Suara Anin tercekat di tenggorokan. Inginnya ia teriakan pada Hadid betapa sakit kalimat itu menikam dalam jantungnya. Anin sakit, Yaa Allah. Sakit yang luar biasa. Tuduhan Hadid beralasan, tetapi bukan kebenaran. Anin memang mimpi basah tetapi bukan laki-laki yang Hadid tuduhkan, yang membuainya, melainkan laki-laki ini, Hadid Asaidi, suaminya. Hadid tak pernah tahu, dan dia pun tak mau tahu tentang semua perasaan yang Anin miliki untuknya. Hadid hanya mengingat kesalahan yang pernah Anin buat dan memupuk pohon kebencian itu sejak malam pernikahan mereka. “Saya akan salat malam. Mas juga perlu mandi dulu---“ Hadid bangkit dari ranjang dengan gerakan kasar. Gegas laki-laki itu keluar kamar membiarkan pakaiannya tertinggal bersama Anin. Hadid tak canggung berjalan tanpa benang di depanny

