kelas itu!"

Arbi manggut-manggut tanpa ada rasa bersalah atau penyesalan sedikit pun. Dia melangkah, mengikuti sang guru masuk ke sebuah laboratorium. Mata Arbi memindai penghuni kelas. Ada siswa lelaki yang gondrong, rambutnya diikat ke belakang. Di sudut lab ada perempuan yang tampil berantakan. Seperti korban kekerasan dalam rumah tangga.

"Kamu murid baru, kan? Perkenalkan dirimu!"

Arbi mengangguk.

"Nama saya Damar Cakara Arbi. Panggil Arbi saja. Sudah."

Seisi kelas mengerutkan keningnya. Sang guru tahu kalau mereka bingung. Ah, jangankan mereka! Tadi saja dia sudah emosi mendadak ketika mendengar jawaban si murid baru.

"Apa motivasi kamu masuk kelas ini?"

"Saya tidak pernah mengubah sesuatu."

Seisi kelas saling berpandangan.

"Maksudnya apa?"

"Saya tidak pernah mengubah sesuatu dari yang sudah ada untuk jadi barang karya saya. Saya menciptakan, pak bukan memotivasi."

Seisi kelas makin bingung. Namun ketika melihat wajah serius Arbi, mereka tersentak. Semuanya melongo dan terkikik kemudian.

"Kalau yang kamu maksud mengubah itu, istilahnya adalah modifikasi."

Kali ini mereka semua tergelak. Bahkan murid nyentrik di kelas yang sejak tadi menguap di bangku belakang akhirnya terkikik geli.

"Saya melukis, bukan membuat istilah pak! Maafkan saya."

Sekali lagi sang guru harus rela masa kerjanya didominasi oleh murid ajaib lagi. Dia mungkin murid baru, namun tingkah absurd yang aneh nyeleneh itu membuatnya jadi makin galau. Guru itu memerintahkan Arbi untuk duduk dan mulai membacakan absensi.

Begitu melihat tanggal lahir Arbi di sebelah namanya, guru yang baru saja memperkenalkan diri bernama pak Puhi itu melongo.

"Bi, kamu masih umur empat belas tahun?"

Seluruh kelas menoleh ke arahnya.

"Iya, saya didepak dari TK. Guru TK saya mengatakan kalau saya bukan anak-anak."

Kali ini mereka semua ngakak nista karena penjelasan gamblang Arbi yang super datar itu. Teman-teman Arbi dulu mengatakan kalau dia oon, bodoh, dodol, lemot, lola. Ketika semua orang menggambar buah semangka dan mewarnainya dengan warna merah, Arbi malah menggambar sebuah gelas dengan cairan merah. Ketika ditanya, Arbi menjawab kalau itu jus semangka.

Guru TKnya mendadak linglung.

Tapi kali ini dia sudah terdampar di tempat yang seharusnya, dengan penghuni aneh dan nyeleneh lainnya.

"Jadi kamu jadi anak bawang sekarang di sini?" Pak Puhi terkikik geli. Yang lain manggut-manggut senang. Menjadi murid yang paling boncel dan j****r adalah salah satu kesialan baru dalam hidup Arbi. Masalahnya dia harus memanggil semua orang dengan sebutan kangmas atau mbak ayu. Halah!

Ini benar-benar orientasi usia!

Duh, biyung... anakmu ini akan menderita di sini!

***

Kalau ditanya siapa itu Hanenda Janadi Pradhika, maka semua pebisnis akan menunjuk anak SMA kelas dua yang sudah diberikan tampuk kekuasaan milik mendiang kedua orang tuanya. Di usia muda dia sudah mewarisi banyak perusahaan dan aset penting. Dia tidak perlu belajar di sekolah umum karena sudah menjalani home schooling sejak kecil.

Dia pintar dan juga kaya. Tidak perlu repot-repot menguras tenaga untuk mendapatkan uang. Dia sudah punya pacar. Namanya?

Damar Cakara Anggita.

Sebut saja Gita.

"Aku nggak bisa diginiin!" Gita meraung gemas, memuntahkan emosi yang sudah mendarah daging di otaknya. Nenda mendengarkan omelan Gita dengan wajah bingung. Gita sudah marah padanya sejak pagi. Ketika Nenda baru saja membuka matanya.

"Kamu yang selingkuh, kenapa kamu yang harus marah?" Nenda balik bertanya.

"Aku selingkuh juga gara-gara kamu!"

"Kenapa jadi salahku?"

"Kamu terlalu kaku!"

Bola mata Nenda melebar. Dia memang kaku. Membosankan. Punya pacar, punya uang dan juga punya segalanya tidak membuatnya bahagia. Dia tidak tahu apa yang membuatnya jadi pribadi yang kaku dan juga membosankan begini.

"Ini memang aku. Kamu juga bilang kalau cinta aku apa adanya, kan?"

"Ya, aku cinta kamu apa adanya. Tapi lama-lama aku muak, tau Nen! Kamu nggak pernah merespon apa yang aku omongin. Sampe aku mikir, kamu beneran cinta nggak sih sama aku?"

Nenda tersentil.

Iya, ya... meski punya pacar dia sama sekali tidak menikmati waktunya untuk berpacaran. Meski kadang dia menjemput Gita untuk kencan, berciuman sesekali. Namun tetap saja rasanya... hambar. Datar. Nenda hanya numpang status berpacaran terhadap Gita. Meski hatinya sama sekali tidak mengakui rasa cinta itu.

"Aku...."

"Jadi aku minta putus."

Bungkam sesaat merambat di antara keduanya. Minta putus sih boleh saja, lagipula Nenda juga tidak mampu menjanjikan hubungan lebih serius terhadap Gita. Namun selingkuh adalah perbuatan yang sangat kejam.

"Kamu sengaja selingkuh biar gampang minta putus sama aku?" tanya Nenda datar. Tidak tampak rasa kesal dan juga cemburu. Dia merasa datar-datar saja.

"Ya!"

Gita tahu, dia memang kejam. Namun tetap saja! Berhubungan dengan Nenda adalah sebuah perbuatan yang membuang-buang waktu. Cowok itu terlalu kaku. Cuek. Datar. Membosankan. Marah saja tidak pernah. Cemburu juga ogah.

Gita memang harus mengakhiri hubungannya dengan Nenda. Harus!

"Git, saya pinjam buku kamu." Sebuah suara menginterupsi obrolan Gita dan Nenda di telepon. Gita menoleh dan mendapati sepupunya yang super aneh sedang menatapnya. Berdiri dengan tampilan berantakan. Cat di wajah, di celemek, juga sebagian di celananya.

"Sejak kapan mas Arbi jadi setingkat sama aku?"

Arbi menggeleng.

"Saya pinjem, buat difoto. Itu kan kenang-kenangan."

Di seberang sana Nenda mendengarkan kedua obrolan dua orang itu. Ada sesuatu yang mulai mengusiknya. Hanya dengan suara itu Arbi berhasil mengantarkan sebuah rasa aneh pada si pewaris kaya.

"Jangan kemana-mana, mas! Kalau mas ngilang aku yang repot."

Saat itu Nenda sudah punya rencana picik di otaknya. Dia ingin tahu. Ketika Gita begitu mencemaskan orang itu, tentu orang itu sangat berharga bagi dirinya. Diam-diam Nenda berniat jahat. Untuk balas dendam. Alasan? Karena dia patah hati? Oh, tidak! Alasannya adalah karena Gita memutuskannya lebih dulu. Menjatuhkan harga dirinya!

TBC


editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

THE KING OF THE WORLD (The Play Hide Bound #Book 1) - IDN

read
133.4K
bc

Sekretarisku Canduku

read
6.5M
bc

My Story In Another Life

read
12.1K
bc

Marriage A Captain

read
116.8K
bc

Hujan, ajarkan aku lupa

read
1.8M
bc

Mas Dosen (BAHASA INDONESIA)

read
93.9K
bc

Pernikahan Sementara

read
327.8K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play