3 🦋

1133 Words

Tulisan pondok pesantren An-Nissa tersebut hampir tak terbaca. Kabur pandangan Anin oleh desak air mata yang siap menetes kapan saja. Anin sungguh terasing di mana-mana. Karena sebuah perjodohan ia menikah dengan laki-laki yang penuh kebencian kepadanya. Setelah menikah pun Anin harus hidup berjauhan serta dijauhi oleh sanak keluarga. Satu-satunya yang Anin miliki hanyalah Yang Maha Esa. Anin menghempaskan napas panjangnya sebelum berbalik hendak masuk kembali ke taksi yang sedari tadi setia menunggunya. “Mbak!” Anin berbalik cepat. Pelupuk matanya yang tergenang air menyulitkan untuk melihat secara fokus. Namun, ia sangat mengenal suara itu. Milik Haura, adiknya. “Mbak Anin!” panggilnya lagi sambil berlari mendekat. Anin langsung memeluk sosok terengah itu dengan erat. Ia biarkan air

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD