“Mu---mutia?” ulang Anin terbata atas nama yang dikenalkan perempuan tersebut kepadanya. “Ya. Aku tahu kalian menikah, tapi Hadid sama aku mantan kekasih dulu, waktu kami SMA.” Perempuan yang mengenakan daster motif polkadot merah muda dan putih tersebut seperti orang yang minggat dari rumah, tapi bukan diusir. Anin tentu tak begitu saja percaya ucapannya. Sayangnya, Anin tak bisa mengorek informasi lebih jauh tentang hal itu, ia sendiri secara pribadi sebagai istri tak pernah tahu apa-apa tentang riwayat pendidikan suaminya. Sungguh, setelah akad pernikahan yang Hadid berikan hanya kalimat tajam dan kasar, bukan tukar kata atau cerita kehidupan sebelum bertemu dirinya. Namun, satu hal yang Anin bisa pastikan, suaminya tak pernah membawa perempuan satu ini ke kamar Anin untuk aktivitas p

